Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pencarian


__ADS_3

Dua mobil mewah bergerak dari rumah utama. Papi menuju perusahaan Soepomo sedangkan Aris dan Bram menuju bandara tempat dimana pesawat pribadi mereka siap membawa mereka mencari keberadaan Gina dan Arga.


Sedangkan di negara U, Arga sedang merajuk. Dia marah kepada seorang teman laki lakinya yang mengatakan kalau dia tidak punya Ayah. Arga sudah mengatakan kalau dia punya Ayah. Tetapi semua temannya mengatakan kalau dia tidak punya Ayah. Gina yang mendengar apa yang dikatakan oleh Arga merasa bersalah kepada anaknya itu.


Sebenarnya Arga tidak mengatakan hal itu kepada Gina, karena Arga tau Gina akan merasa bersalah dengan kejadian tersebut. Sehingga Arga hanya menceritakan masalah tersebut kepada dokter Rani dan Daniel yang sekarang sudah resmi bertunangan. Gina sudah melamar dokter Rani untuk Daniel.


Gina bisa mengetahui semua itu saat dia tidak sengaja mencuri dengar pembicaraan Daniel dengan Frenya melalui sambungan telepon. Gina merasa sedih mendengar semua cerita Daniel.


Gina berjalan menuju kamar Arga. Dia melihat Arga sedang sibuk mengerjakan tugas rumahnya.


"Sayang, boleh Bunda masuk?" tanya Gina dengan penuh harapan agar dia diperbolehkan masuk ke dalam kamar Arga. Gina sangat tau Arga paling tidak suka diganggu kalau dia sedang serius belajar.


"Boleh Bunda. Masuk aja, Arga senang kalau Bunda ada di dekat Arga terus." ujar Arga.


Arga kemudian pindah ke pelukan Gina untuk duduk. Dia merindukan pelukan Bunda dan juga Ayahnya. Untuk saat ini Arga memilih Bunda saja dari pada harus kedua duanya.


Gina melihat Arga mengerjakan tugas nya. Sedangkan Arga sudah tau Bundanya itu pasti akan bertanha tentang suatu hal. Gina melihat Arga yang selesai membuat tugasnya, membuat keputusan akan bertanya sekarang juga.


"Arga sayang, boleh Bunda bertanya sesuatu ke Arga?" tanya Gina sambil menatap kedua bola mata anak kesayangannya itu.


Arga mengangguk dengan pasti. "Arga akan jawab semua pertanyaan Bunda. Arga nggak boleh bohong."


"Arga, apa Arga malu di sekolah saat Arga dikatakan tidak punya Daddy?" tanya Gina sambil memeluk Arga dengan erat.


"Bunda, Arga nggak malu sama sekali Bunda. Bunda kan punya Daddy. Mereka saja yang nggak tai Daddy Arga sekeren apa. Jadi biarkan saja mereka Bunda." jawab Arga.


"Arga yakin sayang?" tanya Gina kembali.


Arga memegang muka Bundanya. "Apa Arga pernah bohong dengan Bunda?"


Gina menggeleng.


"Arga akan selalu mengatakan apa yang tidak Arga suka dan apa yang Arga suka." lanjut Arga.


"Bunda pasti nguping waktu Arga cerita dengan Niel dan Rani." tanya Arga sambil tersenyum ke arah Bundanya.


Gina menggeleng.


"Terus?"


"Bunda mencuri dengar telpon Neil dengan Frenya. Neil mengatakan kalau Arga diejek teman di sekolah karena nggak pernah dijemput oleh Daddy Arga. Neil terlihat sangat marah waktu itu. Makanya Bunda talut Arga juga kecewa, makanya Bunda bertanya sama Arga." ujar Gina menjelaskan dari mana dia mengetahui semua cerita itu.


Arga memeluk Gina. "Arga janji Arga akan baik baik saja. Bunda nggak usah mikirin Arga. Bunda pikirin aja perusahaan Bunda." ujar Arga sambil memeluk erat Gina.


Gina membalas pelukan Arga. Gina sangat bangga dengan Arga. Pada usia masih dikatakan anak anak, Arga sudah mengerti dengan masalah yang dihadapi oleh orang tuanya.


"Kamu memang anak terbaik dan teristimewa sayang. Bunda bangga sekali punya Arga." ujar Gina.


Kriuk kriuk kriuk. Bunyi perut Arga. Gina menatap mata Arga.


"Arga lapar Bun." ucap Arga sambil tersenyum.


"Hahahahaha. Baiklah mari kita ke bawah. Arga mau makan apa hari ini?" tanya Gina sambil mengajak Arga untuk menuju meja makan.


Arga ternyaya lebih memilih duduk di mini bar dekat dapur bersih. Gina sudah paham dengan situasinya. Gina memakai apron warna pink dan berdiri dibalik mini bar.


"Mau pesan apa Tuan?" ujar Gina yang berlagak seperti pelayan bar.


"Hm apa yang paling enak di sini?" ujar Arga dengan dinginnya.


"Nasi goreng gila dengan fresty fruit." ujar Gina menyebutkan makanan dan minuman kesukaan Arga.


Gina membuatkan pesanan Arga. Gina sibuk mengolah masakan tersebut dengan penuh semangat. Gina sangat ingin memuaskan rasa untuk hasil masakan untuk Arga. Setelah selesai berkutat di dapur, akhirnya masakan yang diminta oleh Arga telah selesai. Arga langsung mencicipi makanan tersebut.


"Gimana?" tanya Gina sambil menupang dagu di depan Arga.


"Terbaik" jawab Arga sambil memberikan dua jempol kepada Gina.


"Hahahahaha. Makasi sayangku." ucap Gina sambil mencium kening Arga.


Sedangkan di dalam pesawat pribadi yang menuju negara J. Aris dan Bram terlinat diskusi seru tentang kemana tujuan mereka mencari Gina dan Arga.


"Ris. Sampai di sana kita akan mencari Gina dan Arga kemana?"


"Itulah gue pusing. Tetapi gue ada kenalan anak pejabat negara J. Kita akan meminta koneksinya melacak setiap warga negara luasr yang masuk ke negaranya." ujar Aris yang sebenarnya ragu dengan apa yang dipikirkannya tetapi apa salahnya untuk dicoba.

__ADS_1


"Baiklah gue ikut saran dari loe." ujar Bram.


Tak terasa penerbangan selama dua belas jam itu berakhir sudah. Aris, Bram, Juan, Dani dan Teguh memilih menginap di sebuah hotel mewah. Mereka berlima akan melakukan pencarian Arga dan Gina mulai besok. Mereka berencana akan menginap di hotel itu selama lima hari. Setelah lima hari mereka tidak menemukan Gina dan Arga, maka pencarian akan dilakulan di negara lain.


Mereka berlima hari ini memilih untuk beristirahat terlebih dahulu. Aris yang sudah tidak sabaran lagi langsung menghubungi anak pejabat yang dikatakannya semalam. Aris sengaja meminta bertemu dengan temannya itu di hotel tempat dia menginap. Aris janjian dengan dia jam empat sore hari ini. Aris menunggu pukul empat sambil bercengkrama dengan Bram yang baru bangun dari tidurnya.


"Jatlag loe?" tanya Aris.


"Nggak. Cuma rada capek aja." ujar Bram sambil duduk di kursi dan mengelap mukanya yang baru siap dibersihkan.


"Loe temani gue nanti ya jam empat menemui anak pejabat itu."


"Oke sip. Janjian dimana?"


"Lounge di hotel ini." ujar Aris.


Mereka mengobrol sebentar. Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul tiga sore. Aris dan Bram bersiap siap. Sedangkan tiga kru pesawat masih terlelap di kamar mereka.


Setelah selesai bersiap, Aris dan Bram sengaja turun ke lobby untuk menunggu kawannya itu. Aris tidak mau dianggap tidak menghormatinya, padahal Aris sangat butuh dia sekarang untuk mempermudah pencarian Gina dan Arga.


Tidak lama menunggu tepat jam empat pas orang yang ditunggu oleh Aris akhirnya datang juga. Aris dan Bram berdiri dari dudukmya. Mereka menyambut kedatangan tamu tersebut.


"Hay Ris, sudah lama tidak bertemu." ujar tamu kepada Aris.


"Hay Carlo. Benar sudah lama tidak bertemu. Loe semakin tampan dan gagah saja." balas Aris memuji Carlo.


"Ah biasa aja Ris. Nggak ada yang istimewa dari gue. Gue masih sahabat loe yang cengangakan." jawab Carlo merendah.


"Mana ada. Siapa di negara ini yang nggak mengenal Carlo. Sang pengusaha properti." jawab Aris.


"Sekaligus anak penguasa negeri ini." jawab Carlo sambil tertawa. Carlo sangat tidak suka orang mengenalnya karena ayahnya. Makanya Aris tidak mau mengatakan hal itu.


"Loe yang ngomong ya bukan gue." ujar Aris.


"Dari pada yang lain ngomong Ris. Sakit hati gue. Mending gue yang ngomong. Hahahaha" ujar Carlo tertawa ngakak.


"Oh ya Carlo. Gue sampai lupa ngenalin adik gue. Kenalin namanya Bram, adik bungsu dan satu satunya milik gue." ujar Aris memperkenalkan Bram kepada Carlo.


"Bram"


Mereka berjabat tangan. Carlo sangat suka dengan Bram. Carlo tau Bram orang yang jujur dan bekomitmen.


"Kita ngobrol di laonge atas aja Carlo." ujar Aris.


Mereka bertiga berjalan masuk ke bagian dalam hotel. Aris menuju lift khusus untuk tamu. Tapi Carlo menarik tangannya. Carlo membawa Aris dan Bram ke sisi lain ruangan.


"Kemana?" tanya Aris.


"Ke Lounge. Emang loe lupa ini hotel siapa?" tanya Carlo yang tidak percaya Aris sudah melupakan hotel milik Carlo.


Aris berusaha mengingat, tiba tiba sebuah ingatan datang ke dalam pikirannya.


"Hahahahaha. Maafin gue Car, gue lupa kalau ini adalah hotel loe. Maklum lah saking paniknya gue." ujar Asris.


"Tak masalah kawan." jawab Carlo.


Mereka kemudian masuk ke dalam lift yang hanya Carlo saja yang bisa membuka lift itu. Lift langsung membawa mereka ke bagian lounge hotel.


Mereka bertiga memilih duduk di luar melihat pemandangan negara J dari ketinggian lantai dua lima hotel. Pemandangan yang sangat menakjubkan.


"Nah Aris. Loe belum cerita kenapa loe sampai datang ke negara gue? Ada apa?" ujar Carlo yang penasaran dengan kedatangan Aris kenegaranya.


Aris kemudian menceritakan semua kisah rumah tangganya kepada sahabatnya itu. Aris tidak ada menutupi sedikitpun. Dia sangat tau kalau Carlo tidak suka orang yang akan ditolongnya menutupi sesuatu darinya.


"Baiklah gue akan melihat data orang yang datang ke negara Gue. Apakah loe bisa menuliskan nama dan nomor pasport Gina dan Arga?" tanya Carlo.


Aris mengirimkan semua pesan kepada Carlo. Aris mengirim fhoto paspor Gina dan Arga.


Carlo meraih ponselnya. Dia langsung menghubungi orang kepercayaannya. Dia memintanorang tersebut untuk melacak apakah ada nomor pasport tersebut masuk ke negara mereka.


"Oke. Loe lacak. Apapun hasilnya gue tunggu malam ini juga." ujar Carlo.


Carlo memanggil pelayan. Dia memesan beberapa makanan dan minuman. Carlo sangat tau kalau Aris anti alkohol. Aris walaupun suka main perempuan tetapi dia sama sekali tidak pernah membawa perempuan tidur dan tidak menyentuh alkohol. Itulah kenapa Carlo sangat suka bersahabat dengan Aris.


Mereka bertiga kemudian membicarakan perihal bisnis. Aris mengajak Carlo untuk bekerjasama dengan perusahaan miliknya.

__ADS_1


"Oke gue setuju kerja sama dengan perusahaan loe." jawab Carlo.


"Tapi setelah gue nemuin Istri dan Anak gue ya. Baru gue akan kerja sama dengan perusahaan loe." ujar Aris.


"Lama Bray. Sekarang aja. Gue tau Papi loe akan sangat berkompeten." ujar Carlo.


"Sabar lah Carlo. Perusahaan Soepomo sedang bermasalah semenjak Gina pergi. Para investor kami melarikan diri." ujar Aris sambil menunduk.


"Karena iti. Biar gue masuk ke perusahaan loe. Gue akan buat dia bangkit lagi." ujar Carlo.


"Kalau itu keputusan loe gue setuju. Loe silahkan datang ke negara gue. Nanti akan gue hubungi Paman Hendri." ujar Aris.


"Sip gue akan kesana dalam bulan depan. Saat gue dapat tanggal pastinya. Gue akan hubungi elo." ujar Carlo.


Saat mereka kembali berdiskusi tiba tiba ponsel Carlo berdering. Carlo membaca nama yang tertulis.


"Eah cepat sekali dia dapat informasi nya." ujar Carlo.


"Hallo? Apa hasilnya?" ujar Carlo.


"Maaf Tuan. Kedua nomor ini dan juga nama ini tidak ada masuk ke negara kita Tuan. Sama sekali belum pernah." ujar orang kepercayaan Carlo.


"Apa kamu sudah memakai pindai fhoto?" tanya Carlo.


"Sudah Tuan. Sama sekali belum pernah." jawab orang kepercayaan Carlo.


"Baiklah terimakasih. Kalau kamu bisa lacak negara lain, aku berhutang kepada Kamu kalau Kamu berhasil menemukannya." ujar Carlo.


"Baik Tuan Muda, saya akan melacak nomor pasport ini." ujar orang tersebut.


Aris dan Bram menatap Carlo. Mereka berharap Carlo memberikan kabar gembira.


"Sebelumnya gue minta maaf. Istri dan anak loe, mereka berdua tidak pernah datang ke negara gue. Orang kepercayaan gue sudah melakukan scan fhoto. Mereka tidak menemukan jejak Gina dan Arga pernah masuk ke negara kami." ujar Carlo dengan wajah menyesal.


"Sudahlah Carlo. Berarti mereka memang tidak di negara ini. Kami besok akan berangkat mencari ke Negara lain." ujar Aris.


"Jangan besok. Gie sudah meminta orang kepercayaan gue melacak dimana keberadaan Istri dan Anak loe. Jadi kita tunggu info dari dia. Sebelum info itu di dapat bagaimana kalau loe di negara gue aja dulu." ujar Carlo memberikan pendapat.


"Gue tidak bisa Carlo. Gue ke sini bukan untuk liburan. Gue janji saat gue bertemu dengan Gina dan Arga. Gue akan mengajak mereka ke sini lagi. Kita akan liburan." ujar Aris yang sudah memantapkan hatinya untuk pergi esok hari.


"Baiklah kawan. Nanti kalau orang gue sudaj memberi info, gue akan langsung menghubungi elo. Elo akan dapat beritanya." ujar Carlo.


Mereka kemudian berjalan meninggalkan lounge. Carlo kembali menuju rumahnya. Sedangkan Aris dan Bram saat menyaksikan mobil Carlo sudah meninggalkan hotel, mereka masuk kembali ke kamar.


"Loe panggil Juan, Dani dan Teguh untuk ke sini. Kita akan berdiskusi setelah ini mau kemana lagi." ujar Aris.


Bram singgah ke kamar Juan sebelum ke kamar Aris. Bram memberitahukan kepada Juan agar mereka berkumpul di kamar Aris. Setelah memberitahukan kepada Juan, Bram masuk ke dalam kamarnya. Aris sudah menunggu di sofa.


"Loh mana mereka?" tanya Aris.


"Sedang bersiap siap." jawab Bram.


Bram pergi mengambil air minum dan cemilab. Tadi di lounge dia hanya makan sedikit. Sama sekali tidak bisa mengganjal perutnya.


Tidak lama menunggu tiga orang anak buah Aris sudah berada di kamar.


"Jadi gini ternyata Gina dan Arga tidak berada di negara ini. Jadi besok kita akan terbang kembali. Cuma saya minta saran kepada kalian kita harus ke negara mana." ujar Aris.


"Bagaimana kalau ke negara B saja Tuan?" jawab Juan.


"Kenapa harus ke sana?" tanya Aris penasaran.


"Hari itu saat saya mengantar Nyonya Muda terbang ke daerah C. Nyonya sempat bertanya kepada Saya berapa lama penerbangan dari negara I ke negara B." ujar Juan.


"Bisa jadi juga Gina kesana. Baiklah kita berangkat ke negara B. Kalian persiapkan pesawat besok pagi saja. Kita akan terbang siang." ujar Aris.


Mereka berlima kemudian makan malam dengan memesan dari restoran hotel. Aris dan Bram sama sama makan sedikit tadi saat bertemu dengan Carlo.


Mereka selesai makan tepat pukul sembilan malam. Tiga orang anak buah Aris undur diri untuk beristirahat. Begitu pula dengan Aris dan Bram. Mereka berdua juga memilih untuk beristirahat.


"Semoga aku menemukan kamu di negara B sayang." ucap Aris sambil menatap foto dirinya dengan Gina.


"Tunggu Daddy di negara B putraku sayang." ujar Aris sambil mengusap wajah Arga.


Aris kemudian merebahkan badannya. Dia akan beristirahat. Besok akan melakukan penerbangan dan akan mencari Gina dan Arga.

__ADS_1


__ADS_2