
Papi dan Mami serta Bram masuk kedalam ruang inap Aris. Mami langsung menuju tempat tidur rumah sakit yang di atasnya terbaring Aris yang sedang tertidur. Sedangkan Bayu dan Daniel juga sama dengan Aris, masih dalam posisi tidur yang nyenyak. Mami duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang pasien. Sedangkan Papi duduk di sofa yang tidak di tiduri oleh Bayu.
"Daniel. Daniel bangun ada Tuan Soepomo" kata Bram membangunkan Daniel yang asik tertidur di atas karpet kamar inap Aris.
Daniel yang memang sudah pulas tidur langsung duduk saat mendengar Bram menyebut nyebut nama Tuan Soepomo. Daniel yang baru bangun langsung menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Bay, Bayu bangun udah pagi." gantian Bram membangunkan Bayu yang juga sedang tidur di sofa.
"Lima menit lagi Bram" jawab Bayu sambil membetulkan tidurnya.
Saat Bayu merubah posisi tidurnya, kaki Bayu mengenai badan Papi. Bayu yang merasakan kakinya mengenai seseorang langsung bangun dari tidurnya. Dia langsung duduk.
"Eh Papi. Maaf Pi, Bayu nggak sengaja Pi" kata Bayu yang ternyata kakinya mengenai badan Papi.
"Nikmat kali kamu tidur. Jam berapa sampe sini?" tanya Papi.
"Sekitar jam tiga pagi Pi" jawab Bayu.
Bayu kemudian menuju kamar mandi, dia gantian memakai kamar mandi dengan Daniel. Sopir Bayu yang mengambilkan pakaian ganti untuk Bayu sudah datang dari subuh.
Aris yang merasakan matahari menerpa matanya saat Papi membuka gorden kamar langsung terbangun dan membuka matanya. Dia melihat Mami yabg duduk di sis ranjang, Papi yang sedang menontin berita di televisi, serta Bram, Bayu dan Daniel yang sedanf berdiskusi di sofa.
"Mami?" kata Aris memegang tangan Mami.
"Kamu sudah sadar Aris?" tanya Mami.
"Bukan sadar Mi tapi sudah bangun. Aris tidak apa apa Mi. Cuma bagian tangan dan kaki Aris aja yang luka. Semua ini mukjizat Mi. Aris tidak luka parah saat terjun dari jurang itu" kata Aris.
"Sekarang apa yang kamu rasakan Nak?" tanya Mami.
"Nggak ada Mi. Cuma bagian bagian yang luka ini rasanya perih sekali"
Papi yang melihat Aris sudah bangun langsung mendekati Mami dan Aris.
"Bagaimana kondisi Mu?" tanya Papi.
"Seperti yang Papi lihat. Hanya luka di bagian kaki dan tangan saja" jawab Aris.
Gina yang duduk.di kursi luar rauang rawat inap Aris, mengucapkan syukur yang tidak terkira kepada Tuhan. Tuhan begitu baik dengan tidak membuat Aris terluka parah. Mira dan Sari yang baru keluar dari ruangan mereka melihat Gina duduk sendirian di depan ruangan Aris langsung mempercepat langkah mereka.
__ADS_1
"Hay Gin, gue kangen elo" kata Mira memeluk Gina.
"Sama gue juga kangen elo" balas Gina memeluk Mira.
"Oh ya, makasih ya karena sudah menolong ayah dari anak gue. Gue utang sama loe berdua" lanjut Gina.
"Loe mau bayar sekarang atau besok?" tantang Sari.
"Kalau bisa sekarang kenapa harus nunggu nanti" jawab Gina dengan yakin.
"Oke. Kami berdua meminta hadiahnya sangat gampang sekali. Kamu harus masuk dengan kami.ke dalam. Kamu sudah berjanji dengan kami berdua untuk menerima maaf dan menyelesaikan masalah kamu dengan Aris. Bukan main kabur kaburan seperti yang sudah sudah" Mira menjelaskan semuanya kepada Gina.
"Baiklah gue akan masuk kedalam." Gina mengalah kepada kedua sahabatnya itu.
Sari membuka pintu kamar ruang rawat Aris. Terlihat Bayu dan Daniel sedang memakan sarapan yang tadi dibawa oleh Gina dari rumah. Sari dan Mira melangkahkan kakinya ke dalam ruang rawat Aris.
"Sari, Mira, aku mau ngucapin terimakasih banyak karena telah menemukan aku dengan cepat. Kalau tidak ada kakian berdua ntah bagaimana nasib aku jadinya" kata Aris.
"Sama sama kak." jawab Sari.
Sari dan Mira menuju sofa yang di atas meja ada terhidang sarapan yang menggugah selera. Kebetulan sekali dua wanita cantik dan tangguh itu sedang lapar. Mereka berdua mengisi piring dan memakan saraoan tersebut dengan lahap.
"Banget kak" jawab Sari
Gina yang sudah menyiapkan mentalnya membuka pintu ruangan rawat Aris. Aris yang sedang memakan sarapan memiliki getaran aneh dalam dirinya. Dia yakin orang yang membuka pintu itu adalah bagian terpenting dalam hidupnya yang sudah sangat lama dinanti nantikan kehadirannya. Gina membuka pintu itu dengan lebar. Dia berjalan masuk ke dalam ruang rawat inap Aris.
Aris yang melihat Gina masuk langsung saja berdiri dan mancabut infus yang terpasang. Dia tidak ingin ada penghalang untuk memeluk wanita yang dicintainya dan juga sudah disakitinya itu.
"Gina" kata Aris sambil langsung berlari dan memeluk Gina.
Gina reflek menghindar. Dia mengangkat kedua tangannya memberi isyarat agar Aris tidak memeluknya. Aris langsung berhenti saat melihat Gina menolak dirinya.
"Sayang maafkan aku" kata Aris berusaha untuk melangkah maju menemui Gina.
"Kak stop. Aku tidak ingin kamu sentuh. Kalau masalah memaafkan aku sudah memaafkan kamu" kata Gina.
Mami menatap Aris dengan tatapan kasihan. Mami tau bagaimana perasaan Aris sekarang. Gina memang sudah memaafkannya tetapi Gina tidak ingin disentuh dirinya.
"Aris ayuk duduk nak" kata Mami.
__ADS_1
Aris kemudian duduk kembali di atas kasur. Sari melihat darah menetes dari tempat bekas jarum infus Aris dipasang.
"Mami tangan Aris berdarah Mi" ucap Sari dengan nada panik.
Mami langsung memencet tombol darurat untuk memanggil dokter dan pasian. Tidak memerlukan waktu lama dokter dan suster yang menjaga Aris datang dengan tergesa gesa.
"Maaf Nyonya ada apa?" kata dokter.
"Aris tadi mencabut paksa infusnya fokter. Sekarang darah menetes dari bekas infus" Mami menjelaskan kenapa mereka menekan tombol darurat.
"Silahlan berbaring Tuan Aris. Saya akan memeriksa kondisi Anda, apakah infua Anda akan dipasang kembali atau memang sudah bisa di lepaskan" kata dokter sambil meminta Aris untuk berbaring.
Gina yang masih belum tau harus berbuat apa hanya duduk di sofa melihat Aris yang diperiksa dokter. Gina berharap Aris tidak perlu di infus lagi dan diperbolehlan pulang secepatnya. Gina tidak ingin berlama lama di rumah sakit karena akan membuat dia mual dan mebgeluarkan isi perutnya. Ini saja Gina sudah susah untuk menahan supaya muntahnya tidak keluar.
Dokter selesai memeriksa Aris. Aris sudah tidak perlu diinfus lagi dan besok pagi sudah boleh kembali pulang ke rumah utama. Gina yang mendengarnya berucap syukur karena tidak perlu ke rumah sakit tiap hari. Sedangkan semua keluarga besar bersyukur karena Aris sudah dinyatakan sembuh.
Gina yang sudah tidak bisa menahan lagi bau rumah sakit langsung berlari kedalam kamar mandi. Dia memuntahkan semua isi perutnya. Aris yang memang sudah sehat langsung mengejar Gina ke dalam kamar mandi. Aris berniat ingin membantu Gina saat muntah.
"Keluar. Gue nggak mau loe bantu" teriak Gina.
"Tapi sayang,,,,, kamu muntah, biarkan aku membantu mu sayang" jawab Aris.
"Nggak" kata Gina.
uek uek uek bunyi muntah yang dikeluarkan Gina. Mami yang mendengar keributan di dalam kamar mandi langsung masuk ke sana.
"Aris biar mami yang bantu Gina nak" kata Mami yang tidak ingin terjadi apa apa kepada Gina karena kekeraspalaan Aris.
Aris yang paham dengan kondisi saat ini memilih mengalah. Dia membiarkan Gina di bantu oleh Mami. Aris menunggu Gina di pintu kamar mandi. Gina begitu tersiksa saat mengeluarkan isi perutnya itu. Sampai akhirnya Gina sudah merasakan tidak ada lagi yang bisa dikeluarkannya dari dalam perut.
"Mami, apa Gina boleh pulang duluan Mi. Gina nggak sanggup mencium bau rumah sakit"
"Baiklah Nak. Kamu pulang saja duluan. Minta temani Sari dan Mira ya. Mami akan di sini menjaga Aris." kata Mami yang paham dengan kondisi Gina.
Gina dan Mami keluar dari kamar mandi. Gina hanya lewt di depan Aris tanpa ada niat untuk menyapanya. Aris menginginkan Gina untuk pulang, sekarang Gina sudah pulang. Aris meminta Gina untuk memaafkannya, Gina juga sudah memaafkan Aris.
"Mira, Sari. Mami minta kalian berdua temani Gina di rumah utamaya. Gina nggak sanggup mencium bau rumah sakit"
Sari dan Mira pandang pandangan. Gina nggak tahan bau rumah sakit, itu suatu hal yang nggak mungkin terjadi. Ada drama apalagi ini yang terjadi antara Aris dan Gina.
__ADS_1