Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kedatangan Seseorang


__ADS_3

"Seandainya aku tau keluarga kamu dimana pasti aku sudah memberitahukan kepadamu. Tetapi aku sengaja untuk tidak memberitahu kepadamu. Pilihan yang sangat sulit." ujar Bram.


Saat Bram termenung menatap ponselnya. Pintu ruangan Bram di ketuk dari luar. Tetapi Bram sama sekali tidak bersemangat untuk membuka pintu tersebut.


Sampai sebuah pesan masuk ke ponselnya. Bram membaca pesan itu dan langsung berlari membuka pintu ruangannya.


Betapa terkejutnya Bram dengan kehadiran sesosok anak manusia yang selama ini berusaha untuk dibujuk dan dirayunya supaya pulang kembali ke tanah air.


"Hay kenapa bengong? Seperti lihat hantu aja. Aku bukan hantu yang harus dipleototi seperti itu. Serta bukan artis juga yang harus dilihat sehisteris itu." ujar seseorang tersebut.


Bram yang sadar dengan kebodohannya langsung membawa orang yang datang itu ke dalam pelukannya. Orang yang datang membalas pelukan Bram.


"Aku kangen kamu" ucap Bram masih dalam keadaan memeluk.


"Sama. Aku juga kangen sama kamu." jawabnya.


"Apakah aku nggak boleh masuk??" tanyanya balik bertanya.


Bram menggendong tamu yang datang itu untuk masuk ke dalam ruangan. Setelah itu Bram mendudukan orang tersebut di atas sofa. Bram mengambilkan air mineral kesukaan tamunya. Mereka berdua saling berpandang pandangan.


"Kenapa nggak ngomong kalau akan datang sayang" ujar Bram sambil menggenggam tangan Sari.


"Sengaja mau kasih kejutan." jawab Sari sambil mengecup pipi Bram.


Mereka berdua sama sama terdiam. Mereka memuaskan penglihatan mereka untuk melihat kekasih masing masing. Memenuhi semua ingatan dan pikiran mereka dengan wajah masing masing.


"Sayang, kamu seperti memiliki beban berat yang harus kamu pikul. Ada apa sayang? Apakah kamu mau berbagi denganku?" ujar Sari yang bisa melihat Bram sedang memiliki beban pikiran yang luar biasa.


"Nggak ada sayang. Aku sedang nggak ada beban pikiran. Malahan sekarang aku dalam kondisi bahagia." jawab Bram yang berusaha menghapus kecurigaan dari Sari.


"Sayang, kita berhubungan sudah lama. Walaupun dalam beberapa tahun ini kita berjauhan. Tetapi bagaimanapun kamu, aku sudah tau sayang. Jadi aku minta jangan bohong." jawab Sari sambil membawa Bram kedalam pelukannya.


Bram mencari kedamaian dan ketenangan dari pelukan kekasihnya itu. Dia sangat bersyukur Sari pulang diwaktu yang tepat. Disaat beban pikirannya terlalu banyak.


"Baiklah aku akan menceritakannya. Aku tau kamu pasti sudah tau sebagian cerita dari Gina." ujar Bram.


Sari mengangguk, dia memang sudah tau sedikit banyaknya cerita dari Gina. Gina, Sari dan Mira saling terbuka dalam masalah mereka. Tetapi saat ini Mira sedang tidak bisa diganggu. Mira sedang sibuk dengan anak bayinya. Makanya Sari yang akan selalu jadi tumbal Gina.


Bram mulai menceritakan semuanya kepada Sari. Sari mendengar dengan begitu tenangnya. Sari sama sekali tidak membantah apapun yang dikatakan oleh Bram. Sari membiarkan semua yang dipikirkan oleh Bram untuk keluar. Sari menikmati momen momen dimana Bram begitu banyak mengeluarkan kata katanya.


Setelah semuanya diceritakan oleh Bram. Bram menatap mata Sari dengan tatapan lembut penuh cinta dan meminta pertolongan.


"Sayang, aku harus bagaimana?" tanya Bram.

__ADS_1


Sari menggenggam tangan Bram.


"Sayang untuk urusan Mami dengan Arga itu adalah urusan keluarga. Aku hanya meminta kepada mu untuk bersikap di tengah tengah." ujar Sari.


"Aku tau Gina tidak akan berbuat melampaui apa yang diperbuat oleh Mami. Aku melihat semua video kelakuan Mami kepada Arga. Aku mendengar semua yang dikatakan Mami kepada Arga." lanjut Sari.


"Apakah aku marah dengan semua itu? Jawabannya satu, aku benar benar marah. Kenapa aku marah? Karena aku tidak bisa menerima seorang Nyonya dari pengusaha nomor satu di negara ini mencaci maki seorang anak kecil yang tidak tau kesalahannya dimana." papar Sari kepada Bram.


"Arga tidak minta dilahirkan seperti itu. Tapi takdir Tuhan yang membawa dia menjadi seperti itu. Apakah dia salah? Jawabannya tidak. Kita tidak bisa memilih, tapi hanya bisa menjalani."


"Sekarang untuk urusan Mami dan Arga serta Gina, kita hanya bisa menyaksikan saja tanpa bisa berbuat apapun. Gina punya semua buktinya." lanjut Sari.


Sari yang mulai akan berbicara lagi, dipotong oleh Bram.


"Sayang bentar. Apakah Gina yang memasang cctv di rumah utama selain cctv yang aku pasang?" tanya Bram dengan penuh selidik.


Sari mengangguk.


"Semua itu dilakukan oleh Gina semata mata hanya untuk melindungi anaknya. Bukan untuk hal lain." jawab Sari yang mendapatkan semua cerita dari Gina.


"Sayang, induk ayam saja marah dan mau menyerang hanya untuk menyelamatkan anaknya. Apalagi ini manusia sayang, seseorang yang dikaruniai pikiran dan perasaan. Ibu mana yang tega melihat anaknya di tekan secara fisik." ujar Sari.


Tetapi Sari masih menutupi kasus pengusiran. Biarlah semua itu Gina yang membuka dengan cara mengirimkan semua bukti bukti yang ada.


"Kalau masalah perusahaan sayang, langkah yang diambil para investor itu sudah benar. Mereka tentu tidak mau mereka dipimpin oleh seorang anak berkebutuhan khusus. Karena itu yang mereka ketahui dari orang yang menghasut mereka." ujar Sari yang sekarang membahas tentang perusahaan.


"Tapi Jaya Grup amankan sayang?" tanya Sari penasaran dengan keadaan perusahaan Tuan Soepomo.


"Sampai saat ini masih aman. Tapi ntah kedepannya. Karena investor Soepomo dan Jaya kan berbeda." ujar Bram.


Mereka melepas rindu yang sudah lama di pendam dengan bercakap cakap tentang seputar permasalahan mereka sendiri yang mengakibatkan mereka berpisah untuk sementara waktu kemaren ini.


Aris yang sudah jenuh berada di dalam ruangannya memilih untuk masuk ke dalam ruangan kerja Bram. Aris membuka pintu ruangan itu. Betapa terkejutnya Aris saat melihat di sana ada sahabat Gina yang sudah lama tinggal di luar negeri.


"Kapan datang Sar?" tanya Aris sambil duduk di sofa kosong.


"Baru tiga jam yang lalu Kak." jawab Sari sambil tersenyum.


"Kalian berdua udah makan siang?"


Sari menggeleng. Sedangkan Bram yang sudah makan dengan makanan yang dipesan tadi.


"Loe emang keterlaluan Bram. Calon istri kelaperan aja loe nggak tau." ejek Aris berusaha memojokan Bram.

__ADS_1


"Dia langsung kenyang saat lihat gue Ris. Jadi nggak butuh makanan." jawab Bram sambil tersenyum.


Sari yang mendengar apa yang dikatakan oleh Bram, memilih untuk melempar Bram dengan bantalan kursi yang ada di dekatnya.


"Dasar calon suami nggak peka." ujarnya dengan sewot.


"Hahahahahaha" Aris tertawa bahagia karena berhasil menghasut Sari.


"Dasar ya loe." ujar Bram sambil melempar Aris dengan bantal.


"Ya udah kita berangkat makan siang. Gue laper." jawab Aris.


Mereka bertiga berangkat makan siang sekaligus makan sore. Bram dan Sari duduk di depan, sedangkan Aris duduk di kursi belakang sendirian.


Bram membelokan mobilnya ke restoran tempat favorit Sari. Sari begitu senang dengan pilihan restoran dari Bram.


"Hahahaha. Sayang, aku benar benar kangen untuk makan di sini. Aku kira kamu udah lupa aja sayang." ujar Sari sambil memberikan senyuman termanisnya kepada Bram.


"Untuk kamu apa yang ndak sayang. Aku akan selalu mengingat semua kesukaan kamu" ujar Bram sambil menagap Sari.


"Woy loe kira gue nyamuk yang duduk di belakang" ujar Aris.


"Rasain loe Ris. Makanya jangan banyak tingkah." ujar Bram pelan.


"Loe jangan ngatain gue dalam hati Bram." ujar Aris yang tau Bram mengatainya dengan pelan.


Mereka bertiga masuk kedalam restoran. Bram memesan makanan kesukaan Sari. Aris memilih makanannya sendiri.


"Sar. Boleh kakak bertanya sesuatu ke kamu?" tanya Aris sambil menatap Sari


"Boleh Kak. Silahkan aja mau tanya apa?" jawab Sari.


"Apa selama ini Gina pernah menghubungi kamu?" tanya Aris berharap Gina pernah menghubungi Sari.


"Belum pernah Bang. Terakhir beberapa tahun yang lalu. Itupun sebelum Gina pergi dari rumah utama." ujar Sari memberitahukan kapan terakhir Gina menghubunginya.


"Berarti sama sekali tidak ada komunikasi ya Sar?" Aris kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya.


"Sama sekali tidak ada Kak." jawab Sari.


Aris kembali terdiam. Satu satunya orang yang diharapkannya bisa memberitahukan dimana keberadaan Gina lenyap sudah. Aris kembali harus berpikir kemana dia harus mencari info keberadaan istri dan anaknya.


Seorang pelayan masuk mengantarkan makanan yang dipesannya. Mereka kemudian menikmati makan siang yang tertunda itu dengan lahap.

__ADS_1


Selesai makan siang, Bram mengantarkan Sari ke apartemennya. Setelah itu barulah mereka berdua pulang menuju rumah utama.


Aris berencana akan memberitahukan persoalan Soepomo Grub ke Papi nanti selepas makan malam. Dia dan Bram sudah pusing dan tidak tau harus berbuat apa lagi


__ADS_2