Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
PERLAHAN MULAI KEBUKA


__ADS_3

Akhirnya setelah menempuh penerbangan yang lama Bram sampai juga di negara I kembali. Dia sudah ditunggu oleh sopir dari kantor. Bram heran kenapa tidak Pak Paijo yang menjemputnya.


"Pak Paijo mana Pak?"


"Pak Paijo mengundurkan diri dari pekerjaannya Tuan." jawab Pak sopir.


"Mengundurkan diri. Ini asli aneh." ujar Bram bermonolog sendirian.


"Tuan mau ke Jaya atau Soepomo?" tanya Pak sopir yang tidak tau akan mengantarkan Bram kemana.


"Ke Jaya aja Pak. Saya ada urusan dengan Papi." ujar Bram memberitahukan tujuannya.


Pak Sopir melajukan mobilnya menuju perusahaan Jaya seperti yang diminta oleh Bram. Sebenarnya tadi Asisten Hendri sudah mebghubungi sopir untuk meminta mengantarkan Bram ke Jaya. Cuma Sopir hanya ingin memastikan saja kebenarannya.


Sepanjang jalan Bram memikirkan cctv yang ada di rumah utama selain cctv yang dipasangnya selama ini. Bram benar benar tidak tau dengan perkara cctv.


Tidak terasa mereka sudah sampai di parkiran Jaya. Bram turun dari mobil. Dia berjalan santai masuk ke perusahaan Jaya. Semua karyawan termasuk resepsionis menatap kedatangan Bram. Mereka sudah lama tidak melihat kedatangan Asisten yang luar biasa menakutkan itu. Kalau bisa memilih semua karyawan lebih memilih berurusan dengan Aris daripada dengan Bram.


Bram masuk kedalam lift khusus petinggi perusahaan. Dia sudah mengabari Paman Hendri akan kedatangannya.


Ting. Bunyi pintu lift yang sampai dilantai yang dituju. Bram berjalan keluar. Dia melihat Paman Hendri yang juga baru keluar dari ruangannya.


"Hay Bram. Bagaimana penerbanganmu?" Kata Paman Hendri sambil menepuk bahu Bram. Dia sangat bangga dengan putra angkat Soepomo grub ini yang selalu mengutamakan masalah keluarga dari pada masalah pribadinya. Seseorang yang dipersiapkan oleh Papi untuk membangun Jaya Grub kedepannya.


"Letih Paman. Tapi apapun itu, Paman tau lah ya." jawab Bram sambil tersenyum.


Hendri tertawa mendengar jawaban dari Bram. Mereka berdua masuk ke ruangan Papi. Papi sudah menunggu kedatangan Bram dengan memesan semua makanan favorit anak keduanya itu.


"Sogokan Papi memang selalu luar biasa." kata Bram sambil tersenyum.


"Kamu ada ada aja Bram. Bagaimana penerbangan Mu?"


"Lancar Pi. Pilot kita yang baru itu memang terbaik dibidangnya."


"Jadi gimana Paman?" tanya Bram yang langsung bertanya tentang temuan Hendri.


"Makan dulu Bram baru tanya pekerjaan." jawab Papi.


Mereka kemudian makan siang bersama. Aris sengaja tidak diberitahu oleh Papi tentang kedatangan Bram. Papi lebih memilih Aris tau sendiri saat Bram datang sudah di rumah utama. Mereka akhirnya selesai makan siang.


"Jadi itu benar cctv yang aktif Bram. Tetapi Paman tidak tau siapa yang memasangnya."


"Kenapa tidak cek lewat cctv kita Paman?"


"Cctv di rumah utama sudah lama mati Bram." jawab Papi.


"Masak Pi? Terakhir aku cek, cctv yang di ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga dan ruang kerja Papi masih aktif. Sejak kapan dimatikan?" Bram heran sendiri siapa yang sudah mematikan cctv tersebut.


"Sepertinya ini sebuah kesengajaan Bram. Sengaja agar rencana mereka tidak diketahui oleh siapapun." jawab Papi.


"Terus maid yang berhenti itu siapa aja Pi?"


"Bik Imah, Pak Paijo, Pak Agus dan suster Arga."


"Semua itu bukannya orang orang kepercayaan Gina Pi?"


"Yup. Papi aja heran. Kok bisa mereka mundur." ujar Papi dengan nada yang tidak percaya kalau mereka sengaja mundur dari pekerjaan.

__ADS_1


"Menurut Bram. Mereka bukan mundur tetapi di pecat. Mereka ini pasti mengetahui apa yang dilakukan oleh orang yang menyebabkan Gina dan Arga pergi." ujar Bram.


"Paman setuju dengan kamu Bram. Paman sudah meminta orang orang Paman untuk mencari keberadaan mereka. Tetapi sayangnya sampai sekarang masih belum bertemu. Padahal perginya juga belum sampe dua kali dua puluh empat jam." ujar Hendri dengan nada curiga.


"Atau mereka sengaja disumpetin oleh seseorang yang tidak ingin keberadaan mereka di ketahui." ujar Bram yang menganalisa semua kejadian yang telah terjadi.


"Bisa jadi" jawab Paman Hendri.


Mereka bertiga kemudian terlibat obrolan serius yang menyangkut perkara Gina dan Arga. Bram sampai sekarang masih berpura pura tidak tau siapa yang menyebabkan Gina dan Arga angkat kaki dari rumah utama.


.


.


.


Sedangkan di negara U. Gina sudah mulai masuk kembali ke perusahaannya. Sedangkan Arga ditinggal dengan Rani di rumah untuk privat. Sebenarnya Rani bisa masuk ke rumah sakit milik Gina yang berada di negara U. Tetapi Rani hanya ingin mengurus dan menemani Arga. Setelah terjadi perdebatan panjang. Akhirnya Gina menuruti keinginan Rani. Tapi dengan perjanjian setelah Arga bisa bersosialisasi dengan baik maka Rani akan kembali bekerja di rumah sakit. Kalau Daniel jangan ditanya dia sudah berhasil lulus S3nya sekarang Daniel menjadi Presiden direktur di rumah sakit milik Gina yang sudah dialihkan menjadi milik Daniel.


Gina yang baru saja sampai di kantor mencek pesannya. Ternyata ada pesan dari Sari yang meminta Gina untuk menghubungi dia secepatnya.


"Ada apa ini?" tanya Gina dengan penasaran.


Gina akhirnya menghubungi Sari untuk menutup rasa penasarannya.


"Hallo Sar. Ada apa? Tumben loe mendesak gue untuk menghubungi loe." ujar Gina langsung ke inti permasalahan saat Sari mengangkat panggilan dari dirinya.


"Gin, sepertinya masalah loe angkat kaki dari rumah utama menjadi problem yang luar biasa." ujar Sari.


"Maksud loe?" tanya Gina balik.


"Dari mana loe tau?" tanya Gina.


"Bram kemaren dipaksa pulang oleh Papi. Saking disuruh cepat, Bram tidak sempat bertemu dengan gue. Bram cuma mengatakan kepada gue agar menyampaikan pesan ini ke elo. kalau elo mau membuktikan secara perlahan. Kirim saja hasil rekaman cctv yang elo letakan di rumah utama." ujar Sari memberitahukan apa yang harus dilakukan oleh Gina.


"Hem baiklah berarti Alex juga harus bermain dengan perusahaan Jaya." ujar Gina.


"Jadi loe beneran mau buat Jaya bangkrut?"


"Nggak lah. Gue cuma ingin semua orang menjadi panik. Gue juga ingin merusak semuanya. Loe akan lihat sendiri bagaimana permainan gue. Pesan gue loe pulang gih. Biar bisa menyaksikan semuanya. Gue butuh loe di sana. Mira diharepin mana ada. Dia sibuk dengan bayi kecil dan bayi besarnya." ujar Gina meminta Sari untuk balik kenegara I.


"Loe beneran nyuruh gue balik?"


"Beneran. Mending loe urus rumah sakit. Kelau perusahaan biar tetap sama Alex. Gue kasian dengan Juan yang bekerja tidak di bidangnya itu." perintah Gina yang sudah tidak bisa di bantah lagi.


"Ya udah gue balik sekarang. Gur akan telpon Stepen untuk jemput ke sini. Tapi gue boleh ke negata U dulukan. Gue kangen Arga ini." ujar Sari dengan memohon.


"Oke. Gue tunggu loe di rumah."


"Makasi bos cantik" ujar Sari.


Gina menutup panggilan telponnya.


"Saatnya bermain." ujar Gina.


Gina menghubungi Alex.


"Lex putar haluan. Kita harus menyerang Soepomo." ujar Gina.

__ADS_1


"Tapi Nona. Jaya udah mulai goyah." ujar Alex.


"Bagus. Dua yang goyah mereka akan fokus ke perusahaan dan melupakan Arga. Kita lihat apakah mereka benar benar melupakan pencarian Arga. Kalau ia maka habisi. Tetapi kalau tidak kita lihat lagi permainan berikutnya." ujar Gina.


Gina memutus panggilan telepon dengan Alex. Gina ingin melihat seberapa kuat Aris membagi pikirannya antara mencari Arga dengan mengurus perusahaan yang akan mulai goyah itu.


.


.


.


Bram yang sedang berdiskusi dengan Papi dan Paman Hendri menerima pesan dari Sari, kalau Gina akan memulai permainannya dalam membalas kelakuan Mami kepada Arga. Tetapi Sari tidak mengatakan akan perihal masalah Gina akan mengganggu Jaya dan Soepomo.


Tiba tiba sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Papi. Papi membuka ponselnya. Raut wajah Papi berubah seperti menahan amarah yang siap meledak. Paman Hendri dan Bram yang melihat Papi seperti itu, langsung saling tatap. Mereka sama sama mengangkat bahu dan menunggu Papi mengatakan semuanya.


Papi yang tau dua pria di depannya ini sedang menahan rasa ingin tahunya memberikan ponselnya kepada Bram.


Bram memutar video yang dikirim seseorang kepada Papi. Bram dan Paman Hendri menonton video tersebut. Betapa terkejutnya Bram dan Paman Hendri dengan video yang mereka tonton itu.


"Bram kenapa Mami waktu itu berbohong bahkan Gina juga berbohong." ujar Papi yang melihat rekaman video yang mempertontonkan Mami mendorong Arga ke kaki ranjang serta mengakibatkan kepala Arga berdarah dan menerima jahitan.


"Kalau menurut Bram. Gina berbohing untuk melindungi Mami. Serta Gina takut tidak satupun dari kita yang akan percaya kalau Mami akan melakukan hal itu. Apalagi dengan Aris. Gina tidak mau ribut dengan Aris makanya dia lebih memilih untuk berbohong." ujar Bram memberikan gambaran kenapa Gina berbohong.


"Mami palingan karena yakin Gina tidak akan bercertia makanya Mami lebih memilih diam" ujar Bram selanjutnya.


"Tapi sayangnya semua yang dikatakan oleh Mami tidak terdengar." ujar Papi.


Gina sengaja tidak memberikan suara kepada rekaman cctv yang dikirimnya ke ponsel Papi. Gina ingin yang itu dikirim ke ponsel Aris. Bila saatnya tiba.


"Pi siapa yang ngirim video ya Pi?" ujar Bram yang pura pura tidak tau.


Hendri mengambil laptopnya. Dia melacak keberadaan nomor yang mengirimkan video tersebut. Setelah lebih kurang satu jam berkutat dengan laptopnya. Hendri cuma mendapatkan kalau nomor itu sedang berada di negara U. Dengan nama yang sama sekali Hendri dan yang lainnya tidak tau.


"Dia benar benar menutup rapat informasinya" ujar Hendri.


Papi yang sudah geram dengan tingkah Mami. Menyambar jasnya dia langsung ingin pulang ke rumah utama.


"Bram, kamu nggak usah ikut pulang. Papi takut Mami kamu akan berlindung di balik kamu." ujar Papi.


Bram mengangguk. Dia akan pukang ke apartemennya.


"Ingat kondisi Papi ya. Jangan terlalu marah." ujar Bram.


"Oke. Hendri kamu ikut saya." ujar Papi yang meminta Paman Hendri untuk ikut dengan dirinya.


.


.


.


.


Maaf ya kakak bukannya aku ingin ngelamain kapan terbukanya. Tetapi memang aku ingin membuka perlahan lahan aja.


Maaf banget kalau nggak puas ya kakak kakak.

__ADS_1


__ADS_2