Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Mie Ayam Tenda Biru


__ADS_3

Argha menggandeng tangan Aris di sebelah kanan. Sedangkan Atuknya di sebelah kiri. Argha sangat bahagia. Kebahagiaan Argha akan lengkap dengan kehadiran Bundany. Tetapi Argha paham Bundanya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jadi Argha akan bersabar sampai Bundanya datang.


"Atuk, Argha lapar." ujar Argha sambil mengusap perutnya yang sudah berbunyi.


"Jadi Argha belum makan dari tadi?" tanya Papi.


"Belum. Daddy nggak ngasih Arga makan. Argha dibiarkan aja kelaperan. Kalau Bunda jam segini udah siap nyuapin Argha makan." ucap Argha yang sengaja membandingkan antara Daddy dan Bunda.


"Oh ya??? Berarti Daddy jahat ya Gha?" tanya Papi.


"Jahat. Tapi Argha sayang Daddy, karena Daddy sayang Argha." Argha menatao Daddynya dengan tatapan memuju seorang anak kepada Ayahnya.


Mereka berempat masuk ke dalam mobil. Arga duduk dengan Papi di kursi belakang.


"Mau makan apa Gha?" tanya Bram.


"Mie ayam gerobak biru di simoang tinju." ujar Argha menyebutkan tempat favorit Bunda dan Daddy saat mereka menginginkan makan mie.


"Emang enak disitu Gha?" tanya Bram yang juga mulai usil.


"Enekla waktu zaman Bunda masih di dalam perut Bunda, Argha sering makan mie ayam di sini." jawab Argha sambil menatap Aris.


"Gha dari tadi natap Daddy terus, emang Daddy suka makan mie ayam di pinggiran itu?" tanya Papi.


"Suka banget Tuk. Malahan yang sering bawa Bunda ke sana ya Papi. Papi pake alasan ngidam segala agar Papi bisa makan mie ayam." jawab Argha.


"Hahahahahahahaha" Papi dan Bram sontak tertawa ngakak.


"Tau dari mana?"


"Bunda lah cerita. Siapa lagi." jawab Arga.


Tak terasa mereka sudah sampai di warung mie ayam favorit Aris dan Gina. Mereka berempat duduk di kursi paling pojok. Pelayan yang sudah tau menu favorit Aris langsung saja mengambilkan empat mangkok mie ayam.


Argha makan dengan lahapnya. Siapapun melihat Argha makan mereka pasti langsung merasakan rasa lapar.


"Gha makannya pelan pelan napa?" tanya Aris.


"Dad. Ini bener bener mie paling enak yang Argha rasain. Di hotel chef nggak ada yang bisa bikin kayak gini." jawab Arga sambil melihat mangkoknya yang kosong.


Bram melihat Argha yang menatap mangkok kosong miliknya. " Kenapa Gha? Mangkoknya bocor?" tanya Bram.


Argha menggeleng. "Mienya di makan mangkok padahal Argha masih mau." jawab Argha sambil memasang tampang sesedih sedihnya.


"Mas nambah satu mangkok lagi." ujar Aris kepada pelayan.


Argha tersenyum bahagia. Mereka kemudian melanjutkan makan siang sekaligus sore itu. Argha benar benar menikmati makannya.

__ADS_1


Saat mereka makan ponsel Argha berdering. Ada panggilan video dari Gina masuk ke dalam ponsel Argha. Argha mengangkat pabggilan video itu.


"Bunda" teriak Argha di depan kamera ponsel


"Argha jangan teriak teriak. Argha lagi dimana?" tanya Gina.


Argha kemudian mengarahkan kamera ponselnya ke mas mas penjual mie ayam.


"Argha curang." ujar Gina sambil berteriak juga.


"Bunda jangan teriak teriak. Malu Argha." jawab Argha sambil tersenyum karena berhasil mengerjai Bundanya itu.


"Mana Daddy?" tanya Gina.


Argha memberikan ponsel miliknya ke Aris.


"Apa sayang?" tanya Aris.


"Kamu ajak Argha ke tempat mamang mie?" tanya Gina.


"Nggak. Dia yang ngajak. Aku aja heran kok dia sampai tau dengan mamang mie ini." jawab Aris.


"Tau nggak sayang dia makan udah tiga mangkok. Ngerinya sama kayak dirimu, makan mie ayam bisa sampe tiga mangkok." ujar Aris menggoda Gina.


"Kayak kamu yang nggak aja." balas Gina.


"Paling lambat empat hari lagi. Bunda kangen Argha." jawab Gina.


"Kangen Argha atau kangen mati lampu?" ujar Argha kepada Gina.


Gina terdiam karena pertanyaan Argha. Sebenarnya Gina juga kangen mati lampu. Tapi nggak mungkin dia ngomong seperti itu kepada Argha.


"Nggak usah jawab Bun. Argha juga tau jawabannya." jawab Argha sambil tersenyum kepada Gina.


"Bun hampir Argha lupa. Argha mau cerita." ujar Argha.


"Apa?"


"Papi Bram mau ngelamar Tante Sari. Tau ndak Bun, Papi Bram harus di pancing dengan atm no limit milik Argha. Menurut Bunda Papi Bram mampu nggak ya dalam sepuluh hari ini melamar Tante Sari?" tanya Argha kepada Gina.


Papi dan Aris pandang pandangan. Mereka baru tau cerita itu saat Argha bercerita ke Gina.


"Gha kalau Papi Bram mampu dalam sepuluh hari ngelamar Tante Sari ke Padang. Bunda akan kasih ke Papi Bram dua puluh lima persen kepemilikan hotel di negara U kepada Papi Bram." jawab Gina.


"Beneran Bun?" tanya Arga memastikan perkataan Gina.


"Beneran. Ngapain boong. Besok akan Bunda siapkan surat suratnya. Jadi saat Papi Bram memutuskan pada hari keberapa dia melamar Tante Sari, Bunda langsung kasih surat suratnya." jawab Bunda.

__ADS_1


"Gimana Papi Bram? Mau nggak terima tantangan Bunda?" tanya Argha.


Argha memberikan ponselnya kepada Bram.


"Gin, serius kamu mau ngasih dua puluh lima persen kepemilikan hotek di negara U ke kakak, kalau kakak melamar Sari dalam dua puluh hari?" tanya Bram.


"Serius. Mau lebih boleh juga." jawab Gina.


"Nggak udah segitu." jawab Bram.


" Tapai Kak. Kakak beneran ngelamar Sari karena cinta kan? Bukan karena taruhan dengan Argha dan Aku?" tanya Gina yang takut motif Bram menikahi Sari telah berubah.


"Hahahahaha ya karena cinta lah Gin. Lagian sebelum pulang kakak udah ngomong dengan Sari akan melamar dirinya sepulang dari negara U. Jadi kamu dan Argha siap siap ya memberikan kakak taruhan yang sudah kita sepakati." ujar Bram sambil tersenyum.


"Gampang kak. Dibikinkan satu seperti punya Argha juga bisa." jawab Gina.


Aris merebut ponsel dari Bram.


"Sayang cepat selesaikan pekerjaan di sana. Kamu harus pulang ke sini. Aku dan Argha butuh kamu." perintah Aris.


"Iya suami ku. Ini sedang kerja. Aku juga butuh Argha dan Kamu." jawab Gina.


"Sayang aku lanjut kerja dulu ya. Aku mencintai mu sayang. Muach" ujar Gina dari seberang panggilan video.


"Aku juga mencintaumu sayang. Selalu dan selamanya." ujar Aris membalas kata kata cinta dari Gina.


"Uwek. Muntah." ujar Argha.


"Hahahahaha. Cemburu Gha?" tanya Papi yang dari tadi hanya diam saja.


"Nggak Tuk, cuma males aja dengernya. Muntah Arga tuk." jawab Argha sambil berusaha tersenyum.


"Bram, kamu serius mau melamar Sari?" tanya Papi sambil menatap Bram.


"Serius Pi. Bram sudah semenjak dari negara U sudah berencana mau ngelamar Sari. Tanpa adanya taruhan dengan Argha dan Gina, Bram tetap akan melamar Sari. Jadi taruhan dengan mereka berdua adalah hadiah hiburan yang harus Bram syukuri." jawab Bram


"Kalau gitu kamu harus urus secepatnya. Papi dan Aris akan mengosongkan waktu kami berdua. kamu harus cepat memberikan kabar." lanjut Papi.


"Untuk perusahaan, kalian berdua mulai besok kembali ke Soepomo. Paman Hendri akan kembali menjadi asisten Papi." lanjut Papi memberitahukan tentang masalah perusahaan.


"Atuk bisa dak bahas masalah yang lainnya di rumah. Argha ngantuk berat Tuk." ujar Argha.


"Oke sayang. Kita pulang."


Bram berjalan menuju kasir. Dia membayar semua yang telah mereka makan. Sedangkan Papi, Aris dan Argha langsung menuju mobil. Setelah Bram masuk kedalam mobil, Bram melajukan mobil ke rumah utama.


Mereka berempat selesai menikmati mie ayam yang enak itu. Sekarang mereka menuju ke rumah utama Soepomo. Argha benar benar sudah letih. Habis penerbangan jauh, bertengkar dengan Neneknya ditambah lagi dengan menahan rasa lapar. Lengkap sudah yang dirasakan oleh Arga sekarang

__ADS_1


__ADS_2