Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Masalah Bayu


__ADS_3

Pagi harinya Ghina sudah kembali berkutat di dapur. Dia memasak sarapan untuk semua anggota keluarganya. Dia hari ini memasak nasi bakar dengan Ayam mentega dan sayur capcay untuk sarapan. Ghina membiasakan keluarganya sejak dahulu makan makanan berat untuk sarapan. Ghina sama sekali tidak mengajarkan keluarganya untuk makan roti dan minum susu saja di pagi hari. Kebiasaan yang akhirnya membuat gizi keluarganya terjamin.


"Pagi Bunda cantik." ujar Argha yang ternyata sudah selesai bersiap siap. Ghina baru saja mengisi piring setiap anggota keluarganya.


"Hay, tumben turun sendirian? Daddy mana?" tanya Ghina yang tidak melihat suami tampannya pagi ini.


"Daddy tadi sedang masang sepatu. Jadi Argha tinggal aja. Daddy lama."


"Hay bukan Daddy yang lama cowok ganteng, tapi kamu yang terlalu cepat selesai bersiap siap. Makanya Daddy jadinya yang terkesan terlambat. Padahal Daddy bersiap siap di jam biasa." jawab Aris yang tidak mau disalahlan oleh Argha.


Cup cup.


Ghina mendaratkan ciumannya di pipi kedua pria tampan yang memenuhi pikiran dan perasaannya.


"Bunda" teriak Argha protes tidak suka dicium Ghina.


"Lagi" ujar Aris yang sangat suka dicuim oleh Ghina.


"Daddy yes, Argha No." ujar Argha dengan wajah kesal dan marahnya.


"Bunda No no yes yes." ujar Aris sambil tersenyum bahagia.


"Sekarang duduk. Kita tunggu yang lainnya untuk sarapan. Capek ribut mulu kayak terompet rusak." ujar Ghina menengahi keributan yang nggak ada artinya itu.


Satu persatu anggota keluarga Soepomo sudah duduk di kursi mereka masing masing, tapi tiga buah kursi masih kosong sampai hari ini. Biasanya yang kosong hanya dua kursi. Sekarang bertambah menjadi tiga kursi.


"Semoga dalam waktu dekat tiga kursi itu akan kembali terisi." ujar Papi.


"Amiin." jawab semua anggota keluarga.


Keluarga besar Soepomo makan dalam diam. Mereka menikmati setiap makanan yang masuk ke dalam mulut mereka. Walaupun setiap kepala yang ada di rumah itu memiliki pemikiran yang cukup rumit. Mereka memiliki problem masing masing.


"Daddy hari ini Argha ke kantor Daddy ya?" ujar Argha sambil menatap Aris berharap untuk diperbolehkan.


"Hem gimana kalau besok sayang?" jawab Aris menatap memohon pengertian dari Argha.


"Why?"


"Daddy banyak meeting hari ini sayang, jadi Daddy tidak ada di kantor. Kalau Argha tidak percaya dengan omongan Daddy silahkan Argha bertanya kepada Paman Bimo." lanjut Aris meyakinkan Argha dengan alasannya kenapa tidak memperbolehkan Argha ke kantor.


"Oke Daddy. Besok aja Argha ke kantor Daddy."


"Gimana kalau ke kantor Bunda?" Ghina menawarkan kepada Argha untuk ke perusahaan Jaya Grub.


"Ke GA juga boleh, lagian nanti uni juga mau ke GA Mall." ujar Frenya kepada Argha.


Argha terlihat berpikir.


"Ke rumah sakit juga boleh." ujar Daniel.


"Iiiiii rumah sakit no. GA juga oke. Jam berapa Uni?"


"Kamu pulang sekolah aja. Uni tunggu di kantor, nanti barengan aja ke mall nya." kata Frenya sambil tersenyum. Dia berhasil mengompori Argha untuk ikut dengannya ke GA Grub.


"Ikut Atuk Papi yuk Gha?"


Argha menatap Atuk Papi. Dia penasaran juga apa yang akan ditawarkan oleh Atuknya itu.


"Kita main main ke taman yang dulu ada kenangan orang tua kamu disana." ujar Papi.


"Taman bermain yang banyak tempat makannya itu?" kata Argha yang ingat pernah di bawa Daniel dan Frenya ke taman itu dulu.


"Kok tau?" tanya Papi penasaran.


"Taulah. Kan Argha udah pernah kesana dengan Uda dan Uni."

__ADS_1


"Mau ke sana lagi?" Papi masih tetap menawarkan kepada Argha.


Argha terlihat berpikir. Ajakan Atuk Papi menggiurkan bagi dirinya. Ajakan Frenya juga sangat menggiurkan.


"Om Ivan, kita pergi ke mall S aja main ya. Argha nggak mau mengecewakan Atuk dan Uni." ujar Argha sok bijaknya.


Mereka yang berada di meja makan tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Argha. Suatu jawaban yang tidak pernah terpikirkan oleh mereka semua akan keluar dari mulut Argha.


Ivan menatap kepada Aris. Aris mengangguk tanda setuju dengan permintaan Argha.


"Oke Tuan Muda, kita akan pergi ke Mall S." Ivan menjawab permintaan dari Argha tadi.


Setelah selesai sarapan, terlihat beberapa mobil bergerak menuju tempat kerja masing masing anggota keluarga Soepomo. Iring iringan itu akan berpencar di gerbang luar rumah utama. Tapi ada tiga mobil yang akan tetap berjalan beriringan. Aris selalu mengantarkan Argha dan Ghina ke tujuan mereka masing masing. Nanti setelah mengantar istri dan anaknya, barulah Aris menuju kantornya sendiri.


"Tuan ada telpon dari Tuan Bayu." ujar Bimo memberikan ponsel kepada Aris.


Aris mengambil ponsel tersebut.


"Hallo Bay, kenapa nelpon ke ponsel milik Bimo?" tanya Aris.


"Gue udah nelpon loe berkali kali tetapi tidak ada jawaban. Telpon nggak loe angkat. Gimana gue bisa bicara dengan loe." ujar Bayu


Aris mengambil ponselnya dari dalam saku celana, ternyata ponselnya dari tadi tidak dalam mode berdering dan bergetar. Aris melihat sudah banyak panggilan tak terjawab dari nomor Bayu.


"Sorry Bay, ponsel gue dalam mode hening sehening heningnya." ujar Aris sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Gue tau loe ngapain semalam kalau ponsel loe udah jadi kuburan." ejek Bayu.


"Jadi ngapain loe nelpon gue pagi pagi?" Aris mengalihkan pembicaraan antara dirinya dan Bayu. Aris malas di bully masalah urusan ranjangnya.


"Gini Ris."


Bayu menceritakan semua permasalahannya kepada Aris. Bayu tidak akan mungkin bercerita kepada Bram. Bram saja masih terlibat masalah serius dengan mertuanya. Aris terlihat serius mendengar apa yang diceritakan oleh Bayu. Ekspresi Aris seperti menahan amarah yang akan siap meledak kapan saja.


"Jadi gue harus gimana Ris?" ujar Bayu dari seberang sana.


"Sudah. Mira akan meminta Juan dan Alex untuk menyelidikinya. Tapi kamu tau sendirilah Juan dan Alex masih sibuk mencari dalang di balik kecelakaan Sari." ujar Bayu dengan lemah.


"Gini aja Bay. Loe ke kantor gue sekarang. Nanti gue akan minta Steven ke kantor." Aris memberikan sedikit solusi kepada Bayu. Aris berharap Steven bisa mencari tau, ditambah lagi dengan Jero asisten Ghina yang terkenal pintar melacak dalam jaringan.


"Oke Ris. Gue langsung ke kantor loe." ujar Bayu.


"Loe dimana sekarang?" tanya Aris.


"Ini di mobil. Gue lagi nyetir. Gue kehilangan arah makanya nelpon loe." jawab Bayu.


"Ya udah, loe gue tunggu di kantor."


Aris kemudian memutuskan panggilannya dengan Bayu. Dia langsung memencet nomor Ghina. Dia harus menghubungi istrinya.


"Hallo sayang, baru aja pisah udah kangen lagi." ujar Ghina saat mengangkat telpon dari Aris.


"Sayang, ada yang mau aku ceritakan." ujar Aris.


"Oh oke sepertinya serius. Ada apa?" tanya Ghina yang tau Aris sedang dalam mode serius.


Aris kemudian menceritakan semuanya kepada Ghina. Ghina mendengarnya menjadi sangat geram.


"Oke sayang, aku akan minta Jero ke sana untuk membantu."


"Steven bisa bantu Jero kan sayang?" tanya Aris yang tidak ingin membuat Jero terlalu fokus dengan permasalahan Bayu dan mengabaikan Ghina.


"Sayang sayang kenapa harus Steven coba. Asisten sayang lebih keren dibandingkan Steven. Kalau Steven masalah yang sedang dihadapi Bayu ini dia kurang bisa bantu banyak. Jadi ceritakan masalah ini nanti ke Bimo dan Jero." ujar Ghina.


"Bimo?" tanya Aris tercengang.

__ADS_1


"Ya Bimo. Kamu nggak tau beberapa bulan yang lalu database perusahaan Soepomo bisa dimasuki penyusup. Nah yang mengetahui ya Bimo. Bimo yang kembali membuat jaringan keamanan database Soepomo Grub." ujar Ghina.


"Dia nggak ngomong." jawab Aris sambil menatap garang ke arah Bimo.


"Hay Bro, jangan tatap dia dengan tatapan mematikan itu. Itulah Bimo, dia tidak akan mengatakan hal yang dianggapnya biasa aja." ujar Ghina yang tau kalau Bimo sedang mendapatkan hadiah tatapan mematikan dari Aris.


"Hahahaha. Mana ada ngasih tatapan aneh. Nggak juga, kamu suuzon aja." ujar Aris yang ketahuan oleh Ghina sedang memberikan tatapan kepada asistennya.


"Sayang sayang, emang aku baru dekat sehari dengan kamu. Udah lama kali sayang." ujar Ghina sambil menahan tawanya.


"Udah ah, aku mau kerja. Jero jalan sekarang ke kantor. Aku nggak akan kemana mana." ujar Ghina.


Ghina memang memutuskan untuk tidak keluar selagi Jero tidak bisa menemaninya. Bagi Ghina membuat Aris nyaman adalah fokus utamanya.


"Makasi sayang untuk tetap stay di kantor selagi Jero di sini." ujar Aris.


"Aku mencintaimu sayang. Aku akan membuat kamu nyaman dengan fokus kepada kerjaan tidak memikirkan aku yang sedang di luar." lanjut Ghina.


"Aku mencintaimu. Selalu selamanya." jawab Aris.


"Jero akan datang ke kantor. Kamu dan Jero langsung keruangan saya nanti." perintah Aris.


"Siap Tuan." jawab Bimo.


Tidak beberapa lama, mobil yang dikemudikan oleh Jero berbelok masuk ke dalam parkiran gedung utama perusahaan Soepomo Grub. Perusahaan yang dulunya bergabung dengan Jaya Grub. Tetapi semenjak Bram menikah, akhirnya Papi memutuskan untuk memecah kembali perusahaan dan memberikan kepada Aris dan Bram.


Saat mobil yang dikendarai Aris masuk ke bestman, ternyata di tempat parkiran mobil milik Bram sudah parkir mobil Bayu. Bimo memarkir mobil dengan mulus. Dia kemudian membukakan pintu untuk Aris.


"Dari tadi Bay?"


"Baru juga."


Mereka kemudian berjalan menuju ruangan Aris. Bayu terlihat memang sangat kusut sekali hari ini. Beban pikiran terlihat sangat jelas dari raut wajah Bayu.


"Gue udah menghubungi Ghina tadi. Ghina mengirim Jero ke sini." ujar Aris.


"Steven gimana?"


"Kita nggak butuh Steven. Kita hanya butuh orang yang sedang berdiri di depan kita ini." ujar Aris menyindir Bimo.


"Bimo?" tanya Bayu.


"Yup. Ternyata setelah Jero ya dia yang keren. Sepertinya kalau Juan, Alex, Jero, Bimo dan Felix digabung dan membuat perusahaan sendiri, maka kita akan hancur lebur." ujar Aris sambil menatap jauh ke depan.


"Kok?" tanya Bayu yang gagal paham dengan maksud dari pernyataan Aris.


"Loe bayangin aja, mereka berlima memiliki kemampuan yang sangat wow diberbagai bidang. Nah kalau digabung kan keren." ujar Aris yang ngomong mulai nggak jelas.


"Terserah elo lah Ris. Gue lagi nggak mood mikir yang lain. Masalah gue aja belum selesai kenapa harus nambah pemikiran yang baru." ujar Bayu.


"Sorry kawan. Kita akan selesaikan masalah ini. Kita akan temukan dalangnya dan kita buat mereka merasakan akibatnya karena sudah berani berurusan dengan kita." ujar Aris memberikan semangat kepada Bayu.


Ting. Pintu lift terbuka, Aris, Bayu dan Bimo berjalan keluar. Mereka berdua langsung masuk ke dalam ruangan Aris. Sedangkan Bimo akan menunggu Jero yang katanya sedang memarkir mobil di bestman.


"Jero dimana Bim?" tanya Aris yang ingat dengan Jero yang kata Ghina langsung berangkat ke Soepomo Grub.


"Udah di bestman Tuan." jawab Bimo.


"Oke. Nanti langsung masuk saja." ujar Aris.


Budi yang dari tadi sudah akan membacakan agenda Aris membatalkan niatnya saat Aris memberi kode untuk membatalkan semua pertemuannya hari ini dengan kolega bisnis.


"Budi kalau ada yang tidak bisa dibatalkan silahkan kamu yang pergi dan bawa satu orang manager." ujar Aris memberikan perintah.


"Baik Tuan. Ada satu yang tidak bisa dibatalkan. Saya akan pergi dengan Manager Perencanaan. Saya mohon izin Tuan." kata Budi sambil melangkah keluar dari ruangan Aris.

__ADS_1


Aris dan Bayu duduk di sofa. Mereka menunggu Jero dan Bimo untuk mendiskusikan permasalahan yang sedang menimpa Bayu dan perusahaannya.


__ADS_2