
"Sayang sepertinya kamu harus cepat mengambil tindakan untuk perusahaan Zain sayang." kata Gina kepada Aris saat mereka sudah rebahan di atas kasur.
"Besok aku akan ke perusahaan itu bersama dengan Bram." jawab Aris sambil memainkan sesuatu di balik baju Gina.
"Sayang menurut aku nih ya. Lebih baik mereka yang kamu undang ke perusahaan, jangan kamu yang ke sana sayang." kata Gina sambil memegang tangan Aris yang mulai gatal berkelana di dua gundukan milik Gina.
"Tapi sayang, kalau mereka di undang ke kantor kalau mereka mau sukur, kalau nggak gimana?" tanya Aris sambil mengendus endus leher Gina.
"Sayang yang ngajuin kerjasama kan mereka. Bukan perusahaan kamu sayang. Jadi ngapain coba kamu yang ke sana." lanjut Gina yang mulai kurang konsentrasi karena kegiatan Aris.
"Sayang aku pengen. Kamu nggak pengen sayang?" tanya Aris kepada Gina.
Aris mengalihkan pembicaraan itu. Dia sangat ingin menyentuh Gina dimana mana.
Tangan Aris kembali merayap ke setiap penjuru tubuh Gina. Begitu juga dengan hidung Aris. Dia mulai mengendus leher Gina. Aris meninggalkan jejak jejak kepemilikannya di leher Gina.
"Sayang masukin, aku udah nggak tahan" kata Gina.
Gina akhir akhir ini memang cepat sekali naik apabila Aris sudah mulai bermain dengan dirinya. Biasanya Gina akan mengulur ulur waktu saat Aris akan memasukan benda tumpul itu.
"Apakah kamu sudah siap sayang?" tanya Aris.
"Udah kalau nggak percaya cek aja sayang." jawab Gina yang sudah sangat tidak fokus.
Aris mencek kesiapan Gina. Ternyata memang benar, Gina benar benar sudah siap, Aris menempatkan posisinya. Dia memasukan benda tumpul itu.
Aris bergoyang dengan berirama. Aris dan Gina menikmati permainan itu. Mereka berdua sama sama menyambut sorga dunia dengan saling memegang tangan. Aris sudah tidak bisa rebah di atas badan Gina, perut Gina yang membesar membuat Aris susah untuk memeluknya.
"Sayang semakin ke sini semakin nikmat" kata Gina kepada Aris.
"Bener bener nikmat sayang. Sepertinya aku harus tiap malam menjenguk Blip. Setelah Blip lahir aku harus puasa sayang." kata Aris dengan memelas.
"Sayang, aku mau ngomong serius." kata Gina kepada Aris.
Aris mengangkat kepalanya, dia menopang kepalanya dengan sebelah tangan. Dia melihat dan menatap Gina dengan tajam.
"Ada apa sayang?" tanya Aris kepada Gina.
"Sayang, aku mau saat aku udah melahirkan, aku nggak akan kerja lagi. Aku ingin fokus mengurus Blip dan juga kamu. Tidak apa apakan sayang?" tanya Gina kepada Aris.
Aris menatap tajam dan lama ke arah Gina.
"Sayang kamu nggak setuju?" kata Gina kepada Aris.
"Siapa yang nggak setuju sayang. Setuju banget malahan. Aku sebenarnya udah lama pengen ngomong ini, tapi takut aja nanti kamu merasa aku ngelarang kamu kerja." jawab Aris.
"Aku sangat senang dengan keputusan kamu sayang. Senang banget." jawab Aris.
"Makasi sayang." kata Gina mengecup mesra bibir Aris.
"Mari kita istirahat." ajak Gina kepada Aris.
__ADS_1
Mereka kemudian beristirahat karena besok pagi adalah pagi yang berat bagi Aris. Dia harus menyelesaikan urusannya dengan perusahaan Zain.
------------------
Pagi pagi sekali Gina sudah bangun. Dia langsung turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Gina hari ini akan memasak nasi goreng ayam geprek. Gina memasak sambil bersenandung, dia kelihatan sangat gembira sekali. Sampai sampai Gina tidak menyadari Aris berada di belakangnya.
Aria yang melihat Gina memasak sambil sedikit sedikit menggoyangkan badannya, langsung memeluk Gina dari belakang. Gina yang tiba tiba di peluk langsung memukulkan sendok goreng ke tangan Aris.
"Wow. Sayang mulai KDRT ya?" tanya Aris.
"Kamu ngagetin aku sayang. Maaf ya kena pukul." kata Gina sambil mengecup tangan Aris yang dipukulnya tadi.
"Kamu kelihatan sangat bahagia pagi ini, ada apa?" tanya Aris tanpa melepaskan pelukannya.
Maid dan Mami yang berencana akan ke dapur mengurungkan niat mereka saat melihat Aris dan Gina sedang bermesraan di dapur.
"Akhirnya selesai juga memasak. Walaupun ada tukang ganggu yang dari tadi nggaknmau melepaskan pelukan. Ayok sekarang bersihkan badan kita, lalu sholat dan pakaian. Ke kantor kan ya." kata Gina kepada Aris.
Aris kemudian menggendong Gina. Ternyata Gina luar biasa beratnya.
"Sayang aku berat. Kamu sok kuat mengangkat aku lewati jenjang yang banyak ini." kata Gina yang tau Aris sudah ngos ngosan.
"Hahahaha. Itung itung latihan sayang." jawab Aris.
Sesampainya di kamar Aris langsung meminum air putih miliknya dan juga milik Gina. Gina hanya bisa tersenyum melihat tingkah Aris.
Aris masuk ke dalam kamar mandi begitu juga dengan Gina mereka akan mandi di tempat yang berbeda. Aris akan mandi di shower sedangkan Gina akan mandi di bathup.
"Tidak" teriak Gina dari ruang makeup nya.
Aris yang mendengar Gina berteriak langsung berlari menuju Gina.
"Sayang ada apa?" tanya Aris.
"Ini" kata Gina sambil menunjuk tanda cinta Aris.
"Sayang aku kira apaan. Nggak apa apa sayang. Itu hasil lukisan terindah." jawab Aris kepada Gina.
"Ye" kata Gina dengan kesal.
Gina mengambil syalnya, dia harus menutupi hasil karya Aris dengan syal. Untung saja dia siap membeli syal tipis kemaren. Jadi tidak terlihat kalau dia sedang menutupi sesauatu di balik syal itu.
Setelah yakin dengan penampilannya Gina mengambil sepatu flatnya, dia menggandeng lengan Aris untuk turun dan sarapan.
Mereka kemudian sarapan bersama. Mami dan maid yang melihat kemersraan Aris dan Gina yang jarang terlihat senyam senyum saja. Membuat Papi menjadi heran.
"Mami kenapa dari tadi senyum terus?" tanya Papi kepada Mami.
"Papi kepo. Nggak ada kenapa kenapa. Biasa biasa aja." jawab Mami kepada Papi.
Mereka kemudian melanjutkan sarapan. Gina tau pasti Mami melihat kemesraan mereka tadi pagi di dapur. Makanya Mami tidak muncul saat Gina memasak sarapan.
__ADS_1
"Sayang ayuk aku antar ke kantor." kata Aris kepada Gina.
"Aku ke kantor kamu sayang. Aku udah resaign kemaren ke uda Afdhal. Aku telah menyelesaikan proyel aku yang terakhir." jawab Gina kepada Aris.
Semua yang mendengar langsung mengucapkan kata aamiin dengan serentak. Gina tersenyum kepada semua anggota keluarganya. Gina bisa membuat mereka bangga dan nyaman dengan pilihan yang sudah dipilihnya.
"Ayuk berangkat." kata Aris kepada Gina.
Bram mengikuti dari belakang. Tiba tiba Bram memiliki ide jahil.
"Ris, loe yang bawa mobil ya. Gue masih streas gara gara yang kemaren." kata Bram kepada Aris.
Sari yang merasa itu hanya akal akalan Bram saja langsung saja tersenyum. Dia sudah tau apa keinginan Bram.
"Kamu pintar yang." kata Sari.
"Kamu mau ke markas atau ke kantor?" tanya balik Bram.
"Kantor. Siang baru ke markas. Mau ikut?" Sari memberikan tawaran kepada Bram.
"Mau. Lagian di kantor ada Gina, jadi Aris bisa dikondisikan oleh Gina. Jam berapa?" tanya Bram kepada Sari.
"Nanti aku kabari. Aku kantor dulu. Selamat jadi obat nyamuk sayang." kata Sari kepada Bram.
Cup. Tiba tiba Sari mengecup pipi Bram. Bram langsung melongo tidak percaya dibuatnya.
"Awas kamu ya." kata Bram kepada Sari
Sari kemudian berlari ke mobilnya. Dia langsung menghidupkan mobilnya dan langsung pergi menuju kantor. Bram hanya geleng geleng kepala melihat sikap Sari yang kadang kadang mengejutkan itu.
"Ayuk berangkat" kata Bram sambil duduk di kursi penumpang bagian depan.
"Ngapain loe di depan. Harusnya istri gue." kata Aris kepada Bram.
"Gin, loe mau di depan?" tanya Bram kepada Gina.
"Nggak. Kakak aja. Panas duduk depan." jawab Gina, jawaban yang tidak kompeten. Mana ada mobil mewah panas.
Aris hanya pasrah saja. Dia mengemudikan mobil dengan pelan. Dia tidak mau Gina kenapa kenapa.
"Sayang kok pelan banget?" tanya Gina dari belakang.
"Nggal boleh ngebut. Nanti kamu kenapa kenapa." jawab Aris.
"Hahahahahaha. Mulai protektif." jawab Aris.
Akhirnya mereka sampai juga di kantor dengan lama perjalanan satu setengah jam. Molor empat puluh lima menit dari biasanya. Bram langsung keluar dari mobil. Dia menggoyang goyangkan pantatnya. Aris yang melihat langsung tersenyum bahagia.
"Rasain loe. Makanya jangan ngerjain gue kalau nggak mau dikerjai balik." kata Aris.
Aris menggandeng tangan Gina, mereka langsung masuk ke dalam perusahaan, Bram mengikuti dari belakang. Dia hanya pasrah menikmati apa yang dilakukan Aris kepada dirinya.
__ADS_1