Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri


__ADS_3

Tak terasa usia kandungan Gina udah masuk bulan ketiga. Gina masih tidak merasakan mabuknya jadi wanita hamil. Semua yang merasakan bagaimana mabuknya jadi wanita hamil, dirasakan oleh Aris.


Gina telah memulai terapinya dengan Anggel dari sepuluh hari setelah pendarahan. Hari ini Gina kembali ada janji dengan Anggel. Gina akan melakukan terapi untuk mengembalikan kepercayaan dirinya yang sedang jatuh ke jurang terdalam.


Gina selama hamil ini selalu kemana mana diantar oleh sopir. Semua ini adalah permintaan Aris kepada Gina. Gina boleh pergi tanpa Aris, tetapi harus bawa sopir. Seandainya Gina bersikeras tidak bawa sopir maka Aris akan selalu ikut dengan Gina.


"Kita mau kemana Nyonya muda?" kata Sopir yang sebenarnya adalah orang kepercayaan Aris. Dulunya sopir Gina adalah salah seorang kaki tangan Aris.


"Ke tempat praktek dokter Anggel, Juan. Saya ada janji dengan dia" kata Gina kepada Juan.


Juan labgsung melajukan mobilnya dengan kecepatan pelan. Semua ini dilakukan Juan atas pesan Tuan mudanya.


"Juan, ni mobil nggak bisa agak ngebut dikit ya?" tanya Gina yang mulai kesal, karena laju mobil yang luar biasa sangat pelan.


Bisa Nyonya. Tetapi Tuan berpesan agar saya pelan membawa Nyonya." jawab Juan sambil melihat Gina dari kaca spion mobil.


"Juan, kamu pake aja kecepatan delapan puluh. Anggel keburu pulang Juan" kata Gina yang kesalnya udah sampe ubun ubun.


"Nanti saya dipecat Nyonya." jawab Juan.


"Saya tanggung jawab" kata Gina dengan nada yang sudah tidak bida dibantah lagi.


Juan menambah menekan pedal gas mobilnya. Dia melaju dengan kecepatan seratus kilo meter perjam. Tiba tiba ponsel Juan yang terhubung di mobil berdering nyaring.


Juan melihat nama yang muncul di layar ternyata yang menghubunginya Tuan Muda.


"Nyonya, Tuan menghubungi saya" kata Juan.


"Angkat" lerintah Gina.


Juan mengangkat panggilan telpon itu.


"Juan, kamu sudah berani melanggar perintah saya Juan" teriak Aris.


"Uda ini saya Gina. Saya yang meminta Juan menggas mobilnya. Saya tidak mau Anggel pulang saat saya sampai di tempat prakteknya" jawab Gina.

__ADS_1


Gina kemudian mematikan ponsel Juan. Juan hanya bisa pasrah saja. Juan yang tau semua jalan ceritanya hanya bisa berserah diri kepada yang maha kuasa. Tak terasa mobil yang dikendarai Juan telah terparkir rapi di depan tempay praktek Anggel.


Gina yang diiringi Juan dari belakang melangkah masuk menuji ruangan Anggel.


Tok tok tok. Gina mengetuk pintu ruangan Anggel.


"Masuk" kata Anggel dari dalam.


Gina membuka pintu ruangan Anggel. Gina melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan Anggel. Juan terlihat mau ikut.


"Mau kemana? Mau ikut saya terapi?" tanya Gina dengan menghadiahi Juan tatapan membunuh.


"Nggak Nyonya. Saya mau berdiri di depan pintu ini saja" kata Juan. Juan berdiri di depan pintu itu. Dia harus menjaga keselamatan Nyonya muda keluarga Soepomo.


Gina duduk di sofa yang nyaman di ruangan Anggel. Anggel menyediakan air mineral untuk Gina. Dia juga mengambil air mineral untuk dirinya.


"Gin, kita nggak formal ya. Kita seperti bercerita biasa aja. Kamu silahkan keluarkan semua uneg uneg kamu, jangan pernah menahan apapun. Ceritakan semua yang kamu rasakan kepada aku. Nanti aku akan memberikan beberapa tips kepada kamu" kata Anggel.


Anggel ingin Gina tidak merasakan sedang dikonseling kejiwaannya oleh dokter psikiater. Anggel ingin Gina seperti sedang mencurahkan semua isi hatinya kepada orang yang dipercaya bisa menyimpan semua rahasianya dan bisa memberikan semua solusi atas permasalahan yang dihadapinya.


"Nah itu dia Gin, anggapan yang keliru. Setia tidak semata hanya memaafkan kesalahan suami. Oke kita memang sudah memaafkannya, tetapi hanya setipis itu makna setia? jawabannya adalah tidak" kata Anggel.


"Dengan kamu tidak membalas kelakuan suami kamu dengan kelakuan yang sama itu namanya juga setia." jawab Anggel.


"Kamu selalu membela suami kamu dalam keadaan apapun, itu juga setia." lanjut Anggel.


"Maksudmu?" tanya Gina yang kurang paham.


"Gin, aku tau, kamulah yang menangkap orang yang sudah mencelakai Aris saat Aris jatuh kedalam jurang. Nah apa yang kamu lakukan itu namanya kamu setia. Setia membantu suami kamu" beber Anggel.


"Seperti sekarang, kamu kembali pulang ke rumah, kembali mengurus Aris. Hal itu namanya juga setia Gina" kata Anggel.


"Jadi intinya kata kesetiaan seorang istri bukan hanya sekedar memaafkan suami. Banyak makna terkandung didalmnya. Mempertahankan dan berkorban dalam berumahtangga, itu juga kesetiaan." jelas Anggel.


"Jadi, kalau ada orang di luar sana mengatakan, apapun yang kamu lakukan kepada Aris bukanlah kesetiaan seorang istri, maka dengarkan saja. Mereka berpikiran sempit dalam mengartikan kata kesetiaan." lanjut Anggel.

__ADS_1


"Apa kamu paham Gin?" tanya Anggel.


"Sudah Njel. Anggel apa aku salah, aku tetap pulang tetapi tidak mengijinkan Aris untuk menyentuhku?" tanya Gina.


Anggel terdiam sebentar. Anggel harus mencari kata kata yang tidak membuat Gina kembali tertutup. Pertemuan kali ini adalah pertemuan ketiga Gina menjalani terapi yang santai. Sampai sekarang Gina masih belum mengungkapkan apa sebenarnya yang dirasakan oleh Gina.


"Nah, gini Gin. Menurut sepemahaman aku ya, kalau menurut agama kita, saat suami sah kita meminta kita untuk bisa disentuh, maka kita sebagai wanita harus menjawab ya, sama sekali tidak boleh tidak, kalau kita dalam keadaan sehat dan bersih" kata Anggel.


"Sedangkan untuk kamu ini Gin. Kamu memiliki trauma yang sangat dalam. Trauma untuk memulai kembali merajut tali yang sempat putus menjadi menyatu itu yang susah. Kamu sudah berusaha untuk menerima sentuhan dari Aris. Tetapi bayang bayang saat kamu dikhianati itu kembali muncul. Hal itulah yang menjadi pemicu kamu menjadi sangat takut saat disentuh suami kamu.." beber Anggel dengan sangat lugas.


"Solusinya adalah kamu harus melupakan semua kejadian jelek itu. Kamj harus berusaha bangkit kembali Gina. Gina semakin kamu memendam penyakit itu sendirian, maka yakinlah kamu, kamu tidak akan kuat" lanjut Anggel.


"Jadi menurut kamu, aku harus bagaimana? Untuk menerima dia memegang tanganku saja aku udah langsung keringat dingin. Apalagi dia menyentuhku." kata Gina.


"Gin, kamu belum mencoba. Sekarang kamu harus mencoba, kamu harus keluar dari zona nyaman kamu sekarang. Cobalah mulai menerima sentuhan dari Aris kembali. Gina, aku di sini posisinya sebagai perantara. Semuanya kembali kepada keinginan dan kemauan dari kamu untuk bangkit Gina. Kami semua yakin kamu bisa kembali bangkit dari keterpurukan ini." kata Anggel.


"Aku takut pendarahan lagi Ngel" kata Gina kepada Anggel.


"Nah bagaimana kalau kamu melakukan terapinya di sini aja. Jadi aku bisa mengawasi kamu. Gimana setuju?" Anggel memberikan tawaran kepada Gina.


"Oke, tiga hari lagi kita terapi seperti yang kamu katakan" jawab Gina yang setuju membawa Aris kedalam metode terapinya.


"Sip berarti tiga hari lagi, kita akan memakai terapi dengan metode berpasangan. Sebelum itu kamu harus terus menguatkan diri kamu. Intinya gini Gin, kamu berjuang untuk sembuh ini bukan untuk kamu. Jadikan ibi untuk anak kamu, maka jadikan dia sebagai motivasi kamu." kata Anggek memberi semangat Gina.


"Ingat selalu Gin. Tidak ada hasil yang menghianati proses. Pelangi akan muncul setelah hujan. inti dari itu semua adalah selagi kamu masih berusaha maka kamu akan bisa kembali seperti semula.. Bagian terpenting dari terapi ini adalah, kamu mau, kamu oke, kamu bisa" kata Anggel.


"Sip. Kita bertemu lagi tiga hari kedepan. Aku akan bawa Aris. Terimakasih sebelumnya atas waktunya calon kakak ipar." kata Gina yang mulai mengganggu Anggel.


"Sana pulang. Aku mau praktek lagi" kata Anggel.


Anggel sengaja memundurkan waktu prakteknya satu jam. Anggel juga dengan rela memundurkan waktunya satu jam untuk pulang ke rumah. Semua dia lakukan demi Gina calon adik iparnya


Gina sekarang adalah pasien prioritas Anggel. Bukan karena Gina adalah calon adik ipar Anggel. Semua ini murni karena Anggel sangat yakin Gina akan sembuh. Gina adalah wanita yang kuat. Semua terlihat dalam tiga kali terapi yang sudah mengalami kemajuan yang cukup pesat. Mulai dari setiap Gina ditanya jawabnya hanya angguk atau geleng. Sekarang sudah mulai bercerita bahkan mengajukan pertanyaan.


Berkembangan paling mencolok bisa dilihat dari, Gina yang mau terapi berpasangan. Padahal jangankan untuk pergi berdua, makan berdua saja Gina masih terlihat enggan sebelum melakukan terapi.

__ADS_1


__ADS_2