
Music pengantar anak daro dari speker terdengar nyaring. Musik adat minang yang menandakan kalau yang memiliki hajatan adalah orang dari daerah Sumatera Barat. Terlihat sepasang pengantin berjalan dengan gagah dan anggunnya memasuki tempat acara resepsi. Gina mengapit lengan Daniel. Sedangkan Paman dari Rani mengapit tangan Rani. Mereka berjalan melewati karpet merah yang di atasnya bertaburan kelopak mawar merah.
Mereka berjalan membelah tamu undangan dan keluarga besar kedua mempelai. Mereka berjalan sambil menebarkan senyum bahagia. Terlebih Gina yang sudah melepas salah satu anaknya untuk membina rumah tangga. Gina selalu berdoa agar anak anaknya tidak mengalami kejadian pahit dalam berumah tangga. Cukup dia saja yang merasakan pahitnya rumah tangga. Dengan kejadian suami tidak setia serta mertua perempuan yang terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka.
Iring iringan pengantin sampai pada tempat Aris, Bram dan yang lainnya berada. Gina yang tidak memperhatikan dengan saksama siapa siapa saja yang berdiri hanya tersenyum menatap lurus ke depan.
"Bram, dia sama sekali tidak tersenyum kepadaku Bram." ujar Aris yang ternyata salah sangka dengan Gina.
"Loe nggak boleh berburuk sangka seperti itu Ris. Bisa jadi dia memang tidak melihat loe. Sedangkan ke Arga aja dia tidak melirik." ujar Bram.
Aris kembali terdiam. Semoga apa yang dikatakan oleh Bram ada benarnya juga. Aris tidak mau salah sangka ke Gina. Sudah cukup semua kejadian yang pernah ada ini terjadi.
Kedua pengantin yang sedang bernahagia itu duduk di pelaminan sambil menebarkan senyum bahagianya. Semua tamu yang datang mulai menikmati hidangan.
Gina yang sebelumnya berada di pelaminan turun ke dekat keluarganya. Dia sangat rindu dengan Arga. Sudah sekian jam Gina tidak melihat anak tampannya itu. Apalagi dengan Arga memakai pakaian adat minang, tentu dia akan semakin tampan saja.
Saat Gina berjalan ke tempat keluarganya duduk. Afdhal menyenggol lengan Aris.
"Gina berjalan ke sini" ujar Afdhal saat melihat Aris yang akan protes dengan tindakannya barusan.
Aris menatap ke arah panggung. Dia melihat sosok yang selama ini di rinduinya dan dicarinya kemana mana sedang berjalan dengan anggunnya menuju tempat mereka sedang duduk. Detak jantung Aris sangat luar biasa berdetak dengan kencang. Aris sangat tau kalau dia sedang berada dalam posisi yang gemetar, tetapi dia berusaha menenangkan hatinya kembali.
Gina yang dari tadi hanya fokus menatap Arga kaget saat melihat Aris berdiri di sebelah orang yang selama ini selalu berada di dalam doa doanya setelah menunaikan kewajibannya itu.
Saking tidak fokusnya Gina hampir saja Gina terjatuh karena tumit sepatunya yang tinggi nyangkut di karpet. Aris yang berada tepat di sebelah Gina langsung meraih pinggang Gina. Mata mereka sama sama saling memancarkan kerinduan. Mereka saling menatap satu sama lain. Mereka melakukan hal itu dalam waktu yang lama. Sampai sampai.
"Ehemm. Daddy dan Bunda mau mengalihkan perhatian tamu dari Uni dan Uda?" tanya Arga sambil menampilkan wajah juteknya.
__ADS_1
Sedangkan keluarga yang lain yang berada di meja tersebut berusaha menahan senyum mereka. Mereka sangat tau dengan arti tatapan Aris dan Gina. Tetapi waktu dan tempatnya sama sekali tidak cocok.
Aris kemudian membantu Gina untuk berdiri. Mereka berdua terlihat saling salah tingkah.
"Nanti kita bahas di kamar." ucap Aris dengan mesra di telinga Gina.
Gina kemudian mengangguk tanda mengerti dengan yang dikatakan oleh Aris kepada dirinya. Mereka berdua tidak mungkin membahas masalah yang ada di tengah tengah pesta.
Acara pesta berlangsung dengan sangat meriah dan berjalan sukses. Semua tamu merasa bahagia dan terlayani dengan sempurna. Semua itu berkat Frenya dan Sari yang bertindak langsung mengawasi setiap detail pesta tersebut.
Setelah semua tamu keluar dari ruangan pesta Gina mengajak semua keluarganya untuk fhoto keluarga besar. Mereka tersenyum bahagia.
"Bunda, sekarang keluarga kita lagi." ucap Arga yang menginginkan mereka fhoto keluarga.
Akhirnya Aris, Gina, Daniel, Frenya, Arga dan Rani berfhoto berenam. Ini adalah fhoto keluarga pertama mereka saat Arga sudah besar. Mereka berenam juga memberikan senyuman terindah karena merasa sangat bahagia bisa berkumpul kembali. Walaupun masalah diantara mereka masih ada.
"Daddy, Bunda, kita berfhoto bertiga ya." ujar Arga kembali.
Gina menatap Arga tidak percaya. Ntah apa lagi yang ada di dalam pikiran anaknya itu setelah ini.
Gina yang memang selalu tidak bisa menolak keinginan Arga akhirnya menyetujui saja permintaan Arga untuk mereka berfhoto bertiga. Mereka berfhoto dengan berbagai gaya.
Saat mereka bertiga asik berfhoto. Arga tiba tiba menghilang. Dia berdiri di sebelah Frenya. Daddy dan Bundanya berfhoto seperti hanya untuk berdua saja. Makanya Arga memilih untuk mundur. Frenya dan yang lain saat melihat Arga mundur dari sesi fhoto bertiga itu hanya bisa tersenyum saja.
Aris dan Gina sadar saat mereka asik berfhoto berdua tanpa menyadari keadaan di sekitar hanya tersenyum saja. Mereka berdua malu dengan keadaan sekitar. Gina sampai harus membenamkan mukanya ke dada bidang Aris. Aris tertawa terbahak bahak melihat tingkah absurd Gina.
"Kamu kenapa sayang??? Kamu kan berfhoto dengan suami sah kamu. Kenapa kamu harus malu??" ujar Aris sambil memeluk Gina.
__ADS_1
"Malulah masak ndak. Mereka semua tersenyum melihat tingkah kita." ujar Gina masih di dalam pelukan Aris.
Arga dan Frenya yang usil menyusun rencana untuk mengerjai kembali kedua orang tuanya. Arga dan Frenya meminta Stepen untuk menghidupkan music dansa.
Dansa pertama dimulai oleh Frenya dan Stefen, setelah itu disusul oleh Bram dan Sari. Mira dan Bayu juga tidak tinggal diam. Mereka juga turun ke lantai dansa. Sedangkan Daniel dan Rani yang pertamanya sudah merasakan letih, tetapi saat melihat keluarganya berdansa akhirnya juga turun ke lantai dansa.
Aris menatap lama Gina. Gina yang paham dengan tatapan Aris mengangguk tanda mau ikut berdansa. Akhirnya Aris membawa Gina ke lantai dansa. Mereka berdansa dengan begitu serasi.
Arga yang berada di sisi lantai dansa. Hanya bisa memandang semua orang yang sedang berdansa dan meninggalkan masalah mereka jauh di belakang.
Arga yang memang sudah merasakan letih di badannya memilih untuk menyusun kursi. Dia kemudian tertidur di kursi yang disusunnya itu. Dalam sekejap Arga sudah tertidur. Dia sama sekali tidak memikirkan bunyi musik yang menghentak hentak di telinganya lagi.
Semua orang yang sudah letih berdansa memilih untuk menghentikan dansa mereka. Setelah itu mereka kembali menuju meja tempat minuman mereka terhidang oleh pelayan hotel.
Aris dan Gina sama sekali tidak melihat keberadaan Arga.
"Sayang, Arga mana?" tanya Gina kepada Aris.
"Tadi bukannya di situ" tunjuk Aris ke kursi yang tadi di duduki oleh Arga.
Ternyata di sana sudah tidak ada lagi sosok Arga.
Aris bertanya kesemua orang. Mereka kemudian mencari sesosok anak yang sangat pintar itu.
"Daddy, Arga di situ." tunjuk Frenya kepada Aris yang mengatakan posisi Arga berada dimana.
Aris dan Gina menyusul ke tempat Arga, ternyata anak ganteng mereka sudah tertidur dengan sangat lelap.
__ADS_1
Karena hari juga sudah sangat larut malam. Mereka semua kemudian pergi ke kamar masing masing untuk beristirahat. Aris menggendong Arga untuk menuju kamarnya. Gina yang sudah tau Aris memiliki kamar di hotel ini memberikan kartu kamarnya kepada Sari. Biarlah Sari dan Bram menyelesaikan masalah mereka berdua di kamar itu. Gina juga tau Bram dan Sari juga memiliki masalah yang sama dengan dirinya.