
Aris dan Bram yang melihat Gina kabur menaiki taksi, langsung saja berlari masuk kedalam mobil yang terparkir tepat di depan lobby mall, kemudian mereka berusaha mengejar taksi yang dinaiki oleh Gina. Aris dan Bram menekan pedal gasnya lebih dalam. Mereka tidak ingin kehilangan jejak Gina. Tapi sialnya mereka akhirnya tetap kehilangan jejak Gina. Taksi yang membawa Gina berlalu dengan sangat cepat.
Hal yang lebih membuat sial pengejaran itu adalah, mereka berdua tidak satupun yang sempat melihat nomor plat mobil taksi online yang dinaiki oleh Gina, kalau salah satu dari mereka melihat, tentu mudah saja bagi mereka untuk malacak taksi tersebut, karena Bram mempunyai anak buah yang bernama Roy yang ahli di bidang teknologi dan pelacakan orang,
Aris yang sedang konsentrasi dengan jalan disekitarnya tiba-tiba teringat dengan ponsel Gina, salah satu cara yang terakhir untuk bisa melacak dimana keberadaan Gina. Aris berharap dari GPS ponsel Gina.
"Semoga tidak dimatikan sama Gina." kata Aris.
Aris kemudian menelpon Bram, mobil Aris dan Bram sudah didesain secanggih mungkin dengan terhubung ke ponsel mereka, jadi mereka tidak.perlu repit memegang pinsel saat mereka akan melakukan komunikasi dengan siapapun. Aris kemudian menekan tanda panggilan di layar cd player mobilnya. Aris menekan nomor ponsel Bram yang sudah hafal olehnya.
"Ya Ris." jawab Bram.
"Bram hubungi Roy, minta Roy melacak keberadaan Gina dari nomor ponselnya." kata Aris.
"Udah Ris, udah gue lakukan dari tadi, tapi hasilnya nihil. Terakhir posisi ponsel Gina di kampusnya, sepertinya Gina mematikan ponselnya sesaat sebelum dia mau menemui pembimbing." kata Bram menjelaskan kepada Aris, kalau dia sudah melacak ponsek Gina, sebelum Aris memerintahnya. Tapi hasilnya sangat tidak memuaskan, Gina sudah mematikan ponselnya dari tadi pagi.
"Sial."
Aris kemudian memutuskan panggilannya. Tiba tiba ponsel Aris berbunyi kembali, tanda ada panggilan masuk, Aris kemudian mengangkatnya karena yang menelpon adalah Bram.
"Ya Bram."
"Ris, gimana kalau kita mengerahkan anak buah kita, blackjack untuk mencari Gina. Itu jalan terakhir yang bisa kita gunakan Ris. Mereka memiliki berbagai cara untuk melacak keberadaan orang. Semoga saja dengan kita mengerahkan mereka, Gina bisa kita ketemukan."
"Kerahkan Bram. Kita udah muter muter Ibu kota selama tiga jam lebih. Tapi hasilnya nihil." Aris menyetujui usul Bram. Semoga dengan melibatkan blackjack, Gina dengan cepat berhasil ditemukan.
Bram memutus panggilannya dengan Aris. Kemudian Bram menghubungi Roy pimpinan kelompok blackjack.
"Roy, siapakan semua pasukanmu. Kerahkan untuk mencari Gina. Gue kasih loe waktu tiga jam mulai dari sekarang"
"Hadiahnya?"
"Seperangkat komputer terbaru yang loe minta kemaren"
"Keren. Sip. Sebelum tiga jam loe akan menerima hasilnya." kata Roy dengan yakin. Roy tidak tau bahwasanya Gina lebih pintar dari dia.
Roy kemudian membreefing semua anggotanya. Mereka akan angsung bergerak mencari keberadaan Gina yang seakan lenyap bagai ditelan bumi tanpa meninggalkan sedikitpun clue.
Roy membagi anggotanya menjadi beberapa tim. Mereka ada yang mencari ke bandara, pelabuhan, ke rumah teman teman Gina dan ke rumah utama keluarga Wijaya.
Sudah dua jam pencarian dilakukan oleh Roy, tapi jangankan Gina jejaknya saja tidak tercium oleh Roy dan anggotanya. Roy mulai kesal.
"Mencari seorang perempuan saja kalian tidak becus. Apa gunanya pelatihan yang begitu rumit, kalian bilang kalian orang-orang pilihan, Pilihan dari hongkong kalau kayak gini hasilnya." teriak Boy kesemua anggotanya melalui sambungan virtual.
"Gue nggak mau tau, dalam satu jam kedepan sudah harus bertemu" teriak Roy.
Ketua yang ditunjuk oleh Roy untuk melakukan pencarian memperluas wilayah pencarian Gina sampai keluar kota. Tetapi hasilnya tidak sama. Waktu satu jam berlalu begitu cepat. Baru sekali ini Roy gagal dalam misinya.
Aris dan Bram yang duduk di markas Balckjack langsung saja berdiri saat Roy dan ketua pencarian memasuki ruangan tempat Aris dan Bram menunggu.
"Semoga kamu membawa berita bahagia Roy." kata Aris dingin sedingin kulkas.
Roy dan ketua pencarian langsung menundukkan kepalanya. Mereka tidak sanggup menatap ke arah Aris dan Bram. Aris dan Bram paham apa yang terjadi.
"Mencari perempuan kalian tidak mampu" teriak Aris menggelegar, siapapun yang mendengar akan langsung pucat pasi.
"Keluar dari ruangan. Kamu kumpulkan semua anggota kamu" teriak Bram murka.
Roy dan ketua pencarian Gina, langsung mengumpulkan semua anggota yang ikut pencarian Gina sehari tadi. Mereka sudah berkumpul di tempat biasa mereka menerima hukuman dari Aris atau Bram.
Aris dan Bram kemudian menuju tempat tersebut.
"Ini yang kalian katakan grub terhebat di dunia bawah? Apanya yang hebat, mencari satu wanita yang tidak bisa beladiri aja anda semua gagal." teriak Bram.
"Sekarang juga masuk dalam kolam. Silahkan berenang dan menikmati dinginnya air es." kata Bram.
__ADS_1
Aris kemudian menampar semua anggota yang melakukan pencarian Gina. Setelah menampar semua anggotanya Aris kemudian keluar dari markas blackjack. Aris mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aris benar benar dalam mode frustasi.
Aris kembali mengitari ibu kota. Aris berharap melihat Gina disepanjang jalan. Aris terus saja memperhatikan sisi kiri dan kanan jalan tapi tetap saja tidak bertemu dengan Gina. Aris kemudian menepikan mobilnya.
"Jalan satu satunya harus ke rumah Tuan Wijaya. Semoga saja Gina ada di sana."
Aris kemudian melajukan mobilnya menuju kediaman keluarga Wijaya. Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aris ingin cepat sampai di sana. Tak lama kemudian, Aris sampai di rumah Tuan Wijaya, Aris memakir mobilnya di samping mobil Afdhal. Aris kemudian turun dari mobilnya setelah menenangkan diri, kemudian Aris mengetuk pintu rumah Tuan Wijaya.
Tok tok tok bunyi pintu diketuk.
Tak lama kemudian pintu ruang utama terbuka, Terlihat seorang maid membuka pintu.
"Malam Tuan Aris. Mau bertemu Tuan Wijaya?" kata maid.
"Tidak, apakah Tuan Afdhal ada?"
"Ada Tuan. Silahkan masuk dulu Tuan, akan saya panggilkan Tuan Afdhal."
Maid kemudian masuk kedalam rumah, dia memanggil Afdhal. Afdhal yang dipanggil oleh maid karena kedatangan Aris, langsung saja menuju ruang tamu. Afdhal melihat Aris yang duduk bersadar ke sofa ruang tamu sambil memegang kepalanya yang pusing. Afdhal mengambil gambar Aris dengan kondisi yang memprihatikan, kemudian Aris mengirimkan hasil fotonya kepada Gina.
✉️ Gina
Biarkan aja dia kak. Enak aja main marah. Kakak bawa aja dulu dia ngobrol, setelah dia frustasi aku akan muncul di depannya.
✉️ Afdhal.
Loe nggak kasian dek? Sepertinya dia tidak ada istirahat mencari dirimu.
✉️ Gina
Biar dirasainnya kak. Orang kayak gitu memang harus diberikan sedikit syok terapi. Biar nggak semena - mena lagi dengan Gina kedepannya.
Afdhal kemudian melangkah menuju Aris. Afdhal duduk tepat di sofa sebelah Aris.
Aris kemudian mengusap mukanya, raut wajah Aris benar benar seperti orang yang frustasi dengan masalah yang ada. Aris berkata di dalam hatinya, "Apa yang harus aku katakan."
"Ada apa Ris?"
"Sebenarnya." Aris kemudian kembali diam. Aris tidak tau mau mulai dari mana mengatakannya. Aris takut ini akan menjadi masalah besar. Aris tidak mau kepercayaan keluarga Wijaya kepadanya menjadi luntur.
"Sebenarnya ada apa Ris?" Afdhal mendesak Aris.
"Sebenarnya aku. Aku tidak tau mulai dari mana. Aku susah untuk mengatakannya."
Saat Aris sedang pusing mau cerita dari mana, tiba-tiba datang pelayan membawa air minum untuk Aris dan Afdhal.
"Silahkan diminum tuan." kata pelayanan.
"Minum dulu Ris, setelah itu baru ceritakan apa yang terjadi. InsyaAllah aku akan membantumu." kata Afdhal meyakinkan Aris.
Aris kemudian meminum air yang disediakan oleh pelayanan. Aris menenangkan hatinya terlebih dahulu. Aris berusaha menetralkan detak jantungnya. Afdhal menunggu dengan sabar. Afdhak tidak ingin mendesak Aris. Melihat tingkah dan betapa cemasnya Aris, Afdhal semakin yakin betapa begitu dalam cinta Aris untuk Gina.
"Gin, semoga loe nggak menyia nyiakan pria baik di depan uda ini." kata Afdhal di dalam hatinya. Afdhal menatap kagum kepada Aris.
"Gue mulai dari cerita dimana gue akan merasa nyaman aja ya Af?"
"Buat senyaman loe aja Ris. Gue siap menjadi pendengarnya."
"Jadi, pagi tadikan gue jemput Gina mendadak, setelah itu gue antar dia ke kampus. Nah kiranya saat gue meninggalkan kampus ternyata Gina dimaki maki oleh seniornya, gue balek lagi ke kampus untuk menyelesaikan masalah. Nah masalah itu udah bisa gue selesaikan. Kemudian gue pergi ke kantor ada meeting penting." Aris berkata sambil mengingat semua kejadian.
"Kemudian saat Gina bertemu dengan pembimbing tesisnya keributan terjadi kembali, saat itu yang meneyelesaikan adalah Bram. Setelah semua urusan selesai, Gina mengajak kedua sahabatnya dan Bram untuk ke mall."
Aris kemudian kembali terdiam. Dia sangat berat untuk mengatakan apa yang terjadi di mall.
"Terus?: Afdhal mendesak Aris untuk bercerita.
__ADS_1
"Lalu saat di mall, Gina belanja gilak gilakan. Aku tau dia memang memakai uangnya sendiri. Tapi apalah guna memberi barang yang terkadang hanya menjadi pajangan pemenuh almari. Aku tidak bermaksud untuk melarang Gina belanja. Aku hanya tidak ingin barang yang dibeli tidak digunakan. Hanya itu saja murni tidak ada yang lain." kata Aris menjelaskan kejadian yang terjadi di mall sore tadi.
"Lalu?"
"Lalu, Gina yang merasa tidak terima gue larang, langsung marah marah di mall itu. Gue yang kebetulan juga dalam mode stress habis meeting tidak sengaja melayani kemarahan Gina dengan kemarahan." Aris kemudian kembali diam. Dia mengambil air yang ternyata sudah kosong. Afdhal memberikan air minumnya kepada Aris. Aris kemudian meminum air tersebut.
"Kemudian, kejadian yang sangat gue sesalkan terjadi. Gina kabur menaiki sebuah taksi. Gue dan Bram serta anak buah gue sudah melakukan pencarian ke segala penjuru kota, malahan sudah sampai ke luar kota. Tetapi tetap tidak bertemu."
Aris menghela nafasnya.
"Maukah loe bantu gue Dal? Gue udah tidak tau lagi mencarinya kemana." kata Aris sambil menutup mukanya dengan kedua telapak tangan dalam waktu yang lama. Afdhal yang melihat bagaimana keadaan Aris sangat merasa iba kepadanya.
"Ris, sebelumnya gue minta maaf, sebenarnya." Afdhal tidak jadi melanjutkan kalimatnya karena Gina sudah berdiri di depan Aris. Gina memberi kode kepada Afdhal untuk langsung pergi dari dekat Aris. Afdhal kemudian langsung berjalan meninggalkan sepasang kekasih yang sedang terlilit kesalah pahaman itu.
"Sebenarnya apa Dal?" kata Aris sambil membuka kedua matanya.
"Sebenarnya karena aku sudah di depanmu sayang." kata Gina sambil memeluk Aris dengan kuat.
Aris kemudian memeluk Gina. Aris sangat rindu dengan gadis kecil yang luar biasa membuat dia gila sepanjang hari karena tidak menemukan keberadaannya.
"Sayang ma" Aris tidak jadi menyelesaikan perkataannya karena tiba tiba saja Gina menutup mulut Aris dengan telapak tangannya.
"Sayang bukan kamu yang seharusnya meminta maaf, tetapi aku. Aku yang terlalu kekanak kanakan. Aku yang tidak bisa mencerna maksud baik mu. Jadi maukah kamu memaafkanku sayang?" Gina semakin kuat memeluk Aris. Gina mengeluarkan semua permohonan maafnya melalui pelukan eratnya kepada Aris.
Aris mengangguk, mereka saling melepaskan rindu karena kesalahpahaman yang terjadi karena sesuatu hal yang tidak penting. Gina kemudian melepaskan pelukannya, begitu juga dengan Aris.
"Sayang, boleh aku meminta sesuatu kepadamu?" tanya Aris.
"Apa?"
"Kamu boleh marah se marah marahnya kepadaku, bahkan kamu boleh menampar pipiku, kalau itu bisa membuatmu puas, tetapi tolong jangan pakai acara kabur kaburan. Aku sampai harus mengobrak abrik seluruh ibu kota untuk mencarimu. Tapi sayangnya kamu tidak juga aku temukan. Aku stress dan panik sayang."
"Sip. Aku tidak akan main kabur kaburan lagi."
"Ngomong ngomong, kamu tadi kabur kemana? Karena kata anak buahku, kamu tidak pulang ke rumah." Aris berkata sambil menggenggam kedua tangan Gina dipangkuannya. Aris terlihat sangat tidak bisa kehilangan Gina.
Gina kemudian tersenyum penuh kemenangan. Keputusan kaburnya memang benar benar tepat untuk membuat Aris kelimpungan.
"Tempat yang tidak pernah akan kamu duga, kesanalah aku pergi. Kata orang tempat ternyaman dalam sebuah masalah adalah berada di pusat masalah. Maka aku berada di sana. Sayangnya kamu tidak paham dengan hal itu sayang. Makanya kamu cari aku kemana mana." Giba berkata sambil tersenyum penuh arti. Gina tidak menyangka Aris tidak berpikir untuk mencarinya kesana.
"Jadi sebenarnya kamu berada dimana? Jangan main teka teki tambah sakit kepalaku."
"Aku berada di rumah mu. Kalau tidak percaya tanya mami dan papi." kata Gina dengan santainya.
Aris yang mendengar Gina berada setengah hari di rumahnya mendadak jadi kesal dengan semua orang yang berada di rumah itu
"Awas aja tu manusia di rumah. Aku akan buat perhitungan." kata Aris dengan nada penuh ancaman.
"Loh kok jadi marah dengan orang di rumah? Kamunya aja sayang yang nggak paten. Aku tipe manusia yang nggak suka pergi jauh, apalagi sendirian, males sayang Kamunya aja yang mikir aneh aneh" kata Gina sambil mengusap wajah Aris. Gina menarik kedua pipi Aris yang cemberut itu dengan penuh kasih sayang yang meluap dan melimpah ruah unthk Aris.
"Udah ah, ubah tu raut wajah. Malez nengok wajah kayak gitu. Nggak ada ganteng gantengnya sedikitpun. Kayak emak emak yang terbeli kain robek aja."
"Terbeli apa sayang?"
"Terbeli kain robek sayang" kata Gina sambil menekankan setiap suku kata yang diucapkannya.
Aris kemudian mengubah raut wajahnya. Dia bersyukur Gina masih berada dalam keadaan sehat, walaupun sebenarnya dia kesal juga. Tapi Aris berusaha mengesampingkam kekesalannya.
Hari sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Aris kemudian pamit kepada Gina. Dia sudah sangat ingin beristirahat karena seharian ini tenaga dan otaknya benar benar dibuat berdansa oleh pekerjaan dan oleh acara kabur kaburan Gina yang ternyata hanya kabur ke rumah Aris sendiri tidak kemana mana seperti dugaan Aris.
Gina sepulangnya Aris juga langsung tidur. Gina sangat puas bisa mengerjai Aris. Sebenarnya Gina tidak tega bersikap seperti itu kepada Aris, tetapi kalau dibiarkan oleh Gina, maka Aris akan selalu bersikap kasar saat memberitahu kepada Gina tentang apapun masalah yang tidak Aris suka. Gina ingin Aris bisa berkomunikasi dengan baik kepada Gina, bukan dengan cara tarik urat leher, karena apapun itu kalau dibicarakan dengan oenuh emosi akan tetap memancing lawan bicara untuk melayani dengan emosi pula. Akhirnya bukan kesepakatan yang dihasilkan, tetapi pertengkaran.
..."Cinta Butuh Kehalusan dan Cinta Butuh Ketegaan"...
...****************...
__ADS_1