
"Kita nginap dimana?" tanya Sari kepada Gina yang sedang sibuk melihat laptopnya.
"Di hotel dekat hotel maren aja. Nggak usah jauh jauh." Gina masih sibuk memaninkan jari jarinya di atas kayboard.
"Loe lagi ngapain. Dari tadi sibuk aja." Sari yang sudah tidak tahan dan memang sangat kepo langsung bertanya kepada Gina.
"Bentar dikit lagi" jawab Gina.
"Loe bisa agak ngebut dikit nggak. Gue mau cobain yang gue kerjain tadi" lanjut Gina meminta Sari supaya agak cepat membawa mobilnya.
"Asiap" Sari menekan pedal gasnya. Dia tidak ingin ibu hamil muda di sebelahnya ini mendadak keluar taring.
Dalam satu jam perjalanan Sari akhirnya sampai di depan hotel tempat mereka berencana untuk tinggal sementara waktu.
"Stop Sar" perintah Gina.
Sari langsung menginjak rem mobil yang dikendarainya. Beberapa mobil di belakang mereka langsung memencet klakson panjang panjang. Mereka tentu saja marah kepada Sari karena tidak memberi isyarat berhenti terlebih dahulu. Tiba tiba saja Sari memberhentikan mobilnya dengan mendadak.
Gina memainkan kembali jari jarinya di atas kaybord laptop. Sari hanya memerhatikan saja apa yang dilakukan oleh Gina. Sari masih belum tau apa yang membuat Gina seserius itu.
"Selesai" teriak Gina sambil bertepuk tangan dengana sangat gembira.
"Apaan selesai" kata Sari dengan sangat kepo.
"Neh" Gina memperlihatkan apa yang ditampilkan oleh layar laptopnya.
Betapa terkejutnya Sari. Layar laptop Gina menampilkan setiap sudut hotel yang berada di depan mereka.
"Loe meretas cctv mereka Gin?" kata Sari dengan nada tidak percaya.
"Yup. Gue nggak ada maksud apa apa. Cuma mau melihat pergerakan Aris aja" kata Gina sambil tersenyum penuh arti.
__ADS_1
Sari yang memang tipe nggak mau kalah juga mengambil laptopnya dari dalam tas. Dia juga akan meretas setiap cctv yang ada di jalan daerah itu.
"Apa yang loe lakuin?" tanya Gina kepada Sari.
"Sama dengan yang loe lakuin tadi. Tapi gue cctv jalan disini aja. Mana tau nanti kita bertemu Aris kan ya" kata Sari sambil tetap serius menatap layar laptopnya.
Gina membiarkan saja Sari melakukan kegiatannya. Gina tidak mau mengganggu kesenangan Sari. Dia membiarkan saja apa yang sedang dilakukan Sari. Dia yakin Sari mampu melakukannya sendiri. Makanya Gina lebih memilih memandang ke arah hotel yang kemaren mereka tempati. Gina begitu asik memerhatikan setiap mobil yang masuk dan keluar dari hotel.
"Udah jangan nengok ke situ terus. Mereka masih berjarak sepuluh kilo lagi." kata Sari kepada Gina.
Gina yang mendengar apa yang dikatakan Sari langsung kaget.
"Darimana loe tau mereka masih jauh?" tanya Gina dengan rasa penasarannya.
"Neh" kata Sari sambil memperlihatkan layar laptopnya.
"Hahahahaha. Gue bajak cctv hotel. Loe bajak cctv jalan. Ngeri loe"
"Jadi mau nunggu di sini atau mau nunggu di hotel?"
Sari kemudian melajukan mobilnya masuk ke halaman parkir hotel yang tepat berada di depan hotel tempat mereka menginap kemaren. Menurut prediksi Gina, Aris tidak akan mencari mereka ke hotel tersebut. Aris akan memprediksi kalau Gina akan menginap di tempat yang jauh dari hotel tersebut. Lagian hotel yang di tempati Gina tidak sebanding dengan hotel yang mereka tempati selama ini.
Sari chekin dengan nama dirinya. Mereka sengaja hanya ambil satu kamar tapi dengan twind badt. Sari meminta kamar yang menghadap ke hotel depan. Sari ingin memncari posisi yang nyaman untuk memantau pergerakan Aris dan Bram.
"Lie sengaja minta kamar yang menghadap ke hotel depan?"
"Yup" jawab Sari sambil mengangguk.
"Kenapa?" Gina penasaran dengan alasan Sari.
"Ingin memastikan pergerakan mereka berdua aja." jawab Sari. Padahal jawaban itu bukanlah faktor utamanya.
__ADS_1
"Alah ngapusi. Bilang aja karena ingin melihat Bram. Kangen?" tanya Gina sambil merebahkan badannya di atas kasur yang lumayan empuk itu.
"Kangen lah. Masak nggak. Emang loe nggak kangen?" tanya Sari kepada Gina.
"Emang loe nggak kangen?" lanjut Sari membalikkan pertanyaannya kepada Gina.
"Nggak" jawab Gina sambil memalingkan mukanya dari Sari.
"Hahahahaha. Boong loe. Gue tau loe kangen. Nggak gampang kali menghabiskan rasa yang pernah ada. Apa lagi dengan adanya bayi yang lu bawa bawa kemana mana. Udah Gin, nggak usah pake boong. Gue tau rasa loe kok"
"Tapi, gue takut dia akan berkhianat lagi" kata Gina sambil menatap langit langit kamar. Pandangan Gina seakan menembus langit langit kamar hotel itu.
"Gin, kalau gue boleh ngomong. Manusia berhak diberikan kesempatan untuk berubah. Jadi kalau loe masih mau berjuang mempertahankan rumah tangga loe, maka loe harus memberikan kesempatan itu" lanjut Sari.
"Tapi sakit Sar." jawab Gina.
"Gue nggak bilang itu tidak sakit. Gue sangat tau itu sakit. Bagi orang pacaran saja perselingkuhan itu sakit. Apalagi bagi yang sudah menikah." lanjut Sari.
"Gue ngomong tadikan manusia berhak diberikan kesempatan kedua. Tapi itu kalau loe mau. Kalau nggak loe berhak melepas dia." kata Sari sambil membuka gorden kamar tempat mereka nginap. Sari kemudian duduk di kursi goyang di kamar itu.
"Gue takutnya nanti dia berkhianat lagi Sar" kata Gina menatap Sari.
"Kalau dia manusia bodoh, dia akan jatuh di lubang yang sama berkali kali. Tetapi kalau dia mikir dan menganalisa semua kejadian sekarang ini, maka dia tidak akan mengulangi kejadian yang sama lagi" lanjut Sari memberikan gambaran kepada Gina.
Sari melakukan ini semua karena dia sangat memperhatikan semua kelakuan Gina. Gina terlihat tegar selama pelariannya, tetapi Gina akan memilih berdiam diri saat dia teringat dengan orang orang yang sangat dia sayangi yang harus ditinggalkannya untuk saat ini.
"Ntahlah Sar. Gue masih ragu. Satu sisi gue ingin pulang karena gue tau, gue sedang hamil muda ginu. Satu sisi gue takut kecewa kembali." kata Gina kembali menerawang.
"Gin. Sekarang loe tanya hati kecil loe. Loe buang semua dendam yang ada. Lie harus berpikir jernih. Apakah loe harus kembali pulang, atau memang harus pergi sejauh jauhnya" lanjut Sari.
""Gue hanya berharap loe memutuskan sesuatu dengan bijak dan benar benar dari dalam hati kecil loe. Gue nggak mau setelah loe mengambil sebuah keputusan yang menurut pandangan loe sekarang ini adalah tepat. Ternyata dikemudian hari loe menyesal. Jadi saran gue pertimbangkanlah semuanya dengan masak. Gue dan Mira akan selalu berada di samping elo. Kami berdua akan selalu mendukung elo. Apapun pilihan dari setiap keputusan yang loe ambil." kata Sari sambil melihat kearah hotel depan.
__ADS_1
Gina sibuk dengan pikirannya. Dia menganalisa setiap perkataan Sari tadi. Apa yang dikatakan oleh Sari adalah kebenaran. Dia memang harus memutuskan. Dia tidak mungkin selamanya kabur seperti ini. Dia harus mengambil keputusan. Gina akan memikirkan hal ini, dia harus memutuskan hal terbaik untuk hidupnya.
Gina sibuk dengan pemikirannya. Sedangkan Sari sibuk dengan melihat setiap mobil yang keluar masuk dari dalam hotel itu. Sari memerhatikan semua mobil itu dengan seksama. Dia tidak melewatkan satupun.