Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kebencian Mami


__ADS_3

" Aku akan mengundang teman teman sosialita ku ke rumah. Aku mengingankan anak kurang itu membuat sebuah kesalahan, jadi aku bisa mengusirnya dari rumah ini. Aku benar benar tidak mengkehendaki dia berada di rumah ini. Dia benar benar akan membuat malu nama keluarga Soepomo." ujar Mami yang sudah merencanakan sesuatu.


Mami langsung menghubungi semua teman teman sosialitanya. Mami mengundang mereka untuk makan siang di rumah utama dan sekaligus melakukan arisan yang biasanya mereka lakukan di restoran atau hotel berbintang lima.


Mami kemudian menelpon salah satu koki hotel keluarga Soepomo. Mami meminta mereka untuk datang dan langsung memasak semua makanan yang diminta oleh para teman sosialitanya. Setelah merasa semua persiapan acaranya sempurna, Mami menuju kamar Arga. Dia melihat Arga yang sedang bermain dengan suster. Suster yang melihat Mami datang langsung membungkukkan kepalanya.


"Kamu tinggalkan aku berdua dengan cucuku" ujar Mami dengan dingin.


Suster kemudian keluar dari dalam kamar Arga. Suster memilih untuk membantu seorang maid yang sedang memasak di dapur. Maid sedang memotong buah yang diminta oleh Mami untuk acara arisan sosialitanya nanti. Gina yang baru pulang dari luar membeli makanan untuk Arga terkejut melihat suster yang sedang sibuk memotong buah.


"Sus, Arga dengan siapa?" tanya Gina dengan menatap tajam suster yang berani beraninya meninggalkan Arga sendirian.


"Tuan muda dengan Nyonya besar di kamar Nyonya. Tadi kata Nyonya besar, tinggalkan mereka berdua. Makanya saya memilih turun ke dapur dan membantu maid Nyonya." ucap suster sambil menunduk takut dengan tatapan tajam Gina.


"Baiklah suster terimakasih. Lanjutkan memotong buahnya." ujar Gina yang langsung berjalan cepat menuju kamar Arga.


Gina tidak ingin Arga kenapa kenapa, Gina sudah tau Mami sangat membenci keberadaan Arga. Sebenarnya Gina sudah ingin pergi dari rumah ini. Tetapi apalah daya Gina yang hanya seorang istri. Gina tidak mau Aris salah paham dengan kepergiaannya secara mendadak itu.


Gina sampai di depan kamar Arga dengan nafas yang memburu. Dia sangat takut Arga kenapa kenapa. Gina langsung membuka pintu kamar Arga dengan perlahan. Dia tidak ingin Mami tau kalau dia sudah pulang. Gina ingin tau seperti apa perlakuan Mami kepada Arga saat dia tidak ada. Gina sengaja menunggu di depan pintu untuk mendengar semua yang diucapkan Mami.


" Arga kamu harus dengar apa yang saya katakan. Hari ini saya akan mengundang seluruh sahabat sosialita saya untuk arisan di sini. Saya harap kamu tidak membuat malu saya dengan semua ulah kamu yang tidak masuk akal itu." ujar Mami mulai memarahi Arga.


"Kamu jangan pernah membuat malu keluarga Soepomo dengan semua kekurangan kamu. Kamu memang cucu kandung ku, tetapi karena kamu tidak sempurna jadi maaf aku tidak bisa menerima kamu lagi dalam keluarga ini."lanjut Mami mengeluarkan kata kata yang sangat menyakitkan.


"Nyenyek' ujar Arga yang sama sekali tidak tau kalau Nenek yang selama ini menyayanginya sekarang sudah berubah menjadi membenci dirinya karena kekurangan yang dia miliki.


"Hai aku bukan nenek kamu. Nenek kamu adalah Wijaya. Aku tidak mengakui cucu yang kurang seperti dirimu." ujar Mami dengan murka.


Arga kemudian mendekat ke arah Mami. "Nyenyek" ujar Arga yang berusaha akan memeluk Mami.


Mami mendorong Arga sampai terjatuh, kepala Arga membentur sudut ranjang dan mengeluarkan darah. Mami yang melihat sama sekali tidak merasa kasihan dengan keadaan cucu kandungnya itu. Gina yang melihat Mami mendorong Arga langsung berlari masuk ke dalam kamar Arga. Gina melihat darah yang keluar dari kepala Arga.


"Mami,kalau Mami membenci dirinya silahkan, tapi jangan pernah sakiti dia dengan semua ucapan Mami dan tindakan Mami kepada dirinya." ujar Gina yang emosi.


"hay, aku tidak melakukan apa apa kepada dirinya." ucap Mami yang sama sekali tidak mengakui apa yang dilakukannya kepada Arga.


"Apa Mami katakan, tidak melakukan apa apa? Aku melihat semuanya Mami, aku melihat Mami mendorong Arga saat Arga berusaha memeluk Mami. Sehingga mengakibatkan kepala anak yang tidak bersalah ini menjadi terluka." ujar Gina sambil berusaha menghentikan darah yang mengalir dari kepala Arga.


"Terus kamu mau apa? Kamu mau mengadukan semuanya kepada suami kamu? Jangan harap Aris akan percaya kepada kamu." ujar Mami sambil menunjuk Gina dengan telunjuk kirinya.


Gina yang benar benar marah langsung menurunkan telunjuk Mami.


"Mami dengar aku nggak butuh mengadu dengan siapapun." ujar Gina sambil membawa Arga pergi dari kamarnya.


Suster yang melihat Gina berlari sambil membawa Arga langsung mengejar Gina.


"Nyonya,Tuan Muda kenapa Nyonya?" tanya Suster dengan panik.


"Arga jatuh, kepalanya membentur tiang ranjang." jawab Gina dengan jujur tanpa mengatakan apa yang menjadi penyebab Arga menjadi jatuh.


"Tolong katakan kepada Daniel atau Frenya kalau saya ke rumah sakit. Saat mereka pulang salah satunya. Tapi kalau Tuan Aris yang pulang, katakan saja saya sedang membawa Arga berjalan jalan." jawab Gina.


Suster mengangguk dengan pasti. Dia sudah bisa menganalisis semua masalah.


Gina mendudukkan Arga di kursi sebelah sopir, Gina langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Gina tidak ingin hal buruk terjadi kepada anaknya. Dengan kecepatan mobil yang sangat kencang Gina sampai dalam waktu lima belas menit di rumah sakit, untung saja jalanan sedang tidak dalam keadaan ramai saat Gina melaju dengan kencang. Gina memarkirkan mobilnya dengan sembarangan tepat di depan IGD rumah sakit. Semua suster yang melihat siapa yang datang langsung mendorong brangkar rumah sakit. Gina membaringkan Arga di sana.


Arga sama sekali tidak ada menangis atau merasakan sakit kepada kepalanya yang banyak mengeluarkan darah itu. Dokter yang melihat Arga sudah berada di ruangan kemudian masuk dan memeriksa luka di kepala Arga.


"Nyonya muda, sepertinya luka di kepala Tuan Muda lumayan dalam, kami harus memberikan beberapa jahitan di kepala Tuan Muda. Tapi kami terkendala dengan Tuan Muda yang sangat aktif. Apakah boleh kami membius Tuan Muda pada bagian yang lukal?" tanya dokter yang menangani Arga dengan berhati hati.


"Saya menyerahkan semua yang terbaik kepada Dokter. Saya percaya sepenuhnya dengan dokter." ucap Gina yang sudah bisa mengendalikan dirinya kembali. Gina tidak boleh panik, Gina harus tenang. Gina tau saat ini dia sendirian, dia tidak punya siapa siapa.


" Suster tolong panggil dokter Rian. Kita akan melakukan tindakan sekarang juga." perintah dokter kepada salah seorang suster jaga.

__ADS_1


Suster berlari menuju ruangan dokter Rian salah satu dokter spesialis anestesi di rumah sakit. Ternyata dokter Rian sedang bersama dokter Daniel.


"Maaf dokter saya mengganggu. Kami di IGD memerlukan bantuan dokter untuk memberikan bius kepada salah seorang pasien." ujar suster.


"Apa? Kamu tau kan sus prosedur untuk anestesi seperti apa?" kata dokter Rian.


"Tapi dokter, dokter lihat dulu pasiennya." ujar suster yang sudah mulai takut.


"Siapa pasiennya?" tanya dokter Rian.


"Tuan Arga" ujar suster sambil menunduk.


"Apa Arga?" teriak Daniel yang langsung berlari ke arah IGD.


dokter Rian dan Suster mengikuti Daniel yang berlari dengan sangat kencang menuju ruangan IGD.


"Bunda, Arga kenapa?" tanya Daniel.


Gina menceritakan semua kejadian kepada Daniel, tanpa menceritakan kejadian Mami mendorong Daniel.


"Rian tolong adikku. Dia tidak mungkin dijahit tanpa dibius."


"Kita akan bius dibagian yang akan dijahit saja. Apakah dokter Daniel bisa mencari beberapa satpam untuk memegang Arga? Saya takut dia berontak nantinya." ujar Rian.


Daniel pergi keluar IGD, dia memanggil satpam yang berdiri di sana. Empat orang satpam serta tiga orang suster dan tiga orang dokter sudah berdiri di dekat Arga. Mereka dengan sangat kuat memegang Arga yang memiliki tenaga lebih kuat dari pada anak seusianya. Saat mereka semua sudah bisa mengkondisikan Arga, dokter Rian menyuntikan bius di bagian kepala Arga yang luka.


Setelah obat bius bekeja, dokter IGD mulai menjahit luka di kepala Arga. Arga yang masih sedikit merasakan sakit saat kepalanya di jahit mulai memberontak. Semua orang yang memegangnya kembali memegang Arga dengan sangat kuat. Mereka takut Arga akan berlari dan mengakibatkan luka di kepalanya tidak bisa diobati. Setelah berjuang akhirnya menjahit luka Arga selesai sudah. Semua yang memegang Arga selama dijahit langsung menarik nafas lega.


Gina yang dari tadi menunggu dengan sabar langsung berlari ke arah Arga saat semua satpam yang tadi memegang Arga sudah kembali ke pos mereka masing masing. Gina berlari menuju tempat Arga diberikan tindakan. Gina langsung menggendong Arga saat Arga mengangkat kedua tangannya.


"Anak sayang Bunda tidak apa apa, itu hanya luka kecil sayang, jangan menangis lagi ya." ujar Gina membujuk anaknya itu.


Tiba tiba sorang dokter cantik berlari dengan sangat kencang masuk ke dalam IGD. Dia berhenti saat melihat Arga yang sudah berada di dalam gendongan Gina. Arga yang melihat kakak cantiknya berada di sana, langsung berontak minta turun dari gendongan Gina.Gina menurunkan Arga, Arga langsung berlari menuju Rani. Rani langsung memeluk Arga dan menggendongnya.


Arga langsung mengangguk. Daniel dan Gina serta Rani dan Arga yang berada di dalam gendongan Rani menuju ruangan Daniel. Mereka akan beristirahat di sana sejenak.


"Dan, Bunda bisa pinjam ruangan pribadi kamu? Bunda bener bener lelah" ujar Gina sambil melangkah menuju rungan istirahat Daniel.


"Pakai aja Bun" jawab Daniel


Daniel, Rani dan Arga duduk di sofa yang ada di ruangan Daniel. Rani penasaran dengan apa yang terjadi kepada Arga.


"Arga, Arga kenapa bisa jatuh dan kepala Arga luka sayang?" tanya Rani yang sangat penasaran kenapa Arga bisa jatuh, Rani tau Arga adalah anak yang teliti.


"Nyenyek" jawab Arga dengan spontan.


"Nenek?" tanya Daniel kembali.


Arga mengangguk dengan pasti.


"Bisa Arga katakan bagaimana Arga bisa terjatuh?" kata Rani yang penasaran bagaimana proses bisa terjadi luka di kepala Arga. Arga menganggu dengan pasti.


Arga berdiri dari duduknya, dia duduk di lantai sambil bermain, setelah itu.


"Nyenyek" ucap Arga.


Arga belari ke arah Rani, kemudian Arga menjatuhkan badannya tepat di dekat kaki meja.


"Nyenyek" ujar Arga kembali.


"Apakah Nenek mendorong Arga?' tanya Rani yang mulai paham dengan cerita Arga.


Arga mengangguk.

__ADS_1


"Pasti ada yang disembunyikan Bunda" ujar Daniel. Rani mengangguk setuju.


.


.


.


.


.


Daniel yang sebenarnya berniat bertanya kepada Bundanya saat dalam perjalanan pulang mungubur kembali keinginannya itu. Dia tidak mau membuat Bundanya merasa terbebani. Daniel lebih memilih untuk menjaga Adik dan Bundanya serta Frenya.


Daniel yang melajukan mobil tidak dengan mengebut tiba bersamaan dengan mobil Aris dan Papi yang beru pulang dari perusahaan. Mereka sama sama turun dari mobil. Betapa terkejutnya Aris saat melihat kepala Arga yang sudah memakai perban.


"Arga kenapa sayang?' tanya Aris sambil mengambil Arga dan mengendongnya.


"Jatuh, kepalanya kebentur kaki ranjang." jawab Gina.


Daniel yang mendengar jawaban Bundanya hanya bisa geleng geleng kepla. Dia tau kenapa Bundanya lebih memilih untuk berbohong dari pada jujur. Daniel tau Bundanya takut Daddynya murka dan menyalahkan siapa saja atas luka yang dialami Arga.


Mami yang sudah selesai acara arisan sosialitanya langsung berjalan cepat melihat Arga yang kepalanya luka itu.


"Cucu nenek, kenapa bisa luka sayang, pasti Bunda kamu tidak mengurus kemu dengan becus, dia sering keluar rumah saat siang, kamu ditinggal dengan suster." ujar Mami sambil menangis dan menyalahkan semua kesalahan yang diperbbuatnya kepada Gina.


"Sayang!!!!!!!" panggil Aris dengan nada keras.


Aris memberikan Arga kepada Mami, tetapi Arga menolak dan lebih memilih di gendong oleh Daniel. Aris sebenarnya heran kenapa Arga tidak mau di gendong Mami. Tetapi Aris juga penasaran dengan ucapan Mami tadi tentang Gina yang keluar lama saat siang hari.


"Ah sukur anak tidak sempurna itu tidak mau sama aku. Aku jijik menggendongnya" ujar Mami dengan suara pelan, Mami menyangka tidak ada yang mendengar, tetapi semua yang dikatakan oleh Mami terdengar oleh Daniel.


"Mampus kamu Gina, belum kamu mengadu dengan suami kamu, aku sudah membuat drama bagus. Silahkan nikmati perang kamu dengan suami kamu. Aku mau kamu dengan ketiga anak kamu, keluar dari rumahkku." ujar Mami dengan senyum smirknya.


Daniel langsung membawa Arga menuju mobilnya kembali, Daniel tidak mau Arga mendengarkan pertengkaran yang sebentar lagi pasti akan terjadi di kamar kedua orang tuanya. Pertengkaran yang sengaja dibuat oleh Nenek mereka karena ketidaksukaannya kepada Gina dan ketiga anaknya. Ingin rasanya Daniel menceritakan semuanya kepada Frenya, tetapi Daniel tidak ingin menambah masalah Frenya lagi. Frenya sedang memiliki masalahnya sendiri. Daniel harus mengatasi masalah ini sendirian.


.


.


.


Mami yang kepo luar biasa dengan pertengkaran antara Aris dan Gina langsung berjalan dengan mengendap endap menuju kamar Aris. Mami ingin sekali mendengar Aris memaki maki Gina.


"Gina, apa yang dikatakan Mami tadi tolong jelaskan kepada aku suamimu ini? Sudah merasa hebat kamu sampai harus keluar rumah lama tanpa memberi kabar kepada ku?" kata Aris dengan nada tingginya.


"Uda, aku tidak ada keluar rumah yang lama. Aku tadi memang pergi hanya sebentar, pergi membeli cemilan untuk Arga. Aku hanya pergi ke supermarket di depan." jawab Gina sambil menantang Aris.


"Terus kenapa Mami mengatakan kamu pergi sangat lama?" tanya Aris yang tidak percaya dengan ucapan Gina.


"Kalau kamu tidak percaya silahkan cek cctv rumah, jam berapa aku keluar dan jam berapa aku kembali. Aku tidak suka diragukan." jawab Gina dengan mata menatap dingin ke arah Aris.


"Ntah, aku tidak tau siapa yang harus aku percaya, ntah kamu istri aku yang harus aku percaya, ntah Mami sebagai ibu kandung aku yang harus aku percaya.' jawab Aris sambil melangkah menuju kamar mandi.


" Terserah kamulah sayang, aku tidak akan memaksakan keberuntungan aku lagi." ujar Gina sambil menyiapkan pakaian yang akan di pakai oleh Aris.


Setelah menyiapkan pakaian Aris, Gina berjalan ke luar menuju dapur. Dia akan menyiapkan makan malam untuk keluarganya, serta memasak masakan untuk Arga yang dibelinya dengan uangnya sendiri. Betapa terkejutnya Gina saat membuka pintu kamar, dia melihat mami mertuanya yang tersenyum dengan bahagia.


"Sebentar lagi kamu dan anak kamu akan meninggalkan rumah ini. Aku akan pastikan itu." ujar Mami sambil tersenyum penuh kemenangan.


"Terserah Mami, satu yang pasti sampai kapanpun aku akan tetap menjadi istri seorang Aris Seopomo." jawab Gina dengan pasti.


"Kamu akan tetap bisa menjadi Nyonya Muda rumah ini dengan jalan membuang anak tidak sempurna itu dari rumah ini." ujar Mami.

__ADS_1


Betapa kagetnya Gina mendengar apa yang dikatakan oleh Mami. Dia tidak menyangka Mami akan sekejam itu. Gina lebih memilih berlalu dari hadapan Mami. Dia tidak ingin menambah lagi luka dihantinya itu.


__ADS_2