
"Hahahahaha. ODGJ saja tidak akan percaya dengan ucapan kamu. Jadi kamu jangan harap saya akan percaya dengan kamu." jawab Mami.
Papi menatap Argha dengan tatapan tidak percaya. Dia tidak menyangka cucunya itu mampu mengeluarkan kata kata yang sangat pedas. Kata kata yang hanya bisa dikeluarkan oleh orang yang benar benar sakit hati dan marah dengan lawan bicaranya.
"Anda boleh tidak percaya Nyonya. Tapi anak kandung Nyonya sekaligus Daddy sudah melihat semuanya. Nyonya silahkan tanyakan dengan Daddy." ujar Argha dengan nada menahan marahnya.
"Daddy, Daddy yang mau cerita keadaan kami atau aku yang akan cerita sendiri?" tanya Argha.
"Tapi sebelum buka cerita ini, aku pengen Daddy memastikan kalau dia tidak akan masuk rumah sakit. Atau mati berdiri." ujar Argha menatap tajam Mami.
"Kekayaan Wijaya Grub yang kamu banggakan???? Tidak ada bandingannya dengan Soepomo dan Jaya Grub." ujar Mami kepada Argha.
"Maaf Nyonya. Saya tidak tipe manusia yang menikmati harta kekayaan orang lain. Saya punya uang sendiri dan kekayaan sendiri." jawab Argha sambil tersenyum mengejek.
"Masih lama kamu mau ceramahnya??? Kalau iya silahkan aja. Aku masih bersedia untuk mendengarkan semua ceramah kamu." jawab Mami.
Tuam Soepomo yang sudah mulai muak dengan gaya bicara Mami hanya geleng geleng kepala saja. Papi ingin melihat bagaimana cara Arga menyelesaikan masalah antara dirinya dengan Mami.
"Nyonya yang terhormat, apakah Nyonya pernah mendengar tentang perusahaan GA Grub yang perusahaan utamanya terletak di negara U?" tanya Argha kepada Neneknya itu.
"Manusia ogeb yang nggak tau sama sekali dengan perusahaan GA Grub." jawab Mami dengan yakin.
"Berarti anda manusia Ogrb itu ya." ujar Argha dengan santainya.
"Saya tau kok perusahaan GA Grub. Perusahaan tersebut menjalin kerjasama dengan Soepomo dan Jaya Grub." balas Mami tidak mau kalah.
"Nah uni kamu yang sok pintar dan sok cantik itu di sana kan kerjanya. Sok dia pula yang tandatangan dengan perusahaan Soepomo. Emang dia siapa? Apa dia udah tidur dengan pemilik GA Grub" ujar Mami yang mulai tidak kontrol mulutnya.
Aris yang kaget Mami menghina Frenya sontak maju ke hadapan Mami.
Plak. Sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi Mami.
"Anda bisa sopan berbicara tidak. Kalau anda merasa anda wanita terhormat dan dari kalangan kaya seharusnya anda bisa menjaga mulut anda. Jangan asal keluar." ujar Aris dengan muka memerah seperti tomat.
"Hay Nyonya, Frenya sering kok tidur dengan pemilik GA Grub. Malahan kamaren sebelum ke sini Frenya menemani seharian pemilik GA Grub." ujar Argha.
"Nah dia aja ngakuin kalau kakaknya nggak bener. Kenapa kamu yang nampar Mami." ujar Mami kepada Aris.
"Anda tau tidak Nyonya siapa pemilik dari GA Grub?" tanya Aris menatap Maminya.
__ADS_1
"Papi tau siapa pemilik GA Grub?" tanya Aris beralih kepada Papi.
Papi dan Mami kompak menggeleng. Mereka memang tidak tau siapa pemilik dari GA Grub itu. Mereka yang tau kalau GA Grub memiliki banyak cabang di berbagai negara. Mereka hanya tau sebatas itu.
"Papi mau tau siapa pemiliknya?" tanya Aris.
Papi mengangguk.
"Soepomo berhutang banyak kepada GA Grub. Saat semua investor lari mereka datang menyelamatkan perusahaan." ujar Papi.
"Satu lagi Pi. Kembalinya para investor bukan semata mata karena perjuangan Paman Hendri, tetapi di dalamnya ada andil pemilik GA Grub." lanjut Aris.
"Maksud kamu Ris?" tanya Papi yang penasaran.
"Ya, pemilik GA Grub mengancam kalau para investir tidak kembali kepada kita, maka GA Grub akan memilih meninggalkan mereka. Makanya para investor datang kembali ke kita untuk menanamkan kembali modal mereka." ujar Aris.
"Kamu tau dari siapa Ris?" tanya kembali Papi.
"Pemilik GA Grub yang menceritakan kepada Aris, Pi." jawab Aris.
"Jadi kamu bertemu dengan pemilik GA Grub?"
"Apakah dia seumuran Papi atau seumuran kamu?"
"Kecil dari aku Pi." jawab Aris.
Argha hanya memandang Papinya. Dia mengkode Papinya untuk menjelaskan saja semuanya. Aris mengangguk kepada Argha. Papi akan menceritakan semuanya kepada Argha.
"Papi, Aris akan menceritakan semuanya kepada Papi nanti di rumah. Sekarang Aris males cerita. Apalagi dengan melihat adanya wanita ini di sini. Lebih baik nggak usah cerita." ujar Aris.
"Dad, mau diapain nenek lampir ini Dad?" tanya Argha kepada Aris.
"Argha maunya di apain?" tanya Aris.
Argha menatap papi dengan lama.
"Atuk menyerahkan semuanya kepada Argha." ujar Papi.
"Argha mau, ambil semua fasilitasnya. Suruh dia tinggal di kontrakan kecil. Biar dia rasakan bagaimana rasanya terusir dari keluarga sendiri." ujar Argha menatap sinis ke arah Mami.
__ADS_1
Mami terkejut dengan permintaan Argha.
"Pi jangan usir Mami dari sini Pi. Mami nggak bisa hidup menderita Pi." ujar Mami menghiba kepada Papi.
Mami memohon sambil memegang kaki Papi.
"Maaf, kamu sudah keterlaluan. Gara gara mulut kamu, menantu dan cucuku menderita. Mereka hidup di luar sana. Ntah makan ntah tidak. Untung saja Aris menemukan mereka cepat, kalau tidak. Ntah apa yang akan terjadi dengan cucu dan menantu saya." jawab Papi menolak permintaan Mami.
"Ris" ujar Mami menghiba kepada Aris.
"Maaf Nyonya keputusan sudah di ambil. Sebentar lagi anak buah saya akan datang ke sini mengantarkan Nyonya ke rumah Nyonya yang baru." ujar Aris.
"Mana dompet kamu?" tanya Papi kepada Mami.
Mami tidak mau memberikan dompetnya. Papi langsung masuk ke dalam kamar Mami. Papi mengambil tas milik Mami.
Papi membawa dompet yang ada di dalam tas. Papi mengambil semua kartu kredit milik Mami.
"Jangan ambil Pi. Mau makan pakai apa aku nanti Pi." ujar Mami sambil menangis.
"Bukan urusan saya." jawab Papi.
"Ayuk Ris pulang. Papi kangen main dengan Arga." ujar Papi mengajak Aris dan Argha serta Bram untuk pulang ke rumah.
"Nenek lampir permainan baru kita mulai." ujar Argha berbisik tepat di telinga Mami.
Mami menatap Argha tidak percaya. Dia sama sekali tidak membayangkan Argha bisa bersikap seperti itu.
"Aku kalah" ujar Mami lemah.
"Oh ya nenek lampir, jangan lupa pak semua barang. Atau mau saya yang masukin koper sama saat kamu mengusir saya dan Bunda?" tanya Argha menawarkan kebaikan hatinya.
Mami menatap nanar Argha. Dia tidak menyangka semua ini akan terjadi seperti ini. Tidak seperti skenario yang dirancang oleh dirinya.
Setelah Argha puas mengata ngatai Mami. Argha menyusul Daddy dan Atuk yang sudah menunggunya di depan pintu apartemen.
"Udah sayang?" tanya Aris.
"Udah Dad. Ayuk pulang. Daddy utang cerita dengan Atuk." ujar Aris.
__ADS_1
Argha menggandeng tangan Aris di sebelah kanan. Sedangkan Atuknya di sebelah kiri. Argha sangat bahagia. Kebahagiaan Argha akan lengkap dengan kehadiran Bundany. Tetapi Argha paham Bundanya sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jadi Argha akan bersabar sampai Bundanya datang.