
Aris bangun dari tidurnya, dia masih selalu melihat ke tempat tidur di sebelah tempat tidurnya. Dia berharap setiap membuka matanya bisa melihat Gina. Ternyata harapan tinggal harapan. Semuanya hanya tinggal di kepala Aris saja.
Aris beranjak dari ranjang, dia berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Setelah membersihkan badan, Aris menuju meja makan. Dia melihat Papi dan Mami yang sudah duduk di sana, hanya tinggal menunggu Aris saja lagi.
Aris melewati meja makan.
"Aris, sarapan dulu nak. Mami sudah membuatkan nasi goreng seafood untuk dirimu Nak." ujar Mami berkata kepada Aris.
Mami berharap kemarahan Aris tadi hanyalah kemarahan yang sifatnya sementara saja.
"Maaf Nyonya Besar, saya tidak selevel dengan Anda. Lebih baik saya makan di luar saja." jawab Aris sambil menundukkan badannya melihat ke arah Mami.
Papi hanya diam saja melihat tingkah Aris. Papi tau anaknya luar biasa terluka akibat ulah istrinya. Sedangkan Mami sudah tidak mampu lagi berbuat apa apa.
"Aris, maafkan Mami nak. Mami akui Mami yang membuat Arga terluka. Tetapi bukan Mami yang membuat istri dan anak kamu pergi dari rumah ini. Percaya sama Mami Nak." ujar Mami sambil mengusap air matanya.
"Maaf Nyonya, hamba tidak bisa percaya dengan siapa siapa lagi. Hamba hanya bisa percaya kepada diri hamba sendiri. Hamba permisi dahulu Nyonya. Hamba harus bekerja dengan giat sebelum giliran hamba yang diusir dari rumah ini." ujar Aris.
Aris berjalan keluar menuju rumah utama. Dia mengambil kunci mobil. Mami hanya bisa diam dan menatap punggung anak laki laki satu satunya yang dia banggakan itu.
Mami berjalan kembali munuju meja makan. Mami memberikan senyuman terbaiknya untuk Papi. Papi yang selesai meminum kopi yang dibuatkan maid tanpa menyentuh nasi goreng buatan Mami. Langsung beranjak dari kursinya. Dia memilih pergi ke kantor tanpa sarapan. Sebelum pergi pas di dekat Mami, Papi mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Hendri.
Papi menunggu panggilannya diangkat oleh Hendri. Papi menunggu dengan tidak sabaran.
"Hen. Kamu dimana?" tanya Papi saat panggilan baru saja tersambung.
"Di jalan Tuan. Ada apa Tuan?" tanya Hendri, tumben Tuan Besarnya menghubungi pagi pagi.
"Nanti berenti di salah satu tempat yang menjual sarapan. Tolong kamu belikan saya nasi goreng seafood. Satu antarkan ke Soepomo untuk Aris dan Bram. Satu lagi bawa ke kantor." perintah Papi kepada Hendri
"Baik Tuan." jawab Hendri.
Mami yang mendengar Papi memesan menu sarapan dengan yang tersedia di meja makan membuat Mami kecewa dengan sikap Papi.
"Pi, Mami kan masak nasi goreng seafood seperti pesanan Papi ke Hendri. Kenapa tidak makan yang di rumah saja Pi?" tanya Mami.
"Nggak ah. Aku nggak mau makan masakan hasil dari seorang Nenek yang tega membuat kepala cucunya terluka." jawab Papi dengan ketus.
"Aku berangkat dulu. Walaupun aku yang punya perusahaan tidak tertutup kemungkinan aku yang akan dicelakai berikutnya " ujar Papi dengan tatapan menusuk ke arah Mami.
"Maksud Papi?" tanya Mami tidak paham.
"Ya kalau aku malas bekerja, berakibat uang jajan Nyonya berkurang. Maka bisa jadi Nyonya akan berbuat ke aku seperti Nyonya berbuat ke Arga." kata Papi menjelaskan.
"Pi, mohon maafkan Aku." ujar Mami memohon kepada Papi.
"Kamu tidak bersalah kepadaku. Tetapi kepada Arga. Silahkan kamu meminta maaf kepada Arga. Setelah Arga memaafkan kamu, maka kamu bisa kembali ke kamar utama." ujar Papi memberikan syarat kepada Mami.
__ADS_1
"Kemana aku harus mencari Arga Pi. Mami tidak tau Arga berada di mana." ujar Mami dengan putus asa.
"Bukan urusan ku." jawab Papi.
Papi pergi melangkahkan kakinya keluar dari rumah. Dia benar benar kecewa mengetahui fakta itu. Ntah kejutan apa lagi yang sebentar lagi menghampiri Papi.
Mami yang melihat mobil Papi sudah melaju meninggalkan parkiran rumah. Mami masuk ke dalam kamarnya.
"Arga sialan. Tidak di sini tidak di luar sana, kamu membuat saya dibenci orang serumah. Dasar anak tidak tau diuntung kamu" teriak Mami sambil melempar semua yang ada di kamar tamu.
"Awas kamu Arga. Aku akan membuat perhitungan dengan kamu. Mana sudi aku meminta maaf kepada kamu. Aku nggak butuh kamu" ujar Mami selanjutnya. Mami benar benar marah dengan Arga.
"Aku harus cari tau siapa yang telah mengirimkan video itu kepada Papi. Siapa yang mulai menghidupkan api peperangan dengan aku." ujar Mami sambil menahan marahnya.
.
.
.
Sedangkan dibelahan bumi yang lain tepatnya di negara U. Gina dan yang lainnya menyaksikan bagaimana perlakuan Aris dan Papi terhadap Mami.
"Hahahahaha. Kasian dia" ujar Arga sambil tertawa terbahak bahak.
"Arga" ujar dokter Rani.
"Arga nggak boleh dendam sayang" ujar Gina memperingatkan Arga.
"Alga nggak dendam Bun. Tapi Alga malah. Malah besal. Alga akan balas meleka semua. Meleka bukan kelualga Alga." ujar Arga dengan tatapan penuh kebencian.
"Alga hanya punya Bunda, Niel, Flenya, Sali, Anggel, Lani dan Papi Afdhal." ujar Arga sambil menatap siapa saja yang disebutkannya.
"Gimana cara Arga bisa membalaskan marah Arga?" tanya Gina.
"Gampang." jawab Arga.
"Dengan cara?"
"Lahasia" jawab Arga kemudian.
Mereka menyelesaikan makan siang. Setelah itu Gina kembali ke kantor. Sedangkan Arga akan ke mall bersama dengan Sari dan Rani.
Hari ini Gina tidak akan memberikan kejutan apapun kepada Mami dan yang lainnya. Gina sedang ingin bersantai. Sudah cukup syok terapi yang diterima Mami hari ini.
.
.
__ADS_1
Aris yang baru saja sampai di perusahaan langsung menuju ruangannya. Dia harus lebih giat bekerja mulai hari ini.
Saat keluar dari pintu lift betapa terkejutnya Aris yang melihat Bram sudah berdiri dengan memegang beberapa map kantor yang telah diperiksanya semalaman. Aris tersenyum bahagia kepada sahabatnya itu. Aris merasa separo bebannya akan terangkat dengan kehadiran Bram.
"Loe kamana aja?" ujar Aris.
"Negara J. Kan udah gue bilangin." jawab Bram.
"Kapan datang?"
"Tadi malam. Dusta Bram supaya tidak di marahi oleh Aris."
Mereka berdua masuk ke dalam ruangan kerja Aris.
"Ris ada berita yang tidak mengenakan. Beberapa investor menarik saham mereka dari beberapa proyek yang sedang kita jalani." ujar Bram memberikan berita yang baru di dapatnya.
"Terus apa perusahaan terguncang?"
"Yap terguncang." jawab Bram dengan pasti.
"Mereka pindah kemana?" tanya Aris penasaran dengan terjadinya penarikan saham oleh investor.
"Gue juga tidak tau. Hal anehnya, investor yang menarik diri itu adalah yang memiliki investasi besar. Makanya perusahaan jadi goyah" ucap Bram menjelaskan.
"Kita harus selidiki semua ini Bram. Tidak bisa dibiarkan. Gue takut lama lama perusahaan kita bisa jadi colaps." ujar Aris.
Bram mengangguk. Bram kemudian permisi untuk kembali ke ruangannya. Bram sudah semalaman menyelidiki semua ini, tetapi Bram menemui jalan buntu.
"Apa harus minta tolong asisten Hendri ya?" ujar Bram berkata sendirian.
Gina yang baru saja sampai di kantor utama perusahaannya di negara U mendapatkan sebuah laporan dari Alex yang mengatakan kalau perusahaan Soepomo yang di bawah kendali Aris sudah mulai goyah. sekarang mereka akan mulai menarik semua investor dari Jaya Grub.
Gina meraih ponselnya, dia harus memberikan instruksi kepada Alex untuk saat ini. Gina menunggu panggilannya diangkat oleh Alex. Alex yang mendengar suara ponselnya dengan nada dering khusus untuk Gina berlari mengambil ponselnya itu.
"Hallo Nyonya. Ada apa?" tanya Alex.
"Alex, gue mau sekarang juga menarik semua saham kita yang ada di Jaya Grub. Gue yakin perusahaan itu akan colaps dan meminta bantuan ke Soepomo Grub. Saat mereka sudah kolaps. Buat perusahaan Bramantya juga colaps. Tarek semua investasi kita di sana. Suruh semua perusahaan yang bekerja sama dengan kita untuk menarik investasi mereka di perusahaan Soepomo dan yang lainnya." ujar Gina berapi api.
"Baiklah Nyonya. Kapan Nyonya akan kembali?" tanya Alex yang penasaran kapan Nyonya mereka akan kembali ke tanah air.
"Belum tau Alex. Kami akan kembali saat semua perusahaan itu sudah jatuh dan bisa di beli Arga dengan harga murah." ujar Gina.
"Baiklah Nyonya. Saya akan lakukan satu persatu." jawab Alex.
Gina memutuskan sambungan telponnya dengan Alex. Dia kembali fokus bekerja.
"Papi, Ayah, Uda, Sayang, maafkan aku. Aku terpaksa berbuat seperti ini agar kedua nenek itu mengerti kalau Arga adalah anak istimewa yang tidak bisa diremehkan lagi." ujar Gina sambil mengusap air matanya.
__ADS_1
Sebenarnya Gina tidak tega dengan semua ini. Tetapi apa mau dikata Gina harus melakukannya demi anaknya. Gina tidak ada pilihan lain. Gina sangat menyayangi Arga. Bagi Gina, Arga adalah pusat kebahagiaan, pusat kesedihan dan pusat kelemahannya.