Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Keluarga Panik


__ADS_3

Semua orang kembali terdiam, mereka sibuk dengan pemikiran masing masing. Saat mereka diam, pintu rumah dibuka dari luar, terlihat Aris dan Bram berdiri di depan rumah dengan wajah panik. Mereka tidak langsung masuk ke dalam rumah. Mereka hanya berdiri saja di depan pintu, mereka menatap nanar ke arah keluarga yang sedang berkumpul di ruang tamu rumah utama.


"Kenapa sayang???? Kenapa wajah kamu seperti itu???? Ada apa sayang????? Jangan buat aku cemas sayang????" ujar Ghina yang panik melihat Aris dan Bram yang hanya bisa berdiri saja di pintu masuk rumah.


Ghina berjalan menuju Aris dan Bram. Dia menatap wajah suaminya dengan tatapan penuh tanya.


"Sayang ngomong sayang. Ada apa ini sayang???? Jangan bikin aku jadi cemas sayang??? Ada apa??? Sayang ngomonglah sayang, ada apa??? Apa terjadi sesuatu yang buruk dengan sahabat aku itu sayang???" Ghina mengguncang kedua lengan Aris. Ghina benar benar tidak tau dengan yang terjadi sekarang ini.


Aris memegang tangan Ghina. Dia membawa istrinya itu untuk duduk kembali ke sofa ruang tamu. Bram duduk di dekat Papi. Dia bersandar seperti orang putus asa ke sandaran kursi.


"Ada apa ini kak?? Kenapa ekspresi kalian membuat kami takut seperti ini??? Kemana sahabatku????" ujar Mira yang dari tadi hanya diam saja. Dia semakin panik saat melihat Aris dan Bram yang sedang panik seperti itu.


"Kak Bram ayuklah cerita, jangan bikin kami penasaran Kak" ujar Ghina yang sekarang beralih mendesak Bram.


"Ris, kamu aja yang cerita. Aku nggak bisa cerita Ris." kata Bram yang memang sama sekali tidak mampu menceritakan apa yang dikatakan oleh Ibu Sari kepada mereka, saat mereka berkunjung ke rumah Ayah untuk mencari tau kebenaran yang terjadi.


Aris menatap wajah wajah keluarga besarnya yang sedang merasakan kepanikan. Dia benar benar butuh pertimbangan untuk menuntaskan permasalahan ini.


"Pi, Sayang, Mira. Tadi pas kami pergi ke rumah Ayah, mereka di sana juga sedang panik memikirkan dimana keberadaan Sari sekarang ini" kata Aris memulai ceritanya.


"Maksud kakak, Sari diculik orang?" kata Mira memotong ucapan Aris, karena dia sudah bisa membaca kemana arah cerita Aris.


"Sayang, dengarkan cerita Aris dulu sampai selesai. Setelah itu baru kamu bicara." kata Bayu menenangkan istrinya.


"Apalagi coba sayang kalau nggak diculik. Nggak mungkin juga dia pergi liburan. awas tu orang ya." kata Mira dengan ketus.


"Mir" terdengar nada dingin Ghina memanggil nama sahabatnya yang sekarang sedang menahan emosinya.


Mira menatap Ghina. Ghina menganggukkan kepalanya. Mira membalas dengan mengangguk juga. Mira kemudian memilih untuk membungkam mulutnya. Dia tidak akan memoting pembicaraan lagi.

__ADS_1


"Sayang lanjutkan sayang." kata Ghina sambil menggenggam tangan Aris.


"Jadi pagi tadi sekitar jam sepuluh Sari, Ibu dan Bibi berangkat menuju mall. Sari berencana akan mentraktir Ibu dan Bibinya belanja. Saat mereka berdua sibuk memilih milih pakaian, Sari tiba tiba meminta izin untuk ke belakang kepada Bibi." Aris kembali memulai ceritanya.


"Saat itu Sari menitipkan dompetnya dan juga ponselnya kepada Bibi. Ibu dan Bibi tetap meneruskan belanjanya. Mereka berdua sadar saat Sari tidak juga kembali kembali dari toilet."


"Ibu dan Bibi pergi melihat Sari ke sana ternyata Sari sudah tidak ada dan hanya menemukan sebelah sandal milik Sari yang tertinggal di toilet mall." kata Aris menceritakan semua cerita Bibi


Mereka semua terdiam mendengar cerita Aris. Kali ini sudah bisa dipastikan kalau Sari benar benar diculik oleh orang lain. Terlepas dari ada musuh atau tidak, ini sudah dinamakan penculikan.


"Apa kamu sudah memirintah semua anggota kita untuk melakukan pencarian Ris?" kata Asisten Hendri.


"Sudah Paman. Mereka sudah mulai bergerak melakukan pencarian. Kita tinggal tunggu informasi dari mereka." jawab Aris sambil memijit kepalanya yang menjadi pusing seketika. Aris sedikit meringis karena rasa sakit di kepalanya.


"Dad" ujar Argha yang melihat Daddynya sedikit menahan sakit.


Daniel, Rani dan Frenya datang bersamaan dari tempat kerja mereka masing masing. Mereka langsung pulang saat menerima pesan di grub kelompok mereka kalau Sari dinyatakan telah diculik oleh seseorang. Terlepas dari itu anggota gank lain maupun hanya urusan pribadi.


Afdhal dan Ayah datang setelah Daniel datang. Mereka berdua terlihat sangat panik juga. Semua orang duduk di sana dalam keadaan panik karena Sari diculik.


"Bram, apa akhir akhir ini Sari ada menceritakan kalau dia memiliki musuh? Atau berhasil mengalahkan perusahaan lain? Sehingga membuat perusahaan itu marah kepada Sari??" tanya Ayah yang membaca kemungkinan kemungkinan lain yang terjadi.


Bram terlihat berpikir, selama ini mereka berdua tidak pernah membahas tentang musuh pribadi atau musuh bisnis Sari.


"Tidak pernah. Sari tidak pernah bercerita tentang musuh pribadi ataupun musuh bisnis. Setiap ditanya jawaban Sari selalu sama, dari pada harus punya musuh lebih baik mundur saja. Selalu seperti itu." jawab Bram dengan nada letih.


"Jawaban kak Bram benar Ayah, Sari bukan tipe orang yang mencari musuh. Sari akan selalu mengalah dari pada harus perang atau ribut dengan orang lain." kata Mira menyetujui ucapan Bram.


Mereka semua juga tau kalau Sari bukan tipe orang yang akan mencari ribut dengan orang lain. Dia adalah tipe orang sekaligus pebisnis yang menjauhi pertengkaran.

__ADS_1


"Jadi sekarang kita harus bagaimana?" tanya Ayah lagi.


Ayah juga panik luar biasa. Dia sudah menganggap Sari sebagai anak kandungnya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu kepada anak perempuannya yang sebentar lagi akan menikah itu.


"Dad, apakah ponsel Tante Sari masih aktif?" tanya Daniel yang teringat dengan ponsel milik Sari.


"Ponsel Sari tidak dibawanya Niel. Sari menitipkan ponsel dan juga tasnya ke Bibi saat dia akan ke kamar mandi" ujar Aris menjawab pertanyaan Daniel yang menanyakan keberadaan ponsel Sari.


"Huf kalau adakan bisa dilacak Dad" ujar Daniel yang langsung putus asa saat tau kalau ponsel milik Sari berada di tangan Bibi.


Saat mereka sedang berpikir tiba tiba ponsel milik Bram berbunyi. Ada sebuah pesan masuk ke ponsel Bram.


'Anda sedang panik. Selamat Ya' bunyi pesan masuk ke ponsel Bram.


"Kurang ajar. Berani beraninya dia menculik istriku." teriak Bram.


Semua orang menatap Bram dengan pandangan bertanya tanya.


"Ada apa Bram?" tanya Papi.


Bram kemudian memperlihatakan isi pesan yang masuk ke dalam ponsel miliknya kepada semua orang.


"Papi pinjam Argha ponselnya." ujar Argha.


Bram memberikan ponsel miliknya kepada Argha. Argha kemudian membawa ponsel milik Bram ke dalam kamarnya.


"Apa yang dia akan lakukan dengan ponsel Bram sayang?" tanya Aris kepada Ghina.


"Biarkan saja, kita akan tau nanti sayang. Sabar aja." jawab Ghina.

__ADS_1


__ADS_2