
"Ah" teriak Aris melepaskan pelepasannya.
Sepasang suami istri itu kemudian beristirahat sambil berpelukan, mereka tanpa direncanakan telah menyelesaikan satu ronde pertempuran mereka sore hari ini.
"Sayang kamu mandi duluan sana, aku masih ingin beristirahat." ujar Ghina yang menarik selimut menutupi tubuh polosnya.
"Bentar lagi la sayang, masih capek habis kerja keras." jawab Aris yang juga masuk ke dalam selimut Ghina.
Ghina dan Aris mengistirahatkan badan mereka yang baru saja selesai bekerja keras menikmati nikmatnya dunia di sore hari.
"Sayang, udah jam lima. Sana mandi, nanti orang nungguin kita lagi." ujar Ghina membangunkan Aris yang ternyata sudah tertidur.
Aris menggeliatkan badannya. Dia sebenarnya masih lelah, tetapi berhubung acara hari ini adalah acara yang penting dalam hidup Bram, Aris dengan terpaksa membuka kedua matanya.
"Iya sayang." jawab Aris.
"Kamu iya nya cepat sayang, tetapi nggak juga duduk. Ayolah sayang." ujar Ghina mengguncang tubuh Aris yang masih belum duduk.
"Iya sayang ini mau duduk" jawab Aris yang berusaha bangun dari tempat tidur.
Aris kemudian duduk dan bangun dari tempat tidur. Dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya. Sedangkan Ghina menyiapkan pakaian untuk Aris dan juga dirinya. Sedangkan pakaian Argha sudah disiapkan oleh suster.
"Sayang, mandi sana aku udah siap. Pakian aku dimana sayang?" tanya Aris yang baru keluar dari kamar mandi.
"Aku tarok di atas kasur sayangku." jawab Ghina sambil meraih handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Betapa terkejutnya Ghina saat melihat bathup di dalam kamar mandi sudah terisi penuh dengan air dan sudah beraroma terapi favorit Ghina.
"Kamu terlalu memanjakan aku sayang, tapi aku suka otu. Sangat suka malahan." ujar Ghina sambil masuk ke dalam bathup.
Gina berniat melepaskan rasa penatnya sebelum memulai lagi aktifitas puncak dari segala aktifitasnya dalam beberapa hari ini. Ghina benar benar lelah, mulai dari kasus Mami, kasus istri pertama Papi yang sampai sekarang belum terungkap, acara lamaran Bram sampai dengan Aris sakit. Ghina benar benar dituntut siap fisik dan psikisnya.
"Sayang, kamu masih lama di dalam?" panggil Aris yang melihat jam ditangannya, dia merasa kalau Ghina cukup lama di dalam kamar mandi.
"Ini udah siap sayang, sedang mengeringkan badan." jawab Ghina dari dalam kamar mandi.
"Huft untung saja nggak ketiduran. Kalau sempat waduah bisa berabe ni acara." ujar Ghina dengan pelan.
__ADS_1
Ghina membuka pintu kamar mandi, dia berjalan menuju ranjang. Ghina memasang handbody dan pakaian dalamnya. Saat mau memakai pakaiannya, ternyata retsleting baju Ghina mengalami kemacetan sehingga susah untuk naik.
"Sayang, bisa aku minta tolong?" ujar Ghina yang terlihat kesusahan menarik retsleting bajunya.
Aris kemudian berjalan ke arah Ghina. Dia kembali menurunkan retsleting baju Ghina.
"Sayang kok diturunkan lagi, aku minta tolong untuk menaikkannya sayang bukan menurunkannya." ujar Ghina protes kepada Aris yang salah memaknai permintaan tolongnya.
"Sayang, aku paham maksud kamu. Tapi kalau langsung di naikkan ke atas dia nggak akan mau. Makanya harus dimulai dari bawah lagi agar dia mudah untuk ke atas." jawab Aris sambil menatap bulatan kembar milik Ghina yang tidak muat di dalam sangkaknya.
"Sayang matamu" ujar Ghina sambil mengusap wajah suaminya.
"Menikmati pemandangan indah yang tersaji itu sah saja sayang. Apalagi pemandangan indah itu punya kita sendiri. Jadi kenapa harus diabaikan selagi masih ada kesempatan." jawab Aris sambil tersenyum licik.
"Sayang, aku paham arti tatapan itu. Jangan macam macam, kita mau acara lamaran Kak Bram." ujar Ghina yang melihat tatapan mata Aris yang mengandung makna pingin xxx itu.
"Is suuzon kamu sayang, mana ada aku pengen itu. Nggak kali, sok tau." jawab Aris yang langsung saja menaikan retlsleting pakaian Ghina.
Setelah memasang retsleting pakaian Ghina, Aris kembali duduk di ranjang, dia pura pura memainkan ponsel miliknya. Niat untuk menjahili Ghina sebelum memasangkan retsleting itu gagal sudah, karena Ghina sudah tau niat jelek Aris.
Ghina memoles sedikit wajahnya dengan makeup natural, dia sangat tau Aris tidak suka kalau dia memakai make up tebal seperti mau pergi kemana.
Ghina tidak menjawab, tetapi dia berjalan langsung ke depan Aris yang sedang duduk. Aris menatap istrinya dengan lama.
"Wow kamu cantik sekali sayang, aku rasa aku tidak mau membawa kamu kesana." ujar Aris sambil menundukkan kepalanya.
"Hay, kenapa?" tanya Ghina sambil mengangkat dagu Aris.
"Karena, aku tidak mau membagi kamu dengan orang lain. Aku tidak mau wajah cantik kamu menjadi santapan hangat pria lain." jawab Aris sambil menatap wajah Ghina.
"Hay suamiku sayang, biarlah wajahku dilihat mereka, tapi yang terpenting aku hanya bisa kamu nikmati sendiri." ujar Ghina sambil tersenyum menggoda Aris.
Cup. Sebuah ciuman mendarat mulus di bibir Aris.
"Sayang, jangan bangunkan jaluk yang sudah kembali tidur. Nanti kamu beneran tidak bisa pergi ke acara lamaran Bram." kata Aris sambil membetulkan letak jaluknya yang sudah akan kembali hidup itu.
"Hahahahaha. Tidak akan sayang. Kita tidak mungkin tidak berangkat ke acara lamaran. Bisa digantung kak Bran dan Sari kita berdua nanti."
__ADS_1
Ghina kemudian duduk di ranjang, dia berusaha memakai sepatu tingginya dengan sedikit kesusahan. Aris yang melihat langsung jongkok dan memakaikan sepatu istrinya itu.
"Selesai. Mari Nyonya Aris kita turun ke bawah. Kita sapa semua anggota keluarga yang dari tadi sudah menunggu kita." ujar Aris sambil menggandeng mesra istrinya.
Mereka berdua turun ke ruang tamu. Semua anggota keluarga sudah berkumpul di sana. Mereka tinggal menunggu Ghina dan Aris.
"Tuh akhirnya mereka turun juga." ujar Afdhal yang melihat adik dan adik iparnya menuruni tangga seperti sepasang pengantin baru saja.
"Kenapa lama banget Ris. Kami kira kalian berdua tidak akan ikut acara lamaran Bram." ujar Papi sambil memberikan hadiah tatapan tajam untuk Aris.
"Hehehehehe. Maafin Aris Pi. Tadi ada insiden kecil" ujar Aris yang mendapat cubitan dipinggangnya dari Ghina.
"Yelah insiden kecil membuat adik untuk Argha." jawab Ayah dengan kerasnya.
"Hahahahahahaha" semua orang sukses mentertawakan Aris dan Ghina yang sama sekali tidak memandang waktu untuk melakukan kegiatan suami istri mereka.
"Wah memanglah ya nggak pada paham dan mengerti. Makanya otak jangan otak mesum semua. Jelas insidennya retsleting baju Ghina macet. Jadi tadi dibetulin dulu. Omes memang susah ya." ujar Aris menatap jijik ke setiap wajah laki laki dewasa yang ada diruangan itu.
"Sudah jangan diteruskan, bisa batal kita pergi lamaran Bram. Ghina apa semua hantaran sudah siap?" tanya Papi memastikan semua hantaran sudah ada yang memegangnya.
"Sudah Pi." jawab Ghina yang celengak celenguk mencari seseorang.
"Kamu cari Argha Gin?" tanya Ayah.
"Iya yah. Mana tu bontot ya nggak kelihatan?" ujar Ghina semakin celengak celenguk mencari Argha.
"Bunda" teriak Argha sambil berlari memeluk Ghina.
"Dari mana sayang?" tanya Ghina kepada Argha.
"Dari nemanin Papi Bram yang nggak bisa masang dasi." jawab Argha sambil tersenyum menatap Bram.
Ghina menatap ke arah Bram. Bram mengangguk mengiyakan kalau perkataan Argha adalah benar.
"Okelah. Berhubung semua sudah berkumpul mari kita berjalan menuju rumah Sari yang jaraknya dari sini tidak jauh. Bram akan didampingi oleh Papi dan Ayah. Dibelakang Bram akan berjalan Aris, dan Saya. Dibelakang saya Bram dan Bayu, ini hanya sekedar mengingatkan. Urutannya tetap seperti yang sudah diberitahukan tadi sore." ujar Ghina.
Semua orang telah mengambil tempat dan posisi mereka masing masing. Argha akan berjalan dengan Frenya. Sedangkan Stefen akan berjalan dengan Alex yang datang sekedar memenuhi undangan dari Bram.
__ADS_1
Iring iringan keluarga besar Soepomo sudah berjalan meninggalkan rumah peristirahatan, mereka berjalan menunu kediaman Sari. Semua wanita di keluarga itu membawa semua seserahan yang akan diberikan kepada Sari yang berasal dari pilihan Bram.