
"Au" teriak Sari saat seember air disiramkan ke wajahnya dengan sangat keras oleh salah seorang penculik.
"Hahahahahahaha, hanya segini ternyata kemampuan dan nyali dari salah satu pemimpin kelompok yang katanya paling paten, paling keren dan paling hebat di negara I. Kalau tau hanya segini lebih baik kami menculik langsung pimpinannya yang bernama Ghina, dari pada menculik kamu yang ternyata lemah." ujar penculik yang tadi menyiram Sari dengan seember air.
Sari sangat menyesal telah tidur, seharusnya tadi dia lebih memilih tidak usah tidur, tapi mau gimana lagi, dia sangat merasa lelah jadi bagaimanapun dia harus beristirahat untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
Seorang penculik masuk sambil membawa sepiring nasi yang sangat tidak layak untuk dimakan manusia. Penculik itu mendorong dengan kakinya piring tersebut untuk menuju Sari.
"Makanan loe, silahkan makan. Jangan loe berharap makanan yang diberikan memakai piring dan sendok emas. Jadi silahkan makan Nona." ujar penculik dengan geram.
"Cuih" Sari meludah ke samping, dia sama sekali tidak sudi untuk memakan makanan tersebut.
Plak, sebuah tamparan mendarat di pipi Sari. Pipi Sari menjadi luar biasa perih.
"Anda berharap makanan anda di letakkan di piring, serta diberi sendok dan garpu emas, jangan menghayal Nyonya. Hayalan Anda terlalu tinggi." ujar Pengawal sambil tersenyum sinis.
"Kamu lepaskan saja tangannya, kalau terikat seperti itu gimana cara dia akan makan." ujar Pengawal yang satu lagi.
"Biarkan saja, mulutnya kan ada, suruh aja pakai mulut." jawab pengawal yang tadi memberikan Sari sepiring nasi.
"Hahahahahahahaha, ide bagus juga, jadi dia makan seperti binatang makan kalau begitu. Keren juga, kita videokan bagaimana biar dia menjadi viral." ujar rekan pengawal.
"Setuju gue, jadi diakan nggak ada muka lagi kedepannya. Hahahahahah, siapa suruh cari lawan ke kita kita ini." ujar pengawal.
Mereka kemudian mengeluarkan ponselnya yang memiliki kamera.
Seorang penculik terlihat menahan rasa marahnya, dia menggenggam tangannya dengan sangat keras, hal itu terlihat dari wajah penculik tersebut.
"Bodoh kalian pelihara, jelas gelap kalian mau mengambil video, gue yakin kamera ponsel kalian tidak pakai infra red." ujar Sari memanas manasi para pengawal.
"Benar juga tu cewek, ponsel kita harga standar gimana mau ngerekam. Batal saja lah." ujar pengawal yang tadi memiliki ide untuk melakukan perekaman kepada Sari.
"Kalian masih bisa ngerekam, tapi pakai ponsel yang mahal, kalau ponsel kelas seperti ya maaf dulu lah ya, nggak akan bisa." lanjut Sari yang sangat senang memancing emosi para pengawal.
Kedua pengawal yang kesal karena dicemeeh oleh Sari lebih memilih untuk keluar dari gudang. Mereka sudah tidak tahan berada di sana lebih lama lagi.
"Jangan lupa makan makanan Anda kalau Anda tidak ingin sakit." kata pengawal yang dari tadi hanya diam saja menyaksikan semua kelakuan rekan rekannya.
Sari yang mendengar suara pengawal itu merasa pernah mendengar suara tersebut, Sari berusaha mengingat dimana dia pernah mendengar suara itu. Semakin Sari berusaha mengingat semakin tidak tau Sari dimana dia pernah mendengar suara itu.
Sari kemudian kembali termenung dia terlihat berpikir dengan keras.
Dret bunyi pintu terbuka dengan perlahan. Sari melihat ke arah pintu yang terbuka itu, dia melihat dengan samar seorang pria masuk ke dalam ruangan dengan cara mengendap endap.
"Nona Sari ini Saya Felix" ujar orang yang dari tadi dipikirkan oleh Sari.
"Kenapa loe ada di sini Felix??" ujar Sari yang baru tersadar kalau pencuri yang tadi berbicara adalah pengawal pribadinya.
"Ceritanya panjang Nona, Saya tidak bisa menceritakannya kepada Nona sekarang." jawab Felix.
"Nona saya akan menyuapi Nona makanan itu." ujar Felix yang sudah kembali mengambil piring yang berisi makanan untuk Sari.
"Tidak Felix, saya yakin mereka telah menaruh sejenis obat ke dalam makanan ini, kamu tau kan Felix bagaimana cara kerja genk yang seperti ini." ujar Sari sambil menatap Felix.
"Tenang saja Nona, makanan ini tidak yang mereka beri obat, ini adalah jatah makanan saya Nona, maafkan Saya tidak bisa memberi makanan yang dari luar untuk Nona, terpaksa saya memberi makanan milik Saya kepada Nona" ujar Felix kepada Sari sambil menunduk.
"Tidak apa apa Felix, saya sangat berterimakasih kepada kamu Felix, saya menjadi lebih tenang sekarang karena ada kamu di sini." ujar Sari yang memang lebih merasa tenang sekarang setelah mengetahui ada salah satu pengawal kepercayaannya di sini.
Dari jauh terdengar derap langkah kaki seseorang menuju ruangan Sari.
Plak, terdengar bunyi pipi yang ditampar dengan keras. Pintu ruangan kemudian terbuka dengan lebar.
"Kenapa kamu menampar dia?" tanya penculik yang baru masuk.
"Sorry kawan, dia tidak mau makan. Makanya terpaksa saya harus menampar dia dengan kuat supaya dia mau makan." jawab Felix sambil menatap ke Sari.
"Mantap kawan, siksa saja. Sebentar lagi Nyonya besar akan datang, kita harus membuat dia sudah makan, karena Nyonya akan menyiksa dia nanti." kata pengawal yang baru masuk.
Pengawal yang baru masuk tadi kemudian kembali keluar, dia akan menunggu Nyonya besar mereka dan beberapa orang lagi pengawal yang akan datang.
"Felix, kepana kamu menampar pipi kamu sendiri tadi?" tanya Sari menatap kasian kepada Felix.
"Tidak masalah Nona, yang penting Nona tidak disakiti mereka. Tapi sebelumnya maafkan saya Nona, nanti pada saat Nyonya besar yang kata mereka akan datang kepada Nona, saya tidak bisa membantu Nona." ujar Felix sambil menunduk menyesali dirinya yang tidak bisa menolong lebih jauh lagi Nonanya ini.
"Tidak masalah Felix." jawab Sari.
__ADS_1
Felix kemudian menyuapi Sari makanan yang ternyata sudah diberi Felix vitamin itu. Sari memakan makanannya sampai habis, dia sangat bersyukur ada Felix di sini. Minimal masih ada orang yang bisa mengobatinya saat dia nanti di siksa mereka.
"Felix terimakasih, kamu kembalilah segera, nanti mereka bisa curiga." perintah Sari kepada Felix.
"Baiklah Nona, saya kembali dulu. Jaga diri Nona dengan baik, saya akan sangat menyesal apabila terjadi sesuatu ke diri Nona." pesan Felix kepada Sari.
Sari menganggukkan kepalanya, dia akan menunggu kedatangan Nyonya besar yang dikatakan salah satu penculik tadi. Dia sangat penasaran siapa yang sudah berani beraninya membuat masalah dengan dirinya saat ini. Hari sudah larut malam, Sari kemudian memilih untuk tidur dan beristirahat.
RUMAH SAKIT HARAPAN KITA
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di IGD rumah sakit Harapan Kita. Mereka menunggu Ibu yang sedang diberikan tindakan oleh Dokter. Kondisi Ibu masih belum juga mengalami kemajuan, Ibu masih belum sadar juga.
"Wijaya, ada apa semua ini??? Kenapa anak dan istri saya menjadi seperti ini???' ujar Ayah Sari yang menatap nanar ke arah Ibu yang terbaring di ranjang IGD.
"Sabar Hans, semua ini kehendak yang maha kuasa, apa kamu mau melawan dan mengingkari kehendak yang maha kuasa?" ujar Ayah Wijaya.
"Kenapa harus keluarga gue Hans" ujar Ayah lagi yang sudah tidak bisa menahan rasa sedihnya.
Bram yang mendengar semua yang dikatakan oleh Ayah Sari merasa bersalah atas semua kejadian yang menimpa Sari dan Ibu. Bram kemudian langsung berjalan menemui Ayah Sari dan Ayah Wijaya yang sedang berdiri di depan ruang Igd.
"Ayah, maafkan Bram, Yah, yang tidak bisa menjaga Sari dengan baik." ujar Bram sambil jongkok dan memegang tangan Ayah Sari.
"Bangun Bram, Ayah tidak menyalahkan kamu atau siapapun, Ayah hanya menyalahkan keadaan." ujar Ayah Hans yang memang tidak menyalahkan Bram.
Bram masih saja berjongkok di depan Ayah Sari.
"Bram berjanji Ayah, Bram akan segera menemukan Sari." ujar Bram.
"Ayah percaya sama kamu Bram." jawab Ayah Sari sambil tersenyum menatap calon menantunya itu.
"Terimakasih Ayah." jawab Bram.
Dia berdiri dari duduk jongkoknya. Bram pasti akan menemukan Sari. Bram telah berjanji dalam hatinya untuk menemukan calon istrinya itu secepatnya.
Pintu ruangan Igd terbuka, terlihat seorang dokter keluar dari dalam ruangan. Dokter tersebut menuju keluarga Soepomo, Papi yang dari tadi berdiri dalam diam langsung mendekati dokter.
"Bagaimana dok?" ujar Ayah Hans.
"Pasien sudah diantar menuju ruang rawatnya Tuan." jawab Dokter memberitahukan dimana keberadaan Ibu.
"Saya akan menjelaskan di kamar pasien Tuan. Mari ikuti saya menuju ruangan pasien." ujar Dokter.
Mereka semua kemudian menuju ke ruangan tempat Ibu di rawat. Dokter membukakan pintu ruangan. Semua orang masuk ke dalam ruang perawatan Ibu. Terlihat di atas brangkar rumag sakit, Ibu terbaring dengan lemah. Selang infus terpasang ditangannya sedangkan selang oksigen juga ada di hidungnya.
"Dokter tolong jelaskan." ujar Papi.
Dokter yang tau siapa Papi dan siapa semua keluarga yang berada di sini, serta siapa yang sedang dirawatnya. memutuskan untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi kepada semua orang.
"Baiklah Tuan. Sebenarnya Nyonya berada dalam kondisi baik baik saja." ujar dokter.
"Baik bagaimana, selang oksigen terpasang dihidung istri saya, hal itu anda katakan baik???? Anda tamat kedokteran dari kampus mana." ujar Ayah Hans dengan emosi.
"Hans sabar." ujar Ayah Wijaya.
"Maaf Tuan Hans, maksud saya bukan seperti itu. Kondisi Nyonya sekarang tidak menderita penyakit yang gawat. Tetapi memang dari dalam diri Nyonya sendirilah yang tidak ingin bangun. Hal ini bukan bagian dari profesi atau spesialisasi saya melainkan Dokter Anggel." lanjut Dokter yang menangani Ibu tadi.
"Kalau penyakit dari dalam tubuh atau penyakit yang diderita oleh Nyonya sama sekali tidak ada. Kondisi kesehatan dari Nyonya sangat bagus. Saya sudah melakukan semua pemeriksaan terhadap organ organ tubuh Nyonya, semuanya dalam keadaan sempurna, tidak ada yang perlu dicemaskan sama sekali. Makanya saya mengambil kesimpulan yang harus mengobati dan menangani Nyonya adalah dokter Anggel." kata Dokter kembali memaparkan tentang kesimpulan hasil pemeriksaannya.
"Maaf dokter, kami kurang bisa memahaminya." ujar Papi.
"Dokter Anggel bisa tolong membahas ke Keluarga pasien?" ujar dokter yang tadi memeriksa Ibu.
Anggel mengangguk, mereka paham dengan semua kondisi yang sedang dialami keluarganya.
"Ayah, Papi, Ibu dalan keadaan baik baik saja. Tapi kalau pertanyaannya kenapa Ibu tidak juga bangun bangun, Nah itu adalah kehendak dari Ibu sendiri. Ibulah yang tidak ingin membuka matanya." ujar Anggel.
Dokter yang memeriksa Ibu tadi paham dengan situasi keluarga pemilik rumah sakit. Dokter memutuskan untuk keluar dari ruangan pasien.
"Anggel kenapa Ibu memilih untuk tidak membuka matanya Nggel?" tanya Ayah Hans.
"Ayah, Kita sama sama tau sekeluarga besar kalau Ibu sangat sayang dengan Sari. Nah pada kasus Ibu sekarang ini, Ibu tidak bisa menerima keadaan Sari yang sekarang sedang diculik, sehingga saat semua beban itu tidak bisa lagi ditanggung Ibu, makanya Ibu pingsan." ujar Anggel menjelaskan kepada keluarganya.
"Naj kondisi Ibu sekarang yang tidak mau bangun karena pilihan Ibu sendiri. Ibu takut saat terbangun lagi Ibu masih belum melihat Sari berada diantara kita. Faktor inilah yang membuat Ibu memilih untuk tidak bangun. Jadi Ayah tidak perlu khawatir akan hal Ibu. Sekarang kita fokus kepada Sari. Saat Sari ditemukan dan kembali ke tengah tengah kita, maka Ibu dengan sendirinya akan bangun." ujar Anggel sambil memberikan senyum meyakinkan kepada Ayah dan semua anggota keluarganya.
Semua anggota keluarga kemudian duduk di sofa kamar rawat Ibu. Mereka mengobrol seputar kejadian yang sedang menimpa Sari.
__ADS_1
Tiba tiba ponsel Afdhal berdering, Afdhal melihat siapa yang menghubunginya. Termyata yang menghubungi adalah Ghina
"Siapa Dhal?" tanya Ayah Wijaya.
"Ghina Yah. Afdhal angkat dulu" ujar Afdhal.
Afdhal beranjak dari kursinya. Dia mengangkat panggilan telpon dari Ghina. Afdhal yakin Ghina sedang rusuh memikirkan kondisi Ibu dan juga kondisi sahabatnya.
"Hallo Ghin" sapa Afdhal.
"Hallo Uda, gimana keadaan Ibu Uda? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Ibu?" tanya Ghina langsung ke inti pertanyaannya.
"Kondisi kesehatan Ibu sangat baik Ghin. Cuma kondisi psikis Ibu yang agak terganggu karena pengaruh Sari yang diculik itu. Hal itu yang membuat Ibu pingsan." jawab Afdhal memberitahukan secara ringkas kondisi Ibu.
"Sekarang apa Ibu sudah bangun Uda?" tanya Ghina yang masih khawatir dengan Ibu.
"Ibu memilih untuk tidak bangun Ghin. Ibu masih terus tertidur." jawan Afdhal.
"Sepertinya Ibu benar benar syok dengan semua keadaan Uda, makanya Ibu memilih untuk terus tertidur sampai Sari pulang kembali. Tapi biarlah Ibu seperti itu Uda lebih baik untuk kondisi Ibu." uajr Ghina.
"Kenapa bisa begitu?" ujar Afdhal yang penasaran kenapa Ghina bisa berbicara seperti itu.
"Uda lihatkan ya Kak Bram? Apa uda yakin kak Bram baik baik saja?" tanya Ghina kepada Afdhal.
Afdhal menatap kearah Bram. Dia melihat Bram dari tadi hanya termenung saja. Tatapan mata Bram juga kosong. Afdhal yakin kalau Bram sedang dalam keadaan yang tidak baik baik saja.
"Uda setuju dengan kamu Ghin, sepertinya Bram sedang dalam kondisi tidak baik baik saja." ujar Afdhal.
"Nah itu makanya, Ghina lebih setuju Ibu memilih untuk terus tidur sampai Sari bisa kita temukan." jawab Ghina.
"Apa udah ada kabar tentang Sari Ghin?" tanya Afdhal yang teringat dengan kondisi Sari.
"Belum Uda. Tapi Frenya sedang berusaha melacak keberadaan Sari dari berbagai hal. Stefen juga sedang meretas cctv mall dan jalanan ibu kota." ujar Ghina memberitahukan tentang sampai mana mereka batu mencari Sari.
"Semoga Steven dan Frenya cepat menemukan titik terangnya. Kasian melihat Ibu yang seperti ini. Kasian liahat Bram dan Ayah. Lebih kasihan lagi melihat kondisi Sari yang sampai sekarang kita tidak tau apakah dia makan atau tidak." ujar Afdhal.
"Kami akan berusaha terus Uda. Sari adalah keluarga kita. Maka kita akan berusaha keras sampai kapanpun." ujar Ghina menahan emosinya.
Afdhal mengingat bagaimana pentingnya Sari dan Mira bagi Ghina. Saat Ghina kabur dari rumah utama karena kasus perselingkuhan Aris, Sari dan Miralah yang menemani dirinya. Intinya dimana ada Ghina, disitu pasti ada Sari dan Mira.
"Uda udah dulu ya. Titip Ibu Uda. Tolong bisikan ke telinga Ibu, Ghina dan Mira tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi kepada Sari. Tolong ya Uda." ujar Ghina menitip pesan kepada Afdhal.
"Oke nanti akan uda sampaikan. Kamu dan yang lain harus beristirahat Ghina. Hari sudah larut malam. Besok kita lanjutkan lagi pencariannya." kata Afdhal yang tau adiknya tidak akan beristirahat selagi sahabatnya belum ditemukan.
"Oke Uda. Makasi atas infonya Uda. Selamat beristirahat." ujar Ghina.
RUMAH UTAMA SOEPOMO
"Gimana keadaan Ibu Ghin?" tanya Mira kepada Ghina.
"Ibu lebih memilih tidak bangun Mir. Sepertinya Ibu sangat terguncang dengan masalah ini" jawab Ghina.
Dua orang sahabat itu sudah berada di ruang kerja Aris. Mereka berdua menemani Aris, Bayu dan Daniel yang sibuk menghubungi anggota gank Black Jack yang sibuk mencari keberadaan Sari.
"Gimana Sayang apa ada kemajuan?" tanya Ghina kepada Aris.
"Belum sayang, pengen rasanya aku bunuh satu persatu orang orang yang mencari Sari itu. Kenapa mereka sebegitu bodohnya sampai sampai mereka tidak bisa menemukan Sari." ujar Aris yang ambang batas kesabarannya sudah sampai puncak.
"Sabar sayang. Sepertinya yang melakukan penculikan kali jni orangnya benar benar dari kalangan yang rapi. Mereka sepertinya sudah sangat berpengalaman." ujar Sari menguatkan Aris.
"Bisa jadi sayang. Aku sampai tau siapa mereka maka siap siap saja mereka menerima balasan yang setimpal karena sudah membuat saudara dan semua keluargaku menjadi panik." uajr Aris dengan emosi.
"Dad, gimana kalau semua ini dalangnya adalah nenek lampir." ujar Daniel memancing reaksi Aris.
"Kalau sempat dia, maka akan Daddy pastikan dia tidak akan selamat. Daddy tidak lagi memandang dia sebagai ibu kandung Daddy. Dia akan Daddy anggap sebagai orang luar yang berusaha menghancurkan Daddy." ujar Aris dengan bertubi tubi.
'Sayang dia bukan ibu kandung kamu. Malahan dia memperalat seseorang untuk mengganggu keluarga besar kita. Dia penjahat sebenarnya sayang' ujar Ghina dalam hatinya.
Mereka kemudian melanjutkan obrolannya. Tak terasa jarum jam telah menunjukkan angka satu.
"Sayang, lebih baik kita beristirahat dulu, besok kita sambung lagi untuk melakukan pencarian." kata Ghina mengajak semuanya untuk beristirahat.
"Baiklah mari beristirahat, besok kita akan butuh tenaga yang banyak." ujar Aris yang setuju mereka untuk pergi beristirahat
Aris dan Ghina berjalan bergandengan tangan menuju kamar mereka. Aris sangat penasaran dengan hasil pencarian Frenya dan Argha tadi.
__ADS_1