
Aris dan Bram mulai bekerja di perusahaan Jaya Grub secara penuh mulai hari ini. Aris membaca setiap dokumen yang telah diperiksa oleh Bram. Aris tidak ingin kinerjanya dinilai buruk oleh Papi. Aris bekerja dengan sangat tekun. Dia ingin cepat kembali keperusahaan Soepomo Grub.
"Bram keruangan gue sekarang" perintah Aris kepada Bram melalui sambungan telepon kantor.
"Apa Ris?"
"Duduk Bram. Ada yang mau gue bicarakan sama loe" Aris kemudian duduk di sofa ruangan itu. Bram juga duduk di depan Aris. Perasaan Bram mulai tidak enak. Bram malas kalau Aris bertanya tentang apakah orang sudah tau akan hubungan gelapnya dengan Vira. Kalau sempat itu yang ditanyakan oleh Aris, maka Bram tidak tau akan menjawab apa.
"Ada apa Ris?" kata Bram yang mulai tidak sabaran dengan apa yang akan ditanyakan oleh Aris.
"Bram, menurut loe, apa ya yang menyebabkan papi memindahkan kita berdua ke perusahaan Jaya Grub. Gue merasa kalau kita tidak pernah salah dalam mengambil keputusan. Malahan semenjak kita berdua yang mengambil alih perusahaan Soepomo, perusahaan makin besar dan disegani oleh para pengusaha." kata Aris sambil memijit dahinya. Aris masih penasaran apa alasan sebenarnya Papi memindahkan mereka berdua ke perusahaan Jaya.
"Gue kira supaya kita juga bisa melebarkan sayap perushaan Jaya Grub Ris. Makanya kita dipindahkan papi ke sini." Jawaban diplomasi diberikan oleh Bram.
"Semoga aja memang itu Bram. Gue takut kalau ada permasalahn lain yang papi tidak mau ngomong dengan kita berdua" kata Aris yang menghela nafas lega.
"Maksud loe permasalahan lain apa Ris? Loe udah mulai main rahasia rahasiaan dengan gue?" kata Bram sambil menatap tajam mata Aris.
"Ntahlah Bram. Gue nggak tau mau berbicara dari mana. Tapi gue udah capek nanggung beban ini sendirian" kata Aris yang memang terlihat sangat letih dari raut mukanya itu.
"Katakan saja Ris. Mana tau gue bisa bantu elo" kata Bram.
"Sbenarnya Bram, gue memiliki hubungan khusus dengan Vira sekretaris gue di Soepomo Grub" kata Aris sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap kepada Bram.
"Maksud kamu kamu selingkuhi Gina dengan sekretaris kamu?" kata Bram.
Aris mengangguk. Dia sangat sangat tidak berani menatap muka Bram.
"Ris. Gue tanya loe sekarang. Emang apa hebatnya Vina dibandingkan Gina?" kata Bram dengan nada yang mulai tinggi.
"Gina wanita sempurna Bram. Wanita mandiri, wanita yang terkesan tidak butuh laki laki di sampingnya. Apapun bisa dikerjakan oleh Gina. Sedangkan Vira? Dia bisa menempatkan dirinya untuk membutuhkan laki laki." kata Aris dengan lugas kepada Bram.
"Tapi Ris. Itu bukan alasan yang tepat untuk kamu menduakan Gina Ris. Kamu mikir tidak kalau Gina sampai tau, bagaimana perasaan Gina Ris. Atau kamu sudah siap untuk kehilangan Gina?" kata Bram sambil menatap Aris. Bram yang semula masih sembilan puluh persen percaya kalau Aris selingkuh, sekarang menjadi seratus persen Bram percaya kalau Aris beneran selingkuh.
"Bram. Gue nggak tau kenapa ini bisa terjadi Bram. Gue hanya merasa dibutuhkan oleh Vina, sedangkan Gina dia bener bener seperti tidak butuh gue." jawab Aris.
"Ris. Apa loe udah memastikan semua ini? Gue rasa Gina bukan tidak butuh elo. Cuma elo nya aja yang terlalu sibuk sehingga Gina harus melakukannya sendirian. Sedangkan Vina kepada elo bilang dia sangat bergantung kepada elo, satu sisi dia anak buah elo jadi dia tentu butuh elo. Ditambah kalian bertemu lebih lama dibandingkan elo bertemu dengan Gina" kata Bram dengan hati hati.
"Jadi menurut loe ini salah gue Bram?" kata Aris sambil menatap Bram.
"Sebenarnya bukan salah elo dan juga bukan salah Gina. Kalian hanya perlu memperbaiki komunikasi aja. Katakan kepada Gina apa yang loe nggak suka dari dia. Nanti loe juga minta Gina untuk mengatakan apa yang dia tidak suka dari elo" kata Bram.
"Teori Bram" kata Aris jengkel.
"Eh Bray, elo tadi yang minta saran gue. Sekarang lie yang nyolot. Males gue" kata Bram yang langsung keluar dari ruangan Aris.
__ADS_1
Bram langsung turun ke lobby karena jam kantor juga akan habis. Bram lebih memilih menjemput kekasihnya yaitu Sari dari pada harus mendengar ocehan ndak mutu Aris.
"Gila tu orang, kalau ingin menang ngapain ngajak diskusi. Dasar, kalau udah selingkuh ya selingkuh aja sana. Ndak usah cari pembenaran diri" kata Bram yang kesal.
Bram melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggim Dia ingin cepat sampai di perusahaan Bramantya. Bram sampai di lobby kantor. Dia memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu masuk perusahaan Bramantya. Satpam yang melihat langsung menurut mobil Bram yang sedang parkir tidak pada tempatnya itu
Tok tok tok bunyi kaca mobil yang diketuk dari luar. Bram kemudian menurunkan kaca mobilnya. Dia juga membuka kaca mata hitamnya.
"Ya ada apa pak?" kata Bram melihat satpam.
"Maaf pak. Anda tidak bileh parkir di sini. Karena mobil CEO kami akan parkir di sini" kata satpam.
"Katakan sama CEO kamu. Kalau Bram dari Soepomo dan Jaya parkir di depan pintu masuk perusahaan" kata Bram yang melampiaskan emosinya pada satpam kantor.
Satpam langsung menghubungi sekretaris Afdhal.
"Hallo tuan Budi. Tolong katakan ke tuan Afdhal, bahwasany mobilnya tidak bisa parkir di depan pintu perusahaan karena ada mobil Bram dari perusahaan Soepomo dan Jaya sedang parkir di situ"
"Oh pak satpam biarkan saja. Itu mobil adik ipar CEO" Kata Budi.
"Baiklah pak asisten." kata satpam memutuskan panggilannya.
Satpam yang akan meminta maaf kepada Bram, langsung beranjak dari tempatnya berdiri saat Bram membuka pintu mobilnya dengan mendadak. Bram tau kalau saat ini Sari akan keluar dari pintu itu. Bram berdiri dengan gagahnya dan memakai kaca mata hitamnya lagi. Bram berdiri sambil bersandar ke badan mobil. Sari sudah melihat Bram dari dalam kantor. Sari memasang senyum terbaiknya, dia berjalan dengan melenggak lenggokkan badannya. Bram memberikan senyumnya sedikit kepada Sari
"Sayang" kata Bram langsung membawa Sari kedalam pelukannya.
"Kamu kenapa lepas kacamata sayang? Tengok tuh karyawan lain melihat kamu dengan penuh rasa ingin masuk ke dalam celanamu" kata Sari yang mulai cemburu
"Cemburu sayang?"
"Banyak" jawan Sari sambil memeluk pinggang Bram.
"Yuk pulang sayang." kata Bram.
Bram membukakan pintu penumpang untuk Sari. Setelah Sari duduk Bram memasangkan sabuk pengaman Sari. Barulah pas Bram merasa Sari aman, dia juga duduk di kursinya sendiri.
"Siap sayang ku?" kata Bram.
"Siap berangkat." kata Sari.
Tiba tiba sebuah pesan masuk ke ponsel Sari
✉️ Mira
Ke rumah sakit sekarang. Gina di rawat dari semalam karena jatuh dari tangga.
__ADS_1
✉️ Sari
Oke
"Sayang, Gina dirawat di rumah sakit sayang?" kata Sari sambil menatap Bram.
"Iya sayang Gina jatuh dari tangga." jawab Bram.
"Pasti gara gara kelakuan Aris lagi. Gina bukan tipe manusia ceroboh." kata Sari yang bisa langsung menebak penyebab Gina menjadi lalai.
"Benerkan sayang?" lanjut Sari.
Bram kemudian menceritakan penyebab Gina jatuh. Mulai dari Alex yang bertemu dengan Aris, sampai akhirnya Aris menemui Vina di kafe Z.
"Bener bener binatang tu makhluk. Kalau aku jadi Gina udah aku potong burungnya. Biarin nggak punya sekalian" kata Sari yang sudah bener bener marah kepada Aris.
Bram tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Sari.
"Sayang. Tadi Aris sempat curhat ke aku. Katanya dia selingkuh karena Gina itu tidak butuh dia. Gina itu mandiri. Gitu katanya"
"Alesan. Gimana Gina nggak jadi mandiri. Aris setiap dimintai tolong selalu mengatakan sibuk. Sebenernya Aris bersyukur dapet Gina. Wong dia yang dari dulu nguber nguber Gina. Eee sekarang dapet aja nyalahin Gina. Dasar CEO nggak punya akhlak." kata Sari yang semakin kesal karena Aris menyalahkan Gina.
"Sayang awak kamu sempat seperti Aris. Langsung aku cincang sekalian dengan selingkuhan kamu. Aku nggak sebaik dan setegar Gina ya. Dan aku juga nggak selemah Mira. Jadi mulai sekarang aku ingetin kamu. Kalau niat mau selingkuh mending kamu tinggakin aku" lanjut Sari.
"Hay sayang. Mana mau aku selingkuh dari kamu. Dapatin kamu aja susahnya minta ampun Mana mau aku buang. Emang aku Aris. Udah dapat berlian mau ditukar dengan batu kali." kata Bram.
"Alah sekarang aja ngomong gitu. Besok besok belum tau sayang" kata Sari.
"Hm kamu bisa pegang ucapan Bram Soepomo" kata Bram sambil mengangkat kerah bajunya.
Akhirnya Bram dan Sari sampai di rumah sakit. Bram meletakkan mobilnya di parkiran khusus keluarga Soepomo.Begitu juga dengan Bayu memarkirkan mobil juga diparkiran yang sama dengan Bram.
Bram, Bayu, Sari dan Mira langsung naik lift khusus untuk menuju ruangan rawat Gina.
"Aris bener bener manusia nggak ada akhlak. Awas aja kalau dia bikin Gina sakit lagi. Tu peremluan sundel gue congkel matanya keluar" kata Sari.
"Gue bantu elo. Awas aja. Terima nasib tu pelakir dari tangan gue" kata Mira.
Bram dan Bayu yang mendengar sumpah serapah kemarahan Mira dan Sari hanya bisa tersenyum saja. Mereka sebenarnya juga marah dengan Aris. Tapi apalah daya mereka, Gina tidak mengijinkan mereka turun tangan. Sedangkan Gina tidak tau kalau kedua sahabatnya ini lebih beringas dari pada yang dipikirkannya.
...****************...
Kakak sayangku. Singgah di novelku satu lagiya.
KEPAHITAN SEBUAH CINTA.
__ADS_1
Terimakasih aku ucapkan kepada kakak kakak yang sudah selalu menunggu kelanjutan dari novelku.
maaf kadang aku telat up. Tapi aku akan up dua kali dalam sehari.