
Skor imbang berarti kedudukan game masih sama ya. Sama sama nol. Belum ada yang menang." ujar Bayu yang bertindak sebagai juri dalam pertandingan kali ini.
"Ayuk sayang, kita lanjutkan permainan berikutnya. Ini permainan paling kamu sukai. Aku denger dari kak Bram dan kak Bayu, kamu sangat mahir dalam permainan kita yang kedua." ujar Ghina dengan semangatnya.
"Bisa jadi sayang. Tapi aku belum lihat permainannya." ujar Aris yang masih belum tau permainan apa yang dimaksud oleh Ghina.
Mereka kemudian berjalan menuju ruang sebelah. Aris menatap ruangan tersebut. Dalam ruangan ada papan target dan ada buah buah yang disusun sedemikian rupa.
"Apa ini ruangan lempar pisau?" tanya Aris kepada Ghina.
"Yup ruangan lempar pisau. Salah satu olahraga terfavorit dirimu dan juga yang kamu paling jago." ujar Ghina sambil tersenyum.
Pengawal yang berjaga di depan pintu ruangan kemudian membuka pintu. Mereka semua berjalan masuk ke dalam ruangan lempar pisau.
"Sayang, kamu yakin mau nantang aku bermain ini?" tanya Aris meyakinkan Ghina.
"Yakin sayang. Kalau di sini aku kalah di sebelah mana tau aku akan menang." ujar Ghina.
Bayu berjalan mendekati Mira.
"Sayang, apa Ghina beneran nggak bisa lempar pisau?" tanya Bayu penasaran dengan keahlian Ghina dalam lempar pisau.
"Aku balik tanya kamu, apa kamu yakin Ghina tidak ahli dalam lempar pisau?" tanya Mira kembali.
"Nggak. Menurut aku dia sangat ahli dalam semua alat bela diri."
"Nah kamu tau." ujar Mira yang tidak secara langsung menjawab pertanyaan dari Bayu.
"Jadi apa permainan ini sampai ujung akan berakhir dengan skor kaca mata?" tanya Bayu penasaran.
"Menurut penglihatan aku sih kayaknya iya sayang. Mereka berdua sama sama jago. Jadi nggak akan mungkin ada yang kalah." ujar Mira yang tau kehebatan Ghina dan Aris.
"Yah nggak asik." ujar Bayu pelan.
"Hahahaha. Tenang aja sayang. Akan ada waktunya permainan ini akan menjadi asik." kata Mira menyemangati Bayu.
Aris melihat jejeran pisau yang telah diletakan sebanyak dua set di atas meja aluminium. Aris memandang semuanya dengan seksama. Pada bagian ujung pisau ada nama dirinya dan Ghina.
"Gimana sayang? Bisa kita mulai permainannya?" tanya Ghina mendekat ke arah Aris.
"Oke sip. Jadi permainannya kita bebas memilih pisau mana yang akan kita lempar terlebih dahulu dengan target bebas?" tanya Aris kepada Ghina tentang aturan main mereka kali ini.
"Yup. Kita bebas memilih pisau dan memilih target. Permainan akan berakhir sampai pisau terakhir." lanjut Ghina.
"Untuk target nggak ada pembatan harus kena dibagian mana kan?" tanya Aris.
"Adalah, kalau papan harus tepat di tengah tengah. Di luar titik tengah berarti gagal. Kalau buah baru asal terbelah. Bukan nancap di buah pisaunya." ujar Ghina memberikan tambahan aturan.
__ADS_1
"Oh oke sip." Aris setuju dengan aturan main yang dibuat oleh Ghina.
Argha kali ini bertindak sebagai pelempar koin.
"Bunda tadi milih angka 1 ya Bun, Daddy milih huruf A." ujar Argha kembali mengingatkan Daddy dan Bunda tentang bagian yang mereka pilih.
Argha kemudian melempar koin undiannya ke atas. Koin kali ini tidak di sambut oleh Argha melainkan dibiarkan Argha jaruh ke lantai dan berhenti dengan memperlihatkan 1 atau A yang keluar.
"A" teriak Argha.
"Ayuk Daddy silahkan mulai." ujar Argha.
Aris berjalan menuju meja yang ada tulisan namanya. Dia mengambil sebuah pisau yang paling kecil dari sekian banyak pisau yang ada.
Aris kemudian berdiri dan mengambil ancang ancang, dia sudah memilih buah apel yang akan menjadi target lemparannya yang pertama. Aris melempar pisau miliknya itu.
Semua orang menyaksikan pisau itu melesat dengan cepat menuju targetnya. Pisau yang dilempar Aris tepat mengenai sebuah apel hijau kecil dan membuat apel itu terbelah dua sama besar.
"Berhasil" teriak Argha.
Semua orang yang ada di ruangan bertepuk memberikan applaus kepada Aris. Mereka tidak menyangka dengan pisau kecil itu Aris akan mengarahkan kepada apel yang lumayan besar. Dengan teknik tinggi dan berkali kali uji coba akhirnya Aris bisa dengan mulus melakukannya.
"Sayang itu lemparan dan teknik terkeren yang pernah aku lihat. Aku tidak menyangka kamu membidik sebuah apel dengan lemparan pisau kecil itu." ujar Ghina menyatakan kekagumannya kepada suaminya yang sekarang bertindak sebagai lawan.
"Biasa aja sayang. Aku yakin kamu bisa melakukan yang lebih dari pada aku." ujar Aris yang sudah meninggalkan kesombongannya di ruangan tembak tadi.
"Kamu berlebihan sayang. Aku mah cuma bisa asal lempar aja. Aku nggak mahir di bidang ini." ujar Ghina.
"Hahahahahahaha. Sabar sayang. Ini mau jalan. Bunda kagum dengan Daddy." ujar Ghina menjawab amukan anaknya.
Ghina memilih pisau yang paling besar. Dia sudah menyusun rencana matang di otaknya. Dia akan memecahkan buah yang paling dekat. Makanya dia menggunakan pisau yang paling besar.
Ghina berdiri di posisinya. Setelah dirasa posisinya aman dan pas untuk melakukan lemparan Ghina mengayunkan pisau miliknya dan lemparannya ternyata membelah dua buah tersebut dengan hasil belahan yang sama besar.
"Berhasil. Bunda keren." ujar Argha memberikan tepuk tangan untuk Bundanya.
"Daddy" ujar Argha.
"Daddy jangan tiru taktik Bunda ya." kata Argha mengingatkan Daddy nya.
"Tenang aja Gha, Daddy bukan tipe orang suka tiru taktik." ujar Aris yang sangat yakin dengan taktik yang sudah disusunnya sendiri.
Aris kemudian mengambil sebuah pisau yang berada di tengah. Kali ini tujuan Aris bukan membelah buah. Melainkan melempar titik yang berada di tengah tengah papan target.
Aris membidik papan itu. Setelah yakin dengan sudut yang diambilnya. Aris melemparkan pisau tersebut. Seorang pengawal berlari ke arah papan target.
"Pas tepat" ujar pengawal melihat pisau yang dilempar Aris tepat mengenai papan target di bagian titik hitam.
__ADS_1
"Bunda" ujar Argha dengan semangat.
Ghina meraih pisau paling kecil. Targetnya bukan buah seperti Aris tadi. Melainkan papan target. Ghina membidikan pisaunya tepat di titik tengah papan. Setelah yakin Ghina melemparkan pisau tersebut. Pisau melayang dengan mulus dan tepat mengenai papan target.
"Tepat" teriak pengawal yang melihat hasil lemparan Ghina.
"Oke Daddy dan Bunda ini adalah lemparan terakhir. Kalau masih inbang juga kita lanjutkan ke ruangan sebelah." ujar Argha.
"Kok bisa hanya tiga lemparan Gha. Pisaunya ada lima." ujar Aris protes mendengar peraturan yang direfisi Argha.
"Lama kali Daddy. Ruangan yang lain masih banyak yang belum Daddy kunjungi." ujar Argha memberikan alasan kenapa gamenya dipercepat.
"Okelah kalau gitu." jawab Aris.
Aris menatap ketiga pisau yang ada di depannya. Aris mengambil salah satu pisau andalannya. Dia akan melemparkan pisau tersebut ke papan target.
"Yakin Daddy?" tanya Argha kepada Aris.
"Yakin." jawab Aris dengan mantap.
Aris kembali mengambil sudut tembak ternyamannya. Dia tiga kali melakukan gerakan seperti ingin melemparkan pisau. Tapi terus tidak jadi dilemparkannya.
"Daddy." ujar Argha saat melihat Daddynya masih saja belum melemparkan pisau.
Aris kembali mengambil ancang ancang. Setelah yakin dengan pisau yang berada di tangannya. Aris kemudian melemparkan pisau tersebut.
Tap. Pisau mendarat tepat di titik tengah papan. Seorang pengawal berlari. Karena titik target lumayan jauh pengawal memberingan jawaban melalui bahasa isyarat tangan saja. Tinju pengawal dikepalkannya itu menandakan kalau lemparan tersebut berhasil.
"Tepat" teriak Argha membacakan kode yang diberikan pengawal.
Ghina kemudian maju ke depan. Dia mengambil pisau yang sama dengan yang diambil oleh Aris. Sekarang targetnya adalah buah.
Ghina mengambil ancang ancang untuk melempar. Ingin rasanya Ghina membuat lemparannya meleset. Tapi dia tidak ingin Aris menang karena suatu hal yang tidak sebenarnya
Ghina melemparkan pisau miliknya. Tepat saat pisau itu mendarat di buah, pisau membelah buah tersebut sama besarnya.
"Yes." teriak Ghina dengan semangat.
"Hahahahahahaha. Masih kosong kosong. Kapan selesainya permainan ini." ujar Mira.
"Sayang kamu ngalah aja ya." ujar Aris kepada Ghina.
"Emang kamu mau menang hanya gara gara aku mengalah?" tanya balik Ghina kepada Aris.
"Kalau mau, aku mau aja ngalah sama kamu." ujar Ghina kembali.
"Nggak lah. Mana aku mau." jawab Aris kepada Ghina.
__ADS_1
"Ya udah mari kita lanjutkan pertandingan berikutnya." kata Ghina dengan penuh semangat.
Aris dan yang lain meninggalkan lapangan lempar pisau. Mereka akan berpindah ke ruangan sebelah. Ruangan yang akan membuat Aris sedikit berpikir keras.