Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kesetiaan Seorang Istri + 42


__ADS_3

Mereka sudah selesai berbelanja dan Juan serta Frenya sudah berada di dalam mobil. Mereka sudah duduk dan memasang seltbelt dengan aman. Juan sudah memastikan kalau Frenya sudah dalam kondisi duduk yang aman dan nyaman.


"Kita ke mansion" ujar Juan memerintahkan kepada sopir untuk mengantarkan mereka ke mansion.


"Siap Tuan muda" jawab sopir.


Sopir mulai mengarahkan mobil yang dikemudikan oleh dirinya menuju mansion utama keluarga Soepomo. Mereka harus sedikit lebih cepat dari biasanya karena mereka sudah sedikit terlambat, karena waktu  makan malam sebentar lagi akan datang.


"Sayang, besok aku ke kantor kamu ya" kata Frenya yang tiba tiba memiliki ide untuk datang ke perusahaan Juan.


"Ngapain?" tanya Juan


Selama ini Frenya sangat malas dan tidak suka datang ke perusahaan Juan. Selagi masih bisa Frenya menolak untuk bisa tidak hadir di perusahaan Juan, maka Frenya akan memilih untuk tidak hadir. Frenya sama sekali tidak ingin mencampur adukkan antara urusan pribadi dengan urusan bisnis. Sehingga Frenya memutuskan untuk tidak pernah datang ke perusahaan Juan.


"Kok ngapain?" kata Frenya kaget mendengar respon jawaban yang diberikan oleh Juan saat dirinya mengatakan bahwasanya dia akan datang ke perusahaan.


"Ya sayang, kamu biasanya tidak mau datang ke perusahaan aku, kenapa tiba tiba sekarang kamu pengen datang?" kata Juan yang heran dengan perubahan dari sikap Frenya.


"Biasanya mati matian aku mengajak kamu untuk datang ke perusahaan dengan mati matian pula kamu menolak untuk datang. Nah sekarang dengan tiba tiba kamu menawarkan diri untuk datang ke perusahaan, makanya aku menjadi heran sayang" kata Juan menjelaskan kenapa dirinya mengatakan kata ngapain saat memberikan respon kepada Frenya atas apa yang dikatakan oleh Frenya tadi.


"Sayang, kalau kemaren kemaren itu aku enggan datang ke perusahaan kamu, karena aku masih bekerja. Nanti mereka mengatakan kalau aku datang untuk menjalin kerja sama dengan kamu" kata Frenya menjawab dengan alasan yang sangat mengada ada.


"Alasan kamu keren sekali, sama sekali tidak masuk di akal sayang" jawab Juan yang sedikit kaget mendengar jawaban yang diberikan oleh Frenya kepada dirinya.


"Jawaban kamu benar benar ngadi ngadi" lanjut Juan menjelaskan kepada Frenya.


"Haha haha, aku juga nggak tahu lagi apa yang sebenarnya menjadi alasan kenapa aku tidak ingin datang ke perusahaan kamu sayang. Aku saja tidak tau alasan yang paling tepat" kata Frenya sambil memikirkan kenapa dirinya memilih untuk tidak pernah datang ke perusahaan Juan.

__ADS_1


Tak terasa karena obrolan ringan antara Juan dan Frenya, mobil yang dikemudikan oleh sopir sudah berbelok masuk ke dalam perkarangan mansion. Juan dan Frenya turun dari dalam mobil, sedangkan pengawal yang duduk di kursi penumpang bagian depan, sudah turun untuk mengeluarkan barang barang yang telah dibeli oleh Juan dan Frenya tadi saat mereka berbelanja di supermarket.


"Sayang, kalian dari mana saja?"


Ghina langsung bertanya saat melihat Juan dan Frenya yang baru sampai.


"Padahal kita tadi beriringan, kenapa kalian bisa nyampe terlalu lama" lanjut Ghina bertanya dengan nada khawatir.


"Kami tadi singgah terlebih dahulu di swalayan Nana. Kami membeli beberapa buah buahan karena buah buahan milik Frenya sudah habis" kata Juan menjelaskan kepada Ghina kenapa mereka berdua bisa terlambat sampai di mansion dari pada keluarga yang lain, padahal mereka dalam satu iring iringan yang sama.


"Terus apa yang kalian beli tadi?" tanya Ghina yang semangat mendengar kalau Juan dan Frenya membeli buah buahan yang kebetulan juga habis di mansion saat ini.


"Berbagai buah Nana, nanti akan di antarkan pengawal ke sini" ujar Juan.


Pengawal datang membawa buah buahan. Satu plastik besar untuk keluarga dan satu plastik kecil yang akan dibawa oleh Frenya ke kamar mereka, karena ada buah yang khusus untuk dimakan Frenya saat dirinya lapar.


"Oke sayang, kita akan makan malam jam setengah delapan" kata Ghina yang setuju untuk memundurkan jam makan malam demi Frenya yang baru sampai dari berbelanja membeli buah ke swalayan yang ada di jalan menuju komplek perumahan mereka tersebut.


"Makasi Nana, aku akan pastikan kalau kita akan bersih bersih secepatnya" jawab Frenya


Frenya dan Juan bergandengan tangan masuk ke dalam lift yang akan mengantarkan mereka menuju kamar yang ada di lantai tiga mansion besar itu.


"Sayang, bagaimana cara kita menanyakan tentang perusahaan kepada Frenya?" kata Aries saat dirinya sudah duduk di sebelah Ghina di meja makan.


"Tinggal tanya saja apa susahnya sayang" jawab Ghina yang tidak mengerti dengan maksud yang ditanyakan oleh Aries kepada dirinya.


"Sayang, nggak mungkin kan kita main langsung tanya saja, karena bisa jadi Frenya menjadi tersinggung karena pertanyaan yang kita ajukan" ujar Aries yang ragu dengan cara mereka untuk bertanya kepada Frenya supaya Frenya tidak tersinggung saat mereka menanyakan hal itu kepada Frenya

__ADS_1


"Masalah perusahaan adalah masalah yang sangat sensitif sayang, aku takut Frenya tersinggung dan marah kepada kita, hanya karena kita menanyakan tentang perusahaan" kata Aries yang tidak ingin ada perselisihan antara dirinya dengan Frenya karena masalah perusahaan.


"Siap sayang, kita akan pikirkan bagaimana caranya supaya Frenya tidak tersinggung saat mendengar apa yang kita tanyakan tentang perusahaan" kata Frenya yang akhirnya terpikirkan tentang permasalahan yang dikatakan oleh Aries kepada dirinya.


Sebelum Aries mengatakan hal itu, Frenya sama sekali tidak memiliki pemikiran sampai ke arah sana. Ghina beranggapan kalau permasalahan seperti itu tidak masalah kalau ditanyakan oleh Ghina kepada Frenya karena bagi Ghina, Frenya tidak ada bedanya dengan Argha atau Daniel.


Argha, Daniel dan Rani sudah berada di ruang makan, hari ini mereka tidak berjamaah di mushalla, mereka melakukan kewajiban mereka di kamar masing masing.


"Uni belum pulang Nana?" tanya Argha saat tidak melihat Frenya di ruang makan.


"Uni sedang bersih bersih, sebentar lagi uni akan datang" jawab Ghina menjelaskan kepada Argha dimana keberadaan Frenya dan Juan


"Kirain belum pulang dari belanja" kata Argha


"Jadi kamu sudah tau kalau Uni pergi berbelanja Argha?" tanya Ghina dengan suara tinggi saat mendengar apa yang dikatakan oleh Argha sebentar ini.


"Yup, kan saat iring iringan tadi, mobil Argha tepat di depan mobil Uda Juan, jadi Argha tau kalau mobil itu berbelok masuk ke dalam swalayan saat kita berada di jalur lurus tadi" kata Argha menjelaskan kenapa dirinya sampai tau kalau Frenya dan Juan berbelanja di swalayan.


"Kenapa kamu nggak ngomong sama Nana, Argha."


"Kamu nggak tau gimana pusingnya Nana saat tau kalau Uni tidak juga sampai, padahal kita sama sama pulang, masih dalam satu iring iringan" kata Ghina yang kesal karena Argha tidak mengatakan kalau dirinya tau Frenya dan Juan berhenti di swalayan.


"Nana, aku mau tau kalau Nana mencari Uni, kalau aku tau pasti aku akan katakan kemana Uni singgah" jawab Argha dengan sedikit emosi karena Ghina menyalahkan dirinya kenapa tidak mengatakan kepada Ghina, Frenya berhenti dimana.


"Argha" ujar Ghina dengan nada tinggi.


"Sudah Ghina, sudah. Lagian Frenya sudah dewasa dan dia sudah punya suami, tidak akan mungkin Frenya pergi tidak akan pulang ke mansion. Jadi, tolong jangan terlalu cemas" kata Aries menasehati Ghina.

__ADS_1


"Cemas ke anak itu boleh Sayang, tetapi jangan terlalu cemas. Aku cemas juga tetapi aku masih memegang dan memberikan kepercayaan kepada Frenya kalau Frenya pasti akan pulang." kata Aries menasehati Ghina istri cantiknya itu.


__ADS_2