Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kejutan dari Mami


__ADS_3

Dua mobil bok dan tiga mobil pribadi berhenti tepat di depan rumah utama. Semua karyawan pria langsung menuju halaman rumah. Mereka akan membantu mengangkat semua barang yang telah dibeli oleh Nyonya rumah.


"Mi, kamarnyakan belum kita cat, terus mau ditarok dimana semua barang barang yang Mami dan Nana beli ini Mi?" tanya Gina kepada Mami yang heran ntah dimana semua barang ini akan diletakan.


"Kamu tenang saja sayang." jawab Mami dengan penuh misterinya.


Gina menatap Aris. Aris mengangkat bahunya tanda tidak paham dengan maksud Mami. Gina menatap Bram, Bram juga melakukan hal yang sama dengan Aris.


"Semoga dan semoga." kata Gina kepada Aris.


"Santai aja sayang." jawab Aris kepada Gina.


Aris mencium mesra kening Gina. Aris tidak mau Gina berpikir yang aneh aneh. Aris yakin Mami pasti sudah menyiapkan segalanya. Makanya Mami dan Nana belanja gilak gilakan seperti ini. Mami adalah tipe wanita yang menyiapkan segalanya sebelum melakukan sesuatu yang penting.


Aris dan Gina masuk ke dalam rumah. Mereka mengikuti Mami dan juga Nana menuju lantai dua. Mami dan Nana berhenti tepat di samping kamar Aris dan Gina.


"Sayang sini." kata Mami kepada Gina.


Gina berjalan mendekat ke arah Mami. Mami memberikan sebuah kunci kamar kepada Gina. Gina menatap kunci yang berada di tangannya itu dengan lama. Gina tidak tau itu kunci kamar apa. Gina sama sekali tidak pernah ke kamar sebelah.


"Kunci apa ini Mi?" tanya Gina kepada Mami.


"Kunci pintu sayang." jawab Mami.


Jawaban Mami sukses membuat Gina kesal. Sedangkan yang lain, mendengar jawaban Mami ke Gina berusaha menahan tawanya. Mereka tidak ingin Gina marah karena tawa mereka yang terdengar.


"Buka aja sayang. Mami yakin kamu pasti penasaran dengan semua ini." kata Mami.


"Sayang sini." kata Gina memanggil Aris. Gina takut membuka pintu itu sendirian. Dia harus membawa Aris.


Aris kemudian maju mendekat ke arah Gina. Dia berdiri di samping Gina.


"Buka aja sayang. Nggak mungkin Mami menarok binatang buas di dalam sana." kata Aris mencoba membawa Gina sedikit lebih santai.


Gina memasukkan kunci tersebut ke lobang kunci yang ada di pintu. Gina membuka kunci pintu dengan sangat perlahan. Gina takut ada sesuatu yang di dalam sana akan membuat dia menjadi takut.


Ceklek, bunyi kunci pintu yang sudah berhasil dibuka oleh Gina. Gina langsung berdiri di belakang Aris. Gina tidak mau membuka pintu itu, dia masih tidak yakin dengan apa yang ada di dalam ruangan itu. Gina takut kalau yang di dalam itu sesuatu yang membuat dia takut dan jijik.


Aris membuka pintu tersebut, betapa.terkejutnya Gina, ternyata dibalik pintu yabg dia buka tadi terdapat kamar bayi yang bernuansa warna biru dan putih.


"Mari masuk sayang." kata Mami kepada Gina.


"Mami ini sangat indah. Kapan Mami buat?" tanya Gina yang heran kapan semua ibi bisa jadi.


"Masuk dulu baru beri komentar." kata Mami.

__ADS_1


Aris dan Gina serta yang lainnya masuk ke salam kamar untuk Blip. Betapa terkejutnya Gina karena kamar untuk anaknya udah siap. Tinggal tarok barang barang ya dibeli Mami dan Nana. Gina terdiam di depan pintu kamar, dia tidak menyangka Mami telah menyiapkan semuanya. Suatu hal yang memang sudah Gina pikirkan tetapi belum sempat dia wujudkan.


"Sayang kamu tidak suka dengan desainnya?" tanya Mami yang melihat Gina yang melongo di depan pintu.


"Mami ini sangat luar biasa Mami. Aku sangat suka dengan semua ini." kata Gina sambil tersenyum.


Gina langsung memeluk Mami.


"Makasi Mami. Gina sangat senang dengan semua ini." kata Gina sambil menahan tangisnya. Cuma yang namanya air mata tidak bisa di ajak kompromi. Air mata Gina tetap turun membasahi pipinya.


"Jangan nangis sayang. Ini semua tidak ada apa apanya sayang, dengan kebahagiaan yang kembali kamu berikan kepada kami." kata Mami.


Gina melepaskan pelukannya.


"Ayuk masuk." ajak Mami kepada Gina.


Mereka semua masuk ke dalam kamar. Semua barang yang dibawa oleh karyawan diletakan dulu di lorong rumah.


"Nah pintu ini adalah pintu penghubung antara kamar kamu dengan kamar bayi. Jadi saat kamu memerlukan waktu hanya berdua dengan Aris, kamu bisa meletakan blip di ruangan ini. Nanti akan ada sensor tangis bayi yang dihubungkan ke kamar kamu." kata Mami.


"Pintu ini hanya bisa dibuka dengan sidik jari tangan kamu dan tangan Aris. Nanti Aris yang akan menstelnya. Sekarang masih kosong." lanjut Mami.


"Nah ini kamar mandinya. Sedangkan lorong itu adalah lorong untuk pakaian apabila blip sudah besar." lanjut Mami yang sangat bahagia memperlihatkan hasil karyanya.


"Ini sengaja belum dikasih walpaper apapun, karena kita belum tau bayinya laki laki atau perempuan. Makanya Mami hanya minta tukang ngecat dengan warna biru campur putih aja." penjelasan Mami berikutnya.


"Waktu kamu di rawat di rumah sakit. Sedangkan pintu penghubung, itu baru tadi pagi dikerjain. Pintu penghubung adalah ide Sari dan Mira. Mereka yang menunggui tukang seharian." jawab Mami.


Gina melihat dua sahabatnya itu. Tapi tidak ada tanda tanda Sari dan Mira diantara mereka.


"Sari dan Mira ada kegiatan mendesak Gin. Makanya mereka tidak ada di sini." jawab Bram yang paham Gina mencari siapa.


"Oh." jawab Gina yang mengandung rasa penasaran.


Mereka semua kembali keluar dari kamar bayi. Kecuali Gina dan Aris yang masih di sana. Mereka akan memantau para pekerja yang meletakan barang barang. Gina akan langsung menatanya. Jadi tidak ada barang yang dua kali angkat.


"Pak boks bayi tolong tarok disitu ya pak." kata Gina kepada karyawan yang mengangkat boks bayi.


"Lemarinya di sana." lanjut Gina.


Gina mengatur semuanya dengan begitu indah. Setelah semua barang diletakan pada tempatnya, tibalah giliran pakaian bayi yang luar biasa banyaknya. Gina sampai menatap dengan begitu nanar.


"Sayang" kata Gina kepada Aris.


"Besok saja ya. Jangan sekarang. Kamu keluhatan capek sekali." kata Aris kepada Gina.

__ADS_1


Aris menuju pintu penghubung itu.


"Sayang sini pinjam telunjuk kamu sayang. Aku akan atur dulu kunci pintunya." kata Aris.


Gina maju ke pintu. Dia meletakan jari telunjuknya di bagian sensor pintu. Aris merekam sidik jari Gina dan juga sidik jari dirinya. Dalam waktu singkat Aris telah selesai menset kunci pintu penghubung tersebut.


"Kamu mandi dulu sana. Hari udah hampir maghrib." kata Aris.


Gina pergi membersihkan badannya. Sedangkan Aris merebahkan badannya di sofa yang berada di kamar. Gina selesai membersihkan badan, dia memilih pakaian yang akan dipakainya dan juga memilihkan pakaian untuk dipakai Aris.


Selesai membersihkan badan dan melakukan kewajibannya, mereka berdua turun menuju ruang makan. Betapa terkejutnya Gina karena di meja makan sudah ada Ayah dan Afdhal.


"Ayah kapan datang?" kata Gina sambil mencium tangan ayahnya.


"Tadi habis kerja. Ayah ada meeting dengan Papi, karena Nana juga masih di sini, makanya Ayah kesini. Kalau Afdhal cuma ikut ikutan aja." jawab Ayah yang selalu akan menjawab dengan panjang lebar apabila Gina yang bertanya.


Mereka semua kemudian makan dengan sangat lahap. Setelah selesai makan malam, mereka pindah ke ruang keluarga.


"Gimana Gin belanja dengan Mami dan Nana?" kata Papi.


"Semua dibeli Pi. Sampai sampai Gina nggak tau lagi apakah masih perlu membeli atau udah luar biasa berlebih dari yang dibeli Mami dan Nana." kata Gina yang sudah tidak tau mau menjawab apa.


"Hahahaha. Nikmati aja Gin." lanjut Papi.


Papi, Ayah, Aris, Bram dan Afdhal duduk dalam satu lingkaran. Mereka duduk duduk sambil membicarakan bisnis yang akan mereka kerjakan.


Sedangkan Mami, Nana dan Gina sibuk membicarakan siapa yang akan menjaga Blip saat Gina berangkat kerja.


"Gin, sehabis melahirkan kamu akan kerja juga?" tanya Nana kepada Gina.


"Belum tau Na. Tanya uda dulu. Kami belum ada diskusi sampai ke arah itu Na." jawab Gina.


"Kalau Nana boleh usul, kalau udah melahirkan nggak usah kerja aja Gin. Takutnya nanti fokus kamu terbelah antara mengurus blip dengan mengerjakan kerjaan." kata Nana memberikan sarannya.


"Gina diskusikan dengan uda dulu ya Na." jawab Gina.


"Oke" jawab Nana.


Mereka kemudian bercerita tentang berbagai hal.


"Sayang, ayok istirahat udah jam sepuluh" kata Aris yang baru sadar ternyata hari sudah terlalu malam untuk wanita hamil seperti Gina.


"Semuanya Gina istirahat dulu ya." kata Gina yang capek memanggil satu satu anggota keluarganya.


Aris dan Gina langsung menuju kamar mereka.

__ADS_1


"Sayang malam ini aku nggak mau ngasih kamu jatah." kata Gina.


"Iya sayang, aku paham, pasti kamu lelah." jawab Aris kepada Gina.


__ADS_2