Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Keputusan Hendri


__ADS_3

"Kapan kapan." jawab Mira lagi.


Mira melajukan mobil golf itu menuju gerbang utama rumah kediaman keluarga Soepomo.


Saat Mira baru mau keluar dari pintu gerbang. Mereka kaget saat melihat sesuatu yang terpajang di depan mereka saat ini.


"Hahahahahahaha. Aris bener bener gila." ujar Mira kaget melihat sebuah baliho besar yang terpajang di taman depan rumah keluarga Soepomo.


Ghina menatap tidak percaya kepada baliho itu. Ditambah lagi semua pekerja yang akan menghias tenda tempat acara Bram menatap ke arah baliho yang benar benar mencolok dan menarik perhatian siapapun yang lewat.


"Hahahaha. Gue nggak nyangka Mir, dia akan melakukan hal selebay ini. Ini bener bener lah." ujar Ghina yang membaca tulisan di baliho tersebut.


AKU MENCINTAI ISTRIKU MELEBIHI HIDUPKU


"hahahaha Tu tulisan juga bener bener tingkat alay lah ya." ujar Mira lagi.


"Gimana kalau kita keluar dari jalan utama rumah Ghin. Mana tau ada yang lebih keren." ujar Mira lagi.


Tiba tiba manager mendekati Ghina dan Mira.


"Nyonya, selmaat Nyonya suami Nyonya bener bener romantis abis." ujar Manager.


"Maksudnya?" tanya Ghina penasaran.


"Iya Nyonya. Di luar lebih banyak lagi seperti ini." ujar Manager.


"Asli gue penasaran. Gimana kalau kita keluar Ghin?" ujar Mira dengan semangat.


"Setuju. Gue juga penasaran." ujar Ghina dengan semangat ingin melihat kegilaan lain dari suaminya itu.


Mira mengarahkam mobil golf menuju keluar gerbang utama,. Mereka akan melihat apa yang dikatakan oleh manager tentang sesuatu yang berada di luar.


Saat baru sampai di depan pintu gerbang utama kompleks tempat tinggal keluarga vesar Soepomo, Ghina dan Mira melihat tempat baliho yang biasanya terpasang fhoto soerang selebri iklan barang sudah bertukar menjadi fhoto Ghina dan ketiga anaknya. Dengan caption di bagian bawah. Mereka adalah semangat hidupku.


"Hahahahaha. Dia bener bener gila Ghin." ujar Mira tertawa melihat apa yang dilakukan oleh Aris.


"Fhoto Gin. Kirim ke Frenya, Daniel dan Argha." ujar Mira memberikan ide


"Biar mereka nengok sendiri aja. Biarkan jadi kejutan untuk mereka bertiga." ujar Ghina yang tidak ingin merusak kebahagiaan Aris.


"Sip. Apa kita harus ke sana lagi Ghin?" tanya Mira.


"Mana bisa ogeb. Kita pakai mobil golf. Bukan mobil yang bisa di bawa perjalanan jauh." ujar Ghina mengingatkan Mira kalau mereka memakai mobil golf.


"Hahahaha. Asli gue lupa." ujar Mira sambil tersenyum.


Mira memutar balik arah mobilnya menuju rumah utama kembali. Mereka akan langsung melihat progres pemasangan tenda dan segala pernak perniknya.


Ghina dan Mira berjalan masuk ke dalam tenda. Terlihat beberapa orang pekerja sedang mendirikan pelaminan adat minang, ada yang mendirikan spot tempat berfhoto dan ada juga yang memasang bunga bunga di langit langit tenda. Semua pekerja terlihat sangat sibuk. Mereka semuanya bekerja termasuk manager, tidak ada yang berpangku tangan.


"Mir, loe telpon Bayu gih minta kirimin mie lima puluh porsi." ujar Ghina yang tau mie buatan kafe milik Bayu sangat enak.


"Sip. Loe bayar ya. Masak gratis." ujar Mira sambil tersenyum.


"Gue bayar. Nanti langsung gue kirim ke rekening Bayu uangnya." ujar Ghina menjawab candaan Mira.


"Canda kali bro. Gue aja bayar. Maren loe udah bayar. Sekarang giliran gue lagi." lanjut Mira sambil tersenyum.


"Serah siapa yang bayar. Pokoknya mie sampe dalam satu jam." ujar Ghina kembali.


Mereka berdua kembali serius menatap para pekerja. Ghina dan Mira memastikan tidak ada kesalahan yang berarti pada acara pernikahan Bram dan Sari.


KANTOR UTAMA JAYA GRUB


"Hendri, bisa keruangan saya sebentar?" tanya Papi lewat telepon perusahaan.


"Bisa Tuan." jawab Asisten Hendri.


Asisten Hendri kemudian keluar dari ruangannya, dia berjalan beberapa langkah untuk sampai ke ruangan direktur. Asisten Hendri membuka pintu ruangan. Dia melihat Tuan Besarnya yang sudah duduk di sofa ruang tunggu.


"Duduk Hen." ujar Papi.

__ADS_1


Asisten Hendri duduk di sofa tepat depan Tuan Soepomo.


"Ada apa Tuan, sepertinya sesuatu yang penting akan Tuan bicarakan dengan saya." ujar Asisten Hendri yang sangat jarang pemikirannya meleset.


"Benar Hendri. Ada sesuatu yang harus saya katakan kepada kamu." jawab Papi.


Asisten Hendri memfokuskan pikiran dan pendengarannya kepada apa yang akan dibicarakan Tuan Soepomo kepada dirinya.


"Hendri, Saya berencana selepas pernikahan Bram dan Sari akan berhenti dari dunia bisnis." kata Papi membuka awal cerita.


"Saya memberikan kepemimpinan Jaya Grub ke tangan Bram." lanjut Papi.


Asisten Hendri masih setia mendengar. Dia tidak ada membantah.


"Saya sudah membicarakan hal ini dengan Bram. Bram setuju tetapi dengan satu syarat." ujar Papi sambil menatap asisten Hendri.


"Apa syaratnya Tuan?" tanya Asisten Hendri.


"Bram minta supaya kamu tetap menjadi Asistennya." ujar Papi.


Hendri terlihat mau berbicara.


"Hendri, selama ini saya tidak ada meminta apapun kepada kamu. Tapi sekali ini saya meminta kepada kamu untuk terus mendampingi Bram. Bram memang sudah terlatih. Tapi ini pertama kalinya dia menjabat sebagai direktur. Jadi saya mohon sama kamu Hendri, jangan tolak permintaan saya dan Bram." ujar Papi dengan penuh penekanan dan permohonan.


Hendri yang sudah tidak bisa lagi menolak keinginan dari Papi hanya bisa mengangguk. Dia tidak akan menolak keinginan dari seorang direktur yang selama ini telah mambantunya.


"Baik Tuan besar, saya bersedia menjadi asisten dari tuan Bram. Saya akan bekerja seperti saya bekerja dengan Tuan besar." jawab asisten Hendri.


"Terimakasih Hendri. Saya sangat senang kamu masih mau bekerja sama dengan Jaya Grub walaupun bukan saya lagi pimpinannya." ujar Papi.


"Tuan, saya besar dan bisa seperti ini semua berkat Jaya dan Soepomo Grub. Jadi bagaimanapun saya tidak akan berhenti berpikir untuk dua perusahaan ini. Walaupun besok sudah Tuan Argha yang menjadi pimpinan." ujar Asisten Hendri.


Papi terdiam cukup lama saat Hendri mengatakan tentang Argha. Asisten Hendri melihat ada sebuah pemikiran yang terluntas di mata Tuan Soepomo.


"Maaf Tuan, apa yang Tuan pikirkan?" kata Asisten Hendri.


"Saya berpikir kalau Bram dan Sari memiliki anak tidak mungkin dia tidak saya berikan warisan.." ujar Papi dengan nada sedikit menggantung.


"Tuan besar, saya tau arah pembicaraan Tuan kemana. Kalau menurut pendapat saya, ada baiknya Tuan berdiskusi dengan Tuan Muda Argha dan Tuan Muda Aris serta Nyonya Ghina. Saya pastikan mereka bertiga akan paham dengan semua ini." ujar asisten Hendri memberikan usul.


Papi terlihat berpikir, dia sangat setuju dengan pendapat dari Asisten Hendri.


"Saya akan mencari waktu untuk berbicara dengan mereka bertiga Hendri. Saya akan minta mereka untuk datang ke perusahaan atau ke restoran GA Grub." ujar Papi yang sudah memutuskan akan hal itu.


Mereka berdua kemudian melanjutkan obrolan ringan mengenai berbagai hal. Papi sangat senang berbagi cerita dengan Asisten Hendri yang jarak usia terpaut lumayan jauh. Tapi pola pikir Asisten Hendri yang sangat luas membuat Papi nyaman untuk bercerita.


"Hendri, apa ada agenda yang lain?" tanya Papi.


"Tidak ada Tuan. Apa Tuan memiliki agenda yang lain?" tanya Asisten Hendri kepada Papi.


"Gimana kalau kita melihat pendirian tenda pesta Hendri. Saya penasaran sudah sampai mana kerja karyawan GA Grub. Sehari kemaren aja bisa mereka menyelesaikan tenda besar itu." ujar Papi memberitahukan bagaimana cara kerja orang orang GA Grub.


"Mendengar nada bicara Tuan sepertinya itu suatu yang wah. Saya jadi penasaran Tuan." ujar Asisten Hendri.


"Kita berangkat sekarang juga Hendri." ujar Papi.


Asisten Hendri kembali keruangannya untuk mengambil kunci mobil. Papi menyiapkan semua barang barangnya. Kedua pimpinan perusahaan Jaya Grub turun dari lantai teratas gedung perkantoran itu.


"Kita langsung ke rumah Tuan?" tanya asisten Hendri.


"Mampir dulu di toko kue langganan Hendri. Kamu beli disitu kue sebanyak seratus potong." ujar Papi.


Asisten Hendri mengarahkan mobil yang dikendarainya menuju toko kue permintaan Papi. Asisten Hendri kemudian turun dari mobil dan melakukan pembelian sebanyak yang diminta Papi. Semua karyawan toko langsung gerak cepat saat mereka mengetahui siapa yang memesan kue. Tidak membutuhkan waktu lama, semua kue sudah tertata di dalam box box kue yang cantik.


Karyawan kantor memasukkan semua box kue ke dalam bagasi mobil. Mereka bekerja dengan sistem ngebut. Mereka tidak mau membuat Tuan Soepomo kecewa dengan cara kerja mereka semua.


Setelah memastikan semua kue sudah masuk ke dalam mobil. Asisten Hendri kembali melajukan mobil menuju kompleks rumah utama.


Asisten Hendri melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Dia sangat tau kalau Tuan Soepomo saat pulang lebih suka mobil yang berjalan santai dan tidak mengebut. Tapi kalau pagi hari Tuan Soepomo lebih suka mobilnya dikemudikan lebih kencang.


Asisten Hendri memberhentikan mobilnya dengan mendadak. Hal ini membuat Tuan Soepomo kaget dengan tindakannya.

__ADS_1


"Ada apa Hendri?" tanya Tuan Soepomo.


"Tuan lihat itu.".ujar Hendri menunjuk baliho besar yang berjarak sekilo dari rumah utama.


Tuan Soepomo melihat apa yang ditunjuk oleh Hendri.


"Hahahahahaha. Anak itu bener bener alay. Dia kira keluarganya masih kurang terkenal sehingga harus di pajang seperti itu." ujar Tuan Soepomo sambil geleng geleng tidak percaya dengan tingkah anaknya.


"Lanjut Hendri. Saya rasa itu bukan yang terakhir. Tapi kalau yang pertama saya yakin." ujar Tuan Soepomo.


Asisten Hendri melajukan mobilnya dengan pelan. Ternyata baliho yang tadi memang yang pertama tetapi bukan yang terakhir.


"Ada lagi Tuan." ujar Hendri.


Tuan Soepomo melihat baliho tersebut. Dia hanya bisa tertawa melihat kegilaan dan kealayan anaknya.


"Ternyata Tuan muda bisa bucin juga ya Tuan." ujar Hendri.


"Saya baru tau juga Hen. Sepertinya harus ditanya ke Ghina ini." ujar Tuan Soepomo.


Asisten Hendri membelokan mobilnya masuk ke dalam pintu gerbang utama rumah keluarga Soepomo. Tuan Soepomo dan Asisten Hendri melihat begitu banyak bunga bunga mawar yang dirangkai membentuk simbol cinta. Belum lagi bunga tulip.


Asisten Hendri kemudian berhenti tepat di pos satpam rumah utama.


"Kenapa berhenti Hendri?" tanya Tuan Soepomo.


"Penasaran Tuan apa ada lagi di dalam rumah." ujar Hendri.


"Sama sama muda memang susah dimengerti." ujar Tuan Soepomo.


Tuan Soepomo melihat asisten Hendri berbicara sambil sesekali terlihat sedikit tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh satpam rumah. Asisten Hendri kembali ke atas mobil.


"Gimana Hendri?" tanya Tuan Soepomo.


"Di dalam juga banyak Tuan. Kata satpam komplek, setiap satu jam sekali ada aja orang yang datang mengantarkan buket bunga. Malahan ada yang lima sekali datang." ujar asisten Hendri mengatakan informasi yang didapatnya dari Satpam.


"Nggak kebayang gimana wanginya rumah sekarang Hen." ujar Tuan Soepomo.


Hendri melajukan mobilnya menuju tempat acara pernikahan yang akan diadakan lusa.


"Tuan, ini tenda terbagus yang pernah saya lihat." ujar asisten Hendri sambil menatap kagum ke arah tenda super besar yang sudah berdiri kokoh itu.


Mereka berdua turun dari mobil. Hendri melihat salah satu pekerja yang sedang berdiri di depan pintu masuk tenda.


"Bro tolong saya bro." ujar Asisten Hendri.


Karyawan yang dipanggil oleh Asisten Hendri berjalan menuju mobil. Asisten Hendri memberikan kotak kue kepada dia. Karyawan membawa kotak kue tersebut ke dalam tenda utama.


Tuan Soepomo masuk ke dalam tenda dan langsung mencari menantunya itu. Dia melihat Ghina sedang memberikan instruksi tentang pelaminan kepada yang memasang.


"Ghina." panggil Papi.


"Papi. Ada apa Pi? Kayaknya penting." ujar Ghina.


Papi kemudian menceritakan apa yang dilihatnya di jalan tadi.


"Hahahahaha" Ghina tertawa.


Mira juga ikut tertawa. Asisten Hendri yang melihat Ghina dan Mira tertawa berjalan mendekati keluarga bosnya itu. Dia juga penasaran.


"Jadi gini Pi." ujar Ghina.


Ghina menceritakan kejadian semalam kepada Papi. Papi yang mendengar semua cerita Ghina hanya bisa geleng geleng kepala saja atas kelakuan anaknya itu.


"Bener bener anak tu. Apa dia nggak tau kalau keluarganya udah terkenal. Semoga aja Bram tidak sama." ujar Papi.


"Tapi dipikir pikir ya Ghin. Bagus juga dia gitu. Jadi nggak ada niat wanita lain untuk goda dia." ujar Papi.


"Bener juga Pi" jawab Mira.


Mereka semua kembali melihat proses pengerjaan pelaminan.

__ADS_1


"Siap besok kan Ghin?" tanya Papi.


"Siap Pi." jawab Ghina.


__ADS_2