Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pra Lamaran Bram


__ADS_3

Pagi harinya semua orang sudah bangun dan sedang bersiap siap untuk melakukan perjalanan menuju daerah Padang. Ghina dan Frenya yang sudah bangun dari sebelum subuh sedang berkutat dengan sarapan pagi untuk semua anggota keluarga. Hari ini Ghina memasak nasi goreng kampung, serta mie goreng dan udang goreng tepung untuk semua orang sedangkan untuk Aris, Ghina telah membuatkan bubur putih yang enak. Dia juga sudah membuat bubur nasi untuk Aris dan sudah memasukkan kedalam sebuah termos kecil yang bisa menahan panas selama dua puluh empat jam. Sedangkan Frenya diminta Ghina untuk membuat minum pagi semua penghuni rumah.


Setelah selesai menyiapkan semuanya, Ghina meminta seorang maid untuk membawa semua menu sarapan dan minum pagi ke ruang makan yang terletak diujung, bukan meja makan yang biasa dipakai oleh keluarga Soepomo. Setelah memastikan semuanya telah di bawa ke ruang makan, Ghina dan Frenya kembali ke kamar mereka untuk bersiap siap. Ghina melihat Aris yang sudah tampan memakai baju kaus warna putih serta jins warna hitam. Ghina ingin memeluk tubuh suaminya itu, tetapi dia takut bauk bawang akan berpindah ke pakaian suaminya.


"Sayang, kamu mandi dulu sana, aku akan menunggu di kamar Argha ya." ujar Aris.


"Oke sayang, sepertinya anak kamu dan Atuk Ayahnya keenakan tidur, aku tidak mendengar suara dari kamar itu." jawab Ghina sambil berjalan ke kamar mandi.


"Wow, dia romantis sekali." ujar Ghina saat melihat bathup yang telah berisi air dan busa busa sabun.


Gina memasukkan badannya kedalam bathup itu, dia benar benar sangat lelah mengurus semuanya. Untung saja Freenya bersedia membantu, dengan memberikan tanggung jawabnya kepada Stefen. Ghina sangat bersyukur memiliki tim yang luar biasa hebat itu.


Setelah memanjakan dirinya selama setengah jam, Ghina kemudian keluar dari kamar, dia melihat suaminya sudah kembali duduk di sofa seperti saat dia kembali dari dapur,


"Loh sayang, kok udah di kamar lagi. Tapi mau nunggu di kamar Argha?' tanya Ghina yang heran melihat suaminya sudah kembali duduk di sofa kamar.


"Argha nggak membukakan pintu kamarnya sayang. Katanya dia hanya mau sama Atuk Ayah, nggak sama Daddy." ujar Aris sambil menyun karena ucapan anak bungsunya.


"hahahahaha, kalau Argha nggak butuh Daddynya, sini bantu Bunda Argha untuk memasang ini?" ujar Ghina mengangkat penutup gunung kembarnya.


Aris berjalan mendekati Ghina, dia mengambil benda yang diberikan oleh Ghina, tetapi sebelum memasang benda keramat itu, Aris menikmati dulu sebelum menutupnya. Ghina hanya bisa merasakan dan menikmati sensasi yang sudah lama tidak dirasakan oleh dirinya.


"Sayang, hentikan nanti kebabblasan. Kita mau berangkat sayang. Aku nggak mau mandi lagi." ujar Ghina menghentikan kegiatan Aris.


Aris menghentikan kegiatannya yang sedang asik itu. "Janji nanti sampai padang kamu akan memberikan aku jatah yang sudah lama aku tahan?" tanya Aris sambil menatap dengan tatapan mendamba kepada Ghina.


"Janji" jawab ghina yang juga sudah lama ingin melepaskan hal yang dirasakan oleh Aris,


Ghina kemudian bersiap siap, mereka sudah dua kali didatangi oleh maid untuk diminta turun ke ruang makan, karena semua orang sudah menunggu.


"Ayuk sayang kita turun" ujar Ghina.


Aris menarik sebuah travel bag di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya selalu menggenggam tangan Ghina.


"Serasa menunggu pengantin baru" ujar Afdhal saat melihat Ghina dan Aris datang.

__ADS_1


Ghina hanya bisa tersenyum canggung saja. Mereka berdua memang terlambat sangat jauh dari jadwal sarapan.


"Afdhal sudah, sekarang sarapan, kita akan langsung berangkat setelah sarapan." ujar Ayah menghentikan pertikaian antara Afdhal dan Ghina.


"Frenya mana Pi?" tanya Ghina yang tidak melihat anak perempuannya yang tadi masih membantu dia di dapur untuk menyiapkan menu sarapan.


"Dia udah ke Bandara. Jero tidak bisa mendampingi Stefen untuk terbang, makanya Frenya yang menggantikan." ujar Mira yang menjawab pertanyaan Ghina.


Ghina menatap Mira, Mira mengangguk memberikan bahasa isyaratnya.


Mereka semua akhirnya selesai juga sarapan, semua barang barang juga sudah diantarkan ke bandara oleh Pak Paijo. Sedangkan untuk kebandara nanti yang mengantar adalah Budi sekretaris Aris yang akan mengemudikan mobil.


Semua anggota keluarga sudah berada di dalam pesawat yang akan membawa mereka ke bandara internasional minangkabau. Stefen dan Frenya yang akan mengemudikan pesawat. Semua orang sudah duduk di posisinya masing masing. Ghina memilih duduk dekat Mira, dia memberikan alasan kepada Aris untuk membahas tentang acara yang akan dilakukan nantinya.


"Ada apa Mir? Kenapa mendadak Jero tidak bisa terbang?" tanya Ghina yang sudah dari tadi menyimpan rasa penasarannya.


Mira kemudian memperlihatkan sebuah video kepada Ghina. Ghina mengamati video tersebut, dia sangat hafal akan daerah itu.


"Ini bukannya rumah utama Mir?" tanya Ghina menebak daerah yang ditampilkan video itu.


Ghina menggeleng. Dia memang tidak tau ada penyusup yang datang ke rumah utama.


"Kok bisa ada penyusup ya Mir. Padahal ada satpam. Atau jangan jangan Pak Satpam lupa lagi mengunci pintu gerbang dengan kunci digital?" uajr Ghina memikirkan beberapa kemungkinan.


"Yup, kamu benar, satpam lupa mengunci gerbang. Orang itu masuk saat satpam sedang makan malam di rumah utama." jawab Mira lagi.


"Kamu tau Mir, siapa orang itu?"


"Nggak, makanya Jero aku minta untuk tidak ikut. Dia harus membantu Alex menemukan siapa orang ini" kata Mira yang sudah memerintahkan Jero untuk mencari tau siapa yang telah berani masuk ke dalam rumah utama tanpa meminta izin terlebih dahulu.


"Makasi Mir, kamu telah membantu gue."


"Alah kayak sama siapa aja. Lagian Bayu juga udah dianggap anak oleh Papi. Ngapaian pakai terimakasih segala." jawab Mira sambil memukul lengan Ghina,


Mereka berdua melanjutkan pembicaraan dengan obrolan ringan. Ghina terus memerhatikan Aris saat dia dan Mira tidak bercerita. Ghina harus terus memastikan Aris kalau dia nyaman selama penerbangan.

__ADS_1


Tak terasa penerbangan selama satu setengah jam itu selesai sudah. Semua orang telah turun dan naik ke dalam mobil yang telah disiapkan oleh Bayu. Bayu yang masih memiliki perusahaan di kota Padang membantu untuk menyediakan transportasi.


"Wow pariwisata? Loe beneran nyuruh kita naik mobil pariwisata Bay?" tanya Aris yang tidak menyangka Bayu menyiapkan mobi pariwisata untuk menjemput mereka.


"Apa kamu mau kita pisah pisah mobil menuju tempat Sari?" tanya Bayu memberikan alasan kenapa dia lebih memilih menyediakan bus pariwisata dibandingkan mobil biasa mereka pakai.


"hahahahaha, sekali sekali naik pariwisata enak juga kali Ris." jawab Papi yang langsung masuk ke dalam mobil.


Sedangkan yang lain hanya tertawa saja melihat muka masam Aris.


"Sayang, kamu tau kenapa Bayu menyiapkan mobil pariwisata?' tanya Ghina


"Itu, kamu udah denger alasannya." jawab Aris dengan masih memiliki rasa kesal dihatinya.


"Alasan sebenarnya bukan itu sayang, kamu tau kan ya jalan ke kampung Sari seperti apa?" tanya Ghina.


Aris mengangguk, dia sangat hafal bagaimana keadaan jalan ke sana. Bikin Aris sakit pinggal dan mual.


"Nah karena hal itulah Bayu memakai bus pariwisata agar kamu tidak merasa sakit sayangku. Kamu nggak tau apa sahabat kamu itu akan selalu memberikan yang terbaik untuk kamu." ujar Ghina menjawab semua alasan kenapa Bayu menyediakan bus pariwisata untuk mereka.


Mereka semua masuk kedalam bus tersebut. Mereka menuju rumah peristirahatan milik keluarga Wijaya yang terletak hanya seratus meter dari rumah keluarga Sari. Mereka akan berjalan bersama dari rumah peristirahatan menuju rumah Sari nanti saat akan melakukan lamaran. Semua wanita akan membawa semua seserahan, begitu juga dengan yang laki laki. Ghina juga sudah meminta kepada Mak Itam yang menjaga rumah peristirahatan untuk menyediakan lima belas orang ibu ibu daerah situ untuk membantu membawakan seserahan.


Tepat jam empat sore mereka sudah sampai di rumah peristirahatan. Aris sama sekali tidak merasakan sakit diperutnya akibat gunjangan jalan. Ini semua berkat mobil pariwisata yang tinggi yang disediakan oleh Bayu. Ghina dibantu oleh Ibu ibu yang sudah hadir itu menurunkan semua barang barang seserahan. Pada kotak seserahan sudah ada nama nama siapa saja yang akan membawa seserahan tersebut. Ghina dan Frenya sudah mengatur semuanya dengan sesempurnanya.


Ghina juga memberikan ibu ibu yang loma belas orang itu baju seragam yang siap pakai. Ibu ibu tersebut sangat bahagia saat menerima baju yang diberikan oleh Ghina. Selesai menyiapkan semua seserahan, Ghina dibantu Frenya dan Mira membagikan baju keluarga mereka. Baju seragam yang akan mereka pakai saat acara lamaran.


"Loe gugup Bram?" tanya Aris yang melihat Bram berjalan mondar mandir seperi seterikaan di teras depan villa.


"Nggak." jawab Bram bohong.


"Hem bohong aja terus. Itu kelihatan" jawab Aris lagi menggoda Bram.


"Sayang udah jangan goda kak Baram terus. Lebih baik kamu bersiap siap lagi sayang." ujar Ghina melerai kehebohan para lelaki yang sedang duduk di teras rumah.


Aris dan yang lainnya membubarkan diri. Mereka menuju kamar masing masing untuk bersiap siap, acara lamaran akan dilangsungkan setelah maghrib. Setelah para lelaki bersiap siap, para wanita kemudian bersiap siap. Mereka memakai pakaian seragam. Sebelum berangkat menuju kediaman Sari. Mereka melakukan fhoto keluarga.

__ADS_1


__ADS_2