Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kampung


__ADS_3

Danu berjalan mondar mandir di kamar. Dia benar benar pusing dengan semuanya. Chat yang selama ini masih centang satu tiba tiba sudah berubah menjadi sudah terbaca. Saat dihubungi ponsel tersebut sudah tidak aktif kembali.


"Ahg ini bener bener membuat gue gila." ujar Danu.


Danu kemudian lebih memilih untuk tidur tiduran di ranjang. Dia sudah tidak bisa lagi konsentrasi kepada kerjaannya.


"Mending gue tidur, dari pada melototin ne ponsel. Ponsel sana juga nggak akan aktif lagi." ujar Danu bermonolog sendirian.


Dia meletakan ponselnya di tempat mencharge. Setelah itu dia kembali berbaring di kasur. Hari ini bener bener lelah selelah hati dan pikirannya yang selalu memikirkan dan mencari dimana Vina berada. Vina kekasih yang sangat berarti bagi dirinya. Tetapi karena kebodohan dan keegoisan dirinyalah yang mengakibatkan kekasihnya itu memilih untuk pergi tanpa memberitahukan kepada dia.


Sedangkan pada sebuah rumah yang terlihat sangat asri di daerah kampung, pada satu kamar terlihat sesosok wanita juga termenung sambil berbaring.


Pikiran wanita itu berkelana kemasa masa dimana dia sedang memadu kasih dengan seorang pria yang merupakan cinta pertamanya itu. Cinta pertama yang membuat dia menjadi terperosok dan jatuh serta tidak percaya lagi dengan yang namanya cinta.


Vina berpikir kenapa dia bisa mencintai seprang pria yang sudah beristri dan memiliki seorang putri. Seandainya ibu ibu yang datang tadi tau tentang masalalunya ini, maka habislah dia. Vina akan dipergunjingkan orang sekampung di setiap ada acara acara. Cap sebagai pelakor akan melekat pada diri Vina.


Setelah lelah berpikir Danu dan Vina sama sama tertidur. Mereka lelah karena cinta mereka sendiri sendiri. Cinta yang ternyata membuat sakit hati dan perasaan serta pikiran mereka. Bener kata orang orang "Pergi Pahit Bertahan Sakit."


Pagi pagi sekali Danu sudah bangun dari tidur malamnya yang sama sekali tidak nyenyak itu. Danu terus terbangun setiap satu jam, pikirannya hanya terarah kepada pesan chat yang sudah terbaca itu.


"Pagi Tuan." sapa Bibik yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan.


"Pagi Bik. Oh ya Bik nanti malam nggak usah siapkan makan malam untuk saya. Saya akan lembur di kantor. Paman sebentar lagi akan kembali ke negara U." ujar Danu memberitahukan agendanya hari ini kepada Bibik pengurus rumah tangganya.


"Baik Tuan." jawab Bibik.


Setelah memastikan semua sarapan Danu sudah terhidang dan rapi di atas meja makan. Bibik kembali menuju dapur. Sedangkan Danu menikmati sarapannya pagi itu. Dia makan dengan santai, Danu sama sekali tidak akan terlambat karena dia siap lebih pagi dari pada biasanya.


Selesai sarapan, Danu langsung menuju kantor. Dia melajukan mobil dalam kecepatan sedang. Hari ini dia akan menikmati perjalanan menuju kantornya.


Sesampainya di ruangan, Danu melihat ketiga staffnya belum datang.


"Mereka telat?" tanya Danu saat melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh lewat dua lima.


"Hah tumben pagi bos?" tanya Bimo pegawai baru di bagian Danu.


"Tadi pagi bangun cepat." jawab Danu.

__ADS_1


Danu kemudian masuk kedalam ruangannya. Dia sudah melihat Ivan dan Iwan yang senyum senyum penuh arti mendengar jawaban yang diucapkan Danu saat Bimo bertanya.


"Bangun cepat." ujar Ivan dan Iwan mengulang jawaban dari Danu.


"Dasar abang berdua tidak takut dimarahin manager?" tanya Bimo.


"Nggak tenang aja. Dia nggak akan marah." jawab Iwan.


Mereka bertiga mulai mengerjakan pekerjaan mereka masing masing. Begitu juga dengan Danu yang kembali serius dengan pekerjaannya.


Sedangkan di kampung, Vina sudah bangun pagi pagi sekali. Dia sedang berkutat di dapur untuk membuatkan keluarganya sarapan pagi berupa nasi goreng lengkap dengan telor dan irisan sayur.


Ibu yang baru saja bangun menciun aroma wangi masakan dari arah dapur langsung saja melihat ke sana. Ternyata Ibu melihat Vina sedang asik sendirian dengan masakannya.


"Masak apa tho nduk?" tanya Ibu.


"Nasi goreng Bu. Pengen aja masak nasi goreng campur tri. Di tempat Vina tinggal sekarang sangat jarang ada tri Buk. Walaupun ada harganya, bikin kantong Vina menjerit histeris." ujar Vina dengan lebaynya.


"Lebay. Mana ada kantong bisa menjerit." ujar Ibu protes denhan pengandaian Vina.


"Ada Ibu, menjerit saat dia udah nggak kuat lagi mengeluarkan duit." jawab Vina yang nggak mau kalah.


Vina melanjutkan memasak sarapan. Setelah Ibu pergi ke kamar mandi, sekarang gantian yang datang yaitu Sari yang baru saja bangun dan hendak ke kamar mandi juga.


"Mau kemana?" tanya Vina saat melihat Sari menuju arah kamar mandi.


"Kamar mandi kebelet." jawab Sari dengan cepat.


"Ada Ibu, kamar mandi luar aja kalau udah tersesak banget." kata Vina memberitahukan kepada Sari.


"Temenin" jawab Sari lagi saat melihat hari masih gelap.


Vina kemudian menggeleng lemah, inilah resiko kalau membawa wanita kota ke kampung. Saat Vina akan mematikan kompornya Maya datang sambil bersenandung kecil.


"Nah kebetulan loe dateng." ujar Vina seperti melihat sebuah pencerahan.


"Ada apa?" tanya Maya yang pergi mengambil gelas.

__ADS_1


Belum sempat Maya mengambil gelas tersebut, tangannya sudah di sambar oleh Sari dengan cepat.


"Temenin gue ke kamar mandi luar. Gue kebelet." ujar Sari sambil menyeret Maya.


Maya hanya bisa pasrah saja dengan apa yang dilakukan oleh Sari.


"Susah ye kalau kebiasaan pup pagi pagi." ujar Maya dengan sedikit kesal.


"Nggak boleh kesal cantik, nanti hilang cantiknya." jawab Sari dari dalam kamar mandi.


"Serah loe. Lagian gue juga udah laku. Malahan tu cowok tergila gila ke gue." jawab Maya dari luar kamar mandi sambil melihat lihat fhoto Ivan.


"Dilarang ngayal jorok." ujar Sari dari dalam kamar mandi yang sudah tau kalau Maya pasti sedang menghayalkan Ivan kakaknya itu.


"Hahahahaha, tau aja loe." jawab Maya sambil tertawa ngakak.


Setelah selesai Sari dan Maya kembali masuk ke dalam rumah. Maya mengambil sapu lidi sedangkan Sari mengambil sapu rumah. Mereka kemudian mengerjaan pekerjaan masing masing. Sari membersihkan rumah bagian dalam, sedangkan Maya menyapu rumah bagian luar. Vina menatap kedua sahabatnya sambil tersenyum.


"Maya, sarapan dulu, nanti lanjutin." ujar Ibu kepada Maya yang terlihat masih menyapu halaman rumah.


"Nanggung buk." jawab Maya.


"Nggak ada nanggung May. Cepet." jawab Ibu memberikan perintah yang tidak bisa lagi dibantah oleh Maya.


Maya akhirnya meletakkan sapu yang dipegang. Dia berjalan masuk ke dalam rumah. Nanti setelah sarapan dia akan menyapu halaman yang luas itu.


Mereka sarapan dalam diam. Kebiasaan yang selalu dilakukan oleh keluarga besar Vina selama ini.


"Kalian mau kemana hari ini?" tanya Bapak kepada Vina dan kedua sahabatnya.


"Nggak ada Pak." jawab Vina.


"Ha kita ke ladang aja Vin. Ikut Bapak sama Ibu." ujar Sari yang sama sekali penasaran dengan ladang.


"Loe beneran mau ke ladang?" tanya Vina


"Yup" jawab Sari dengan mengangguk pasti.

__ADS_1


"Oke nanti kita ke sana pas jam makan siang. Sekalian ngantar bekal Bapak dan Ibu." ujar Vina menyetujui pendapat Sari.


Setelah selesai sarapan mereka kemudian melanjutkan pekerjaan rumah yang tertunda. Sedangkan Ibu dan Bapak pergi ke ladang


__ADS_2