Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Ghina Takut Tidur Sendiri


__ADS_3

Gina yang baru saja sampai di rumah bersama Daniel melihat Argha ke kamarnya. Ternyata anak bontotnya itu sedang belajar dengan Frenya yang tadi terlebih dahulu diminta Ghina untuk pulang ke rumah menemani Argha.


"Malam anak ganteng Bunda. Kamus sedang ngapain?" tanya Ghina sambil berjalan masuk ke dalam kamar Argha.


"Bunda." teriak Argha sambil memeluk Ghina. Seharian ini Argha memang tidak banyak beinteraksi dengan Ghina.


"Kamu sedang ngapain?" tanya Ghina mengulang pertanyaannya tadi.


"Sedang belajar berhitung Bun. Oh ya Bunda gimana dengan Mami Sari dan Nenek?" tanya Argha yang dari tadi sudah menanyakan hal yang sama ke Frenya berkali kali.


"Oh sudah mami Sari pas Bunda tinggalkan tadi dalam keadaan koma. Mami di rawat di ruangan ICU rumah sakit. Sedangkan Nenek masih dalam ruangan operasi." ujar Ghina memberitahukan hal sebenarnya kepada Argha.


Ghina tidak pernah menutupi hal apapun kepada Argha. Ghina dan Aris berprinsip apapun yang terjadi Argha harus tau.


"Apa Argha bisa nengok mereka Bunda?" tanya Argha yang sebenarnya sudah tau jawaban yang akan diberikan oleh Bundanya itu.


"Menurut Argha bagaimana?" tanya Ghina kembali.


"Kayaknya nggak boleh Bun karena Argha masih kecil." ujar Argha kembali.


"Nah itu tau. Besok kalau Mami Sari udah pindah keruangan perawatan Argha akan Bunda ajak ke rumah sakit. Kalau di ICU Bunda takut nanti Argha dapat penyakit sayang." ujar Ghina kembali.


"Oke Bunda." jawab Argha yang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ghina.


"Sekarang Argha tidur besok ke sekolah diantar Frenya. Bunda subuh harus ke rumah sakit. Daddy dan Papi di sana." ujar Ghina memberitahukan rencana dia esok hari kepada Argha.


"Oke Bunda. Bunda sama Daddy harus hati hati jangan sampe sakit." ujar Argha memberi pesan layaknya orang tua berpesan kepada anaknya.


"Asiap Papi Argha. Bunda Ghina akan hati hati selalu." ujar Ghina sambil bertos ria dengan anaknya itu.


Argha ditemani Frenya menggosok gigi dan mencuci kaki serta wajahnya ke kamar mandi. Setelah itu Argha langsung berbaring di atas kasur. Frenya kembali ke kamarnya yang terletak tepat di depan kamar Argha.


Sedangkan Ghina setelah membersihkan dirinya berjalan menuju ranjang. Dia membaringkan dirinya di atas kasur. Ini kali pertama Ghina tidak tidur bersama dengan Aris setelah sekian lama mereka kembali bersatu. Gina terus mereng kiri mereng ke kanan. Tetapi hasilnya sama saja. Sama sama tidak bisa tidur. Dia terus saja gelisah.


"Ah nggak bisa tidur. Ke rumah sakit ajalah." ujar Ghina yang memutuskan akan bertemu dengan suaminya

__ADS_1


Dia memasukkan beberapa potong pakaiannya dan Aris serta untuk Bram ke dalam tas ransel. Kemudian Ghina keluar dari kamar dan mengetuk pintu kamar Frenya. Frenya yanh sedang membaca novel online membuka pintu kamar. Dia heran melihat Ghina yang memakai jaket dan menjenjeng tas ransel.


"Bunda mau kemana?" tanya Ghina.


"Bunda nggak bisa tidur Ghin. Bunda mau ke rumah sakit aja menemani Daddy." ujar Ghina.


"Ya udah Bunda hati hati ya. Besok aku antar Argha dulu ke sekolah setelah itu baru ke perusahaan. Siang aku ke rumah sakit." ujar Frenya.


"Bunda titip Argha ya. Makan paginya buatin roti bakar aja. Jangan lupa bekalnya sekolah." lanjut Ghina membertitahukan keperluan Argha.


Ghina kemudian turun ke lantai bawah rumah utama. Dia langsung menuju garase rumah mengambil mobil miliknya. Dia kemudian melajukan mobilnya menuju rumah sakit harapan kita. Dia benar benar tidak bisa tidur sendirian.


Ghina melajukan mobil dalam kecepatan tinggi. Jalanan yang lengang membuat dia bebas melajukan mobilnya. Tidak membutuhkan waktu yang lama Ghina akhirnya sampai juga di rumah sakit. Beberapa suster membungkuk memberikan hormat kepada Ghina. Mereka tidak menyangka pemilik rumah sakit akan datang selarut ini.


"Sayang, ngapain ke sini lagi?" tanya Aris yang kaget melihat Ghina yang datang kembali ke rumah sakit.


Pengawal mengambil tas yang di tenteng oleh Ghina.


"Aku nggak bisa tidur sayang." jawab Ghina sambil memeluk Aris.


"Iya, aku nggak bisa tidur. Udah guling kiri guling kanan tetap nggak bisa tidur." ujar Ghina yang nggak paham apa maksud Aris.


"Aku nggak paham sayang." ujar Aris menggoda Ghina.


"Ais. Aku nggak bisa tidur sayang." ujar Ghina dengan nada yang sedikit tinggi.


"Kenapa sayang??" tanya Aris kembali.


"Karena nggak ada kamu di samping aku. Puas." ujar Ghina yang baru tersambung dengan maksud Aris.


"Oooo. Ya udah tidur sini aja." kata Aris sambil menepuk pahanya.


"Makanya aku ke sini. Tapi kita makan malam dulu ya sayang." ujar Ghina.


Ghina mengangkat menu makan malam yang tadi dibelinya di jalan. Mereka berdua di tambah pengawal menyantap menu makan malam itu.

__ADS_1


"Oh ya sayang. Gimana dengan Ibu?" tanya Ghina yang ingat dengan Ibu Sari.


"Ibu juga koma sayang. Tapi di oper ke rumah sakit Soepomo. Biar dokter di sana berkonsentrasi dengan kondisi Ibu. Jadi dokter di sini tidak terpecah konsentrasi antara Ibu dengan Sari." ujar Aris memberitahukan keadaan Ibu Sari.


"Semoga semuanya berakhir manis sayang. Kasian kak Bram baru nikah jangankan untuk bulan madu eeee malah bobok rumah sakit." ujar Ghina sambil menatap Bram yang berada di dalam ruangan ICU.


"Kita doakan yang terbaik aja buat mereka sayang." jawab Aris.


Ghina mengangguk. Aris kemudian menggabubgkan dua buah sofa yang tidak memakai tangan tangab sofa..


"Tidilur sini saja sayang." ujar Aris sambil menepuk sofa yang di susunnya.


Ghina membaringkan badannya di atas sofa. Dia menjadikan paha Aris sebagai bantal. Aris mengusap rambut istrinya. Ghina yang merasa nyaman dengan usapan Aris seketika memejamkan mata indahnya. Dia langsung tertidur karena kenyamanan itu.


Aris yang melihat Ghina sudah tertidur, juga mulai memejamkan matanya. Dia juga lelah dan mengantuk karena seharian berpikir keras. Penjaga bergantian untuk beristirahat malam. Mereka selalu siaga menunggu di depan pintu ruangan ICU.


Pagi harinya Bram yang sudah bangun dari istirahatnya yang tidak sempurna berjalan keluar. Rencananya Bram ingin meminta salah seorang pengawal untuk membelikan sarapan pagi untuk dirinya dan juga Aris.


"Loh sejak kapan dia di sini? Bukannya dia semalam pulang dengan Daniel?" tanya Bram yang melihat Ghina tidur di sofa.


"Dia nggak bisa tidur sendirian. Makanya datang malam tadi." ujar Aris memberitahukan.


"Dasar bucin parah." jawab Bram.


Bram kemudian menuju pengawal. Dia meminta salah satu dari mereka untuk membeli sarapan keluar. Ghina yang baru bangun melihat Bram yang sudah duduk di depannya hanya bisa teraenyum saja. Penampilannya hari ini bener bener di luar dugaan.


"Bang." ujar Ghina melihat Bram.


"Apa?" jawab Bram.


"Nggak ada." jawab Ghina salah tingkah.


Mereka kemudian menyantap menu sarapan yang dibawa oleh pengawal. Mereka kemudian makan dengan sangat lahap menu sarapan tersebut.


Saat menikmati sarapan Papi menghubungi Aris. Aris mengangkat panggilan tersebut. Raut wajah Aria langsung berubah saat mendengar apa yang disampaikan oleh Papi.

__ADS_1


__ADS_2