
Aris melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dia sangat takut terjadi sesuatu kepada istrinya itu. Sepanjang jalan Aris menekan klason mobilnya. Dia sangat tidak sabaran. Dalam pikiran Aris sudah tergambar hal hal yang sungguh menakutkan. Aris tidak sanggup ditinggal oleh Gina. Saat Aris serius berkendara sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya.
✉️ Vina
Hebat kamu Tuan Aris Soepomo. Kamu meninggalkan aku sendirian. Padahal kamu yang membuat janji untuk bertemu dengan aku.
Aris hanya membaca pesan dari Vina. Dia sama sekali tidak berniat untuk membalas pesan itu. Sekarang konsentrasi Aeis hanya tertuju kepada Gina istrinya.
Vina yang melihat pesannya di baca tapi tidak di balas, kembali mengirim sebuah pesan.
✉️ Vina
Oh jadi kamu akan perhatian kalau istri kamu masuk rumah sakit. Oke aku yakinkan kamu sebentar lagi aku akan masuk rumah sakit.
Vina menunggu kembali balasan Aris. Tapi tetap sama. Aris hanya membaca saja tanpa minat untuk membalas
✉️ Vina
Oke Aris. Kita lihat saja. Aku sungguh menyesal kenal dengan kamu. Aku sungguh marah Aris.
Tetap sama, pesan hanya di baca tanpa di balas.
✉️ Vina
Aris Seopomo, dalam tiga puluh menit kamu tidak membalas pesan ku. Maka kamu akan melihat aku berada di IGD di rumah sakit yang sama dengan sitri kamu.
Vina kembali menunggu. Tepat sebelum Vina bosan dan kembali mengirim pesan, sebuah notifikasi pesan dari Aris berbunyi. Vina dengan semangat membuka pesan itu.
✉️ Aris
Terserah kamu.
Vina yang membaca pesan dari Aris, langsung membulatkan mulutnya. Dia tidak percaya kalau Aris akan membalas pesannya seperti itu. Vina berharap Aris memelas kepada dirinya untuk tidak melukai dirinya sendiri. Tetapi harapan Vina tidak sesuai dengan kenyataan. Aris malahan mengatakan terserah Vina aja.
✉️ Vina
Oke. Kamu sebentar lagi akan melihat aku berada di IGD.
✉️ Aris
Kalau kamu masih sayang nyawa kamu jangan lakukan. Tapi kalau sudah tidak maka lakukan.
✉️ Aris
Harusnya kamu sadar dengan posisi kita sekarang. Aku bukan pria lajang yang bisa kamu bawa kesana kemari. Aku pria beristri yang akan selalu terikat dengan sitrinya.
✉️ Aris
__ADS_1
Kalau kamu tidak akan paham. Lebih baik hubungan ini kita akhiri sampai di sini saja. Saya tidak bisa selalu menuruti kehendak kamu yang egois itu
Vina tidak menyangka Aris akan berkata seperti itu. Vina memikirkan semua isi pesan Aris. Aris memang benar, hubungan mereka ini salah, tetapi Vina akan tetap mempertahankan Aris disisinya. Bagi Vina dia tidak masalah jadi yang kedua. Bagi Vina yang terpenting Aris mengakui dirinya ada di sisi Aris. Pengakuan oleh orang luar bagi Vina tidak lah penting.
✉️ Vina
Sayang maafkan aku yang sudah egois. Aku paham dengan posisi kamu. Semoga Gina cepat sembuh sayang.
✉️ Aris
Makasi sayang. Aku akan menonaktifkan ponsel dulu. Aku akan fokus dengan Gina. Tapi yakinlah aku akan selalu ingat sama kamu.
✉️ Vina
Makasi sayangku
Vina kemudian menatap ponselnya. Dia sama sekali tidak paham dengan perasaannya. Perasaan yang semula hanya ingin merebut seseorang dengan tujuan membuat nyaman kantong Vina. Tetapi ujungnya Vina benar benar sayang sama Aris.
"Maafkan aku Gina. Aku terlanjur sayang sama suami kamu" kata Vina.
Vina kemudian beristirahat, emosinya telah membuat badannya lelah dan membutuhkan istirahat yang cukup. Vina kemudian tertidur saat dia baru meletakkan kepalanya di atas bantal.
Aris yang sampai di rumah sakit, memarkirkan mobilnya dengan sembarangan. Dia sudah tidak mau tau lagi dengan mobilnya. Aris berlari menuju IGD, di sana terlihat Ayah, Nana, Afdhal dan juga Bram sedang duduk menunggu kabar dari dokter.
"Nana bagaimana Gina?"
"Sabar nak. Dokter sedang memeriksa Gina." jawab Nana
"Tadi Gina sepertinya mendapatkan telpon dari seseorang. Gina terlihat marah, nah Gina tidak sadar kalau dia sudah berada di anak tangga paling atas. Karena tidak seimbang itu Gina berguling sampai ke tangga bagian bawah" kata Nana menceritakan kronologi kejadian kenapa Gina sampai jatuh dari tangga.
Dari arah luar terdengar keributan, ternyata Tuan dan Nyonya Soepomo datang, maka semua dokter dan direksi rumah sakit menyambut mereka berdua. Papi dan Mami tidak.menghiraukan para penjilat itu. Papi dan Mami terus aja berjalan mereka hanya fokus ingin mendengar keadaan Gina.
"Papi, Mami kapan pulang?" kata Bram.
"Kami barusan mendarat. Papi mendengar dari salah seorang maid di rumah tuan Wijaya kalau Gina jatuh dari atas tangga. Makanya kami langsung terbang kembali kemari" kata Papi.
"Ada apa ini Nana?" kata Mami.
Nana menceritakan kronologi kejadian kenapa Gina sampai jatuh.
"Bram, cari tau siapa yang menghubungi Gina tadi" kata Mami.
"Oke Mami. Tapi aku butuh ponsel Gina" kata Bram.
Nana kemudian memberikan ponsel Gina kepada Bram. Bram.membawa ponsel Gina. Dia langsung mencari nomor yang menelpon Gina. Akhirnya Bram mendapatkan nomor yang waktunya bersamaan dengan Gina jatuh. Bram langsung menelpon nomor tersebut.
"Hallo Nona Gina?"
__ADS_1
"Maaf ini siapa?" kata Bram.
"Saya Alex Tuan. Ini dengan Tuan Aris atau Tuan Bram?"
"Saya Bram"
"Maaf Tuan Bram. Saya tau nona Gina terjatih dari tangga saat menerima telpon dari saya. Apakah tuan Bram bisa menemui saya di parkiran. Saya menunggu tuan di sana." kata Alex.
Bram kemudian keluar dari rumah sakit. Dia melihat Alex berdiri di salah satu mobil. Bram langsung berjalan ke arah mobil itu. Bram dan Alex langsung masuk ke dalam mobil Alex.
"Ceritakan. Kamu tau kan saya orangnya seperti apa." kata Bram dengan dinginnya.
Alex kemudian menceritakan semua kejadia kepada Bram. Mulai dari Gina yang meminta Alex untuk menelpon Aris menawarkan kerjasama dengan perusahaan Z yang ternyata adalah milik Gina yang tidak diketahui oleh siapapun, sampai pertemuan Alex dengan Aris terakhir Alex menceritakan Aris yang menemui seorang wanita di kafe Z. Semua diceritakan Alex dengan sejujurnya tanpa ada tambahan sedikitpun.
"Makasi Alex, kamu sudah menjaga Aris. Jadi menurut kamu Gina sudah tau?" kata Bram.
"Sudah Tuan Bram. Nona Gina sudah memiliki semua bukti, nona Gina memiliki bukti chat antara Tuan Aris dengan Vina sekretarisnya. Nona Gina tinggal menangkap tangan saja lagi Tuan" kata Alex.
"Kenapa Gina bisa tau?" Bram penasaran.
"Tuan Bram. Nona Gina adalah seorang heker paling berbahaya di dunia. Kalau hanya mendapatkan pesan dan telpon milik orang lain, itu hanya seujung kuku bagi nona Gina. Apa tuan Bram pernah mendengar hekker bernama Busway?"
Bram mengingat ingat akhirnya Bram ingat satu kejadiab. Dimana perusahaan Bramantya hampir bangkrut dan ternyata semua itu tidak terjadi karena bantuak hekker bermama Busway.
"Ya gue pernah dengar." kata Bram.
"Nah itu adalah nona Gina. Siapapun yang memiliki masalah maka busway akan membantu" kata Alex.
"Pantesan Gina langsung tau. Apakah Gina sudah lama tau Alex?"
"Sudah tuan. Malahan nona Gina juga tau, kalau tuan meletakkan kamera di ruangan tuan Aris." kata Alex.
"Terimakasih infonya Alex. Saya kembali ke ruangan Gina dulu. Saya takut mereka akan curiga kalau saya lama di luar" kata Bram.
Bram kemudian keluar dari mobil Alex. Dia berjalan dengan pertanyaan yang berkecamuk di otaknya.
"Seberapa mengerikannya kamu Gina? Aku tidak menyangka, ini benar benar kejutan. Aku mengira aku akan menolong kamu. Ternyata kamu sudah mengantisipasi semua kejadian." kata Bram.
Bram kembali duduk di kursinya tadi.
"Bram, gimana?" kata Mami.
"Nomornya hanya sekali pakai mi."
"Apa tidak ada percakapan yang bisa kamu lacak Bram?" tanya Aris.
"Sudah. Ternyata yang menghubungi Gina adalah pengantar paket. Paket datang ke rumah Soepomo bukan ke rumah Wijaya" kata Bram asal comot kebohongan.
__ADS_1
"Oh." jawab Mami yang percaya dengan cerita Bram.
"Selamet gue" kata Bram.