Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Aris Pulang


__ADS_3

Pagi pagi sekali Aris dan Bram sudah menuju bandara, mereka hari ini akan pulang kembali ke negara I setelah selama sebulan lebih bekerja di negara F. Aris sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Gina. Aris juga sudah mendapat kabar dari Maminya kalau Gina sudah setuju untuk menikah dengan Aris setelah Aris pulang dari negara F.


Aris dan Bram sampai di bandara setelah melakukan perjalanan lebih kurang dua jam perjalanan. Setelah sampai di bandara Aris dan Bram langsung masuk kedalam privat jet mereka. Aris dan Bram akan melalui perjalanan panjang selama lima belas jam dengan satu kali transit di negara K.


Aris dan Bram berencana melalui perjalanan panjang kali ini dengan menikmati perjalanan dengan tidur dan beristirahat tanpa adanya omongan masalah pekerjaan. Mereka sudah terlalu letih bekerja di negara F. Selain mengurus perusahaan Z, mereka juga sempat melihat hotel yang sedang dibangun di daerah pegunungan yang terkenal di negara F.


GINA


Gina yang terbangun tengah malam melihat ponselnya, ternyata tidak ada notifikasi pesan dari Aris. Gina sudah tau dari Aris kalau pekerjaan di negara F sudah selesai. Sayangnya Aris tidak mengatakan kepada Gina kapan mereka akan pulang, Aris hanya mengatakan akan melihat perkembangan pembangunan hotel di negara F terlebih dahulu.


Pagi hari Gina sudah terlihat sangat rapi, hari ini Gina sangat ingin tampil cantik dari pada biasanya. Gina memakai dress berwarna navy dengan panjang dibawah lutut sedikit. Gina memoles mukanya dengan riasan natural seperti biasa Gina ke kantor. Gina kemudian turun menuju ruang makan. Gina telah ditunggu sarapan oleh keluarga besarnya.


"Wow, tumben pake dress?" kata Afdhal.


"Mau aja. Emang kenapa? Mau pake dress juga Uda?"


"Mana ada."


Nana yang melihat kakak beradik ini ribut tiap hari hanya mampu tersenyum saja. Nana tau dibalik ribut mereka, mereka berdua sangat saling menyayangi.


"Mau meeting keluar Gin?" tanya Nana saat melihat tampilan Gina.


"Nggak Na. Lagi pengen aja. Atau Gina tukar aja ya bajunya?"


"Nggak usah sayang kamu cantik."


Mereka kemudian sarapan tanpa ada Ayah. Ayah sedang ke Negara U karena dapat telpon dari Paman Hendri, kalau ada salah satu perusahaan yang mau bekerja sama dalam pembangunan hotel.mewah di Negara U. Makanya Ayah harus kesana melihat dulu daerah yang akan dibangun hotel mewah itu.


Gina selesai sarapan, hari ini dia sedang tidak ingin membawa mobilnya. Makanya Gina ikut dalam mobil Afdhal. Afdhal hanya pasrah saja dengan adik kecilnya ini.


"Tumben Gin, nggak mau bawa mobil. Loe sehari ini aneh aneh ajalah Gin. Ada apa, cerita aja Gin" tatap tajam Afdhal ke mata Gina.


"Emang kelihatan banget ya Uda?"


"Kelihatan lah. Emang ada apa? Aris lagi?"


Gina mengangguk mengiyakan pertanyaan Afdhal.


"Gina, yang namanya pengusaha, apalagi Aris CEO Soepomo dan Jaya Grub, tentu dia sangat sibuk. Kamu harusnya mengerti dan mendorong dia agar semakin maju. Bukan sewot nggak tentu arah kayak gini Gin."


Gina memahami semua perkataan Afdhal. Afdhal memang benar, Aris memang sangat luar biasa sibuknya, apalagi dengan mengurus dua perusahaan besar itu.


"Ngomong - ngomong hadiah taruhan di Bali sudah kamu ambil Gin?"


"Belum Uda, untung Uda ingetin Gina. Apa bagusnya ya Uda?" Gina menatap Afdhal.


"Gini aja Gin. Uda dalam minggu besok ada kerjaan keperusahaan kita yang di Padang. Kamu ajak aja Aris dan Bram. Kita bawa Aris ke kebun durian yang ada di Kab. S itu. Uda denger Aris sangat tidak suka durian, sedangkan Bram pecinta durian. Bagaimana?" Afdhal memberikan usulan yang membuat senyum devil Gina terbit.


"Wah ide bagus. Aku akan bawa Mira dan Sari juga lah uda. Malez jadi wanita satu satunya diantara kalian bertiga." kata Gina dengan yakin.


"Gimana mau bawa mereka. Sari mulai senen depan akan dinas keluar kota. Mira nggak tau karena dia kerja diperusahaan Bayu."


"Aku telpin Mira aja nanti. Ajak dia dan Bayu sekalian. Lebih rame makin asik kita nungguin duriannya jatuh"

__ADS_1


Tak terasa mereka sampai di kantor. Afdhal langsung masuk kedalam ruangannya yang berada di lantai paling atas gedung itu. Sedangkan Gina masuk kedalam ruangannya. Gina hari ini akan membuat sebuah desain kafe milik Bayu. Bayu memberikan kerjasama itu kepada perusahaan Bramantya Grup. Gina sangat serius dalam membuat desainnya, ini adalah proyek pertama Gina. Gina tidak ingin mengecewakan perusahaannya.


ARIS


Tak terasa penerbangan yang melelahkan itu akhirnya selesai juga. Aris dan Bram telah mendarat kembali di ibu kota negara I.


"Loe mau langsung keperusahaan Bramantya Ris?"


"Yup. Loe pulang aja sana. Nggak usah ke kantor" perintah Aris kepada Bram.


"Gue ke kantor bentar Ris. Ada yang harus gue cek terlebih dahulu."


"Yup. Hati hati"


Mereka berdua berpisah di bandara menaiki kendaraan masing-masing. Aris akan menuju kantor Gina, sedangkan Bram akan ke kantor utama Seopomo Grub.


Aris mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kantor Gina. Aris ingin segera sampai dan menyerahkan hadiah yang dibelinya di negara F. Setelah berkendara selama satu jam, Aris akhirnya sampai juga di tempat kerja Gina. Aris langsung masuk kedalam perusahaan Bramantya. Ini kali pertama Aris masuk kedalam perusahaan itu.


"Permisi, ruangan tuan Afdhal dimana?" kata Aris kepada resepsionis.


Resepsionis yang seperti melihat aktor korea yang terkenal itu langsung memasang wajah terkagum kagum.


"Hello" kata Aris sambil mengibaskan tangannya di depan wajah resepsionis itu.


Aris yang kesal langsung mengeluarkan ponselnya menghubungi Afdhal.


"Dal, ruangan loe lantai berapa? Gue tanya sama resepsionis loe, dia melongo kayak orang tersentrum" kata Aris dengan jengkelnya.


"Hahahahaha. Makhluk ganteng masuk kantor gue ya jelas aja resepsionis gue melongo. Loe naik aja pake lift yang sebelah kanan. Tekan aja tombol hijau. Nanti loe akan keluar tepat di depan pintu ruangan gue." perintah Afdhal menjelaskan.


"Untung nggak pegawai gua. Coba kalau iya, udah berada di jalanan kalian sekarang" kata Aris dengan kasarnya.


Resepsionis yang mendengar ucapan Aris langsung sadar dan merasa bersalah atas tindakan mereka tadi.


Aris kemudian masuk kedalam lift yang dikatakan oleh Afdhal. Aris langsung memencet tombol hijau untuk menuju ruangan Afdhal. Sesampai di lantai yang dituju, Aris langsung masuk kedalam ruangan Afdhal.


"Wah siapa ini yang datang keperusahaan kecil ini. Seorang CEO pemilik dua perusahaan raksasa." kata Afdhal sambil menuju Aris.


"Hm. Gue kira yang jadi bos Gina bukan elo." jawab Aris sambil langsung duduk di sofa ruangan Afdhal.


"Gina? Mana mau tu anak jadi direktur." jawab Afdhal sambil meletakkan beberapa minuman di atas meja.


"Ngomong ngomong jam berapa dari negara F?"


"Subuh. Tapi kalau menurut jam di negara I, mahgrib kemaren kami berangkat. Mana Gina dia?" tanya Aris penasaran dan juga rindur berat.


"Bentar gue panggilin. Tapi loe ngumpet dimana gitu, dia nggak tau loe udah pulang."


"Sip. Gue ke ruangan asisten loe aja." Aris kemudian menuju ruang asisten Afdhal.


Asisten Afdhal yang sedang bekerja langsung kaget melihat CEO Perusahaan Soepomo masuk kedalam ruangannya. Aris memberi kode kepada asisten Afdhal untuk diam tidak mengeluarkan suara.


Gina yang ditelpon Afdhal untuk menemuinya, tanpa rasa curiga langsung saja menuju ruanhan Afdhal. Gina benar benar tidak tau ada apa Afdhal memanggilnya.

__ADS_1


"Assalamualaikim Uda."


"Waalaikumsalam, masuk Gin. Biarkan aja pintunya terbuka."


"Tumben? Kenapa?" Gina menatap curiga Afdhal.


"Ada pekerjaan yang menuntut Budi mantan asisten kamu itu untuk bolak balik keruangan ini." jawab Afdhal dengan wajah meyakinkan.


"Oh. Terus kenapa nyuruh kemari?" Gina kemudian duduk di sofa.


"Ada yang harus uda bicarakan sama kamu. Ini masalah tentang desain yang sedang kamu buat. Bayu meminta konsepnya itu diubah menjadi kekonsep tradisional."


Mereka berdua serius dalam berdiskusi. Gina tidak menyadari kalau Aris sudah berdiri dibelakangnya dengan membawa buket bunga dan kotak perhiasan yang sudah dibelinya di negara F.


"Sayang" panggil Aris dengan lembutnya.


"Uda, aku seperti mendengar suara kak Aris. Apa aku sebegitu kangennya ya Uda, sampai sampai aku seperti mendengar suara kak Aris." kata Gina sambil memegang pundaknya.


"Ngapain kamu pegang pundak, emangnya Aris hantu" kata Afdhal sambil tersenyum mengejek ke Aris.


"Sayang" panggil Aris sekali lagi.


"Uda" kata Gina dengan takutnya. Gina kemudian bergeser ke arah Afdhal.


"Sayang, kamu kira aku hantu?" kata Aris langsung berdiri di depan Gina.


Surpraise yang akan diberikan Aris langsung gagal total, karena gina menganggap Aris hantu.


"Sayang kapan datang, kok nggak ngomong. Aku kan bisa jemput di bandara." kata Gina sambil memeluk Aris.


"Hm main peluk, tadi anggap Aris hantu" Afdhal menyindir Gina.


"Biarin" balas Gina.


"Sayang ini" Aris memberikan buket bunga dan sebuah kotak perhiasan.


Gina mengambil bunga dan langsung menciumnya. Kemudian dia membuka kotak perhiasan, ternyata di dalamnya ada kalung berlian yang sangat cantik.


"Pakaian sayang" kata Gina manja kepada Aris.


Aris kemudian memakaian kalung itu di leher Gina. Afdhal yang melihat langsung berbalik badan. Afdhal tidak mau merusak kesucian matanya.


"Suka?"


"Suka sayang."


"Uda berbalik." perintah Gina


Mereka bertiga kemudian duduk di sofa ruangan itu.


"Sayang, minggu besok kita ke padang yuk. Aku mau menagih hadiah kemenangan taruhan di Bali." kata Gina menatap penuh harap supaya Aris mau ikut ke Padang. Aris mengangguk menyetujui permintaan Gina. Mereka kemudian membicarakan beberapa hal yang dirasa sangat perlu untuk dibawa ke Padang.


Tak terasa hari sudah sore. Gina diantar pulang oleh Aris. Sedangkan Afdhal pulang sendirian. Hari ini Aris tidak singgah di rumah Gina. Dia langsung pulang karena sangat letih setelah menempuh penerbangan yang sangat panjang. Sedangkan Gina langsung masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri dan beristirahat. Gina juga capek seharian bekerja membuat desain yang belum selesai itu. Gina harus menyelesaikannya dengan cepat, kalau tidak maka dia tidak bisa ikut ke Padang. Bayu dan Mira sudah menyetujui akan ikut juga. Bram sudah pasti akan ikut. Bram tidak akan membiarkan Aris pergi sendirian. Bram adalah bayang bayang dari Aris.

__ADS_1


"


__ADS_2