Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
EKSTRA 25


__ADS_3

"Ayo kita ber fhoto keluarga besar. Biar para wartawan mendapatkan fhoto kita bersama sama yang terbaru, apalagi dengan adanya Zey. Cucu cantik aku ini" ujar Ghina dengan semangat dan meminta semua anggota keluarganya untuk berkumpul. Mereka semua akan melakukan fhoto bersama.


Mereka kemudian berfhoto keluarga dengan formasi lengkap. Wartawan dan beberapa fotografer yang memang di sewa oleh Argha mengabadikan fhoto mereka sekeluarga. Kejadian langka yang tidak akan terjadi dua kali dalam satu tahun. Tahun kemaren saja Aris dan Ghina tidak merayakan ulang tahun pernikahan mereka karena Daniel dan Rani tidak bisa pulang ke negara I.


"Terimakasih kepada semua rekan rekan wartawan dan juga fotografer. Silahkan nikmati acara pesta ulang tahun Daddy dan Nana." ujar Argha menyampaikan ucapan terimakasih dari keluarga Soepomo untuk semua wartawan dan jurnalis serta fotografer yang sudah bersedia untuk mengabadikan fhoto keluarga yang mereka lakukan tadi.


Keluarga Soepomo kemudian berjalan masuk ke dalam ballroom hotel tempat acara akan diadakan. Tiba tiba terdengar suara riuh yang membuat keluarga Soepomo berhenti berjalan dengan seketika.


"Abang, uni. Apa kalian berdua akan melangsungkan acara tanpa kehadiran kami berdua?" ujar seorang pria yang suaranya sudah lama dirindukan oleh Aris dan Ghina serta anggota keluarga yang lainnya.


Semua anggota keluarga Soepomo langsung kaget melihat siapa yang datang. Mereka tidak menyangka sepasang suami istri itu akan datang. Aris dan Ghina benar benar yakin kalau Bram dan Sari tidak akan datang, karena alasan Bram, pekerjaan yang sedang menumpuk di perusahaan.


Mereka semua berlari menuju Bram dan Sari yang sudah lama tidak pulang. Terakhir mereka bertemu adalah saat Papi Soepomo sedang dalam kondisi sakit parah. Saat itulah Bram dan Sari pulang ke negara I. Setelah kematian Papi, Bram dan Sari tidak pernah pulang lagi. Mereka berdua menyibukkan diri dengan mengembangkan perusahaan masing masing.


"Gue kira kalian berdua memang tidak akan datang dalam acara ini" ujar Ghina sambil melihat ke wajah Sari sahabat lama Ghina.


"Nggak mungkin gue nggak akan datang ke acara penting ini. Apapun pekerjaan penting yang ada di sana, lebih penting kalian berdua bagi kami" ujar Sari menjawab perkataan yang diajukan oleh Ghina kepada Sari dan Bram.


Ghina dan Sari berpelukan sangat lama sekali. Sari yang dulunya adalah sahabat Ghina, sekarang sudah menjadi adik ipar Ghina. Suatu perubahan yang sangat sangat disyukuri oleh mereka berdua.


Aris yang melihat Bram berada di sana langsung berlari memeluk adiknya itu. Aris dan Bram saling berpelukan dengan waktu yang lama. Semua wartawan mengabadikan fhoto yang sangat jarang mereka dapat. Aris dan Bram memang kakak beradik yang sangat dekat, tetapi untuk berpelukan seperti ini, terakhir mereka lakukan adalah saat Papi meninggal dunia. Mereka saat itu saling berpelukan karena menguatkan satu sama lainnya. Mereka benar benar kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidup Aris dan Bram.


"Kalian benar benar mengerjain kami" ujar Aris yang sangat bahagia adiknya datang. Aris sebenarnya sudah akan menggagalkan acara itu, karena Bram yang tidak bisa hadir. Cuma karena itu pernikahan ke dua puluh lima mereka, Aris tetap berusaha untuk membuat acara tersebut.


"Abang, abang. Abang pikir ajalah sendiri. Ada mungkin kami tidak akan datang ke acara Abang dan Uni yang sangat penting ini?" ujar Bram menjawab perkataan dari Aris.


Waktu itu memang ada Aris menghubungi Bram untuk mengatakan dia harus pulang saat acara ulang tahun pernikahan Aris dan Ghina. Tetapi jawaban Bram saat itu adalah nggak bisa datang karena sibuk. Akhirnya Bram dan Sari tetap datang dan menepati janji mereka untuk akan selalu mengikuti agenda kegiatan keluarga.

__ADS_1


"Jadi kamu sengaja mengerjai abang kamu yang sudah tua ini?" tanya Aris kepada Bram yang sekarang sudah mengurai pelukan mereka berdua.


"Yup" jawab Bram sambil melihat ke kakaknya yang sama sekali tidak ada terlihat tua itu.


Plak. Sebuah tamparan sayang mendarat di pipi Bram. Bram tersenyum kepada Aris. Mereka berdua memang selalu melakukan hal itu, apabila salah satu dari mereka merasa dikerjai oleh yang lain.


"Haha haha haha. Kamu tetap tidak berubah Bram walaupun sudah dua tahun lebih kita tidak bertemu" ujar Aris kepada Bram, adik kesayangannya itu.


"Apa yang mau berubah Kak. Kakak juga tidak berubah" balas Bram memuji Aris yang juga tidak berubah semenjak terakhir kali mereka bertemu dua setengah tahun yang lalu saat kematian Tuan besar Soepomo.


Dari arah luar terdengar kembali keributan dan suara panggilan panggilan yang sangat ribut sekali. Panggilan itu berasal dari wartawan dan reporter surat kabar dan media televisi yang diundang oleh perusahaan Soepomo Grub dan GA Grub.


"Siapa lagi?" ujar Ghina bertanya kepada Sari.


Sari yang juga tidak tahu siapa yang datang juga menggeleng menjawab pertanyaan dari Ghina. Mereka berdua menyimak panggilan panggilan yang dilakukan oleh para wartawan dan juga reporter itu.


Makanya sangat sulit mencari fhoto Bayu dan Mira di majalah majalah bisnis yang bertebaran dimana mana.


"Kita tengok ke sana Ghina, apa mereka berdua mau berfhoto" ujar Sari yang sangat penasaran apakah Mira dan Bayu mau berfhoto di red carpet atau tidak sama sekali.


Ghina dan Mira melihat dari jauh, Bayu dan Mira ternyata mau berfhoto bersama di depan para wartawan dan reporter yang ada di acara itu.


"Keren mereka mau." ujar Sari yang tidak bisa membayangkan bagaimana Mira dan Bayu menahan rasa kesal mereka saat mereka berdua harus di fhoto dalam kondisi berdua seperti itu.


Ghina dan Sari memutuskan untuk bertepuk tangan memberikan selamat kepada Bayu dan Mira karena sudah mau berfhoto di red carpet acara ulang tahun pernikahan Aris dan Ghina yang ke dua puluh lima tahun.


Mira yang mendengar ada orang yang bertepuk tangan saat mereka selesai berfhoto langsung melirik ke arah sumber suara tepukan. Mira melihat kedua sahabatnya sudah berada di sana.

__ADS_1


"Woi. Pulang loe?" Mira berteriak hebat saat melihat Sari sudah berdiri di sebelah Ghina.


"Haha haha haha. Sudah masak iya gue nggak balik. Mau di taruh di mana muka gue saat gue balik besok" ujar Sari menjawab teriakan Mira dengan teriakan pula.


Aris, Bram dan Bayu menatap ke arah Ghina, Sari dan Mira dengan kompak. Ketiga wanita itu tidak sadar kalau begitu banyak wartawan da reporter yang ada di sana. Untung saja para tamu belum ada yang datang. Kalau sudah ada hem betapa malunya mereka semua. Tetapi, Aris, Bram dan Bayu sudah paham bagaimana sifat dan kelakuan dari Ghina, Sari dan Mira. Mereka bertiga akan acuh saja dan tidak ambil pusing dengan para orang orang yang akan melihat tingkah mereka bertiga.


Argha yang melihat kalau Bayu dan Mira sudah datang ke hotel tetapi sama sekali belum melihat Bree dan Vian ada di sana.


"kemana Bree, ya Hen?" ujar Argha bertanya kepada Hendri saat dia sama sekali tidak melihat ada Bree di antara Papi Bayu dan Mami Mira.


"Sepertinya belum datang Tuan Muda. Apa perlu saya tanyakan kepada Tuan Bayu?" ujar Hendri menawarkan dirinya untuk bertanya kepada Bayu tentang keberadaan Bree yang tidak terlihat di tempat acara.


"Jangan loe, biar gue aja yang tanya ke Papi Bayu. Kalau loe yang tanya, tentu mereka akan heran, kenapa tidak gue aja yang langsung bertanya kepada mereka" ujar Argha yang melarang Hendri untuk bertanya kepada Bayu dan Mira tentang dimana Bree sekarang.


Argha melangkahkan kainya dengan gagah menuju tempat Bayu yang sedang mengobrol dengan Aris dan Bram.


"Papi Bayu, kok Argha sama sekali tidak melihat keberadaan Bree di sini?" ujar Argha bertanya kepada Bayu karena sama sekali tidak melihat keberadaan Bree diantara Mira dan Bayu.


"Palingan sebentar lagi Argha. Tadi memang kami berdua berangkat duluan. Bree akan berangkat dengan Vian ke sini" jawab Bayu dengan ramah kepada Argha.


Bayu sekarang semakin yakin kalau yang mengirim bucket bunga besar ke Bree adalah Argha. Keyakinan Bayu semakin kuat dengan melihat Argha yang terus melihat ke arah pintu masuk hotel.


Bayu menepuk pundak Argha. "Sebentar lagi dia akan datang" ujar Bayu meyakinkan Argha sekali lagi kalau Bree pasti akan datang sebentar lagi.


Argha menatap ke arah pintu masuk hotel tetapi sama sekali tidak melihat keberadaan Bree disana.


Aris melihat apa yang dilakukan oleh anaknya itu. Argha memang berada di hotel, tetapi pikirannya berada di luar hotel.

__ADS_1


'Sepertinya ada sesuatu di sini' ujar Aris menatap ke arah Argha.


__ADS_2