Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Mami Lagi


__ADS_3

Mami membuka pintu apartemen. Dia terlihat kaget saat melihat Papi dan Aris sudah berdiri di depan pintu apartemen.


"Mari masuk Pi, Aris." ujar Mami dengan ramah.


"Papi dan Aris pasti mau menjemput Mamikan??" ujar Mami dengan pedenya.


Brang


Aris menggebrak meja kaca yang menjadi meja tamu itu. Mami kaget luar biasa mendengar bunyi meja yang ditinju dengan kuat. Tangan Aris mengeluarkan darah. Papi memberikan sapu tangannya.


"Kami ke sini bukan untuk menjemput anda pulang Nyonya besar, kami ke sini menuntut penjelasan dari Anda tentang video ini." ujar Aris memperlihatlan video tersebut kepada Mami.


Mulut Mami terbuka lebar, Mami tidak menyangka semua perbuatannya terhadap Arga di ketahui oleh Papi dan Aris. Mami terdiam cukup lama. Dia tidak membayangkan hal ini bisa terjadi. Dia merasa kalau dia sudah bermain aman selama ini.


"Kenapa kamu terdiam Nyonya?" tanya Aris.


"Anda kaget semua perbuatan Anda bisa kami ketahui???" tanya Aris dengan tatapan dinginnya.


Mami membuka mulutnya, dia ingin membela dirinya. Tapi Mami kembali menutup mulutnya.


"Apa salah istri dan terutama sekali apa salah anak anak ku terhadap Nyonya?"


"Anda tau kan Nyonya, anak adalah jiwa hidup orang tua." lanjut Aris.


Mami mengangguk.


"Anda sebenarnya orang tua atau tidak, kenapa Anda begitu tega berbuat seperti itu dengan darah daging Anda sendiri. Bener bener heran Saya dengan sikap Anda ini." ujar Aris sambil geleng geleng kepala.


Mami masih saja membungkam mulutnya. Mami sama sekali belum mengeluarkan suaranya.


"Kenapa Anda sekarang diam. Kenapa mulut Anda seperti orang bisu??? Saat menghardik anak saya Anda seperti manusia yang paling benar di atas dunia." ujar Aris semakin emosi karena melihat Mami yang diam saja.


"Silahkan ngomong. Ngapain diam." cecar Aris kembali.


Mami tetap dengan mode tutup mulutnya.


"Nyonya," panggil Papi.


Mami yang mendengar suaminya memanggil dia dengan panggilan Nyonya hanya bisa menatap Papi dengan tatapan tidak percaya


"Apa Pi? Nyonya? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Mami kepada Papi.


"Tidak, Anda tidak salah dengar. Saya mulai hari ini tidak menganggap Anda adalah istri saya lagi. Mulai detik ini secara sadar saya menyatakan kalau Anda bukan lagi istri Saya. Pengacara akan mengurus perceraian kita." ujar Papi sambil menatap tajam ke arah Mami.

__ADS_1


"Pi, sekian puluh tahun Mami menemani Papu. Mulai dari waktu perusahaan belum sebesar ini. Tetapi kenapa sekarang saat perusahaan sudab besar, Papi malah memilih menceraikan Mami. Apa salah Mami Pi?" tanya Mami kepada Papi.


Papi memandang tidak percaya ke arah Mami. Mami masih menanyakan apa kesalahannya. Papi benar benar tidak habis pikir dengan Mami.


"Anda masih bertanya apa kesalahan Anda Nyonya? Apa perlu saya menguraikannya satu persatu?" tanya Papi kepada Mami.


"Ya sebutkan semuanya." ujar Mami menantang Papi.


Ntah keberanian darimana menghampiri Mami. Membuat Mami berani menantang Papi.


"Oh oke akan saya sebutkan satu persatu." ujar Papi.


"Pertama, Anda memfitnah cucu pertama saya sudah mencuri perhiasan Anda. Padahal Anda sendiri yang meletakan pergiasan tersebut di kamar cucu saya." ujar Papi.


"Itu sudah saya akui dan saya juga sudah menjalani hukumannya." ujar Mami menantang Papi.


"Anda memprifokasi para investor untuk keluar dari Soepomo Grub karena mengatakan kalau cucu ketiga saya adalah seorang anak berkebutuhan khusus yang tidak akan bisa mengurus perusahaan di kemudian hari." lanjut Papi membuka semua kebusukan Mami


"Saya juga sudah menerima konsekuensinya." jawab Mami masih dengan keberaniannya.


"Selanjutnya Anda beberapa kali berusaha melukai cucu kandung saya. Ini adalah hal terfatal yang Anda lakukan, hal ini membuat Saya tidak bisa lagi memaafkan atau mentoleransi kesalahan Anda." ujar Papi sambil menunjuk muka Mami dengan telunjuk kirinya.


"Saya tidak pernah melukai Argha. Dia sendiri yang terjatuh dan dia sendiri yang berniat untuk melukai dirinya. Jelas dia anak autis." ujar Mami membela diri.


Plak.


"Kamu!!!" tunjuk Mami kepada Papi.


"Masih sukur satu saya kasih kamu tamparan. Kalau bertubi tubi bagaimana? Tamparan itu masih belum pas dengan perlakuan kamu ke Argha." ujar Papi.


"Aku tidak melakukan apa apa sama dia. Mana buktinya aku melakukan sesuatu kepada dirinya." teriak Mami yang sudah frustasi.


"Kamu mau bukti. Sudah ada rekaman masih juga kamu tidak mengakuinya? Masih juga kamu minta buktinya?" teriak Papi tidak kalah kerasnya.


"Hahahahaha. Rekaman video bisa di edit. Saya tau siapa itu keluarga Soepomo. Jadi kalian tidak bisa menipu saya." ujar Mami.


Ucapan Mami semakin membuat Papi meradang. Mami sudah berani beraninya mengatakan hal negatif tentang keluarga Soepomo.


Plak


Kembali sebuah tamparan mendarat di pipi Mami. Sekarang lebih keras dari pada yang tadi.


"Itu untuk ucapan Anda yang sudah berani menghina keluarga saya." ucap Papi.

__ADS_1


Sedangkan di luar apartemen milik Mami. Argha dan Bram tidak bisa mendengar apapub. Papi sengaja membuat apartemen tersebut menjadi kedap suara.


"Papi, kenapa Daddy dan Atuk lama sekali di dalam?" tanya Argha sambil menatap pintu apartemen yang tertutup rapat.


"Papi juga nggak tau Gha. Kita doakan saja supaya Daddy dan Atuk tidak emosi." jawab Bram.


"Aamiin." jawab Argha.


"Oh ya Gha. Waktu di negara U, Argha tinggal di hotel kemaren?" tanya Bram.


Bram hanya asal comot percakapan saja. Bram sudah tidak tau akan membahas topik apalagi dengan Argha.


"Nggak Pi. Kami tinggal di mansion." jawab Argha.


"Di Mansion?" tanya Bram kembali


"Iya Pi di mansion." jawab Argha.


"Papi ragu?" tanya Argha.


Bram menggeleng, dia sudah mengetahui kekayaan Gina dari Sari. Cuma Bram baru tau kalau Gina memiliki mansion di negara U.


Argha mengambil ponselnya dari dalam tas ransel yang selalu dibawa bawanya itu. Argha membuka galeri ponselnya. Dia memberikan ponselnya kepada Bram.


"Papi itu fhoto mansion Argha." ujar Argha.


Bram mengambil ponsel Argha. Dia melihat semua fhoto fhoto Argha. Ternyata memang benar mereka selama ini tinggal di mansion yang letaknya di pinggiran ibu kota negara U.


Setelah melihat fhoto Arga. Argha dan Bram bercerita banyak hal. Mulai dari apa saja usaha yang dimiliki Gina. Serta apa saja yang diberikan Gina untuk Daniel, Frenya dan Arga. Ternyata Gina sudah membagi semuanya dengan adil dan sesuai dengan keinginan ketiga putranya.


"Argha, apakah Argha nggak cemburu ke Daniel dan Frenya?" tanya Bram.


"Cemburu??? Maksud Papi apa ya? Argha gagal paham." kata Argha.


"Maksud Papi, Frenya dan Daniel kan bukan saudara kandung Argha. Nah pertanyaan Papi, apakah Argha marah karena Daniel dan Frenya juga mendapatkan warisan yang sama besar dengan Argha." Bram mebguraikan maksud pertanyaannya kepada Argha.


"Nggak. Argha sama sekali tidak cemburu. Malahan Argha sangat senang kalau Daniel dan Frenya mendapat bagian yang sama dengan Argha, Pi." jawab Argha.


"Papi, bayangin aja betapa besarnya GA Grub, kalau Daniel nggak ada siapa yang ngurus GA Hospital. Andai Frenya nggak ada, siapa yang akan ngurs GA Cabang yang banyak di berbagai negara." lanjut Argha.


"Makanya Pi. Argha sama sekali tidak cemburu dengan semua keadaan itu. Argha malahan senang beban Argha jadi berkurang."


"Hahahahahaha. Kamu memang bener bener dewasa Gha. Papi bangga sama kamu." ucap Bram dengan penuh ketulusan.

__ADS_1


"Papi memang harus bangga punya keponakan kayak Argha ini. Pintar udah nggak diragukan lagi. Ganteng udah sangat wow. Kaya apalagi. Jadi Arga ini adalah paket komplit limited edition." jawab Arga.


"Hahahahaha. Capek Papi ketawa Gha." ujar Bram yang menyerah meladani Argha berbicara.


__ADS_2