Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
EKSTRA 1


__ADS_3

Argha sudah beranjak dewasa, dia sekarang sedang kuliah di salah satu kampus ternama di negara A. Argha di sana kuliah bersama dengan Bree anak dari Mira dan juga Bayu sahabat kedua orang tuanya.


"Bree, kamu ikut pulang nggak? Gue rencana pulang ke negara kita besok" ujar Argha saat mereka berdua bertemu di kelas saat perkuliahan mau dilakukan oleh dosen.


"Ngapain Gha?" tanya Bree yang penasaran kenapa Argha mendadak mau pulang ke negara mereka.


"Lusa adalah hari ulang tahun pernikahan Nana dan Daddy yang ke dua puluh lima." ujar Argha memberitahukan kepada Bree sambil berbisik karena dosen sudah masuk ke dalam kelas.


"Oh baiklah. Mari kita pulang besok" ujar Bree dengan semangatnya.


Bree juga sudah kangen dengan Papi dan Mommynya. Apalagi dengan adiknya yang baru berusia tiga tahun yang sedang lucu lucunya bernama Vian.


"Sip. Kita terbang subuh. Pesawat sudah di bandara nanti siang" ujar Argha memberitahukan kepada Bree kalau pesawat yang menjemput mereka akan mendarat siang di negara A.


"Kalau siang mending kita pulang sore saja. Biar cepat sampai di mansion" ujar Bree yang giliran untuk tidak sabaran mau pulang ke negara mereka.


"Argha, Bree. Kalau masih ada yang lebih penting dari perkuliahan saya, silahkan kalian bicara di luar saja. Tidak perlu ikut perkuliahan saya." ujar dosen kepada Argha dan Bree yang ditegur karena mengobrol dari tadi.


"Yah kena marah deh" ujar salah satu perempuan yang suka sama Argha tapi di acuhin Argha.


Panggil saja namanya Frenya. Frenya memang cantik tetapi tidak beretika. Hal itu membuat Argha melihatnya menjadi sangat tidak suka sama sekali.


Argha dan Bree yang kena tegur oleh dosen, kemudian membetulkan duduknya. Mereka berdua akan mengikuti perkuliahan dengan sangat serius. Argha dan Bree adalah anak jenius, tanpa diterangkan oleh dosen mereka sudah pasti akan mengerti. Tetapi karena tuntutan keluarga mereka berdua lah, makanya mereka tetap melakukan kegiatan perkuliahan seperti anak anak kebanyakan.


Mereka berdua mengikuti perkuliahan dengan sangat serius. Argha dan Bree kalau sudah serius maka tidak akan ada yang bisa mengusik mereka lagi.


Akhirnya setelah selama dua jam proses pembelajaran selesai juga. Argha dan Bree menyiapkan semua buku buku kuliah mereka.


"Kita pulang sekarang ke mansion Gha?" tanya Bree yang tidak memanggil Kakak kepada Argha.


"Langsung aja. Nanti aku jemput aja ke mansion. Kita sama ke bandara." ujar Argha menjawab pertanyaan dari Bree.


"Jam berapa?" tanya Bree yang tidak mau Argha menunggu lama dirinya nanti di mansion.

__ADS_1


"kita ke bandara jam dua. Terbang jam tiga kata pilot" ujar Argha memberitahukan jam berapa mereka akan terbang.


"Jam satulah kita berangkat ke bandara. Kita nggak tau nanti apakah perjalanan ke bandara lancar lancar aja atau tidak" ujar Bree memberikan usul supaya mereka mempercepat perjalanan menuju bandara.


"Kita juga belum beli oleh oleh untuk orang di mansion" ujar Bree yang teringat dia belum beli apa apa untuk Papi, Mami dan juga Vian.


"Alah Bree Bree, mereka semuanya bisa beli. Ngapain juga dibawain dari sini." ujar Argha yang melarang Bree untuk membawa sesuatu dari negara A.


"Kamu juga jangan kasih tau bibi kalau kita pulang ke negara A hari ini ya. Bisa bisa nanti Bibi ngomong ke Nana." ujar Argha melarang Bree untuk memberitahukan kepada kedua orang tuanya kalau mereka akan pulang ke negara mereka hari ini.


"Sip. Aku nggak akan ngomong. Tapi nanti boleh ya singgah sebentar di toko parfum. Kalau Mami dan Papi nggak masalah. Vian ini ha, dia pasti akan panjang mulutnya kalau aku pulang nggak bawa apa apa" ujar Bree yang sudah sangat mengenal karakter adiknya yang jarak usia sangat jauh dengan dirinya itu.


"Oke kita singgah di toko parfum dulu. Nanti setelah itu baru langsung ke bandara." ujar Argha yang setuju dengan apa keinginan dari Bree.


Mereka kemudian berpisah di parkiran. Bree masuk ke dalam mobilnya sendiri sedangkan Argha juga masuk ke dalam mobilnya. Dua mobil beriringan meninggalkan gerbang kampus. Saat sampai di luar langsung di sambut oleh empat buah mobil yang memposisikan dua di depan mobil Bree, dua di belakang Argha.


Enam mobil bergerak seirama menuju komplek mansion milik keluarga Soepomo di negara A. Argha dan Bree tinggal di sana. Mereka menempati masing masing mansion mereka.


Argha memarkirkan mobilnya di depan tangga mansion. Seorang maid membukakan pintu mansion untuk Argha.


"maafkan saya Tuan Muda. Tapi itu memang sudah tugas saya" ujar Maid yang tidak berani melihat ke arah Argha karena takut dimarahi.


"Okelah Maid kalau begitu. Kali ini aku maafin. Tapi besok besok nggak ada lagi ya maid. Biar Argha buka sendiri itu pintu atau maid mau pintu itu di lepas aja?" ujar Argha kepada maid yang langsung menganga mulutnya mendengar apa yang dikatakan oleh Argha.


"Jangan Tuan Muda, jangan dilepaa pintunya. Saya janji, saya tidak akan membukakan pintu untuk Tuan Muda lagi."ujar maid yang akhirnya terpaksa menurut dengan apa yang diminta oleh Argha.


Maid tidak mau pintu mansion di lepas hanya gara gara dirinya tidak mau mengikuti apa yang dikatakan oleh Argha.


"Gitu dong maid. Itu baru namanya maid di mansion Tuan Argha Aris Wijaya Soepomo" ujar Argha dengan bangganya kepada maid.


Argha masuk ke dalam mansion, tapi baru sampai di ruang keluarga Argha melihat sesosok wanita yang sangat di kenalnya yang gara gara dia juga Argha kehilangan asistennya dari kecil.


"Uni, ngapain uni ke sini?" tanya Argha kepada Frenya yang sedang duduk sambil menunggu jus jeruk.

__ADS_1


"Jemput kamulah. Tapi kamu minta pesawat perusahaan jemput kamu ke sini" ujar Frenya sambil tersenyum kecil kepada adik bontotnya itu yang sekarang sudah duduk di depannya dan merampas jus jeruk milik Frenya.


"main libas aja" uajr Frenya saat melihat jus jeruknya habis nggak bersisa oleh Argha.


"Dikitnyah Uni" jawab Argha sambil memperagakan dengan tangannya berapa banyak yang diminum oleh Argha.


"Jadi ngapain uni bisa sampe sini?" tanya Argha kembali kepada Frenya.


"Kan udah uni jawab, kamu minta pesawat jemput kamu. Nah kebetulan yang bawa pesawat Uda Juan nah kebetulan pula uni nggak ada meeting, jadi Uni ikut. " ujar Frenya menjelaskan kepada Argha kenapa dirinya bisa berada di mansion Argha sekarang


"Oh gitu. Oke oke oke. Berarti uni co pilotnya kan ya?" tanya Argha sambil menatap ke arah Frenya.


"Nggak. Uni penumpang sama kayak kamu" jawab Frenya dengan santainya.


"terus kenapa uni ikut ke sini. Uni kira ke sini sama kayak pergi pipis ke toilet umum? uni aneh" ujar Argha yang tidak menyangka Frenya akan datang ke negara A sebagai penumpang.


"Uni kangen jus jeruk maid" ujar Argha yang memang membawa maid yang paling jago masak dari negara I ke negara A.


"Kayak jus jeruk nggak ada aja di negara I" ujar Argha sambil berdiri dari duduknya.


"mau kemana?" tanya Frenya kepada Argha yang terlihat mau pergi itu.


"Kamar mandi. Uni mau ikut juga kayak dulu?" tanya Argha kepada Frenya.


"Ogah gue mah. Sana mandi. Jam dua belas beragkat. Uni mau ke mall bentar. Beli kado buat Nana dan Daddy. " ujar Frenya yang sudah memikirkan hadiah apa yang akan diberikan kepada Nana dan Daddy.


"yupi. Aku juga mau beli. Tapi kita jemput Bree dulu" ujar Argha setengah berteriak kepada Frenya.


"Biar uni yang jemput" jawab Frenya yang juga berdiri dari kurainya.


"Serah uni aja" jawab Argha.


Frenya kemudian mengambil salah satu kunci mobil. Dia akan menjemput Bree yang jarak mansion sebenarnya bersebelahan. Cuma karena mansion yang sangat luas, membuat Frenya harus menggunakan mobil ke mansion sebelah.

__ADS_1


"Ntah kenapa Daddy sama Papi Bayu membuat mansion segini luasnya. Jadi susahkan mau ke mansion sebelah" ujar Frenya ngedumel sendirian sambil menyetir mobil.


Selagi Frenya pergi menjemput Bree. Argha pergi membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Dia paling tidak mau mandi di pesawat. Argha paling alergi melakukan hal itu.


__ADS_2