Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Ketahuan


__ADS_3

Dokter yang baru keluar dari ruang IGD langsung menghampiri keluarga besar Soepomo dan Wijaya yang sudah menunggu.


"Bagaimana dokter dengan menantu saya?" kata Mami.


"Nyonya Muda dalam kondisi baik baik saja Nyonya. Luka dikepalanya tidak begitu parah." kata dokter yang susah memilih kata kata yang tepat untuk menggambarkan kondisi Gina.


"Maksud kamu tidak begitu parah? Apa harus hancur dulu baru bisa dikatakan parah?" teriak Aris di depan muka dokter.


Dokter yang memeriksa Gina langsung pucat pasi.


"Bukan begitu Tuan Muda. Maksud saya luka di kepala Nyonya Muda tidak mengkhawatirkan. Sebentar lagi Nyonya muda akan dipindahkan ke ruang rawat." lanjut dokter.


"Terimakasih dokter, atas bantuannya" kata Papi


"Sama sama Tuan Besar" lanjut dokter


"Saya permisi dulu. Anda semua bisa menemui Nyonya muda di ruangannya" kata dokter yang kembali masuk ke dalam IGD.


"Sial gue. Kenapa juga harus piket IGD hari ini. jadi ginikan. Susah kalau berurusan dengan Aris Soepomo" kata dokter yang mengurua Gina tadi.


Aris dan semua keluarga langsung menuju ruangan yang dikhususkan untuk keluarga Soepomo. Gina ternyata sudah terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Semua anggota keluarga pergi menemui Gina yang terbaring tak berdaya itu.


"Sayang" kata Aris sambil duduk di kursi sebelah ranjang pasien. Aris memegang tangan Gina. Aris menciumi tangan yang dingin itu.


"Sayang bangun sayang, siapa yang akan nyiapin baju sama yang ngambilin makan aku sayang, kalau kamu tidurnya kayak gini" kata Aris yang tidak tau lagi apa yang akan dikatakannya.


Semua orang meninggalkan Aris yang duduk di sebelah Gina. Semua keluarga Gina dan Aris pindah duduk ke sofa yang ada di kamar itu.


"Saya tidak yakin kalau Gina terpeleset gara gara paket salah antar alamat" kata papi.


"Saya juga tidak yakin. Pasti ada penyebab lain yang mengakibatkan Gina sampai jatuh tidak tau kalau dia sudah sampai di ujung tangga" kata ayah.


"Tapi apa penyebabnya?" tanya Nana.


"Tenang itu urusan gampang. Serahkan saja sama papi. Papi akan cari tau. Susah ngandelin Bram." kata papi yang melihat Bram tajam.


Papi tau Bram menutupi sesuatu dari mereka semua. Tapi papi tidak ingin mendesak Bram di tengah tengah keluarga besar Wijaya yang sedang berduka itu.


"Mami, kita pulang dulu. Besok pagi kita yang jagain Gina, gantian dengan ayah dan nana" kata Papi.


"Tapi Pi"

__ADS_1


"Mami, lebih baik seperti itu. Jadi kita bisa gantian jaga Gina" kata Nana menyetujui pendapat papi.


"Ya udah. Besok, saya pagi pagi sekali akan ke sini. Sekalian bawa sarapan" kata Mami yang terlihat sangat enggan meninggalkan Gina.


Keluarga Soepomo dan Bram pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka akan kembali lagi besok pagi untuk menjaga Gina. Sopir membawa mobil dengan kecepatan penuh. Jalanan yang sepi mendukung untuk melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Tidak berapa lama mereka sampai di rumah utama.


"Mi, papi mau berbicara dengan Bram. Mengenai perusahaan selama Aris menjaga Gina di rumah sakit"


"Baik Pi"


Bram mengikuti Papi masuk ke dalam ruang kerjanya. Bram sudah tau ada sesuatu yang penting yang akan dibicarakan oleh Papi.


"Duduk Bram."


Bram kemudian duduk di sofa berhadap hadapan dengan papi.


"Ada apa Pi?"


"Jawab jujur Bram. Papi tau kamu pasti tau ada sesuatu yang salah. Papi tau siapa Gina, Bram. Gina bukan tipe perempuan ceroboh yang hanya gara gara paket bisa jatuh dari tangga" kata Papi menafap Bram.


Bram terdiam seribu bahasa. Bram tidak tau akan mulai dari mana untuk membicarakan hal ini. Bram sangat takut untuk menyampaikannya.


"Angkat kepala kamu Bram. Katakan apa yang terjadi" kata papi yang sudah tidak bisa ditawar lagi.


"Tapi papi harus berjanji akan mengumpulkan bukti terlebih dahulu baru papi akan marah besar. Kalau papi tidak berjanji maka dengan mengatakan beribu maaf Bram tidak akan mengungkapkan Pi" kata Bram.


"Baik pegang janji papi sama kamu. Sekarang cepat katakan, apa yang terjadi" kata Papi yang sudah tidak sabar.


"Jadi sebenarnya Gina terjatuh dari tangga salah satu penyebabnya dari Aris sendiri" kata Bram.


"Maksud kamu Bram?"


"Ya Pi. Gina mengetahui dan sudah memiliki bukti pesan dan telpon antara Aris dan Vina"


"Vina, maksud kamu?" kata Papi.


"Ya, Vina sekretaris Aris. Mereka memiliki hubungan yang spesial di belakang Gina"


"Kamu apakah tau?"


Bram mengangguk

__ADS_1


"Bram tau Pi. Tapi Bram belum punya bukti kuat untuk mendepak Vina dari perusahaan. Terlebih Aris sepertinya mabuk berat dengan Vina."


"Maksud kamu?"


"Ya Pi. Biasanya Aris pergi meeting pasti bawa Bram. Sekarang tidak lagi, Aris berusaha mencari cara agar Bram selalu bekerja di Jaya Grub."


"Terus maksud kamu, mengatakan jatuhnya Gina dari tangga salah satu penyebabnya adalah Aris. Apa yang terjadi?" Papi menatap tajam Bram.


"Jadi gini pi. Kami bertiga berencana selama papi dan mami tidak di rumah akan menginap di rumah keluarga Wijaya. Nah hari itu, Aris dan Gina sudah di rumah keluarga Wijaya. Tiba tiba Aris menerima telpon dari seorang pengusaha bernama Alex. Alex ternyata adalah rekan bisnis Gina. Aris bertemu dengan Alex di sebuah restoran untuk membahas kerjasama mereka. Setelah meeting itu selesai, Alex terlebih dahulu pulang barulah Aris pulang. Ternyata Aris tidak langsung menuju kediaman Wijaya, tetapi ke kafe Z pergi menemui Vina." kata Bram.


"Terus, apa yang dilakukan Aris di kafe itu bersama wanita jalang itu?" kata Papi yang sudah mulai naik darah.


Mami yang mendengar langsung masuk ke dalam ruang kerja. Mami menyimak alur cerita yang hanya sepenggal itu.


"Gina memiliki rekaman yang terjadi di kafe Z pi" kata Bram sambil menunduk.


"Kenapa Gina bisa punya? Apa Gina kenal dengan pemilik kafe?" tanya Papi.


"Bram tidak tau Pi. Yang jelas saat Gina jatuh dari tangga, Gina sedang melihat video Aris dan Vina yang sedang berpelukan mesra dan berciuman" kata Bram sambil menunduk.


"Maksud kamu Bram. Aris selingkuh dengan sekretarisnya?" kata Mami yang syok mendengar penuturan Bram.


"Iya Mi. Semua bukti ada di tangan Gina." kata Bram sambil menunduk.


"Anak itu. Papi panggil dia pulang. Mami tidak mau, hal ini terbongkar di keluarga Wijaya dan di luar. Mau kemana kita umpetin muka keluarga kita Papi" kata Mami yang mulai marah kepada anak kesayanganya.


"Mami sabar Mi. Nanti jantung mami kumat" kata Bram.


Bram memberikan air mineral kepada Mami. Mami labgsung meneguknya sampai habis.


"Bram, menurut kamu. Apa Gina sudah membicarakan masalah ini dengan keluarga besarnya?" kata Papi.


"Sepertinya tidak Pi. Kalau Gina memberi tahu, sudah pasti Ayah dan Afdhal tidak tinggal diam saat melihat Aris. Kita sama tau bagaimana protektifnya Ayah dan Afdhal terhadap Gina." kata Bram.


"Bagaimana ini Pi. Mami tidak mau kehilangan Gina Pi" Mami mulai terisak.


"Mami sabar. Kita akan mencari jalan keluarnya" kata Papi sambil memeluk Mami.


"Pi lebih baik kita istirahat dulu. Besok kita akan pikirkan bagaimana jalan keluar terbaiknya. Supaya keluarga Wijaya dan orang luar tidak tahu, skandal yang di buat Aris" kata Bram.


Keluarga besar Soepomo masuk ke kamar masing masing. Mereka begitu terpukul dengan kejadian ini. Mereka tidak menyangka Aris akan berbuat seperti itu

__ADS_1


__ADS_2