
Tengah malam, Gina sudah tidak tahan lagi merasakan kram di perutnya. Dia merintih menahan sakit. Aris yang semenjak Gina hamil tidak bisa tidur dengan nyenak seperti biasa, bangun dari tidurnya.
"Sayang, ada apa sayang?" tanya Aris yang mulai panik melihat kondisi Gina yang sudah sangat lelah menahan sakit di perutnya.
"Perutku kram sayang." jawab Gina.
"Hah!" Aris langsung memasangkan jubah tidur Gina.
Aris menggendong Gina turun ke bawah, dia berteriak tepat di depan kamar Bram yang berada di sebelah kamarnya. Untung saja Bram baru keluar dari kamar mandi. Jadi Aris tidak susah membangunkan Bram. Bram adalah tipe manusia tidur mati, apapun nggak ada yang bisa membangunkan Bram dari tidur nyenyaknya.
"Ada apa?" tanya Bram yang kemudian melihat Aris menggendong Gina.
"Gina kenapa?" teriak Bram.
"Kram. Siapin mobil kita ke rumah sakit." jawab Aris.
Mira yang baru dari dapur melihat Gina digendong langsung berlari menuju Gina.
"Kenapa?" tanya Mira yang juga ikutin panik.
"Gina kram." jawab Aris.
" Loe bangunkan Sari. Gue ambil mobil. Hubungi rumah sakit dan dokter Ranti." perintah Bram kepada Mira.
Mira langsung masuk kamar membangunkan Sari dan menghubungi dokter Ranti. Sari yang tipe manusia tidak tidur nyenyak langsung bangun dari tidurnya, dia sudah mendengar apa yang terjadi melalui sambungan telpon Mira dan dokter Ranti. Sari langsung mengambil jubah tidurnya dan langsung memakainya saat itu juga. Mereka berdua sudah terbiasa dengan gerak cepat seperti ini.
Mereka berdua gerak cepat. Gina sudah berbaring di atas kursi dengan paha Aris sebagai bantalnya. Sedangkan Bram duduk dibalik kemudi. Mira dan Sari naik mobil satunya lagi. Bram salah mengambil mobil. Bram tidak mengambil mobil keluarga, tetapi mengambil mobil yang biasa di pakainya ke kantor.
Dua mobil terlihat melaju kencang menuju gerbang rumah, satpam yang sedang bermain sosial media langsung berlari kencang memencet tombol untuk membuka pintu gerbang. Dua mobil yang melaju kencang langsung menerobos gerbang tanpa sempat mengucapkan terimakasih kepada satpam.
Satpam yang melihat kejadian janggal itu langsung menghubungi rumah utama. Rumah utama selalu dijaga dua puluh empat jam.
"Hollo Tuan. Ini saya satpam depan Tuan." kata Satpam.
" Ya Satpam, Saya Hendri. Silahkan ceritakan apa yang terjadi, Pak." kata Hendri kepada Satpam.
Satpam menceritakan kejadian yang barusan terjadi kepada Hendri, asisten baru Papi yang lebih muda, disiplin dan juga luar biasa pinter. Papi sangat senang mendapatkan asisten seperti rasa presiden direktur isi otaknya yang luar biasa encer. Ide ide yang dikeluarkan Hendri selaly ide ide terbaru yang belum dilakukan oleh orang lain.
__ADS_1
"Oke. Saya akan bangunkan Tuan dan Nyonya besar." kata Hendri sambil langsung menutup panggilan telpon dari satpam.
Hendri mengetuk pintu kamar Tuan Besarnya berkali kali. Hendri sudah tidak sabar. Dia akan kemari salah kalau terlambat memberitahukan kepada Tuan Besar dan Nyonya kalau Nyonya muda masuk rumah sakit kembali. Setelah kurang lebih selama sepuluh menit menggedor pintu kamar. Nyonya besar bangun dari tidurnya.
"Pi, orang gedor gedor pintu kamar pi. Coba sana lihat pi. Siapa tau penting." kata Mami kepada Papi.
Papi merapikan piyama tidurnya. Dia langsung melangkahkan kaki menuju pintu kamar. Ternyata saat membuka pintu kamar berdirilah Hendri dengan wajah cemasnya.
"Hen ada apa? Kenapa cemas kayak gitu?" tanya Papi kepada Hendri.
"Begini Tuan besar. Nyonya muda di bawa oleh mobil Tuan Bram dengan kecepatan penuh. Satpam memberitahukan kepada saya sekitar lima belas menit yang lalu." kata Hendri.
"Apa Gina sakit?" tanya Papi.
"Maaf Tuan, Satpam dan Saya juga tidak tau. Tadi Satpam cuma ngomong kalau mobil Tuan Bram dan mobil Nona Mira melaju dengan kencang dari arah rumah. Serta menerobos pagar tanpa ada memberitahukan kemana tujuan mereka." kata Hendri.
Mami yang melihat Papi lama di depan pintu langsung menemui Papi.
"Ada apa Pi?" tanya Mami yang heran.
Papi menceritakan kepada Mami. Mami yang panik langsung menggedor pintu kamar tamu yang ditempati Tuan dan Nyonya Wijaya. Tuan Wijaya yang tidurnya memang tipis langsung terjaga saat mendengar pintu kamar yang digedor dari luar.
Mami kemudian menceritakan semua kejadian kepada Ayah. Nana yang mendengar langsung yakin kalau Gina ada apa apa.
"Ayah, Mami, Aku yakin kalau Gina pasti ada apa apa. Kita langsung ke rumah sakit aja." kata Nana sambil memakai sendal rumahan.
Mami yang nampak Nana yang gerak cepat langsung berteriak ke arah Papi dan Hendri.
"Hendri ambil mobil keluarga kita ke rumah sakit sekarang. Mami yakin Gina pasti sakit." kata Mami.
"Siap Nyonya." jawab Hendri yang langsung mengambil kunci mobil keluarga.
Kedua Tuan besar dan kedua Nyonya besar langsung berkendara menuju rumah sakit tempat Gina biasa konsul. Mereka sangat yakin Gina pasti di bawa kesitu. Aris dan Gina adalah tipe manusia fanatik. Manusia yang tidak akan mengubah tempat mereka biasa berobat hanya karena oranf mengatakan di tempat lain lebih bagus.
Bram sampai di depan IGD, semua dokter yang sudah di telpon Sari menunggu kedatangan mereka. Ini adalah kali kesekiannya Gina harus di rawat di rumah sakit karena kehamilannya. Gina benar benar sangat lemah saat hamil ini.
Semua dokter yang berurusan dengan Gina sudah stanbay. Para perawat yang melihat mobil sudah berhenti di depan IGD langsung memindahkan Gina ke atas ranjang rumah sakit. Mereka langsung mendorong Gina menuju kamar periksa.
__ADS_1
Dokter Ranti yang bertanggung jawab atas kehamilan Gina langsung memeriksa Gina.
"Nyonya Gina maaf saya harus bertanya. Apakah Nyonya terlalu letih dalam beberapa hari ini?" tanya dokter Ranti.
Gina hanya menganggukkan kepalanya.
"Baiklah Nyonya, ini adalah kram perut, jadi ada kontraksi sedikit. Nyonya saya sarankan untuk bedrest di rumah sakit selama sepuluh hari. Jadi kondisi Nyonya kembali fit. Saya takut kalau Nyonya di rumah, Nyonya akan beraktifitas lagi, serta mengakibatkan anak yang Nyonya lahirkan prematur." kata dokter Ranti menjelaskan.
Dokter Ranti kemudian menyuntikan obat untuk Gina agar kram perutnya hilang. Obat itu bekerja dengan baik dan cepat. Sehingga tidak membuat Gina lebih lama lagi menahan rasa sakitnya.
Suster kemudian diminta dokter mengantarkan Gina ke ruangan tempat biasanya keluarga Wijaya di inapkan kalau menjalani rawat inap. Aris, Bram, Mira dan Sari mengikuti dari belakang.
Mira dan Sari yang melihat Gina sudah tidur dengan nyaman permisi untuk istirahat di kamar lain.
"Kak, kami cari kamar lain dulu ya. Ngantuk berat." kata Mira.
"Ambil aja satu kamar Mir. Nanti biar aku yang bayar." kata Aris kepada Mira.
"Masalah bayar gampak kak. Sekarang kami mau tidur bentar capek banget." kata Mira sambil merentangkan badannya.
Sari dan Mira kemudian menuju ruang pribadi mereka di rumah sakit itu.
Baru Mira dan Sari pergi istirahat, Papi, Mami, Ayah dan Nana datang dengan langsung menerobos pintu ruangan rawat Gina.
"Mi, main terobos aja." kata Bram.
"Kalian memang ya, nggak bisa apa ngasih tau kalau Gina kenapa kenap. Main kabut aja, untung satpam kita cepat tanggap. Dia langsung menghubungi Hendri dan menceritakan tingkah polah kalian." kata Mami sambil memerhatikan sekitar. Mami seperti mencari sesuatu yang hilang.
"Lagi mau cari apa Mi?" tanya Bram kepada Mami.
"Mira sama Sari." kata Mami
"Mereka cari kamar untuk tidur Mi. Capek katanya." jawab Bram.
Mami dan Nana langsung menyabotase kursi di dekat tempat tidur Gina. Mami dan Nana akan berada di sisi Gina.
"Kamu tidur di sofa aja Ris. Mami dan Nana nggak mau memberikan posisi ini kepada kamu." kata Mami.
__ADS_1
" Yes mom. Aku dan Bram akan tidur di karpet, biar Papi dan Ayah tidur di sofa." jawab Aris sambil mengambil star tiarap yang lebih dulu diambil oleh Bram.