
Arga dan Frenya bersiap siap untuk pulang kembali ke negara U. Rencana mereka seminggu di sana berakhir hanya dalam dua hari. Gara gara Arga yang memiliki ide yang tidak bisa di tolak oleh siapapun.
Selesai bersiao siap Arga dan Frenya sudah menunggu Stefen di depan pintu kamar mereka. Stefen memang lama bersiap karena dia harus memakai baju pilotnya. Begitu juga dengan Frenya yang juga sudah memakai baju pilot. Frenya akan bertindak menjadi co pilot Stefen hari ini.
"Wow sama sama pilot. Cucok meong." ujar Arga yang kembali ngeledek Frenya dan Stefen.
"Ini kan gara gara kamu juga Tuan Muda, kalau nggak mendadak minta pulang kan aku sudah memberikan kejutan untuk Frenya." ujar Stefen di telinga Arga.
"Gue utang sama loe Stefen. Gue akan bantu" ujar Arga sambil memukul bahu Stefen.
"Gue pegang janji loe." ujar Stefen.
Frenya yang nggak tau apa pembicaraan mereka berdua hanya diam saja. Frenya juga tidak ingin tau pokok pembahasan dua pria itu.
Mereka bertiga menuju bandara. Arga yang tadinya harus menunggu di ruang tunggu, akhirnya langsung naik ke pesawat karena dia malas sendirian. Pihal bandara memperbolehkan karena Arga masih tergolong usia anak anak.
Sedangkan di restoran, Aris yang memanggil pelayan dihadapkan dengan sebuah berita mengejutkan dirinya dan Bram.
"Maaf Tuan, semua makanan Tuan sudah dibayar oleh saudara Tuan yang tadi duduk di meja sebelah sana." ujar Pelayan memberitahukan kepada Aris.
"Saudara?" tanya Aris dengan heran.
"Ya saudara." jawab Pelayan dengan nada ikut heran.
"Apakah saya bisa mendapatkan nama siapa yang membayar tagihan tadi?" tanya Aris kepada pelayan.
"Urusan dengan manager saya saja Tuan. Saya tidak bisa memutuskannya." ujar pelayan.
Pelayan membawa Aris kehadapan manager.
"Tuan, Tuan ini ada perlu dengan Tuan." ujar Pelayan.
Manager mengangguk memperbolehkan Aris untuk berbicara dengan dirinya.
"Ada perlu apa Tuan?" tanya Manager.
Aris menceritakan semua cerita yang di perolehnya dari pelayan. Dia juga menceritakan tentang pencarian terhadap Gina dan Arga.
"Jadi apakah boleh saya melihat siapa yang sudah membayar tagihan saya?" ujar Aris kepada Manager.
"Boleh Tuan. Saya akan melihat pembayaran dengan memakai kartu itu." ujar Manager.
Manager dan Aris berjalan menuju kasir. Mereka berdua melihat struk tagihan pembayaran memakai kartu kredit.
Aris dibantu oleh Bram membaca nama nama siapa yang membayar memakai kartu kredit.
Betapa terkejutnya Aris saat membaca nama yang tertulis di sebuah struk pembayaran.
"Bram coba baca nama ini? Apakah aku salah baca?" ujar Aris sambil memperlihatkan struk pembayaran.
"Benar. Berarti Arga ada di negara ini?" ujar Bram.
"Tuan apakah Tuan yang bernama Tuan Aris Soepomo dari negara I?" tanya kasir yang tadi menerima pembayaran dari Frenya.
"Betul saya Aris Soepomo sedangkan ini adik saya Bram Soepomo. Ada apa Nona?" tanya Aris penasaran.
"Wanita yang membayar tagihan ini tadi memakai kartu dengan nama Arga Wijaya Soepomo. Nona muda itu mengatakan kalau mereka menginap di hotel Rich Hotel." ujar Kasir.
Aris dan Bram saling pandang. Mereka ternyata menginap di hotel yang sama dengan Arga.
__ADS_1
"Nona, boleh saya mengambil gambar struk ini?" tanya Bram.
"Silahkan jawab Nona kasir."
Bram mengambil fhoto bukti transaksi. Bagi Bram struk itu akan berfungsi saat mereka tidak menemukan Arga dan Frenya di hotel.
Aris, Bram dan ketiga anak buah mereka bergerak cepat meninggalkan restoran untuk menuju hotel. Mereka harus bertanya kepada resepsionis hotel nomor kamar Arga.
"Ris, gue perhatiin struk ini sepertinya Arga membayar dengan uang euro. Berarti bisa jadi Arga sekarang tinggal di negara tersebut." ujar Bram.
Aris berpikir dan menganalisa pernyataan Bram. Dia sepakat dengan Bram akan hal itu.
"Gue setuju. Berarti kalau kita tidak menemukan Arga di hotel, maka gue pastikan Arga berada di negara yang mengeluarkan atm tadi. Loe cari tau bank nya dimana Bram." perintah Aris.
Bram kemudian melacak keberadaan bank tersebut di negara mana. Karena bank itu adalah bank besar maka dalam sekejap Bram sudah mengetahui bank tersebut berada di negara mana.
"Ris negara U" ujar Bram.
"Juan, persiapkan pesawat. Kita akan terbang ke negara U." ujar Aris memerintahkan Juan untuk menyiapkan pesawat. Mereka akan terbang ke negara U.
Sesampainya di hotel, Aris menuju resepsionis. Dia menanyakan tentang tamu yang menginap di sana yang bernama Arga Wijaya Soepomo.
"Permisi, apakah saya bisa bertanya suatu hal?" tanya Aris.
"Silahkan Tuan. Mau bertanya apa?" tanya resepsionis.
"Apakah di sini ada yang menginap dengan nama Arga Wijaya Soepomo dan Frenya Aris Soepomo?" tanya Aris kepada resepsionis.
"Mohon maaf sekali Tuan, kami tidak bisa memberikan biodata tentang siapa yang menginap di hotel ini. Kami menjaga privasi mereka Tuan." ujar resepsionis.
"Saya mohon. Saya sangat butuh datanya." ujar Aris.
"Ada yang bisa kami bantu Tuan?" ujar Manager.
Aris lantas menceritakan semuanya kepada Manager dan Supervisor. Mereka berdua paham dengan cerita dari Aris.
"Baiklah Tuan, sekali ini kami akan melanggar aturan hotel." ujar Manager.
"Tolong cek data yang dikatakan oleh Tuan ini." ujar Manager kepada resepsionis.
Resepsionis kemudian mencek data yang diberitahukan oleh Aris.
"Tuan chek in atas nama Nona Frenya Aris Soepomo barusan chek out jam dua siang hari ini." ujar resepsionis memberitahukan kepada Aris.
"Oh oke. Saya juga akan chek out sekarang." ujar Aris.
"Terimakasih manager atas bantuannya. Saya pastikan saat anda jalan jalan ke negara I. Saya akan memberikan pelayanan terbagus di sana. Ini kartu nama saya. Saya akan tunggu kedatangan anda, supervisor dan semua resepsionis." ujar Aris.
"Terimakasih Tuan. Kami pasti akan menghubungi Tuan." jawab Manager.
Aris kemudian meminta Bram dan yang lainnya untuk bersiap siap. Mereka akan chek out sekarang dan akan langsung terbang ke negara U. Aris menunggu mereka di meja resepsionis sambil ngobrol beberapa hal tentang keberangkatan manager dan yang lainnya ke negara I.
Tidak butuh waktu lama, Bram dan yang lain telah sampai di lobby. Aris melakukan chek out dua kamar yang mereka pakai.
Selesai chek out, Aris dan yang lain menuju bandara. Aris dan Bram menunggu di ruang tunggu. Sedangkan Juan dan dua rekannya menyiapkan pesawat.
Saat Aris dan Bram menunggu di ruang tunggu. Bram melihat pesawat GA Grub yang sedang menuju runway dan akan bersiap siap untuk take off.
"Ris, coba lihat ke runway. Itu bukannya pesawat GA Grub?" tanya Bram.
__ADS_1
Aris menatap pesawat GA Grub. Pesawat GA Grub lepas landas dengan sangat mulus. Pesawat itu membawa Arga dan yang lainnya pulang ke negara U.
"Apakah itu Frenya dan Arga?" tanya Aris kepada Bram.
"Bisa jadi Ris. Frenya bagian dari GA Grub. Waktu dan tempatnya pun bersamaan. Bisa jadi itu memang mereka." ujar Bram.
"Berarti benar apa yang aku rasakan saat di lift hotel dan di taman bermain." ujar Aris yang menyesali dia yang kurang tanggap menganalisa kejadian.
"Akhhhhhh kesal gue." ujar Aris sambil menjambak rambutnya.
"Sabar Ris. Kita sudah tau mereka kemana. Jadi kita ikuti aja." ujar Bram.
Setelah menunggu dua jam. Akhirnya Aris dan Bram masuk ke dalam pesawat. Mereka juga akan terbang ke negara U.
"Ris, menurut gue ini semua adalah faktor yang disengaja oleh Frenya dan Arga." ujar Bram.
"Maksud kamu?" tanya Aris tidak paham.
"Coba kamu pikir, kenapa Frenya membayar tagihan restoran memakai kartu Arga tidak kartu dirinya?" ujar Bram.
"Kemudian, kenapa Frenya meninggalkan pesan tentang hotel tempat mereka menginap di negara ini. Nah yang kerennya hotelnya sama dengan hotel kita." ujar Bram.
Aris berpikir, dia menganalisa semua kejadian dengan saksama.
"Bener juga ya Bram. Apa gunanyakan ya Frenya berbuat seperti itu. Gue jadi penasaran. Semoga aja di negara U gue ketemu Arga." ujar Aris.
Penerbangan yang dilakukan oleh Arga akhirnya selesai juga. Mereka sekarang sudah berada kembali di mansion.
"Nah lo kok udah pulang?" tanya Gina yang heran melihat Arga dan Frenya sudah di mansion.
"Males di situ Bun. Dak asik." jawab Arga.
"Apa nggak ketemu dengan Daddy?" tanya Gina menyelidik ke Arga.
"Ketemu. Tapi nggak sempat ngobrol. Daddy makin ganteng Bun. Arga yakin kalau bunda lama lama kabur dari Daddy, Daddy di samber orang." ujar Arga mempertakutkan Gina.
"Maksud Arga?" tanya Gina yang penasaran dengan perkataan Arga.
"Pikir sendiri aja Bun. Arga males ngomongnya. Arga mau tidur dulu." ujar Arga sambil berlari masuk ke kamar.
Gina yang penasaran juga masuk ke dalam kamar. Gina mondar mandir di sepanjang kamar. Arga yang menyaksikan kelakuan Bundanya dari kamera yang di pasang Arga di tas Gina hanya bisa tertawa saja.
"Hahahahaha. Rasain Bunda. Makanya kita pulang lagi." ujar Arga sambil tersenyum melihat tingkah Gina yang uring uringan.
Gina yang termakan oleh perkataan Arga langsung meraih ponselnya. Dia menghubungi Sari sahabatnya yang sudah di negara I. Gina menunggu sambungan telpon dengan tidak sabar. Saat Sari baru saja mengakat panggilan itu.
"Sar. Loe dapat berita kalau Aris selingkuh?" tanya Gina main langsung saja tanpa adanya kata pengantar.
"Nggak ada. Malahan yang gue tau Aris dan Bram serta tiga orang anak buah mereka sedang melakukan perjalanan keliling dunia selama sebulan untuk mencari kamu." ujar Sari
"Kenapa tiba tiba loe tanyak kayak gitu? Ada apa?" ujar Sari kembali.
Gina menceritakan dari permintaan Arga untuk ke negara E sampai dengan perkataan Arga tadi. Sari hanya bisa menahan tawanya saja. Dia paham apa yang terjadi sekarang. Arga sedang bermian untuk membuat Bundanya galau.
"Wah Gin. Gue akan cari tau lagi dulu ya. Loe tunggu aja berita dari gue." ujar Sari
"Loe jangan uring uringan gitu ya. Loe yakin aja kalau Aris cinta sama loe dan nggak akan mengkhianati loe lagi." ujar Sari memberikan nasehat kepada Gina.
"Yelah." ujar Gina menutup secara sepihak panggilan telponnya dengan Sari.
__ADS_1
"Hahahahahahahahahahaha. Gina masuk perangkap Arga." ujar Sari tertawa ngakak saat Gina sudah memutuskan panggilan mereka berdua.