
Mami mengambil ponselnya yang terletak di atas meja kerja Papi. Mami harus langsung menelpon Aris memberitahukan kalau Gina sudah sampai di rumah utama. Mami tidak ingin mengulur ngulur waktu lagi. Mami ingin Aris dan Gina menyelesaikan masalah mereka sesegera mungkin. Masalah yang sudah sangat berlarut larut yang membuat Gina harus pergi meninggalkan rumah walaupun dalam kondisi hamil muda, tapi untunglah Gina termasuk wanita yang kuat, wanita yang bisa bertahan dalam kondisi seperti apapun.
Beberapa kali panggilan dari Mami tidak diangkat oleh Aris. Mami sudah mulai tidak sabaran. Mami melihat ponselnya dengan perasaan kesal dan marah. Aris yang tidak biasa mengacuhkan bunyi ponselnya.
"Pi nggak diangkat Aris, Pi" kata mami memberitahukan kepada papi dengan nada paniknya.
"Coba terus Mi. Mana tau yang sekarang diangkat Aris." Papi memberikan semangat kepada Mami agar terus mencoba menghubungi Aris.
Mami kembali mencoba menghubungi ponsel Aris. Mami ingin menyampaikan berita gembira ini kepada Aris. Tapi hasilnya tetap sama. Aris masih belum mengangkat panggilan dari Mami.
"Pi masih nggak ada tanggapan pi" Mami mulai cemas.
Papi nampak mulai berpikir, siapa yang bisa dihubungi selain dari Aris. Tiba tiba Papi ingat dengan seseorang yang selalu berada di sisi Aris dalam kondisi apapapun.
"Bram coba Mi" Papi menyebutkan nama Bram yang selalu dengan Aris kepada Mami.
"Coba Bram aja Mi. Papi yakin Bram akan mengangkat telpon dari Mami" lanjut Papi dengan senyum dibibirnya.
"Iya Bram" kata Mami.
Sari memandang Gina dengan tatapan penuh tanya. Gina kemudian mengangguk memberi perintah melalui tatapan matanya. Gina dan Sari yakin ada sesuatu dengan Aris. Aris tidak pernah sekalipun mengacuhkan panggilan telpon dari keluarganya. Dalm meeting penting saja Aris selalu mengangkat panggilan telpon, apalagi hanya dalam keadaan pencarian Gina. Makanya Gina dan Sari bisa mengambil kesimpulan seperti itu.
"Pi, Sari permisi keluar sebentar Pi"
"Kamu nggak pulangkan Sar?" tanya Mami yang mendengar Sari minta izin untuk keluar.
"Nggak Mi. Sari mau nelpon bentar" jawab Sari dengan jujur.
"Oh baiklah Nak. Jangan lama lama ya, nanti balik ke sini lagi" perintah Mami.
"Siap Mami sayang. Nggak akan lama palingan satu jam. Ada yang harus Sari urus bentar" Sari menjelaskan kepada Mami.
Sari kemudian keluar dari ruangan. Sedangkan Mami menghubungi Bram. Bram yang pada dasarnya tidak serius dalam melakukan pencarian terhadap Gina langsung saja menerima telpon dari Mami. Kebetulan sekali Bram sudah sangat merindui Maminya ini.
"Hallo Mi" jawab Bram dari seberang telpon.
"Bram, kamu sedang sama Aris, sayang?" tanya Mami langsung menuju topik keperluannya menghubungi Bram.
__ADS_1
"Nggak Mi. Bram sama Daniel" jawab Bram. Bram kemudian mengloadspeker ponselnya dan memberikan kode kapada Daniel agar menjawab pertanyaan Mami.
"Tuan Bram sama saya Nyonya besar." jawab Daniel yang posisinya sedang menyetir mobil.
"Oh, jadi Aris sama siapa Bram?" kata Mami yang mulai panik karena Aris tidak bersama Bram.
"Sama salah satu anggota balck jack Mi. Kalau boleh Bram tau ada apa Mami menghubungi Aris?" tanya Bram yang pura pura tidak mengetahui maksud Mami mau menghubungi Aris.
"Aduh Bram kenapa kamu bisa tidak bersama Aris, Bram? Mami dari tadi menghubungi Aris nggak diangkat" kata Mami dengan nada panik.
"Mami tenang ya, nanti Bram akan menghubungi Aris lagi. Kami masih satu daerah. Sekarang ada apa Mami sampai nggak sabaran mau menghubungi Aris. Ada apa Mi?" tanya Bram yang pura pura penasaran dengan berita yang mau disampaikan oleh Mami kepada Aris.
"Mami mau mengabarkan kalau Gina sudah pulang ke rumah" kata Mami dengan penuh rasa kegembiraan karena menantu kesayangannya telah pulang.
"Sari juga udah di rumah Nak. Kalian pulang lagi ya. Kamu cari Aris, setelah itu kalian pulang." Mami memberi perintah kepada Bram.
"Apa? Gina udah pulang Mi? Mami serius atau becanda doang" kata Bram yang aktingnya sungguh luar biasa.
"Kalau kamu nggak percata ni ngomong dengan Gina" kata Mami yang memberikan ponselnya kepada Gina.
"Hallo kakak, ini Gina. Kakak sama Uda cepat pulang ya" kata Gina dengan tenangnya berbicara kepada Bram.
"Sudah kakak." jawab Gina.
Gina yang mulai kesal dengan akting pura pura Bram yang makin menjadi jadi itu langsung memberikan ponselnya kepada Mami. Dia tidak ingin tambah membuat Bram sakit perut karena menahan tawanya.
"Bram, kamu harus cari Aris sampai dapat. Mami mau kalian berdua cepat pulang. Ada denger Bram?" kata Mami dengan penuh emosi.
"Baiklah Mi. Bram akan mencari Aris dan memberi tahukan kabar gembira ini" jawab Bram. Sekarang fokus Bram adalah mencari Aris, bukan mencari Gina.
"Tapi jangan kamu Bram yang ngasih tau Aris." lanjut Mami. Mami tidak ingin Bram yang memberitahukan kepada Aris tentang kepulangan Gina.
"Oke oke, Mami yang akan beritahu Aris" kata Bram yang paham dengan keinginan Maminya. Bram tidak ingin merusak kebahagiaan seorang ibu untuk menyampaikan kabar gembira yang sudah lama dinanti nantikan oleh anaknya.
"Makasi Bram" jawab Mami.
"Mi, Bram cari Aris dulu Mi"
__ADS_1
"Hati hati nak" kata Mami.
Mami kemudian memutuskan panggilan telponnya dengan Bram.
"Gimana Mi?" tanya Papi.
"Bram nggak sama Aris Pi. Tapi Bram akan pergi menemui Aris"
"Oh" kata Papi yang tidak percaya kalau Bram bisa berpisah dengan Aris dalam melakukan pencarian. Papi tau kalau yang berkehendak seperti itu pastilah Aris sendiri.
"Pi, Mami coba lagi ya menghubungi Aris"
"Nggak usah Mi. Takutnya nanti kita mengganggu konsentrasi Aris saat membawa mobilnya" kata Papi yang tidak setuju Mami melakukan panggilan ulang kepada Aris.
"Ada kabar apa Tuan Bram?" tanya Daniel.
"Gina sudah pulang. Sekarang fokus mencari Aris. Dia lagi yang hilang. Mami dari tadi menghubunginya nggak diangkat angkat telpon Mami" kata Bram menjelaskan kepada Daniel.
"Oke." jawab Daniel.
Daniel menghubungi anggotanya, fokus pencarian diubah ke arah mencari Aris. Bukan mencari Gina lagi.
Sari yang sudah merasa jauh dari pendengaran orang orang yang berada di rumah utama, mengeluarkan ponselnya. Dia harus menghubungi orang orangnya yang sedang mengintai keberadaan Aris. Panggilan Sari yang sudah dua kali tidak diangkat oleh anggotanya.
"Haduh loe berdua kemana. Angkat telpon gue" kata Sari kepada ponselnya.
Sari kembali mengulang panggilan telpon tersebut. Tetapi tetap sama, panggilan Sari tidak diangkat. Sari sudah sangat kesal dengan ulah anggotanga yang tidak mengangkat panggilan darinya yang sudah berulang kali dilakukan Aris. Barulah pada panggilan kelima kalinya panggilan Sari diangkat oleh orang suruhannya.
"Hallo Nona Sari," jawab anggota Sari.
"Kalian dimana? Gue dari tadi menghubungi nggak satupun kalian mengakat panggilan dari gue" bentak Sari dengan emosi.
"Maaf Nona. Sekarang kami sedang berusaha mengejar mobil Tuan Aris. Mobil itu melaju sangat kencang Nona."
"Melaju kencang? Kalian ikuti terus. Tolong informasikan terus kepada saya"
"Siap Nona" jawab anggota.
__ADS_1
Sari kemudian kembali ke dalam rumah utama. Dia memberikan kode kepada Gina kalau anggota sedang mengikuti pergerakan Aris. Tapi masih belum tau di daerah mana, karena Aris melaju dengan kencangnya. Gina yang paham dengan informasi non verbal yang diberikan oleh Sari langsung mengangguk.