
Sedangkan di perusahaan Soepomo Grub. Aris yang sedang berjalan ke bawah dengan Bram membaca beberapa pesan yang masuk ke ponselnya.
Saat ada sebuah pesan video dari sebuah nomor yang sama sekali tidak diketahui oleh Aris itu nomor siapa.
"Bram ada yang ngirim gue pesan video. Tetapi gue nggak tau siapa yang mengirim." ujar Aris kepada Bram.
"Abaikan saja. Kadang orang iseng" ujar Bram
Aris menghapus pesan yang dikirim Mami tadi tanpa sempat memutar sedikitpun video yang dikirim Mami.
"Ris, gue besok libur ya." ujar Bram kepada Aris saat mereka sudah berdua di dalam mobil menuju rumah utama.
"Kenapa?" tanya Aris.
"Gue mau membicarakan masalah lamaran gue ke Frenya. Bagaimana bagusnya konsep lamaran antara gue dan Sari." jawab Bram.
"Kalau masalah itu. Gue kasih lu ijin, dua hari." ujar Aris.
"Memang dua hari pea. Besok persiapan lusanya lamaran." ujar Bram tidak percaya dengan sok kepintaran Aris.
"Hehehehehe." ujar Aris sambil menggaruk kepalanya.
"Ris, kalau boleh tau. Sekarang bagaimana perasaan loe?" ujar Bram bertanya kepada Aris.
"Boleh dibilang nggak ada lagi yang harus gue pedulikan. Gue sangat luar biasa bahagia dengan adanya anak dan istri gue di sini."
"Kebahagiaannya memang benar benar nggak bisa dikatakan." lanjut Aris.
"Ris?" ujar Bram lagi.
"Masih berapa bab lagi pertanyaan loe Bram?" tanya Aris kepada Bram sambil menatap Bram dengan tatapan sedikit mengintimidasi.
"Hehehehehe. Ini terakhir gue janji." ujar Bram.
"Percaya gue." jawab Aris.
"Menurut loe kenapa Mami bisa setega itu ke keluarga kita. Loe sama tau ajalah ya. Induk ayam aja sangat menjaga keutuhan keluarganya. Ini ibunya manusia Ris. Punya pikiran dan perasaan. Apa loe nggak kepikiran sampe sana?" tanya Bram yang membuat Aris menjadi berpikir.
"Maksud pertanyaan loe, apa motif Mami kan ya?" tanya balik Aris.
"Bukan motif Mami Ris. Tapi apa motivasi di balik ini semua." ujar Bram yang merasakan ada sedikit keanehan dibalik sikap Mami.
"Bram walaupun ada gue nggak ambil pusing lagi. Bagi gue yang penting sekarang adalah istri dan anak gue ada bersama gue. Udah itu aja. Lainnya gue nggak peduli." papar Aris menutup pembicaraan.
Aris memang sudah tidak peduli lagi dengan Mami. Bagi dia yang terpenting sekarang adalah Gina dan Argha berada di sisinya.
Bram kemudian melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah utama. Mobil mereka masuk bertepatan dengan Paman Hendri memarkir mobil yang dikemudikannya.
"Pi" ujar Aris dan Bram.
Mereka berdua mencium tangan Papi. Empat orang penting itu berjalan menuju rumah utama. Argha yang sedang duduk di ayunan melihat empat orang pria itu langsung berlari menuju mereka.
Aris yang terlalu pede merentangkan tangannya lebar lebar, dia dalam posisi siap untuk memeluk anaknya yang sedang berlari ini.
Ternyata Argha berlari dan memeluk........
__ADS_1
"Atuk Hendri. Argha kangen." teriak Argha memeluk Asisten Hendri.
"Atuk juga kangen Argha. Tapi bentar Argha. Emang aku udah setua Tuan besar?" tanya Asisten Hendri yang memang baru memiliki anak tahun pertama kuliah.
"Nggak sama sekali nggak setua Atuk Papi dan Atuk Ayah. Tapikan Atuk Hendri teman Atuk Papi. Makanya Argha panggil Atuk." ujar Argha masih dalam pelukan Hendri.
"Atuk Hendri kaki Argha ni capek banget. Masak Argha seharian ini menggunakan kaki Argha terus. Argha boleh pinjam kaki Atuk Hendri?" ujar Argha sambil melepaskan pelukannya.
"Argha kenapa nggak peluk Daddy?" ujar Aris yang protes anaknya lebih memilih memeluk Asisten Hendri dari pada dirinya.
"Biar Adil." jawab Argha yang sudah berada dalam gendongan Asisten Hendri.
"Maksudnya?" Aris benar benar bingung dengan jawaban Argha.
"Iya Dad. Kalau Daddy Argha peluk nanti Papi Bram dan Atuk Papi akan cemburu. Nah Argha nggak mau merusak keutuhan keluarga kita seperti nenek lampir itu. Makanya Argha lebih memilih memeluk Asisten Hendri. Argha menjaga keutuhan keluarga kita." jawab Argha sambil menatap dingin Daddynya.
"Hahahahahaha. Alasan memang lah ya. Sejak kapan ada alasan kayal gitu?" ujar Papi kepada Argha.
"Atuk kan bener ya. Coba pikir kalau Argha langsung peluk Daddy. Atuk cemburu nggak? Jawab jujur." ujar Argha yang ingin membuktikan kebenarannya.
"Iyalah marah. Masak nggak kan Argha cucu atuk satu satunya." ujar Papi kepada Argha.
"Nah karena itu makanya lebih milih meluk Asisten Hendri." jawab Argha.
"Alasan diterima." ujar Papi.
Mereka terus saj ngobrol sepanjang jalan masuk ke dalam rumah.
"Tuan besar saya pamit dulu." ujar Asisten Hendri.
"Tapi istri Atuk di rumah sendirian Gha." ujar Asisten Hendri.
Argha mengambil ponsel milik Asisten Hendri di saku baju. Argha mencari nama atau panggilan untuk istri.
"Ye cinta. Oke Rangga, Argha akan telpon cinta dulu." ucap Argha mengejek asisten Hendri.
Argha menghubungi istri Asisten Hendri.
"Gha, speker" ujar Bram.
"Kepo" jawab Argha.
Tapi Argha tetap meloadspeker panggilan itu. Aris, Bram dan Papi berusaha menahan tawa mereka saat istri dari Asisten Hendri menyapa Asisten Hendri dengan panggilan kesayangannya.
Argha kemudian memberikan kepada Asisten Hendri, supaya istri Asisten Hendri tidak malu. Asisten Hendri menyampaikan tujuannya menghubungi istrinya itu. Setelah selesai menghubungi istrinya Asisten Hendri memasukan ponsel miliknya ke dalam saku baju.
"Silahkan ketawa big four boss." ujar Asisten Hendri.
"Hahahahahahahaha." keempat bos besar Asisten Hendri tertawa bahagia.
Gina yang baru saja keluar dari dapur keheranan mendengar tawa empat pria itu.
"Ada apa sayang?" tanya Gina kepada Aris.
"Sayang, kamu tau apa panggilan paman Hendri oleh istrinya?" tanya Aris.
__ADS_1
Gina menggeleng.
"Singa Lapar Bun." teriak Argha dengan puasnya.
"Hah?" ujar Gina tidak percaya dengan panggilan Paman Hendri oleh istrinya.
"Bener Pi?"
Papi mengangguk. " Bener. Singa lapar."
"Hahahaha." Gina tertawa sambil memegang perutnya.
"Terus panggilan paman Hendri ke istrinya?"
"Singa ngamuk." jawab Bram.
"Anaknya Singa brutal." ujar Argha menyambar.
"Puas ya Puas." ujar Hendri yang udah nggak bisa berkata apa apa lagi. Habis sudah kartu as panan Hendri. Dia benar benar malu dengan semua nya.
Istri Asisten Hendri datang ke rumah utama. Dia datang setelah satu jam dari jarak telpon dengan Argha tadi.
Jam makan malam datang juga. Mereka semua sudah berkumpul di meja makan. Gina mengambilkan suami dan anaknya menu makan malam.favorit mereka. Sedangkan Asisten Hendri diambilkan oleh istrinya.
"Makanya Bram nikah biar ada yang ngambilin makanan." ujar Papi kepada Bram.
Bram yang melihat piring Papi masih kosong, mengambil piring tersebut dan mengisinya dengan menu makanan yang ada.
"Makanya Pi cari Mami baru lagi biar ada yang ngambilin makanan" balas Bram kepada Papi.
Mereka mulai makan malam dengan sangat lahap Tiba tiba drama bullyan yang tidak diharapkan dimulai oleh Bram.
"Pi, ngomong ngomong tadi Papi nyuruh aku nikah cepatkan ya?" tanya Bram
Papi mengangguk membenarkan ucapan dari Bram.
"Aku takut Pi." ujar Bram sedikit melirik ke arah Asisten Hendri
Papi yang masih juga belum paham dengan maksud dari Bram memandang Bram dengan tatapan penuh tanya.
"Takut apa?" tanya Papi.
"Papi Bram takut namanya ditukar jadi Hangry Leopard Tuk." sambar Argha yang sudah tau kemana tujuan Bram mengangkat topik itu.
Papi yang mendengar jawaban dari Argha sontak baru tau maksud dari perkataan Bram.
"Jadi kamu takut dikatakan Harimau lapar?" ujar Papi sambil menatap Asisten Hendri.
Istri Asisten Hendri yang tau panggilan sayang suaminya, menatap ke arah Asisten Hendri. Tatapan tajam yang menuntut jawaban cepat.
"Ome cantik," panggil Argha kepada istri Hendri.
"Apa cucu tampan?" jawab istri Hendri
Argha kemudian menceritakan semuanya dari awal kejadian sampai dengan drama telpon panggilan sayang itu. Istri Asisten Hendri yang tau kesalahannya hanya bisa tersenyum bahagia saja. Dia tidak jadi protes ke Asisten Hendri.
__ADS_1
Mereka menyelesaikan makan malamnya tanpa ada leributan antara Asisten Hendri dengan istrinya. Mereka berdua sudah sama sama dewasa dan juga tau bagaimana keluarga Soepomo kalau sedang bercanda.