Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Pertwmuan Tiga Pengusaha


__ADS_3

Dua bulan berlalu semenjak kejadian tabrakan yang mengakibatkan Sari mengalami koma dan Ibu Sari meninggal dunia. Sari masih belum keluar dari rumah sakit. Dia masih belum mau bangun dari tidur panjangnya. Bram selalu setia menunggu Sari untuk bangun. Perusahaan Jaya Grub yang seharusnya dikendalikan oleh Bram, terpaksa dikendalikan oleh Ghina.


Hari ini Ghina ada pertemuan dengan Aris dan Frenya. Tiga perusahaan properti itu akan bekerjasama mendirikan real estate termewah dikawasan dingin ibu kota I.


"Jero, kita ke GA Restoran." ujar Ghina saat keluar dari ruangannya.


"Siap Nyonya." jawab Jero.


Mereka berdua turun dari lantai atas gedung Jaya Grub.


"Jero, kenapa proses pencarian pelaku kecelakaan Nyonya Sari sampai sekarang masih belum ketahuan?" tanya Ghina.


"Apa masalah ini cukup pelik?" lanjut Ghina bertanya kepada Jero.


"Maaf Nyonya. Saya juga belum dapat kabar. Nanti akan saya hubungi Alex dan Juan menanyakan kemajuan penyelidikan mereka." jawab Jero sambil mengemudikan mobilnya.


"Itulah Jero. Saya juga jadi pusing sendiri karena permasalahan ini. Biasanya Alex dan Juan sangat sigap dalam bekerja." kata Ghina sambil memijit pelipisnya.


"Saya yakin mereka kerja dengan maksimal Nyonya. Menurut analisa saya, pelaku yang sekarang benar benar terampil Nyonya. Mereka bermain sangat rapi. Tapi saya yakin Alex, Juan dan Felix akan bisa menemukan pelakunya dalam waktu dekat." kata Jero menenangkan pikiran Ghina.


"Semoga Jer. Kalau tidak maka saya dan Mira yang akan turun tangan mencari siapa pelakunya." ujar Ghina dengan nada yang sudah tidak bisa di bantah lagi.


Setelah mengatakan hal itu. Ghina menatap keluar jendela mobil. Dia benar benar lelah dan capek dengan semua kejadian yang mereka alami belakangan ini. Ghina berharap semua ujian akan cepat berlalu.


Jero memarkir mobilnya di sebelah mobil milik Frenya.


"Nyonya sepertinya Tuan Aris belum datang." kata Jero.


"Sepertinya iya. Hanya terlihat mobil Frenya aja." jawab Ghina.


Mereka berdua kemudian turun dari mobil. Ghina langsung menuju ruang VIP yang sudah di share Frenya.


"Silahkan duduk Bun." ujar Frenya kepada Ghina.


Terlihat Steven sedang duduk di sebelah Frenya sambil melihat laptop miliknya.


"Nyonya." ujar Steven menyapa Frenya.


"Steven apa kabar?" tanya balik Ghina.


"Baik Nyonya" jawab Steven.


Saat ibu dan anak itu mengobrol ringa. Aris dan Bimo masuk ke dalam ruangan.


Cup. Sebuah kecupan mendarat di kepala Ghina.


"Main nyosor aja Dad." ujar Frenya.


"Kebiasaan Nya." jawab Aris dengan santai. Dia kemudian langsung duduk di sebelah Ghina. Sedangkan ketiga asisten duduk di sofa kosong yang lain.


"Bisa langsung kita mulai?" tanya Frenya.


Aris dan Ghina mengangguk bersamaan.


Frenya mulai melakukan presentasi. Frenya memaparkan bagaimana gambar bangunan yang akan dibuatnya di daerah tersebut. Aris dan Ghina menyimak setiap gambar empat demensi yang di tampilkan Frenya.

__ADS_1


"Gimana Bun?" tanya Frenya kepada Ghina.


"Kalau ke Bunda, kamu bertanya ya. Secara garis besar Bunda setuju dengan desainnya. Tetapi Bunda ingin mengubah sedikit. Ini hanya masukannya." ujar Ghina.


Ghina kemudian memutar gambar empat dimensi milik Frenya tadi.


"Bunda pengennya ruangan ini lepas gitu. Bisa di skat tetapi tidak pakai dinding. Tapi bisa kayu atau lemari skat sederhana. Jadi kesannya rumah itu luas." kata Ghina memberi masukan.


Aris dan Frenya menyimak masukan yang diberikan Ghina.


"Menurut Daddy gimana?" tanya Frenya.


"Kalau Daddy setuju dengan Bunda. Jadi rumah itu terlihat luas. Tapi semuakan kesepakatan kita bertiga mana yang bagusnya. Karena inikan kerjasama tiga perusahaan kita. Bukan hanya satu perusahaan saja. Jadi, kita akan ambil kesimpulan yang paling tepat dan paling mengena." ujar Aris.


"Bisa Bunda edit sebentar Nya?" tanya Ghina kepada Frenya.


"Bisa Bun." jawab Frenya.


Ghina kemudian mengedit sedikit gambar Frenya tadi. Dia memberikan batas ruangan dengan potongan kayu yang diberdirikan menyerupai pagar tinggi. Sedangkan desain yang lain, Ghina membuat almari pajang dari bahan kayu.


"Gimana?" tanya Ghina kepada Aris dan Frenya.


"Frenya setuju dengan desain Bunda." ujar Frenya.


"Kenapa?" tanya Ghina.


"Taman belakang akan kelihatan dari luar Bun. Kan pintu belakangnya pakai kaca besar. Jadi taman sederhana yang terletak dibagian belakang rumah akan terlihat." ujar Frenya yang paham maksud Bundanya mengganting dinding yang menjadi skat antar ruangan.


"Yup bener. Itu maksudnya. Kamu makin keren sayang." jawab Ghina.


Mereka bertiga akhirnya sepakat dengan desain yang diberikan oleh Ghina. Sekarang tinggal Frenya membuat desain untuk lima belas rumah yang akan mereka bangun. Mereka menginginkan setiap rumah memiliki desainnya sendiri.


"Sayang, jawab" ujar Frenya kepada Steven.


"Menurut perencanaan yang dibuat sama tim, pembangunan akan langsung dimulai saat satu desain rumah telah siap dibuat Frenya. Kita sama sekali tidak memakai jasa tim arsitek kantor. Semua murni dari ide Frenya dan Nyonya Ghina." ujar Steven.


"Kepala proyek siapa?" tanya Aris selanjutnya.


"Frenya langsung Daddy." jawab Frenya.


"Hem baiklah. Tapi kamu harus tetap pergi dengan Steven. Daddy tidak mau sesuatu terjadi terhadap kamu." ujar Aris dengan nada takutnya.


"Tenang Tuan. Saya akan menjaga Frenya dengan segenap kemampuan saya." jawab Steven dengan penuh keyakinan.


"Kami tidak meragukan itu Steven." jawab Aris.


Pelayan restoran masuk mengantarkan pesanan makan siang keluarga Soepomo tersebut. Mereka bertiga di tambah dengan tiga asisten, makan siang bersama dimeja makan yang sama.


"Oh ya Steven, kapan mau ngelamar anak gadis saya?" tanya Aris dengan wajah datarnya.


Frenya yang mendengar pertanyaan Aris langsung tersedak. Steven dengan sigap mengambilkan air minum Frenya.


"Hati hati sayang." ujar Steven.


Frenya menetralkan kembali perasaannya.

__ADS_1


"Daddy kenapa pertanyaannya kayak gitu?" tanya Frenya protes kepada Aris


"Nah loe kok pertanyaan Daddy yang salah. Pertanyaan Daddy bener loh Nya." ujar Aris yang tidak terima di protes Frenya.


"Ya salahlah masak bener." jawab Frenya.


"Sekarang Daddy tanya sama kamu. Kamu menjalin hubungan selama ini dengan Steven serius atau main main?" tanya Aris.


Steven mendadak menjadi sedikit takut mendengar jawaban dari Frenya.


"Ya seriuslah, ngapain main main. Emang Frenya masih anak kecil." ujar Frenya.


Steven yang mendengar jawaban dari Frenya langsung menghembuskan nafasnya. Semua orang yang dari tadi memerhatikan ekspresi Steven langsung tertawa.


"Hahahahaha. Cemas bro?" tanya Aris.


Steven mengangguk. Menyetujui pernyataan dari Aris.


"Terus nunggu apalagi Nya?" tanya Aris.


"Sayang, kamu ngebet pengen bikin acara pernikahan?" tanya Ghina melihat suaminya begitu gencar meminta Frenya menikah.


"Iya sayang. Waktu Daniel aku nggak ikut serta malahan jadi tamu. Kan aneh. Nah waktu Frenya semua aku yang urus." ujar Aris dengan semangat.


"Jadi Steven, kamu harus bawa orang tua kamu dalam tiga bulan ke depan. Kalau tidak maka kamu harus pisah dengan Frenya." ujar Aris mengeluarkan ultimatumnya.


"Woi Daddy, jangan gila ngana. Mana ada main ngancem ngamcem segala." ujar Frenya protes dengan ulah Daddynya.


"Nya" ujar Aris yang nggak tau harus mengatakan apa lagi.


"Sayang. Biarkan semuanya kembali normal dulu. Sari masih sakit, proyek belum jalan. Kamu mau ngadain pesta di tengah Sari masih sakit? Kamu mau Frenya menjalankan proyek ini setengah setengah?" tanya Ghina yang tau keberatan Frenya karena apa


"Bener juga ya sayang" ujar Aris.


Frenya dan Steven langsung menghela nafas mereka yang tadi sempat menjadi berat saat mendengar ancaman dari Aris.


"Tapi keluarga Steven tetap harus datang dalam waktu lima bulan ini. Nikah oke lama lagi tapi perkenalan keluarga nggak boleh ditunda lagi. Pokoknya lima bulan paling lama." ujar Aris tetap dengan keputusannya


"Baik Tuan. Saya akan menghubungi keluarga saya untuk datang meminta Frenya sebagai istri saya." jawab Steven dengan tegas.


"Sayang tapi...." ujar Frenya.


"Frenya, Daddy dan Bunda tidak memandang apapun, kalau Steven cinta dan berani membela dan menjaga kamu, kami akan setuju. Begitu juga dengan Argha besok ini. Bagi kita yang penting kalian aman, nyaman dan terjaga. Udah yang lain urusan kesekian." jawab Aris yang tau keraguan Frenya dimana.


"Tuan, Nyonya apa masih ada anak gadis seperti Frenya?" tanya Bimo dengan spontan.


"Ada, suster Argha. Apa kamu mau?" tanya Ghina lagi.


"Wah main bunuh bunuhan dengan Felux nanti Nyonya. Jangan." ujar Jero keceplosan membongkar rahasia Felix.


"Jadi suster Rina ada hubungan dengan Felix? Kenapa kamu baru ngasih tau sekarang?" tanya Ghina yang mulai kepo.


"Ini bukan maksud ngasih tau Nyonya tapi keceplosan. Jangan sampai tau Felix Nyonya. Bisa mati saya ditangan dia." ujar Jero mulai cemas.


"Makanya jangan suka ngegosip. Jadi panik sendirikan." kata Steven menyindir kelakuab jelek Jero.

__ADS_1


Jero hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. Kekurangan Jero hanya satu itu. Dia tidak bisa menyimpan rahasia tentang hubungan seseorang. Tetapi kalau rahasia perusahaan dan yang lainnya aman di tangan Jero.


Setelah selesai meeting dan makan siang. Ketiga pengusaha terkenal itu kembali ke perusahaannya masing masing. Mereka masih harus bekerja tiga jam lagi. Bagi mereka setiap detik adalah uang. Jadi mereka tidak akan membuang dengan percuma saja waktu yang diberikan Tuhan


__ADS_2