
Mereka bertiga kemudian keluar dari ruang kerja Aris. Mereka akan kembali ke perusahaan masing masing. Mereka merasa tidak ada lagi yang harus dibicarakan lagi. Saat berjalan keluar itu Hendri melihat sesuatu yang aneh di dekat cctv ruang tamu. Hendri lama berhemti di sana. Papi dan Aris yang melihat Hendri yang berhenti, mereka juga berhenti.
"Apa yang kamu lihat Hen?" tanya Papi yang bener bener dalam posisi penasaran dengan penyebab Hendri berhenti berjalan.
"Nanti saja Tuan. Saya merasa ada yang aneh. Tapi di kantor saja dibahas." ujar Hendri berbisik kepada Papi.
Mami yang masih di dapur heran melihat ketiga pria itu belum beranjak dari ruang tamu.
"Ada apa Pi?" tanya Mami.
"Tidak ada apa apa Mi. Kami berangkat ke kantor dulu." ujar Papi.
Tiga penguasa bisnis itu masuk kedalam mobil dan kembali menuju perusahaan masing masing.
Aris yang mengatakan kepada sekretarisnya untuk tidak kembali ke kantor membuat sang sekretaris terkejut karena presdir mereka kembali lagi.
"Tuan?" ujar sekretaris.
"Saya akan lembur di kantor. Kamu boleh pulang. Saya bisa di sini sendirian." ujar Aris sambil masuk ke dalam ruangannya.
Sekretaris tersebut tidak mungkin meninggalkan presdir mereka sendirian di kantor. Kalau ada Bram, biasanya Bram yang menemani. Tetapi kali ini tidak ada Bram maka dia yang harus menemani Aris untuk lembur.
Aris mulai menenggelamkan dirinya ke dalam pekerjaan pekerjaan yang membuat pikirannya terhadap anak dan istrinya teralihkan untuk sementara waktu.
.
.
.
"Hendri, apa yang kamu lihat di dinding ruang tamu tadi, sampai kamu lama berhenti." ujar Papi kepada Hendri sang asisten bermata elang itu.
"Maaf Tuan besar, saya seperti melihat cctv lain di sebelah cctv rumah utama." jawab Hendri dengan mata penuh keyakinan dengan apa yang dikatakannya bahwa itu memang benar.
"Maksud kamu?"
"Maksud saya ada cctv lain yang diletakan di rumah utama. Apa Tuan mau menghubungi Bram. Mana tau Bram yang memasang kamera itu di sana." usul Hendri memastikan siapa yang sudah memesang cctv di sana.
Papi mengeluarkan ponselnya. Dia langsung menghubungi Bram yang sedang berada di negara J.
Bram yang sedang serius bekerja menghentikan semua pekerjaannya, dia meraih ponselnya yang berdering. Betapa terkejutnya Bram yang menelpon adalah Papi.
"Hallo Pi."
"Bram, Papi mau bertanya sama kamu. Apakah kamu sedang sibuk Nak?"
"Nggak Pi. Aku baru selesai mengurus semua permasalahan di sini. Ada masalah apa Pi?" tanya Bram yang sangat penasaran kenapa Papi menanyakan apakah dia sedang sibuk atau tidak.
"Apa kita bisa video call Bram?"
"Bisa Pi." ujar Bram.
__ADS_1
Papi mengalihkan panggilan menjadi panggilan video call.
"Ada apa Pi?" tanya Bram saat Bram sudah bisa melihat Papi yang dirindukannya itu.
"Paman Hendri saja yang bertanya Bram. Papi pusing." ujar Papi.
Bram yang mendengar Papi pusing langsung bisa menyimpulkan ada sesuatu yang membuat Papi menjadi punya beban pikiran selain pikiran untuk perusahaan.
"Bram" panggil Paman Hendri.
"Ada apa Paman, ada yang bisa saya bantu?"
"Bram, tadi Paman ke rumah. Paman melihat ada cctv lain yang terletak berdempetan dengan cctv rumah. Tetapi ukuran cctv itu lebih kecil dari cctv yang biasanya." ujar Hendri.
"Tidak Paman. Saya tidak pernah memasang cctv tambahan di rumah. Apakah Paman sudah memastikan kalau itu benar sebuah cctc?" tanya Bram lagi.
"Paman belum melihat langsung Bram. Sebaiknya kamu pulang hari ini. Kami mebutuhkan kamu di sini Bram." ujar Hendri.
Papi meraih ponselnya. Dia menatap Bram dengan tatapan memohon. Bram langsung paham dengan tatapan itu.
"Baiklah Pi aku pulang sekarang juga." ujar Bram yang pasrah dengan nasibnya.
Dia tidak mungkin melawan Papi. Semua kehendak Papi adalah perintah baginya. Bram harus pulang dan menghadapi semuanya. Papi sedang butuh dirinya sekarang.
Bram hanya menghubungi Sari kekasihnya menyatakan kalau dia akan pulang kenegara I sekarang juga. Untunglah Sari tipe kekasih yang paham dengan posisi Bram. Jadi dia tidak mempermasalahkan kepulangan Bram yang sangat begitu cepat. Bram berjanji kepada Sari saat semua sudah bisa dikendalikan Bram akan kembali ke negara J untuk liburan.
.
.
.
"Mi. Malam ini kita makan di luar ya Mi. Papi lagi ingin makan di restoran berdua dengan Mami. Papi sudah lama menunggu moment ini Mi. Mami mau kan?" tanya Papi dengan tatapan menggoda Mami.
"Baiklah Pi. Kita bersiap siap dulu. Aris bagaimana?"
"Aris tadi menghubungi Papi. Katanya dia akan lembur malam ini. Kasian Aria tidam hanya perusahaan yang harus diurusnya. Tetapi juga kepergian Gina dan Arga yang disebabkan oleh keegoisan orang lain." ujar Papi yang menyindir Mami.
Mami berpura pura tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Papi barusan.
Tuan dan Nyonya Besae Soepomo sudah bersiap siap untuk makan malam bersama. Papi melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Saat Papi merasa rumah sudah dalam jangkauan aman. Papi memberikan kode kepada Hendri dengan memainkan lampu mobilnya. Hendri yang sudah paham langsung bergerak menuju rumah utama.
Hendri masuk ke dalam rumah yang sudah dianggaonya sebagai rumahnya sendiri. Hendri mengambil tangga di gudang belakang. Hendri meletakkan tangga di dekat salah satu cctv rumah. Hendri melihat memang benar itu adalah cctv yang berbeda dari cctv rumah utama. Hendri meminta seorang maid untuk meletakan kembala tangga yang dipakainya ketempat semula.
Hendri berjalan masuk ke dalam ruang kerja milik Papi. Hendri sudah terbiasa memakai ruang kerja Papi saat dia berada di rumah utama.
Hendri mengambil ponselnya. Dia harus berbicara dengan Bram. Sedangkan Gina yang melihat semua yang dilakukan oleh Hendri tergerak untuk melakukan sesuatu.
"Bram. Kamu sudah terbang?"
"Sudah Paman. Ada apa Paman? Apa Paman sudah memerhatikan benda itu?" tanya Bram.
__ADS_1
"Sudah Bram dan benar itu adalah cctv yang berbeda." jawab Hendri.
"Siapa yang memasang Bram? Serta apa motifnya. Itu yang harus kita cari tau Bram. Aku curiga pasti ada seseorang di rumah utama yang niatnya memang jelek kepada Arga."
"Paman benar memang ada. Tetapi maaf aku nggak bisa mengtakannya. Biarlah bukti yang berbicara" ujar Bram bermonolog di dalam hatinya.
"Bram, kamu masih di sana?"
"Masih Paman. Besok pagi di kantor Papi kita diskusi Paman. Sekarang aku akan fokus dengan kerjaan aku yang tinggal sedikit lagi."
"Baiklah Bram. Sampai jumpa besok di kantor Papi. Paman butuh bantuan kamu"
"Tenang saja Paman. Aku akan selalu ada di saat keluarga Soepomo mebutuhkan tenaga ku." ujar Bram.
Mereka akhirnya memutuskan sambungan telpon. Hendri kembali berpikir. Ada apa sebenarnya ini, siapa yang meletakkan cctv lain, dan apa motifnya.
.
.
.
Sedangkan di rumah Wijaya suasana begitu dingin semenjak kepergian Gina dari rumah Seopomo. Tetapi itu berlaku kalau ada Nana. Apabila Nana tidak ada maka Ayah, Afdhal dan Anggel akan semangat bercerita dan tertawa.
Seperti malam ini, Nana yang baru pulang dari arisan sosialita mendengar gelak tawa Ayah, Afdhal dan Anggel dari ruang keluarga. Nana yang sudah lama ingin tertawa dengan keluarganya masuk ke dalam ruang keluarga. Nana langsung duduk di salah satu sofa yang masih kosong. Afdhal menatap Nana dengan pandangan jijik.
"Ayah, aku dan Anggel ke kamar dulu ya. Kami lelah seharian ini bekerja." ujar Afdhal yang langsung memeluk pinggal Anggel. Mereka berdua beranjak dari ruang keluarga.
"Sama Dhal. Ayah juga udah mengantuk. Ayah mau ke kamar dulu." ujar Ayah yang juga keluar dari ruang keluarga.
Afdhal dan Anggel naik ke lantai dua menuju kamarnya. Sedangkan Ayah masuk ke kamar tamu.
Nana hanya bisa termenung dengan sikap keluarganya. Dia benar benar dikucilkan oleh keluarganya sendiri.
"Ini gara gara bocah sialan itu" ujar Nana yang tidak juga insyaf atas semua kesalahannya.
Nana keluar dari ruang keluarga. Dia menuju kamar utama untuk beristirahat.
"Sayang, apakah kita tidak keterlaluan dengan Nana. Kita sudah mendiamkan Nana" ujar Anggel sambil memeluk suaminya dari belakang.
"Nggak sayang, biar Nana sadar dengan semua kesalahannya. Lagian ini kehendak Ayah. Kita hanya bisa menjalaninya saja. Kamu nggak tau sayang, apa kata kata yang dilontarkan Nana kepada Arga. Kata kata yang tidak layak dimakan oleh guguk." ujar Afdhal.
Anggel mengangguk tanda paham. Hati siapa yang tidak sakit saat orang yang mereka sayangi dikata katai dan diberikan sumpah serapah oleh orang yang juga mereka sayangi.
"Semoga Nana cepat sadar ya yank." ujar Anggel.
"Semoga saja. Tetapi aku pesimis."
"Sama" jawab Anggel.
Afdhal mulai menggerayangi tubuh istrinya itu. Dia ingin membawa istrinya terbang ke nirwana malam ini. Afdhal mulai mewujudkan keinginannya. Sedangkan Anggel menerima semua perlakuan Afdhal di atas tubuhnya. Perlakuan yang memabukkan diberikan oleh seseorang yang dicantai.
__ADS_1