Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Aku yang Desain Sayang


__ADS_3

Gina sudah kembali sehat seperti semula, tetapi dia masih belum masuk kantor kembali. Gina masih ingin beristirahat untuk benar benar memulihkan kondisinya. Proyek desain dream land sudah diserahkannya kepada manager untuk dialihkan kepada karyawan yang lain. Gina merasa tidak sanggup untuk menyelesaikannya tepat waktu.


Gina seharian ini hanya malas malasan di atas kasur. Komunikasi dia dengan Aris masih belum kembali stabil. Gina masih malas mengirim atau membalas pesan dari Aris. Saat Gina sedang malas malasan di atas kasur, tiba tiba Nana masuk sambil membawa cemilan.


"Sayang boleh Nana masuk?"


"Masuk aja Na. Nggak Gina kunci."


Nana masuk kedalam kamar Gina. Nana kemudian duduk di sofa yang ada di dalam kamar itu di samping Gina. Nana menatap tajam mata Gina. Gina sudah tau kalau Nana dalam mode kepo.


"Mau nanyak apa Na? Tanya aja."


"Hehehe jelas kali ya Gin, kalau Nana mau nayak sesuatu sama kamu." Nana tersenyum canggung kepada Gina. Maksud terselubung Nana ketahuan dengan sangat cepat oleh Gina.


"Tadi Mami Aris nelpon Nana, katanya kalian belum fiting baju pernikaha. Apa benar sayang?"


Gina kemudian mengangguk. Gina tau itu hanya pengantar dari maksud Nana yang sebenarnya. Gina kemudian menatap Nana.


"Terus kata Mami kalau kamu sedang marah besar ke Aris, benar sayang?"


Gina menganggukkan kepalanya, menyetujui perkataan Nana.


"Kenapa?" lanjut Nana.


"Na, seharian Gina menunggu Aris untuk pergi fitting, ternyata dia tidak datang. Okelah dia ada meeting luar kota, apa salahnya dia ngabari Gina. Ini nggak ada sama sekali Na. Terus waktu dia jemput Gina saat keluar rumah sakit, tak satupun kalimat penjelasan keluar dari mulutnya. Siapa coba yang nggak gondok" Ucap Gina dengan berapi rapi.

__ADS_1


"Coba Nana di posisi Gina, Nana pasti juga keselkan? Menunggu tanpa makan dan tidak ada kepastian." lanjut Gina.


"Jadi sekarang Gina harus apa? Harus menghubungi Aris untuk pergi fitting? Harusnya dia yang menghubungi Gina. Dia laki laki, dan lagian dia yang salah bukan Gina" ujap Gina dengan menggebu gebu. Gina mengeluarkan semua sesak di hatinya kepada Nana.


"Baiklah sayang. Nanti akan Nana komunikasikan dengan Mami bagaimana baiknya. Kalau dibiarkan begini acara pernikahan kamu yang tinggal hitungan hari bisa gagal sayang. Kamu harus bisa paham dengan Aris" ucap Nana.


Nana melihat ekspresi Gina berubah langsung meralat ucapan yang sudah terlontar itu.


"Maksud Nana, kalian berdua harus saling memahami. Jangan saling menghindar waktu ada masalah. Pahamkan sayang? Nana tau kamu sudah dewasa dan sudah bisa menyikapi dengan benar semua permasalahn yang menimpa kamu sayang." Nana memegang pundak Gina. Nana tau Gina paham dan Gina sudah dewasa untuk menyikapi setiap permasalahan yang sedang dihadapinya, tetapi karena Gina masih suka menuruti egonya makanya Nana harus selalu mengingatkan Gina setiap Gina ada masalah.


"Nana keluar dulu ya sayang. Kalau seandainya Mami dan Nana yang menemanimu fitting baju apakah kamu mau?" Nana menatap kearah Gina.


Gina kemudian mengangguk. "Atur aja Na. Gina nurut aja kok" kata Gina meyakinkan Nana.


Nana kemudian keluar untuk menghubungi Mami. Nana menceritakan semua apa yang terjadi kepada Mami. Tanpa diketahui Nana, ternyata di sebelah Mami ada Aris yang juga mendengarkan pembicaraan antara Nana dan Mami. Aris merasa luar biasa bersalah kepada Gina. Gina benar, tidak seharusnya Aris diam saja waktu dia menjemput Gina saat keluar dari rumah sakit. Dia laki laki, maka harusnya dia bertanggung jawab atas seluruh kejadian yang dia sebabkan. Ini tidak dia malah lari dari masalah dan berlindung dibalik yang namanya pekerjaan.


"Jelaskan" ucap Mami dengan penuh emosi.


"Mami. Aris memang salah Mami. Aris akan memperbaiki semuanya dengan Gina. Tapi Aris butuh pertolongan Mami."


"Jelaskan"


"Mami tolong bawa Gina ke butik. Nanti aku akan susul Mami kesana. Aku janji sama Mami akan membuat Gina memaafkan kesalahanku." kata Aris dengan penuh keyakinan.


"Oke mari kita lihat" kata Mami.

__ADS_1


Mami kemudian menghubungi Nana, kalau Mami akan membawa Gina dan Nana untuk pergi fitting baju. Mami akan menjemput mereka berdua dalam waktu sejam lagi. Nana dan Gina langsung bersiap siap, mereka tidak mau Mami menunggu terlalu lama nanti.


Sejam kemudian Nana dan Gina sudah berada di dalam mobil Mami. Kali ini Mami tidak membawa sopir. Mami membawa mobilnya sendirian. Nana duduk di sebelah Mami, sedangkan Gina duduk di bangku belakang. Setelah satu jam setengah berkendara mereka sampai disebuah butik ternama di negara I.


"Sally" Mami menyapa owner butik yang juga adik Mami.


"Kakak, akhirnya kamu datang juga kak. Aku udah lama menunggu calon pengantin itu untuk fitting baju mereka."


Selly kemudian menatao wanita cantij yang berada di sebelah Mamk. Selky yakin itu adalah calon istri dari Aris.


"Wow kamu cantik sekali sayang. Mari ikut dengan tante." ucap Selly sambil menggandeng tangan Gina untuk masuk keruangan yang begitu banyak baju pengantin.


Gina mencoba beberapa baju pengantin yang ada di ruangan itu. Tiba tiba saat Gina mencoba sebuah baju yang sangat cantik dan sangat dia suka, datanglah seorang pria tampan memakai baju pengantin warna putih gading. Pria tersebut berjongkok dan memberikan sebuket bunga lili putih dan crishan. Dua bunga kesukaan Gina. Gina yang sudah tai siapa pria tersebut langsung tersenyum dan mengambil buket bunga yang diberikan kepada dirinya.


"Terimakasih sayang. Oh ya sayang, apakah baju ini cantik dan pas untuk ku?" Gina berjalan bak model peragaan baju pengantin di depan semua orang.


"Pas sayang itu saja. Lebih spesialnya lagi yang desain itu baju adalah aku sendiri." kata Aros dengan bangganya.


Mami dan Nana yang sudah tau hanya tersenyum saja. Gina tidak kalah bangganya dan semakin cinta dengan Aris. Ternyata Aris sudah mempersiapkan satu baju cantik untuk diranya pakai saat hari bahagia Gina dan Aris.


Gina kemudian berlari ke arah Aris. Gina langsung memeluk Aris.


"Sayang maafkan aku yang sempat tidak berbicara kepada kamu ya sayang." ucapan maaf yang begitu tulus keluar dari mulut mungil Gina.


"Sama sama sayang. Kamu juga maafin aku ya sayang, karena sempat mencuekin kamu kemaren ini. Padahal aku yang salah tidak mengabari kamu. Eee malahan aku yang diemin kamu" ucap Aris meminta maaf kepada Gina.

__ADS_1


Mami dan Nana yang melihat perang dingin itu telah mereda langsung tersenyum senang.


"Benerkan, semua kalau di komunikasikan dengan baik maka hasilnya akan baik. Kalau didiemi maka dia tidak akan selesai. Dia malahan akan diem" kata Mami menyindir sepasang kekasih yang telah berhasil menyelesaikan masalah mereka berdua.


__ADS_2