Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Daniel Pulang


__ADS_3

"Bun, Argha bobok dulu ya. Cup." Argha mencium pipi Bundanya.


Argha yang berencana mau tidur itu memutar haluan ke arah kamar Atuknya. Dia masuk secara diam diam ke kamar itu.


Ghina yang melihat lewat cctv memerhatikan Argha yang masuk dengan cara diam diam.


"Ngapain dia masuk ke kamar Papi ya?" tanya Ghina bergumam sendirian.


Ghina meminta Bik Imah untuk melanjutkan masakannya. Dia berjalan mengikuti Argha. Ghina juga ikut masuk ke dalam kamar Papi. Sesampaknya Ghina di dalam kamar Papi, Ghina sama sekali tidak melihat Argha.


Ghina kemudian membuka pintu almari hasilnya tetap sama Argha tidak ada di sana. Ghina berjalan ke menuju kamar mandi, Argha juga tidak ada di sana.


"Tu anak kemana ya?" ujar Ghina kembali.


"Atau aku yang salah lihat dia masuk ke sini?" ujar Ghina kembali.


Ghina mulai ragu kalau Argha masuk ke dalam kamar Papi. Ghina yang sudah yakin Argha tidak masuk ke sana memilih untuk keluar. Dia akan kembali melanjutkan acara memasak yang terganggu oleh Argha.


"Bik Imah, apa bibik lihat Argha tadi?" ujar Ghina masih dengan rasa penasarannya.


"Loh bukannya Nyonya tadi yang mengikuti Tuan muda?" tanya balik Bik Imah.


"Nah itu dia Bik. Ghina kira tadi dia masuk ke kamar Papi. Ternyata nggak di sana. Masak Argha bisa ilang di dalam sana." ujar Ghina menatap Bik Imah.


Bik Imah yang mendengar cerita Ghina mendadak menjadi pucat dan agak grogi. Perubahan raut wajah Bik Imah sangat terlihat jelas oleh Ghina.


"Apa ada sesuatu ya di kamar Papi? Bik Imah sampai grogi kayak gini banget." ujar Ghina sambil menatap Bik Imah lama.


"Semoga den Argha nggak menemukan ruangan rahasia itu, kalau ketemu waduh. Apa kata Tuan besar." ujar Bik Imah dalam hatinya.


Semua perubahan dalam diri Bik Imah tak luput dari perhatian Ghina. Ghina memperhatikan dengan sangat teliti perubahan dari Bik Imah.


"Ada apa Bik?" ujar Ghina menatap Bik Imah.


"Nggak ada apa apa Nyah. Bibik cuma berpikir kok bisa Tuan Argha ilang di dalam kamar Tuan Besar." ujar Bik Imah berusaha mengalihkan perhatian Ghina.


Bik Imah tau Ghina dari tadi memperhatikan dirinya. Bik Imah juga mulai tau kalau Ghina sudah menaruh curiga kepada dirinya. Bik Imah berusaha menenangkan perasaannya. Dia tidak mau Ghina kembali mencurigai dirinya.


"Aku yakin tu anak masih di dalam. Aku harus menungguinya di depan pintu kamar Papi." ujar Ghina.


Tok tok tok. Bunyi pintu ruang utama di ketuk dari luar. Salah seorang maid yang sedang menata meja makan berjalan membukakan pintu rumah. Ternyata yang datang adalah


"Frenya?" ujar Ghina yang melihat Frenya sudah berdiri di depan pintu rumah utama.


"Hehehehehe. Kenapa Bun kaget?" ujar Frenya memeluk Bundanya itu.


"Kagetlah. Pulang nggak ngomong ngomong." ujar Ghina sambil mencubit hidung putri tunggalnya itu.


"Makin kaget mana lihat Frenya atau lihat kami Bun?" ujar suara yang sangat dirindui oleh Ghina.


"Niel? Mana Rani, menantu Bunda yang sedabg hamil muda itu?" ujar Ghina melihat kepekarangan rumah.

__ADS_1


Tetapi sosok yang dicarinya itu sama sekali tidak kelihatan.


"Kamu nggak bawa Rani? Kamu berdua bertengkar? Kamu lebih baik balek ke negara U Niel kalau nggak bawa menantu Bunda." ujar Ghina menatap marah ke Daniel.


"Niel" teriak Argha yang tiba tiba saja muncul di dekat mereka.


"Waduah kapan keluarnya ni anak ya?" ujar Ghina menatap Argha yang sudah ada di dekat mereka.


"Rani mana Niel?" tanya Argha yang tidak melihat dokter kesayangannya itu.


"Kenapa nggak ada yang cari Niel. Mulai dari Bunda sekarang bocah kecil ini." ujar Daniel dengan cemberut.


"Niel kalau Kak Rani nggak ada, mending Niel pulang aja ke Negara U. Aku nggak butuh Niel." ujar Argha masih melihat ke arah parkiran.


Rani yang mendengar Bunda dan Argha mebgusir Daniel kembali ke negara U membuat dia senyum senyum bahagia.


"Beneran Bunda dan Argha nyuruh Niel kembali ke negara U? Nggak nyesel nanti?" tanya Daniel kembali.


"Nggak ngapain nyesel" ujar Ghina dan Arga.


Frenya yang melihat Ghina dan Argha sama sama menjawab hanya bisa tersenyum saja.


Saat mereka berdebat menyuruh Daniel balik ke negara U. Dua mobil hitam mewah parkir di teras rumah utama. Tiga orang pria tampan beda usia yang memakai pakaian kantor turun dari dalam mobil.


Daniel dan Frenya yang melihat siapa yang turun dari dalam mobil langsung menuju tiga pria tampan itu. Mereka berdua menyalami ketiganya.


"Mana Rani, Nial?" tanya Aris yang tidak melihat menantu pertamanya itu.


"Daddy, Niel usir saja dari rumah. Dia ninggalin Kak Rani di negara U. Suruh aja dia pulang." ujar Argha kepada Aris.


"Emang Argha nggak kasian kalau Niel harus terbang lagi ke negara U?" tanya Aris yang mulai masuk ke permainan Daniel.


"Biar aja dia capek, masak dia ninggalin istrinya yang sedang hamil." jawab Argha.


"Anak sama Bapak sama aja. Sama sama suka ninggalin istri saat hamil. Argha nggak suka." jawab Argha sambil langsung berlari masuk ke dalam kamarnya di langai dua rumah utama.


Aris dan Daniel serta yang lain tidak menyangka Argha akan menjawab dengan kalimat dan kata kata yang tadi. Mereka yang berdiri di sana tidak menyangka Argha akan mengatakan hal gila itu kepada mereka semua.


"Makanya Ris jangan main masuk permainan aja. Akhirnya jatuh sendirikan ya. Sekarang gimana cara membujuk anak kamu itu. Jelas dia kalau udah kesal susah dibawa baik." ujar Papi sambil menepuk pundak Aris dan berlalu masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang" ujar Aris menatap ke arah Ghina.


"Wah mana mau aku sayang. Jangan ngadi ngadi." ujar Ghina kembali.


"Jadi aku harus gimana?" ujar Aris dengan pasrah.


"Terserah. Kamu juga pakai sok ikut ikutan segala permainan Daniel." lanjut Gina mengomeli Aris.


"Jelas anak kamu itu manusia ingatan lama. Masih juga csri cari masalah sama dia. Sekarang urus sendiri aja. Aku nggak ikut ikut. Males." ujar Ghina sambil berlalu ke kamar untuk meletakan tas kerja Aris.


Frenya dan Bram masuk ke dalam kamar mereka masing masing. Mereka berdua malas ikut serta dalam masalah ini. Mengumbuk Argha sama dengan mengumbuk manusia yang keras hati. Sama tau ajalah Argha gimana kerasnya. Makanya

__ADS_1


"Kamu juga Niel kenapa ada niat ngerjai Bunda dan Bontot itu, jadi ngambekkan dia. Ribet urusannya ini." lanjut Aris kepada Daniel.


"Lah Daddy kok jadi nyalahin Niel coba. Niel kan nggak ngajak Daddy juga." ujar Daniel yang nggak mau disalahkan oleh Aris.


"Waduh. Niel bantu Daddy lah. Kamu tau kan bontot itu kalau udah ngambek gimana susahnya membujuknya." ujar Aris yang memang tidak pernah berhasil mengumbuk Argha setiap dia mencari masalah dengan Argha.


Tetapi yang namanya Aris tidak juga jera. Masih saja tetap cari masalah dengan Argha. Aris nggak pernah kapok, masih lanjut terus menggoda Argha.


"Daddy serahkan sama Rani." ujar Rani yang baru masuk ke rumah saat semuanya pergi ke kamar masing masing.


"Hah setuju Daddy kan gara gara kamu juga tu anak ngambok Ran." ujar Aris kepada menantunya itu.


Aris menuju kamarnya. Sedangkan Daniel dan Rani masuk ke kamar mereka yang sama sama terletak di lantai dua rumah utama. Ini adalah kali pertama Daniel menginjakan kakinya kembali di rumah utama ini semenjak tragedi pengusiran dan fitnah yang diberikan oleh Mami.


"Sayang, aku ke kamar Argha dulu ya." ujar Rani meminta izin kepada suaminya itu


"Peluk dulu" jawab Daniel.


Rani memeluk Daniel, suaminya ini makin mesra saja semenjak Rani hamil muda. Daniel sama sekali tidak mau jauh dari Rani kecuali saat dia bekerja di rumah sakit.


Tok tok tok.


"Argha" panggil Rani dari luar kamar Argha.


"Argha" ujar Rani kembali.


Argha yang semula duduk duduk santai saja saat mendengar suara yang dulu selalu menjadi semangatnya dalam belajar.


"Gha boleh Kak Rani masuk?" tanya Rani.


Argha membukakan pintu kamarnya untuk Rani. Dia juga sudah sangat kangen dengan dokter cantik yang sekarang sudah menjadi kakak iparnya itu. Rani masuk ke dalam kamar Argha, mereka berdua duduk di balkon kamar Argha.


"Gha, masalah yang tadi itu Rani yang minta supaya Uda Niel mengerjai Bunda. Maafin Rani ya Gha" ujar Rani sambil menatap Argha.


"Hahahahahaha. Argha nggak marah sama Rani. Argha sayang semuanya. Argha sayang Daddy dan Neil. Tadi Argha sengaja. Jadi Rani ndak perlu minta maaf." ujar Argha.


"Jadi dalam sini ada ponakan Argha. Laki laki ya biar bisa main sama Argha." ujar Argha sambil memegang perut Rani.


"Hahahahahaha. Kalau perempuan gimana?" ujar Rani ingin melihat tanggapan Argha.


"Siap siap aja para laki laki akan menghadapi Argha." ujar Argha.


"Hahahahaha. Belum lahir aja udah posesif gimana besarnya." ujar Daniel yang dari tadi sudah berada di belakang mereka berdua.


"Ya nguping." ujar Argha.


Daniel mengangkat Argha dan memangku adik bontot nya itu.


"Masih marah sama Neil?"


"Masih. Tapi kita beli mainan nanti Argha baik sendiri." ujar Argha.

__ADS_1


"Oke. Siap makan malam kita pergi beli mainan." ujar Daniel.


"Iyes."


__ADS_2