Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
EKSTRA 18


__ADS_3

"Nana, nana ikut ke tempat acara untuk melihat persiapan di sana?" tanya Argha kepada Ghina yang sedang menyuap sarapan terakhirnya.


"Kayaknya nggak. Kamu aja yang chek semuanya ya. Nana rencananya hari ini dengan Uni dan Rani akan membuat rujak di taman belakang" kata Ghina yang memang sudah menyusun agenda untuk membuat rujak dengan anak dan menantunya yang sedang hamil besar itu.


"Yah, ada pulak gitu" ujar Argha yang kesal karena harus bekerja sendirian.


"Argha, kan kamu sendiri yang nggak kerja. Uda Juan harus bekerja dari mansion untuk mengurus perusahaannya. Tambah lagi nanti Uda Juan harus menurut orang tuanya ke bandara." kata Aris menjawab keluhan dari anak bontonya tersebut.


"Daniel harus ke rumah sakit. Kamu tau sendirilah dia nggak akan mau mengurus perusahaan. Jadi perusahaan hari ini Daddy yang urus, sedangkan kamu urus acara pesta ulang tahun pernikahan Daddy dan Nana." lanjut Aris berbicara panjang lebar kepada Argha.


Argha yang mendengar apa yang dikatakan oleh Aris sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun. Argha tetap diam tak bergeming sama sekali.


Ghina melihat Argha yang sama sekali tidak merespon apa yang dikatakan oleh Aris.


"Argha? Kamu nggak mau membantu kami?" tanya Ghina dengan suara dinginnya.


Argha melihat ke arah Ghina. Dia kemudian tersenyum lebar.


"Kalau sudah nenek ini yang ngomong, aku nggak akan bisa menolak" ujar Argha sambil memeluk Ghina dari belakang kursinya.


Aris tersenyum melihat anak dan istrinya itu. Mereka berdua masih tetap sama seperti dulu. Ghina akan selalu mengatakan hal yang sama setiap Argha tidak langsung mengatakan iya atas apa yang disuruh kerjakan oleh Aris dan Ghina. Kalau sudah kalimat sakti itu digunakan oleh Ghina, maka Argha akan langsung mengatakan iya.


"Aku akan kesana dengan Hendri" ujar Argha masih tetap memeluk Ghina dari belakang.


"Puas anda Nyonya besar Soepomo?" tanya Argha kepada Ghina.


"Sangat sangat sangat puas saya Tuan Muda Soepomo" jawab Nana sambil mengelus kepala Argha.


"Nah gitu dong baru keren. Ini selalu aja menunggu nana memakai kalimat saktinya, baru kamu mau melakukan apa yang diminta" ujar Daniel mengomentari kelakuan adiknya itu.


"Udah lama nggak denger itu uda" jawab Argha sambil tersenyum melihat ke Daddy dan Nana.


Aris dan Ghina hanya bisa menggelengkan kepala melihat kelakuan anak bontot mereka yang ternyata usil sangat terhadap keluarganya. Tetapi akan jadi sangat dingin dan kaku dihadapan orang banyak apalagi kalau sudah di dunia bisnis. Argha akan sangat berbeda tiga ratus enam puluh darjat dibandingkan waktu Argha di rumah.

__ADS_1


"Jadi, jam berapa kamu mau ke sana?" tanya Ghina kepada anaknya itu.


"Siap sarapan ini. Coba aja kalau mereka belum menyiapkan tempatnya. Maka akan aku maki maki mereka nanti. Mereka akan tahu sendiri gimana kalau aku sudah marah" ujar Argha sambil menatap ke arah Ghina dan semua anggota keluarganya yang lain.


"Emang kamu bisa marah Gha?" tanya Juan yang sama sekali belum pernah melihat Argha marah.


"Bisalah uda. Masak ndak bisa" ujar Argha melirik Juan.


"Kalau dia marah mengerikan itu sayang. Aku pernah sekali melihat dia marah di perusahaan. Semua karyawan langsung bekerja dengan sangat sangat cepat. Aku heran juga kok bisa dia marah seperti itu" kali ini Frenya yang menjawab pertanyaan dari Juan.


"Aku kira dia nggak bisa marah sayang. Ternyata mengerikan juga ya kalau dia marah" kata Juan.


"Woy bro, orang yang kalian bicarakan ada di sini. Ngapain nggak tanya gue aja. Heran" kata Argha yang sudah mulai kesal.


"Pagi pagi nggak boleh kesal" jawab Frenya sambil mengusap wajah Argha dengan kedua tangannya.


"Uni. Untung aja lagi hamil. Kalau nggak udah aku emosiin Uni dari tadi" kata Argha yang tidak akan pernah bisa marah dengan setiap wanita yang disayanginya.


Argha yang sudah tau akan menjadi pusat bullyan keluarganya langsung berdiri dari duduknya.


"Kerja kerja kerja." ujar Argha supaya keluarganya beranjak dari kursi mereka masing masing.


"Uda Daniel. Itu pasien yang mau dioperasi udah capek nunggu" kata Argha menyuruh Daniel untuk pergi ke rumah sakit dengan caranya.


Argha memberikan jas putih kebanggaan Daniel. Argha langsung menolong Daniel untuk memakai jas putih itu. Sasaran berikutnya adalah Juan.


"Op Uda Juan, itu Papi dan Mami udah capek nunggu di bandara. Jemput sana" ujar Argha kepada Juan yang dari tadi hanya diam saja.


"Lah uda nggak ikut ikutan kena juga Gha?" ujar Juan protes karena dirinya juga kena oleh Argha.


"Uda kan suami Frenya, jadi ya kena. Kan Frenya ikut ikutan mengejek aku tadi" kata Argha memaksakan alasan kenapa Juan juga ikut ikutan jadi target Argha.


"Haha haha haha." semua anggota keluarga tertawa melihat kelakuan aneh Argha dan mendengar apa yang dikatakan oleh Argha.

__ADS_1


"Hendri. Kita jalan" ujar Argha yang menyambar jas kerjanya dan juga tas kecil milik Argha.


"Siap Tuan Muda" jawab Hendri setengah berlari menuju Argha.


"Apa mobil sudah siap Hendri?" tanya Argha kepada Hendri.


"Sudah Tuan Muda. Kita siap berangkat ke tempat yang akan Tuan Muda tuju" ujar Hendri menjawab perkataan dari Argha.


"Daddy, Nana, Uni dan Uda, aku berangkat dulu ya. Awas nanti sore kalau tidak cepat siap. Aku bawa semuanya dengan pakaian yang terpakai di badan" ujar Argha yang masih akan melakukan serangan balasan kepada keluarganya.


"Tenang aja kalau masalah pesta. Belum kamu pulang kami udah siap" jawab Nana.


"Ya ya ya ya. Raja dan Ratu pesta" ujar Argha.


Argha kemudian menuju hotel tempat acara ulang tahun pernikahan kedua orang tuanya akan dilakukan. Sedangkan Aris Daniel, dan Juan akan menuju kantor, rumah sakit dan bandara.


Hal berbeda terjadi terhadap Ghina, Frenya dan Rani, mereka bertiga akan membuat rujak yang sedang diinginkan oleh Frenya.


"Nana, apa orang butik sudah mengantarkan pakaian yang akan keluarga kita pakai nanti malam?" tanya Rani yang ingat kalau orang butik belum mengantarkan pakaian untuk mereka pakai nanti malam.


"Waduh untung kamu ingatin sayang. Nana bener bener lupa. Nana telpon mereka dulu ya" ujar Ghina sambil meraih ponselnya dan menghubungi butik yang menyiapkan pakaian untuk acara ulang tahun pernikahan Tuan dan Nyonya Soepomo.


Ghina terlihat sangat serius menghubungi orang orang yang ada di butik mereka. Setelah sekitar lima menit menelpon pihak butik, Ghina menutup sambungan telponnya itu.


"Gimana Nana?" tanya Rani kepada Ghina.


"mereka sudah dijalan. Ayo lanjutkan ngerujaknya" kata Ghina mengajak anak dan menantunya itu untuk melanjutkan acara ngerujak mereka.


Ghina, Frenya dan Rani sibuk memakan rujak yang bumbunya digiling langsung oleh Ghina. Mereka bertiga makan dengan sangat lahap. Siapapun yang melihat cara mereka makan akan mengatakan kalau mereka tidak makan selama seminggu.


Para maid yang melihat kegiatan ketiga Nyonya besar mereka hanya bisa berdoa dalam hati semoga keluarga ini akan selalu seperti ini ke depannya. Mereka berharap Ghina dan semua anak anaknya menemukan kebahagiaan.


"Pasti Tuan besar Soepomo dan Tuan besar Wijaya yang berada di atas sana tersenyum melihat keluarga yang dulu sempat hancur lebur menjadi sangat kuat seperti sekarang ini" ujar kepala pelayan melihat kerukunan di dalam keluarga Soepomo.

__ADS_1


__ADS_2