Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Permainan Daniel dan Jero


__ADS_3

Bunyi ponsel Gina berdering, Gina melihat siapa yang sedang menghubunginya itu. Ternyata di layar ponsel Gina terpampang nama Alex.


"Alex nelpon." kata Gina kepada Daniel dan Jero.


Daniel dan Jero memusatkan perhatiannya kepada telpon Alex.


"Ada kabar apa Lex?" tanya Gina kepada Alex.


"Nona, paket sudah saya kirimkan. Palingan sebentar lagi akan terlihat kehebohan di perusahaan itu. Apakah saya harus mengutus salah satu anggota untuk berdiri dan merekam kehebohan di perusahaan Zain?" tanya Alex kepada Gina.


"Ide bagus Alex. Saya inginkan gambar itu. Tolong suruh anggota kita masuk dan merekam kejadian." kata Gina yang setuju dengan ide Alex.


"Baik Nona. saya akan memerintahkan salah satu anggota untuk masuk dan merekam keadaan di dalam." kaya Alex.


Gina memutuskan panggilan telpon mereka. Gina mulai melihat setiap data yang ditampilkan oleh monitor monitor yang terpampang di dinding ruangan.


"Bunda jadi keputusannya tetap nunggu neh. Nggak serang duluan?" tanya balik Daniel yang memang sudah sangat niat untuk memorak porandakan database perusahaan Zain.


"Daniel satu pesan Bunda sama kamu, jangan pernah memulai peperangan kalau tidak orang lain yang memulainya duluan. Kita jual nggak perlu. Tapi kalau mereka jual maka kita wajib membeli." ujar Gina memberikan nasehat dan pesan kepada Daniel.


Gina sangat tau Daniel adalah anak muda yang sedang hangat hangatnya ingin melakukan sesuatu yang sesuai dengan pola pikirnya. Makanya, Gina berusaha mengendalikan Daniel. Jangan sampai Daniel berbuat sekehendak hatinya yang bisa mengakibatkan kerugian terhadap dirinya.


"Baik Bunda, Aku akan mengingat pesan Bunda." jawab Daniel sambil tersenyum.


"Bunda yakin, dengan semakin dewasanya kamu, maka pola pikit kamu juga akan semakin dewasa Nak. Jadi belajarlah terus." kata Bunda.


"Kamu juga Jero, kalau kamu berhasil dalam uji coba ini. Maka Bunda yakinkan kamu akan bunda berikan juga ruangan yang seperti Daniel ini." kata Gina sambil menatap Jero.


"Kami berdua aja Bun." kata Daniel yang juga ingin belajar kepada Jero.


"Bener Bun, berdua aja. Kami bisa berbagi ilmu. Itu lebih bagus untuk menambah dan memperbaharui ilmu yang sudah ada." kata Jero yang menyetujui saran dari Daniel.


Mereka kemudian melanjutkan obrolannya. Mereka membahas berbagai hal yang terjadi di dunia bisnis. Banyak hal yang dapat dipelajari Daniel dari Jero. Jero adalah seorang direktur di salah satu perusahaan milik Gina pribadi. Makanya Jero sangat memahami dunia bisnis.


"Oh jadi ada lagi satu perusahaan yang mulaj menggoncang kita. Apa kamu sudah memberikan peringatan Jer?" tanya Gina kepada Jero.


"Sudah Nona. Perlahan mereka sudah mundur. Bisa bisanya mereka mau menyerang kita dari belakang. Kalau mau bermain harus hadap hadapan. Bukan dengan cara seperti itu." jawab Jero kepada Gina.


Suara ponsel Jero berbunyi. Jero melihat nama yang terpampang di sana adalah nama Alex.


"Hallo Lex. Ada apa?" tanya Jero.


"Gue dari tadi menghubungi Nona Gina tapi nggak diangkat. Gue sudah mengirimkan videonya. Mereka menyebut nyebut nama Tuan Aris." ujar Alex kepada Jero.

__ADS_1


"Alex sekarang juga kamu berangkat menuju taman kota. Aris sedang berada di sana. Saya takut kalau Aris tanpa penjagaan ketat." kata Gina memberikan perintah kepada Alex.


"Tenang Nona. Stepen selalu mengikuti Tuan Aris dari kemaren. Sampai sekarang Stepen belum memberikan kabar apapun." jawab Alex yang sudah memikirkan tentang keadaan yang terjadi setelah pengiriman paket tahanan itu.


"Oh baiklah. Terus kabari saya Alex." kata Gina yang sudah kembali nyaman karena Stepen dan beberapa anggota mereka selalu menemani Aris.


Setelah telpon dari Alex yang mengabarkan kalau perusahaan Zain mulai bergerak, Gina, Daniel dan Jero tidak lagi ngobrol. Mereka menatap serius layar monitor. Mereka melihat setiap data dan grafik yang ditampilkan.


Selama satu jam tidak ada suatu keanehan yang terlihat. Gina yang mulai capek memilih untuk tidur. Pada saat itulah Daniel berteriak.


"Masuk perangkap." kata Daniel dengan lantang dan semangatnya.


Gina yang hampir tidur langsung terbangun dan duduk kembali.


"Ada apa Niel? Apa yang masuk perangkap?" tanya Gina kepada Daniel.


Daniel memutar arah monitornya. Gina melihat angka angka dilayar mulai turun.


"Kamu membuka keamanan data Soepomo Daniel?" tanya Gina kepada Daniel.


Gina melihat saham Soepomo mulai turun karena ada yang mengganggu.


"Bukan Bunda aku meminjam trik lama Bunda denhan membuat satu akun pulsu data Soepomo Grub. Mereka akhirnya memakan umpan itu." kata Daniel.


"Sekarang boleh main kan Bun?" tanya Daniel.


Gina akhirnya mengangguk. "Kalian berdua bebas bermain. Terserah mau ngapain. Bunda tidak membatasinya."


Daniel mulai masuk ke data base perusahaan Zain. Dia melihat ada suatu kejanggalan di perusahaan itu. Daniel terus berusaha untuk mendapatlannya. Dia memutar otaknya, ternyata keamanan data perusahaan Zain lumayan juga. Daniel sampai harus berpikir untuk melakukannya. Setelah selama satu jam akhirnha Daniel bisa juga menemukan bukti yang akan membuat perusahaan Zain dalam waktu dekat bangkrut dan gulung tikar.


"Yes, akhirnya." kata Daniel sambil bersorak senang.


Gina yang duduk santai langsung menuju ke arah Daniel, dia penasaran akan hal apa yang membuat Daniel bersorak kegirangan.


"Ada apa Niel?" tanya Gina.


"Bunda aku jamin akan kaget melihatnya Bun." kata Daniel dengan semangatnya.


"Apaan?" kata Gina yang penasaran dengan ala yang ditemukan oleh Daniel.


Gina dan Jero berada di belakang Daniel. Daniel membuka berkas yang ditemukan oleh dirinya.


"Wah Daniel ini bagus. Kita akan balas dia dengan hal ini. Kirimkan file tersebut kepada kantor pajak. Mereka akan senang mendapatkan file itu." Gina memberikan perintah selanjutnya kepada Daniel.

__ADS_1


"Dengan senang hati Bunda." jawab Daniel.


Daniel langsung mengirimkan file yang ditemukannya kepada kantor pajak. File itu akan membongkar tunggakan pajak yang seharusnya di bayarkan oleh perusahaan Zain.


"Nona, itu tidak hanya akan menjadi masalah bagi orang orang di perusahaan Zain. Tetapi juga orang orang di kantor pajak." kata Jero kepada Gina dan Daniel.


"Niel kirim juga ke polisi. Biar mereka menindak lanjutinya." perintah Gina selanjutnya.


Jero yang dari tadi sedang menunggu kiriman data dari seseorang telah berhasil mendapatkan data yang ditunggunya. Jero mencetak semua data itu. Dia memberikan kepada Gina.


"Hahahaha. Ini akan semakin membuat perusahaan Zain kebakaran jenggot dan stress. Kirimkan juga kepada pihak kepolisian. Berikut semua bukti transaksinya. Biar mereka rasakan telah salah memilih lawan." kata Gina sambil tersenyum.


"Kita akan tunggu berita dari Rudi. Bunda yakin Rudi sebentar lagi akan diminta untuk menyelidiki dan menggerebek gudang itu." kata Gina yang teringat dengan salah satu anggotanya yang selalu diminta untuk melakukan penggerebekan.


"Bun kita nunggu beritanya di rumah utama aja Bun. Nanti Daddy curiga kenapa Bunda lama sekali di luar." kata Daniel kepada Gina.


"Bener juga kamu. Daddy kamu kalau marah tanduknya akan keluar. Ayuk kita pulang." kata Gina menyetujui ajakan Daniel untuk pulang.


"Jero kamu terus pantau semuanya. Kamu tau kan kalau ada sesuatu yang terjadi harus melakukan apa.?" tanya Gina kepada Jero.


"Siap tau Nona. Nona jangan meragukan saya. Saya akan memberikan yang terbaik dari yang baik." jawab Jero sambil tersenyum bahagia.


"Saya percaya dengan kamu Jero. Maaf saya harus pulang jadi kamu terpaksa saya tinggal." kata Gina sambil menepuk pundak Jero


Gina sangat bersukur bisa bertemu dengan Jero. Seorang pemuda jenius yang tidak mengenal rasa takut. Pemuda yang selalu tertantang untuk melakukan suatu hal yang baru. Jero juga beruntung bertemu Gina. Dia bisa merasakan rasanya berguna bagi orang ramai.


Daniel dan Gina pulang menuju rumah utama. Mereka diiringi oleh dua mobil hitam hitam milik kelompok Gina. Mereka mengiringi dalam senyap tetapi saat sesuatu mengancam keselamatan Gina dan yang lainnya, maka anggota itu bisa langsung datang dengan jumlah yang sangat banyak.


"Bun, apa yang harus kita katakan kepada Daddy nanti kalau Daddy bertanya?"


"Ngomong aja kita dari mall. Kebetulan di belakang sudah ada barang barang belanjaan Bunda yang belum sempat Bunda turunkan." jawab Gina sambil melihat ke bangku belakang barang barang belanjaan yang belum sempat dia turunkan.


Daniel melajukan mobilnya, tidak berapa lama mereka telah sampai di gerbang utama rumah Soepomo. Daniel membuka puntu gerbang dengan menekan pasword gerbang dari dalam mobilnya. Mobil melaju menuju rumah utama. Terlihat di parkiran sudah ada mobil milik Aris. Gina dan Daniel turun dari mobil, mereka masuk ke rumah utama. Keadaan rumah terlihat cukuo sepi. Sepertinya penghuni rumah berada di kamar masing masing.


"Sepertinya semuanya sedang sibuk di kamar masing masing Bun." kata Daniel yang melihat rumah kosong.


"Bisa jadi. Bunda langsung ke kamar. Kamu mau kemana?" tanya Gina.


"Ke dapur. Lapar." jawab Daniel.


Gina naik ke lantai dua rumah. Sedangkan Daniel menuju dapur. Dia memang sangat lapar. Apalagi tadi tenaganya habis untuk menyabotase web milik perusahaan Zain.


Gina melihat kamar yang kosong. Tidak ada tanda tanda Aris di sana. Gina menghubungi ponsel Aris. Ponsel itu berbunyi di atas nakas sedang dalam keadaan di charge.

__ADS_1


"Kemana uda Aris ya?" tanya Gina pelan.


__ADS_2