Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Kenyataan Seorang Arga


__ADS_3

"Kakak, aku mohon jangan buat aku cemas kak. Aku sudah menyiapkan perasaan dan akal sehat aku untuk menerima semuanya tentang Arga. Jadi jangan membuat aku cemas." ucap Gina meyakinkan Anggel tentang kesiapannya menerima hasil apapun tentang Arga.


Baik buruk tentang Arga akan dijalani Gina dengan ikhlas, karena Arga adalah titipan yang maha kuasa untuk dirinya jaga dan lindungi.


"Sayang katakan saja apa yang terjadi dengan keponakan ku. Aku tidak akan bertindak bodoh sayang." kata Afdhal meminta Anggel untuk mengungkapkan semuanya.


Anggel dan Rani menatap dua orang yang sangat menyayangi Arga ini. Mereka berdua sengaja mengulur waktu untuk melihat kesungguhan dan tekad dari Gina dan Afdhal. Walaupun mereka sudah tau apapun hasil yang akan dikatakan oleh Gina dan Afdhal.


"Gina, Sayang" ujar Anggel memanggil ke dua orang yang sama sama di sayanginya itu.


"Hasil pemeriksaan kami berdua terhadap Arga sangat luar biasa mengejutkan." ucap Anggel kemudian berhenti untuk kembali menyusun kata katanya.


"Maksud kakak dan dokter Rani?" tanya Gina yang semakin penasaran dengan semua yang akan dikatakan oleh Anggel.


Calon kakak iparnya ini benar benar ingin menguras emosi Gina supaya keluar semuanya.


"Sebenarnya hasil pemeriksaan kami berdua menyatakan kalau Arga dalam kondisi sangat sangat luar biasa baik." ujar Anggel dengan wajah bahagianya.


"Maksud Kakak?" Gina benar benar tidak mengerti dengan yang disampaikan oleh Anggel.


"Kak jangan pakai teka teki gini Kakak. Tolong jelaskan maksud sebenarnya kepada ku Kakak." ujar Gina kembali.


"Jangan buat aku semakin pusing kakak" lanjut Gina kembali.


"Jadi gini Gin. Menurut orang awam anak seperti Arga hanya memiliki dua kemungkinan kalau tidak maaf ini ya. Kalau tidak bodoh benar kemungkinan lainnya adalah sangat sangat pintar." ujar Anggel kemudian. Anggel berusaha menjelaskan dengan gampang saja kepada Gina. Anggel tidak mau memakai istilah medisnya. (Sebenarnya author juga kurang tau. Takut salah)


"Jadi maksud Kakak kalau Arga itu?" ujar Gina yang langsung berlari menuju Arga.


Gina merengkuh Arga ke dalam pelukannya. Gina yang pertamanya sanggup untuk mendengar apa yang dikatakan oleh Anggel mendadak menjadi sangat tidak sanggup. Gina memeluk Arga sambil menangis memeluk anak kesayangannya itu. Anak yang selama ini ia perjuangkan saat kehamilannya.


"Sayang bagaimanapun hasilnya, kamu tetap anak kebanggaan mommy." ujar Gina sambil memeluk Arga erat.


Cup


Cup


Cup


Cup


Ribuan ciuman diberikan Gina kepada anaknya itu. Gina tidak membayangkan akan seperti apa Arga kedepan kalau semua orang tau kelemahan anaknya.


"Ya Tuhan berikanlah aku umur yang panjang untuk bisa menjaga terus anak aku yang sangat butuh aku ini Tuhan." ucap Gina berdoa sambil memeluk anaknya.


Anggel dan Rani yang melihat Gina seperti itu hanya mampu geleng geleng kepala. Gina sudah salah sangka dengan apa yang mau diberitahukan kepada dirinya. Kasih sayang seorang ibu membuat Gina mengambil kesimpulan terburuk tentang anaknya itu.


"Gin, duduk lagi. Biar Arga bermain lagi." ujar Anggel setelah melihat Gina yang kembali tenang.


Tetapi Gina sama sekali tidak melepaskan Arga dari pelukannya. Gina membawa Arga duduk dengannya untuk mendengar apa kesimpulan akhir dari pemeriksaan Anggel. Gina ingin menjadikan Arga sebagai benteng penguat perasaannya saat dia mendengar semua cerita dari Anggel.


"Gina sekarang kakak mau tany serius dengan kamu. Apa kesimpulan yang kamu ambil tadi sampai membuat kamu berlari dan memeluk Arga seperti itu?" tanya Anggel yang benar benar penasaran dengan tingkah Gina tadi.


"Aku mengambil kesimpulan kalau Arga termasuk anak yang kakak sebutkan pertama tadi. Maaf tergolong kedalam anak yang bodoh." ujar Gina sambil mengecup kepala Arga.


"Gina Gina. Kamu terlalu cepat mengambil kesimpulan. Sepertinya insting seorang ibu kamu sudah tidak membuat kamu berpikir rasional. Kamu hanya berpikiran hal buruk akan terjadi kepada anak Arga." ujar Anggel sambil tersenyum.


"Maafkan aku kak. Aku sudah terlalu cepat mengambil kesimpulan tanpa mendengarkan apa yang akan kakak katakan." ujar Gina yang menyadari kesalahannya

__ADS_1


"Sekarang aku siapkan untuk mendengar apa yang akan kakak sampaikan sampai terakhir?" tanya balik Anggel.


Gina mengangguk dengan pasti.


"Baiklah kakak langsung saja ke intinya supaya kamu tidak mengambil kesimpulan sendiri lagi." ujar Anggel.


"Gin, sebenarnya Arga tidak seperti yang kamu takutkan itu. Arga termasuk anak yang sangat sangat pintar dan bisa dikatakan mengarah ke jenius. Jadi apa yang kamu takutkan itu tidak terjadi." ujar Anggel.


"Apakah itu kenyataan atau kakak hanya ingin membuat hati aku senang saja?" tanya balik Gina kepada Anggel.


"Untuk apa aku mengatakan kebohongan Gin. Aku seorang dokter. Aku harus mengatakan sesuatu hal itu dengan pasti. Mau baik atau buruk hasilnya." ujar Anggel.


"Jadi anak aku tidak seperti yang ditakutkan oleh Mami? Anak yang akan membuat malu keluarga Soepomo?" tanya Gina yang sangat penasaran dengan jawaban dari Anggel.


"Nggak Gin. Anak kamu nggak akan buat malu. Saat besar dia akan menjadi anak kebanggaan semua orang. Jarang jarang ada anak yang bisa sepintar Arga." Anggel kembali menjelaskan kepada Gina tentang kelebihan Arga itu.


"Alhamdulillah aku sangat bahagia mendengarnya Kak. Anak yang tidak diterima kehadiran oleh kedua neneknya besok akan aku pastikan neneknya akan bersujud meminta maaf kepada Arga." ujar Gina dengan tatapan kebencian saat mengatakan hal itu.


Anggel dan Afdhal serta Rani merinding mendengar ancaman yang dikatakan oleh Gina barusan. Mereka tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi besok harinya.


"Kak boleh aku meminta hasil pemeriksaan Arga?" tanya Gina kepada Anggel.


Anggel memberikan hasil pemeriksaannya. Gina melihat hasil pemeriksaan itu.


"Aku nggak bisa bacanya kak.." ujar Gina menyerah kepada Anggel.


Anggel kemudian menjelaskan semua isi hasil pemeriksaan Arga kepada Gina. Gina sangat senang mendengar semua yang dikatakan oleh Anggel. Ternyata apa yang ditakutinya tidak terjadi. Arga bisa kembali menjadi anak normal bahkan dari segi kemampuan dia jauh di atas anak normal.


"Jadi yang perlu kita perbaiki sekarang apanya kak?" tanya Gina kembali.


"Kita harus memperbaiki rasa empatinya kepada orang lain. Aku cemas kalau itu tidak kita perbaiki maka dia akan bersikap acuh saja sama orang." ujar Anggel.


"Jadi gini maksudnya Gin. Sekarangkan Arga asal dia menyakiti kiya dia acuh saja. Tidak ada rasa kasihannya sama sekali. Nah yang harus kita perbaiki ya itu tadi. Rasa kasihan itu harus kita munculkan lagi." Anggel menjelaskan kepada Gina tentang apa yang harus mereka perbaiki atau mereka arahkan kepada Arga.


"Caranya kak?" tanya Gina yang penasaran dengan bagaimana cara menimbulkan rasa empati dari Arga terhadap orang lain.


" Terapi itu Gin salah satunya. Nanti dia akan aku bantu dengan konseling. Intinya kamu, aku dan Rani sama sama memberikan yang terbaik untuk Arga." ujar Anggel sambil memegang tangan Gina.


"Makasi kak" jawab Gina sambil tersenyum.


"Nyonya aku akan selalu membantu Arga." jawab Rani sambil memeluk Arga.


"Terimakasih atas semua bantuannya. Aku sangat sangat berhutang kepada kalian berdua." ujar Gina sambil mengusap air matanya yang sempat lolos itu.


"Ayuk pulang sudah sore." ajak Afdhal yang melihat jam dinding ruangan Anggel menunjuk angka lima sore.


Mereka masuk ke dalam mobil masing masing. Ketiga mobil itu bergerak meninggalkan klinik tempat Anggel praktek untuk menuju kediaman masing masing.


MOBIL AFDHAL


"Sayang apakah Arga akan kembali seperti anak biasa?" tanya Afdhal sambil memegang tangan Anggel.


"Bisa sayang, kita sama sama berusaha. Suatu hal yang pasti, setiap ada proses maka akan ada hasil. Kalau proses kita maksimal maka hasilnya juga akan maksimal sayang." jawab Anggel sambil tersenyum kepada calon suaminya yang mencemaskan kondisi keponakannya itu.


"Aku akan mengerahkan semua tenagaku sayang untuk kebaikan ponakanku itu." ujar Afdhal dengan penuh keyakinan.


"Aku juga akan berusaha untuk Arga sayang."

__ADS_1


"Makasi sayang atas bantuan Mu. Aku sangat menghargai semuanya. Aku berhutang kepadamu sayang." jawab Afdhal sambil menatap Anggel sesaat.


"Sayang nggak ada hutang hutangan. Kita ini satu. Paham" ujar Anggel yang sedikit marah atas jawaban Afdhal.


"Maaf sayang jangan pake marah. Aku tau kita satu. Tapi apa salahnya aku minta terimakasih kepada calon istri ku ini." ujar Afdhal.


"Minta makasih sih oke sayang. Kata utang ini yang nggak ngenain."


"Iya maaf ya sayangku." ujar Afdhal membujuk Anggel


"Sama sama sayangku" jawab Anggel.


Tak terasa mereka sampai di depan gerbang rumah milik Anggel.


"Sayang aku langsung pulang ya. Aku lelah sekali." ujar Afdhal yang memang sangat merasakan lelah di badannya.


"Iya sayang aku paham. Hati hati di jalan. Jangan ngebut. Udah mau pulang aja kok ya." ujar Anggel.


Afdhal melajukan mobilnya menuju rumah utama keluarga Wijaya.


"Apakah aku harus menyampaikan berita bahagia ini ke Ayah dengan Nana atau aku harus diam saja." ujar Afdhal yang tidak tau harus berbuat apa.


"Ingin rasanya aku mempertemukan Gina dengan Nana, tapi apakah Nana mau? Nana sangat berwatak keras. Aku takut Nana semakin marah dan mewujudkan niatnya untuk menghapus Gina dari ahliwaris. Aku nggak mau itu terjadi." lanjut Afdhal.


Afdhal berperang dengan pemikirannya sendiri. Dia tidak tau harus berbuat seperti apa. Dia bener bener pusing. Nana terlalu egois untuk mendengar apa yang sebenarnya terjadi dengan Arga dan Daniel.


Afdhal memukul stirnya. " Pusing gue. Nana terlalu kekanak kanakan. Sedangkan Gina juga tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi."


Mobil yang dikendarai Afdhal langsung masuk ke dalam perkarangan rumah utama Wijaya. Afdhal memarkir mobilnya di tempat biasa dia parkir. Afdhal langsung menuju kamarnya, dia akan beristirahat terlebih dahulu. Dia benar benar lelah sehari ini. Tidak hanya lelah pikiran tetapi juga perasaan karena perselisihan antara Nana dan Adik semata wayangnya.


.


.


.


Gina yang baru saja masuk ke dalam rumah utama dikagetkan dengan teriakan Aris.


"Dari mana saja kamu, suami pulang kerja kamu tidak ada di rumah." teriak Aris yang langsung main marah saja.


"Aku dari luar dengan Arga." jawab Gina sambil menggendong Arga ke dalam pelukannya.


"Mana ada. Kamu pasti dari melala dan menjadikan Arga sebagai tameng kamu." ucap Aris yang mendadak marah itu.


"Terserah kalau kamu tidak percaya dengan semua ucapanku. Satu hal yang pasti, aku tidak pernah boong sama kamu." balas Gina sambil berlalu dari depan suaminya.


Gina tidak tau kenapa Aris tiba tiba menjadi tidak percaya dengannya. Gina membawa Arga masuk ke dalam kamarnya. Gina memandikan dan memakaikan pakaian Arga. Dia sangat malas untuk keluar dan melihat suaminya itu. Untung saja tadi sebelum pulang Gina menyempatkan diri membeli makanan sehat untuk Arga dan dirinya.


Gina menyuapi Arga dengan makanan yang dibeli di luar tadi. Setelah selesai menyuapi Arga, Gina juga memakan makanannya sendiri. Setelah selesai makan Gina mengajak Arga untuk belajar sebentar.


Setelah belajar selama satu jam, Arga tiba tiba menguap, dia benar benar merasakan kantuk yang sudah tak tertahankan lagi. Gina membawa Arga ke ranjang besarnya, mereka berdua tertidur sambil berpelukan.


Aris yang melihat Gina tidak kembali juga ke kamar. Langsung berjalan menuju almari untuk mengambil kunci cadangan kamar Arga.


Aris membuka kamar itu dengan perlahan. Dia melihat Arga memeluk Gina begitu juga Gina balas memeluk Arga. Mereka berdua seperti saling melindungi


Aris mendekat ke arah dua orang yang sangat disayangi dan dicintainya itu.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang tadi sudah marah sama kamu. Sudah berteriak di depan kamu. Maafkan aku sayang." ujar Aris sambil menatap ke arah Gina.


Selesai meyakinkan Gina dan Arga sudah tertidur. Aris mengambil salah satu bantal mainan Arga. Dia memilih tidur di lantai menemani kedua orang yang sangat berarti di dalam hidupnya itu.


__ADS_2