Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
F. BACK ARGA BREE


__ADS_3

Hujan pagi hari membuat Aris yang sebenarnya ada meeting dengan para manager di perusahaan kembali menarik selimut menutupi tubuh mereka berdua yang dalam keadaan tidaknada sehelai benangpun. Aris kembali membawa Gina ke dalam pelukannya. Gina yang merasakan hangat kembali memejamkan matanya dan masuk ke dalam pelukan suaminya. Mereka berdua kembali tertidur.


Semua anggota keluarga termasuk Arga sudah berada di meja makan. Mereka akan sarapan pagi. Papi melihat sekeliling tidak terlihat wajah Aris maupun Gina.


"Loh Frenya, Arga ada, kenapa Bunda dan Daddy tidak ada?" tanya Papi yang menyuarakan keheranannya kepada Frenya..


"Arga tidur sama Frenya tadi malam tuk. Bunda dengan Daddy nggak tau Frenya." ujar Frenya yang telah mengambilkan sarapan untuk semua orang.


Bayu dan Mira yang baru keluar dari kamar mereka juga tidak melihat Aris dan Gina.


"Loh Gina mana Mi?" tanya Mira yang juga sama penasaran dengan Papi.


"Kayaknya mereka berdua baru selesai mengambil hadiah selamat ulang tahun sayang." ujar Mami sambil tersenyum kecil.


Mereka semua akhirnya sarapan tanpa adanya Aris dan Gina. Sepertinya sepasang suami istri itu bener bener sedang kelelahan.


"Hay cucu Atuk ganteng. Arga ulang tahun hari ini sayang?" tanya Atuk yang melihat Arga dari tadi tidak semangat.


Arga mengangguk kepada Atuknys.


"Arga sedang marah?" lanjut pertanyaan Papi sambil membantu Arga menyusun legonya.


Arga mengangguk lagi, tanpa mau melihat ke arah Atuk.


"Marah sama Bunda dan Daddy yang belum bangun itu?" tanya Atuk yang sengaja membesarkan suaranya agar terdengar oleh Aris dan Gina yang sedang sarapan.


Arga kembali mengangguk setuju dengan yang dikatakan oleh Atuknya.


Gina dan Aris yang mendengar pertanyaan Papi dan melihat anggukan dari kepala Arga, mengakhiri sarapan mereka yang baru habis setengahnya saja.


Gina langsung berlari ke arah Arga. Gina membawa Arga kedalam pelukannya. Gina berusaha menahan tangisnya. Dia hari ini telah mengabaikan anaknya. Padahal hari ini adalah hari jadi Arga.


"Sayang, maafin Bunda karena Bunda ketiduran pagi tadi. Bunda nggak maksud untuk cuekin Arga sayang." ujar Gina kepada Arga.


Aris yang semula hanya duduk saja dekat anak dan istrinya, membawa mereka berdua kedalam pelukannya.


"Maafin Daddy juga ya nak. Daddy yang salah karena saat bangun Daddy menarik selimut lagi." ujar Aris yang tidak mau menutupi sesuatupun dari Arga.


Gina melepaskan Arga dari pelukannya. Arga memegang tangan Bunda dan Daddy, dia mencium kedua tangan itu bergantian. Setelah itu Arga menyerahkan legonya kepada Aris. Sedangkan dia memilih tidur di paha Gina.


"Apakah anak ganteng Daddy meminta Daddy untuk bermain lego?"


Arga mengangguk. Arga berdiri dari tidurnya dan langsung mencium bibir Aris.

__ADS_1


Gina kaget melihat gaya Arga mencium Aris.


"Sayang, Arga belajar dari siapa mengkiss Daddy seperti itu?" ujar Gina yang penasaran.


Gina dan Aris sangat berhati hati dan menjaga sikap mesra dan romantis mereka di depan Arga. Tak sekalipun Arga melihat mereka berdua berciuman atau hal mesra lainnya.


Begitu juga dengan pertengkaran. Mereka berdua tidak pernah bertengkar di depan Arga. Bisa dikatakan mereka berdua memang tidak pernah bertengkar sebagai sepasang suami dan istri.


"Nya" jawab Arga sambil terkekeh geli.


"Apa!!!!! Frenya?" ujar Gina yang tidak percaya mendengar jawaban dari Arga.


Arga mengangguk meyakinkan Bundanya apa yang dikatakannya adalah benar, kalau Frenya yang mengajarkannya.


"Sudahlah sayang. Biar dia kiss begitu dengan keluarga terdekatnya. Lagian Arga masih bayi. Besok saat dia sudah mulai pahan, maka kita akan memberitahukan kepada dia dengan sangat hati hati." ujar Aris menenangkan Gina yang terlihat tidak terima Arga kiss seperti itu.


Gina mengangguk pasrah dengan apa yang dikatakan Aris yang memang ada benarnya juga. Mereka bertiga kemudian sibuk bermain lego. Aris menyusun legonya tinggi tinggi. Kemudian Arga datang untuk mengharcurkannya. Setelah lego hancur maka Arga akan tertawa terpingkal pingkal. Papi dan Mami yang melihat hal tersebut tersenyum bahagia.


Setelah hari siang. Arga menguap lebar lebar. Dia menarik lengan baju Gina.


"Arga mau bobok?"


Arga mengangguk.


Arga yang sebenarnya ingin tidur siang dengan Bunda, tetapi melihat Daddy begitu bersemangat hanya bisa mengangguk saja. Aria menggendong Arga menuju kamar Aris. Dia sangat ingin tidur siang dengan anaknya di atas kasur dirinya.


Aris meletakan Arga di atas kasur. Setelah itu Aris juga berbaring di sebelah Arga. Dia mengusap dan memukul mukul kecil paha montok Arga. Aris juga bernyanyi. Nyanyo yang di karang oleh Aris sendiri. Dalam setiap kalimat kalimat lagunya sangat terlihat Aris memuja Arga. Tak terasa Arga sudah tertidur dengan masuk ke dalam ketiak Aris.


"Kamu sama dengan Bunda." ujar Aris sambil mengusap kepala anaknya.


Mereka berdua langsung tertidur nyenyang. Sedangkan Gina menunggu kiriman baju untuk pesta ulang tahun Arga nanti sore. Semua anggota keluarga akan memakai baju dengan nuansa crem. Para laki laki akan memakai baju kemeja lengkap dengan jas. Sedangkan yang perempuan akan memakai gaun.


Setelah semua baju datang, Gina memberikannya kepada Mami dan Papi. Sedangkan untuk Bram, Bayu dan Mira diletakkan Gina ke dalam kamar mereka. Pakaian untuk keluarga Wijaya sudah diserahkan langsung ke rumah utama.


Tepat pukul setengah tiga sore, Gina membangunkan dua pria tampannya yang sedang terlelap tidur.


"Sayang sayang Bunda ayo bangun. Tapi mau ada acara." ujar Gina sambil menciumi pipi kedua pria tampan itu.


Tapi reaksi dari mereka berdua cukup berbeda. Aris yang dicuim minta tambah dan makin pura pura tidur. Sedangkan Arga langsung duduk dan mengelap bekas ciuman bundanya.


"Sayang ayok mandi." kata Gina menggendong Arga. Setelah turun dari kasur Arga langsung meminta turun dan berjalan sendirian ke kamar mandinya. Gina hanya bisa mengikuti anaknya dari belakang.


Gina menyiapkan pakaian yang harus di pakai oleh Arga. Gina menunggu anak bungsunya itu selesai mandi.

__ADS_1


Arga yang mandi selalu lama, baru selesai setelah mandi selama tiga puluh menit. Gina hanya bisa geleng geleng kepala melihat kelakuan anaknya itu.


"Sayang sini Bunda tolong pakai bajunya." ujar Gina.


Arga mendekat ke arah Gina. Gina membantu Arga memakai bajunya. Selesai membantu Arga memakai pakaian. Gina membawa Arga turun untuk bermain dengan suster. Gina dan Aris bersiap siap untuk pergi acara ulah tahun Gina.


Semua keluarga sudah siap untuk berangkat ke acara pesta ulang tahun Arga. Mereka sudah memakai baju yang disiapkan oleh Gina.


Mereka akhirnya sampai di tempat acara yaitu hotel milik Wijaya Grub. Salah satu hotel yang akan diwarisi oleh Arga sendiri saat dia sudah dewasa.


Arga sangat senang melihat begitu banyak boneka super hero yang tergantung serta balon balon besar bergambar super hero. Pada acara itu juga ada badut badut super hero yang ikut memeriahkan acara ulang tahun.


Arga berlari menuju salah satu badut. Arga sibuk bermain dengan badut tersebut. Badut tersebut juga senang bermain dengan Arga. Gina dan yang lainnya sangat senang melihat Arga begitu gembira. Arga yang dalam kesehariannya diam, mendadak menjadi sangat girang seperti sekarang, membuat keluarganya bahagia.


Tibalah acara puncak ulang tahun Arga. Seorang yang ditunjuk Nana menjadi protokol acara maju untuk membuka acara penting tersebut.


Kata sambutan diberikan oleh protokol dan juga Aris. Tibalah acara puncak yaitu pemotongan kue ulang tahun yang akan dilakukan oleh Arga dan keluarganya.


Aris dan Gina beserta tiga orang anak mereka maju untuk membantu Arga memotong kue ulang tahun. Selesai memotong kue, Arga dibantu Frenya menyuapi Bunda, Daddy, Daniel dan Frenya. Setelah itu barulah kepada semua anggota keluarga yang lain.


Selesai acara potong kue, dilanjutkan dengan acara doa bersama untuk mendoakan semua yang terbaik buat Arga.


Setelah acara doa bersama, semua tamu menikmati hidangan yang sudah disediakan oleh Nana. Mereka semua berbaur menjadi satu. Begitu juga dengan Arga yang kembali sibuk bermain dengan badut.


Acara terakhir adalah penyerahan bingkisan untuk anak anak panti asuhan yang lebih kurang berjumlah lima ratus orang. Aris sangat ingin ketiga anaknya berjiwa sosial seperti Nana dan Mami.


Selesai acara penyerahan bingkisan. Arga sudah mulai mengantuk. Dia sudah beberapa kali menguap. Hal itu sukses membuat semua keluarganya tertawa. Daniel kemudian menggendong adiknya itu yang sepertinya sebentar lagi akan tumbang kalau masih dipaksa untuk berdiri. Ternyata memang bener, Arga langsung tertidur di dalam gendongan Daniel.


Setelah selesai semua rangkaian acara. Para ballboy hotel sudah memasukkan semua hadiah milik Arga ke dalam mobil box milik hotel untuk diantarkan ke rumah utama Soepomo.


Sedangkan semua anggota keluarga memilih untuk saling bercerita terlebih dahulu.


"Bram, gimana Sari?" tanya Gina yang tau Bram dan Sari sedang dalam masalah. Makanya Sari lebih memilih menerima tawaran Ayah untuk menjadi pimpinan perusahaan yang berada di luar negeri.


"Aman tidak ada masalah." ujar Bram yang tidajw berani menatap muka Gina


"Udahlah kak, aku udah tau semuanya. Kalau kakak masih inginkan dia, kakak harus berjuang tidak hanya menunggu. Tapi kalau sudah tidak ada lagi rasa apapun. Ya udah lepaskan." lanjut Gina.


"Ntahlah Gin. Aku juga ragu." jawab Bram dengan nada pasrah.


Bram sudah beberapa kali berusaha memperbaiki hubungannya dengan Sari. Tetapi Sari masih tidak mau mengangkat telpon dari Bram.


Setelah hari makin malam, mereka semua kembali pulang ke rumah utama. Mereka akan beristirahat untuk memulai hari hari berikutnya

__ADS_1


__ADS_2