Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Waktu untuk Arga *


__ADS_3

Jero membelokkan mobilnya masuk ke dalam parkiran Soepomo Grub, dia memarkir mobilnya di basman sesuai dengan permintaan Ghina.


"Jero, kamu silahkan ke ruangan IT, saya sepertinya akan lama di Soepomo. Setelah itu nanti kita akan sama sama menuju sekolah Argha." kata Ghina sambil masuk ke dalam lift yang ada di basman yang langsung menuju ruangan suaminya.


"Siap Nyonya, nanti Nyonya hubungi saja saya, saat kita akan berangkat ke sekolah Tuan Muda." jawab Jero.


Ting. Bunyi pintu lift yang terbuka, Budi yang sedang duduk di mejanya dan seorang penjaga yang bernama Bimo berdiri saat melihat siapa yang datang.


"Pagi Nyonya." sapa Budi dan Bimo bersamaan.


"Pagi, apa suami saya ada di dalam?" tanya Ghina kepada Budi.


"Ada Nyonya, Tuan sedang membaca berkas berkas kerja sama." jawab Budi.


Budi kemudian membukakan pintu untuk Ghina. Aris yang mendengar suara pintu terbuka sebenarnya ingin marah, tetapi saat melihat siapa yang masuk dia membatalkan niatnya itu. Malahan Aris menutup dokumen yang tadi sempat dibacanya.


"Sayang, kamu tapi mau ke GA Grub?" tanya Aris kepada Ghina.


"Males sayang, jadi tengah jalan aku suruh Jero untuk menuju Soepomo." jawab Ghina sambil bergelayut manja di lengan Aris.


"Apa kamu ada kegiatan penting sayang?" tanya Ghina kepada Aris dengan nada yang rada rada gimana gitu.


"Wow, apa ada hadiah spesial yang kamu bawa sayang?" tanya Aris pura pura tidak tau dengan maksud Ghina.


"Bener dak tau, atau aku harus ke GA lagi?" tanya Ghina kepada Aris.


"Oh tentu tidak." ujar Aris.


Aris kemudian menyerbu mulur Ghina, baru saja mereka akan pergi ke kamar istirahat Aris yang berada di ruangannnya, pintu ruangan Aris terbuka, terlihat Papi dengan rasa tak bersalah dan tak berdosa karena sudah menjadi pengganggu acara Aris dan Ghina masuk dengan santainya.


"Eh ada Ghina?" tanya Papi yang sebenarnya tau anak dan menantunya ini mau ngapain.


"Iya Pi, baru saja datang." jawab Ghina yang wajahnya sudah memerah menahan gairah yang seharusnya sudah tersalurkan tetapi ada pengganggu makanya batal total.

__ADS_1


"Ada apa Pi?" tanya Aris kepada Papi.


Aris kemudian duduk di salah satu sofa, sedangkan Ghina pergi membuatkan air minum untuk suami dan mertuanya.


"Gini Ris, Papi mau membuat surat pengalihan kepemilikan Jaya Grub kepada Bram, apa kamu setuju?" tanya Papi sambil menatap Aris.


"Papi," Aris mau menjawab pertanyaan Papinya.


"Sabar, tunggu Ghina dulu, baru jawab" kata Papi.


"Lah Papi aja nanyak pas nggak ada Ghina." balas Aris


"Nanti Papi akan ulang lagi pertanyaannya, biar panjang aja ne dialog" ujar Papi lagi.


"Serah." jawab Aris.


"Ris, apa Papi datang diwaktu yang sangat tepat?" tanya Papi sambil tersenyum mengejek Aris.


"Sangat tepat sekali Papi, sangat tepat, saking tepatnya bikin aku sakit kepala" jawab Aris yang tau Papinya sedang mengejek dirinya saat ini.


"Di rumah, banyak gangguan, di hotel waktu temunya susah, nah pas ada waktu temu, ada aja yang ganggu, ternyata pengganggu itu tidak hanya setan Pi, ada juga wujud manusia." jawab Aris.


"Jadi kamu bilang Papi setan?" tanya Papi sambil menatap tajam Aris.


"Nggak, Papi yang ngomong." jawab Aris mengelak.


Papi kemudian menjewer telinga anak tunggalnya itu.


"Dasar, belum lagi Papi makin tua, eee udah dibilang setan, apalagi pas udah nggak kuat ngapa ngapain, pasti diantar ke panti jompo ini." kata Papi sambil duduk kembali ke kursinya.


"Main jewer aja, dikira masih anak kecil." kata Aris sambil mengusap telinganya yang tadi di jewer Papi.


Ghina kemudian masuk kembali ke ruangan dengan membawa tiga cangkir teh dan sepiring kue yang tadi di belinya di kantin kantor. Ghina meletakan semua itu di atas meja.

__ADS_1


"Ghina, Aris, Papi akan ulang pertanyaan yang tadi sudah Papi tanyakan kepada Aris." ujar Papi membuka cerita.


"Papi mau menyerahkan Jaya Grub kepada Bram dan juga akan menukar nama pemilik perusahaan itu menjadi nama Bram. Apa kalian berdua setuju?" kata Papi mengulang pertanyaannya yang tadi.


Aris menatap Ghina, mereka berdua di tambah dengan ketiga anaknya juga sudah pernah membahas masalah ini, mereka sekeluarga sudah memiliki jawaban seandainya Papi bertanya tentang masalah ini suatu hari nanti. Nah ternyata hari itu datang juga, Papi saat ini bertanya kepada mereka tentang permasalahan itu.


"Papi, sebenarnya kami sekeluarga aku, Ghina dan ketiga anak kami sudah membahas masalah ini jauh jauh hari, dan kami sudah memiliki jawaban tentang permasalahan ini." kata Aris mulai menjawab pertanyaan dari Papi.


"Kami saat itu sudah bersepakat untuk memberikan perusahaan Jaya Grub kepada Bram. Kami juga sepakat kalau pemilik sahnya juga harus berganti nama kenama Bram." lanjut Aris.


"Apakah benar begitu Ghina?" tanya Papi kepada Ghina yang dari tadi menyimak pembicaraan Ayah dan Anak itu.


"Benar Pi. Kami saat itu sudah membahas masalah ini. Kami sepakat seperti yang dikatakan Kak Aris tadi." jawab Ghina.


"Baiklah kalau begitu Papi akan meminta Paman Hendri dan juga pengacara kemari membawakan surat serah terima kepemilikan perusahaan. Papi juga akan menghubungi Bram." ujar Papi dengan semangat.


"Papi bisa untuk tidak sekarang memanggil Bram. Kami berencana mau menjemput Argha dan mengajaknya untuk pergi bermain sebentar." kata Aris memberitahukan kepada Papi rencana mereka untuk hari ini.


"Oh Oke kalau begitu. Besok saja kita panggil asisten Hendri, pengacara dan Bram. Papi ingin hal ini cepat selesai. Papi ingin istirahat lagi dari mengurus perusahaan." ujar Papi mengatakan alasannya.


"Satu lagi pertanyaan Papi yang masih mengganjal di hati Papi." kata Papi.


"Apa Pi?" tanya Ghina dan Aris bersamaan.


"Apa ketiga anak kalian menerima keputusan ini dengan ikhlas?" tanya Papi.


"Papi Papi. Argha akan memiliki Soepomo Grub. Sedangkan Frenya dia akan memiliki separo dari GA Grub dan separonya lagi Arga. Sedangkan Daniel dia telah memiliki rumah sakit Harapan Kita dan juga GA Hospital di negara U." ujar Ghina memberitahukan warisan apa yang telah mereka berikan kepada ketiga anak mereka.


"Lagian Papi, mereka bertiga tidak menggilai harta. Bagi mereka yang paling penting, mereka tidak terpisah pisah. Mereka pengen tinggal bersama." lanjut Ghina mengatakan apa keinginan ketiga anaknya.


"Jadi Papi jangan cemas kalau mereka tidak setuju dengan apa yang telah kita bicarakan hari ini. Mereka akan sangat setuju karena jauh jauh hari sudah kami bahas. Lagian mereka menganggap Bram sebagai Papi mereka. Jadi mana mungkin mereka akan menolak setiap kebaikan untuk Bram." kata Ghina melanjutkan kata katanya tadi.


"Baiklah kalau begitu, Papi sangat amat sennag mendengarnya." kata Papi.

__ADS_1


Mereka kemudian melanjutkan obrolan ringan. Tepat jam dua belas siang, mereka meninggalkan ruangan Aris. Papi akan kembali ke rumah utama, sedangkan Aris dan Ghina yang sudah menukar pakaian mereka dengan celana jins dan kaus putih serta memakai topi akan pergi menjemput Argha, mereka akan pergi bermain


Empat mobil mewah terlihat meninggalkan perusahaan Soepomo. Dua mobil mengarah ke rumah utama sedangkan dua mobil lagi mengarah ke sekolahan Argha.


__ADS_2