Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Hadiah Untuk Para Asisten


__ADS_3

Aris beserta anggota keluarganya yang lain dan pengawal pergi meninggalkan toko ternama itu. Mereka mencari toko dengan brand yang terkenal juga di mall tersebut.


"Daddy kenapa orang orang masih memandang orang lain dengan berapa harta yang mereka miliki. Padahal kata Ibuk guru di sekolah Tuhan tidak melihat harta umatnya melainkan melihat amal umatnya." ujar Argha sambil menatap jauh ke depan.


Aris dan Ghina menyimak apa yang dikatakan oleh anaknya itu. Mereka sekarang paham Argha memiliki misi dan potensi yang luar biasa.


"Itulah Nak, makanya Argha jangan pernah menilai seseorang dari harta yang dimilikinya. Tapi nilailah seseorang dari perbuatan baik yang dibuatnya." ujar Aris memberikan pendidikan kepada Argha.


"Oke Daddy. Argha akan selalu berbuat baik kepada orang yang juga baik dengan kita. Tapi untuk mereka yang berbuat jahat dan memiliki niat jahat, maka Argha tidak akan segan segan dengan mereka." ujar anak seusia kelas tiga SD yang sangat sangat cerdas dan bisa menganalisa keadaan itu.


"Bener Sayang, balaslah kebaikan dengan kebaikan." ujar Ghina mendukung Argha.


Mereka semua kemudian masuk ke dalam toko Brand G. Mereka akan membeli hadiah sogokan untuk Frenya disana.


"Selamat Sore Tuan dan Nyonya, silahkan masuk." sapa pelayan toko.


Aris dan yang lain masuk kedalam toko tersebut. Mereka langsung menuju karyawan yang berdiri di belakang meja.


"Bisa lihat tas keluaran terbaru mbak?" tanya Argha kepada pelayan.


"Bisa Tuan Muda. Tunggu sebentar." jawab karyawan.


Karyawan masuk ke bagian dalam toko. Dia mengambil tas koleksi terbaru yang dikeluarkan brand ternama tersebut. Karyawan membawa dua buah tas. Dia meletakan dengan hati hati di depan Argha.


"Bun" panggil Argha.


"Kamu pilih sendiri. Bunda no coment untuk kali ini " ujar Ghina.


"Yah nggak asik." ujar Argha.


Argha menatap dua tas brended tersebut. Dia benar benar nggak tau mana yang harus dipilihnya. Tiba tiba ide jahil keluar dari otak mungilnya.


"Mbak cantik sedunia, bisa dedek tampan ini meminta tolong?" ujar Argha sambil memasang wajah tampangnya dengan genit dan penuh pemujaan.


Aris dan Ghina yang melihat wajah putra semata wayang mereka lantas tertawa terbahak bahak. Mereka berdua tidak menyangka Argha akan memakai jurus tersebut.


"Anak kamu sayang." ujar Ghina.


"Anak kamu juga sayang." balas Aris.


Karyawan yang dikatakan cantik sedunia mendadak menjadi salah tingkah. Tetapi untung saja dia cepat menetralisir perasaannya yang gundah gulana dalam sesaat.


"Ada yang bisa saya bantu Tuan muda?" tanya karyawan toki.


"Ada. Bisa tolong pilihkan mana yang bagus?" tanya Argha kepada karyawan yang dari tadi memang sudah terlihat grogi.


Karyawan menatap lama kepada dua tas yang ada di depannya saat ini. Karyawan itu sudah memiliki satu pilihan, tetapi dia takut mengecewakan Argha.


Argha memandang karyawan tersebut, karyawan semakin grogi dan takut untuk mengutarakan yang mana pilihannya saat ini.


"Hay Nona cantik jangan grogi gitu santai aja. Aku tau aku tampan, tapi maaf aku kekecilan untuk nona cantik." kata Argha dengan santainya.

__ADS_1


Imbas dari apa yang dikatakan oleh Argha, kedua orang tuanya hanya bisa saling pandang dan menggelengkan kepalanya dengan lemah. Sedangkan ketiga asisten hanya bisa tersenyum simpul. Siapa yang tidak tau dengan betapa gantengnya Argha Aris Wijaya Soepomo. Pewaris nomor satu tiga kerajaan bisnis di negara I.


Karyawan yang mendapatkan kata kata romantis yang menyelekit hati itu hanya bisa tersenyum saja. Dia sudah memutuskan, Argha menerima atau tidak itu bukan urusannya lagi.


"Pilihan saya yang ini Tuan Muda." ujar karyawan dengan sangat hati hati.


Argha memandang kepada tas pilihan karyawan.


"Kamu luar biasa. Aku suka, toling bungkus yang cantik ya cantik." ujar Argha kembali dengan santai.


"Huft. Akhirnya." ujar karyawan yang dari tadi menahan nafasnya.


"Alhamdulillah." ujar Manager yang ikut ikut seteres memikirkan apakah pilihan karyawan itu tepat atau tidak menurut keinginan Argha. Manager tidak mau, tokonya bernasip sama dengan toko sebelah.


"Bunda dan Daddy duluan ke mobil ya." ujar Ghina kepada Argha.


"Okeh." jawab Argha.


Ivan kembali berdiri di belakang Argha. Sekarang tinggal dia sendirian menjaga Tuan Mudanya itu.


"Om Ivan. Sini." ujar Argha.


Argha mengajak Ivan ke deretan pakaian pria pria dewasa.


"Tuan Muda mau membelikan pakaian untuk Tuan Besar?" tanya Ivan.


"No no no. Tentu tidak. Pakaian Daddy urusan Bunda." jawab Argha yang langsung memilih pakaian pakaian yang terpajang di sana.


"Terus?" jawab Ivan yang masih belum juga paham.


"Buat Om Ivan? Jangan Tuan Muda, gaji Om Ivan nggak akan cukup membeli pakaian di sini." ujar Ivan menolak ajakan Argha.


"Siapa bilang Om Ivan yang bayar. Belanjaannya Argha yang bayar. Percuma dong Argha megang dompet Daddy. Jadi ya dimanfaatkan dengan sebaik baiknya. Argha ini pinter belanja Om." kata Argha memuji dirinya sendiri.


"Bukan pinter belanja kali Tuan Muda. Tapi pinter ngabisin." kata Ivan menjawab perkataan Argha.


"Nah bener itu. Pinter ngabisin. Jadi ayok kita habisin. Kita beli pakaian untuk Om Ivan, Om Jero dan Om Bimo." ujar Argha yang langsung menarik tangan Ivan agar memilih pakaian untuk dirinya


"Om pilih sendiri. Om beli tiga pasang. Sedangkan untuk om yang dua lagi pilih sepasang sepasang aja." ujar Argha yang kemudian memilih duduk di sofa yang ada di depan deretan pakaian pria dewasa.


Ivan terlihat bingung mau memilih pakaian yang mana. Dia benar benar baru sekali ini masuk ke dalam toko branded.


"Ayolah Om. Atau Argha yang milih?" tanya Argha yang sudah akan berdiri dari duduknya.


"Tidak usah Tuan Muda, saya pilih sendiri saja." ujar Ivan.


Ivan memilih baju dan celana sesuai dengan perintah Argha. Setelah puas memilih mereka kembali ke kasir. Sebelum sampai di kasir Argha sempat menyambar satu pasang sepatu keren untuk Ivan.


Ivan meletakan pakaian itu di meja kasir. Argha juga meletakan sepasang sepatu yabg tadi di sambarnya.


"Loh sepatu itu Tuan Muda?" tanya Ivan.

__ADS_1


"Untuk om Ivan lah." jawab Argha.


Ivan hanya bisa menggeleng saja.


Kasir melakukan scanning harga kepada semua barang yang dibeli oleh Argha. Setelah selesai dengan semua belanjaannya, mereka berdua pergi meninggalkan toko dan menuju mobil Daddy dan Bunda.


Aris dan Ghina menunggu Argha di luar mobil. Mereka tidak mau berlama lama di dalam mobil yang ber ac. Aris dan Ghina di vuat kaget saat melihat Ivan membawa papaer bag yang lumayan banyak itu. Bimo yang melihat langsung menyusul Ivan dan membantu Ivan membawa sebagian paper bag.


"Daddy ini dompetnya Argha kembalikan dalam kondisi sehat. Tetapi atm Daddy satu kurang sehat habis dekat dua M. Nggak apa apakan?" tanya Argha.


"Nggak apa apa. Kamu pinter." jawab Aris sambil tersenyum.


Argha kemudian menuju Ivan. Dia mengambil papar bag milik Jero


"Om Jero ini untuk om Jero. Mintak makasinya ke Daddy aja, karena belinya pake uang Daddy." ujar Argha sambil tersenyum.


Jero menatap Aris. Aris mengangguk. Jero pun membalas dengan mengangguk dan mengucapkan terimakasih.


"Nah kalau yang ini punya Om Bimo. Nggak usah mintak terimakasih ke Daddy Om. Om udah layak dapat ini malahan harisnya lebih larena tiap jam harus bareng Daddy yang gila kerja itu." ujar Argha sambil menatap Aris.


"Yang ini untuk Om Ivan. Om Jero dan Om Bimo nggak boleh protes kenapa Om Ivan banyak. Jawabannya karena Om Ivan nemani Argha seharian. Jadi kalau mau banyak mintak sama Bunda dan Daddy. Atau Bunda dan Daddy inisiatif belikan juga." kata Argha dengan santainya.


Ghina dan Aris hanya bisa geleng geleng kepala saja. Mereka tidak pernah membedakan ketiga asistennya. Tapi karena Argha masih kecil dan tidak mengerti makanya mereka diam saja. Lagian Jero dan Bimo juga paham.


"Sekarang mari pulabg. Tugas Argha udah nunggu." ujar Argha yang langsung duduk di depan tepat sebelah Jero


"Tuan Muda. Kali ini kan Om Jero yang bawa mobil dan nemani Tuan Muda. Kok nggak di kasih sepatu seperti Om Ivan?" tanya Jero pura pura cemburu dan protes.


Argha terdiam sesaat.


"Bunda pinjam dompet." ujar Argha kepada Ghina.


Ghina memberikan dompetnya kepada Argha tanpa rasa curiga.


Argha mengambil donpet tersebut dan membuka isinya. Argha mengambil uang milik Ghina. Dia menghitung uang tersebut.


"Yah nggak cukup sesuai dengan beli sepatu Om Ivan. Tapi nggak apalah." ujar Argha dengan pelan.


"Bunda ni dompet." ujar Argha.


Ghina dan Aris yang melihat Argha mengambil semua uang dari dalam dompet Ghina hanya diam saja. Mereka ingin tau apa yang akan dilakukan Argha.


"Om Jero yabg ganteng dan paling ganteng dari sebanyak itu pengawal. Berhubung Argha nggak punya uang dan atm seperti punya Daddy, jadi Argha mintak uang ke Bunda." ujar Argha memulai kalimatnya.


"Nah ternyata lagi, uang tunai Bunda nggak sebanyak harga sepatu Om Ivan tadi. Lagian juga Om Jero kan bentar bawa mobilnya. Jadi Argha kasih segini aja ya." ujar Argha sambil meletakkan uangnya ke atas telapak tangan Jero.


"Hahahaha, Tuan Muda, Om Jero bercanda jangan diambil serius." jawab Jero.


"Hahahaha. Om Jero, Argha juga bercanda. Lagian ini anggap aja tips dari Bunda karena udah lama jadi ketua pengawal Bunda." kata Argha.


Jero melihat ke arah Ghina.

__ADS_1


"Ambil aja Jer. Anggap aja seperti yang dikatakan Argha." ujar Ghina.


Jero mengambil uang tersebut. Padahal baru dua hari yang lewat Ghina memberi Jero uang tambahan. Tetapi Argha tidak tau. Maka beruntunglah Jero hari ini.


__ADS_2