Kesetiaan Seorang Istri

Kesetiaan Seorang Istri
Frenya Kepo


__ADS_3

"Kita makan dulu Bun. Argha lapar." ujar Argha sambil mengambil pesanannya.


Gina kembali merasa kesal dengan anaknya itu.


"Bunda, nggak boleh kesal dengan anak sendiri Bun. Berdosa." ujar Argha berbicara dengan nasi yang berada di dalam mulutnya.


"Argha pernah Bunda ngajarin ke Argha boleh ngomong saat makan?" tanya Ghina dengan menatap tajam ke arah anaknya itu.


Arga menggeleng, dia tau dia salah. Mereka kembali melanjutkan makan siang. Mereka makan dengan santai saja. Ghina sudah memesan ruangan VIP ini untuk waktu yang lama. Jadi Ghina akan melebihkan pembayarannya nanti.


"Bun, jelaskan yang tadi." ujar Frenya yang dari tadi sudah menahan rasa ingin tahunya yang sudah memenuhi rongga dadanya itu.


Ghina menceritakan semuanya kepada Frenya. Semua cerita tentang istri pertama Papi.


"Jadi Atuk ada istri pertamanya Bun?" tanya Frenya yang tidak menyangka dengan semua ini.


"Yup, kamu kagetkan? Kami juga kaget. Tapi memang itu kenyataannya." ujar Ghina.


"Apa Daddy tau Bun?" tanya Frenya lagi.


"Nggak. Makanya Bunda heran kok Daddy bisa nggak tau." ujar Ghina lagi.


"Atau memang Atuk sengaja kali Bun. Biar Daddy nggak merasa punya ibu tiri." jawab Frenya memberikan tanggapannya.


"Gha, jadi kemaren ngapain masuk kamar Atuk sampe nggak ngomong ngomong dan akhirnya menghilang di dalam kamar?" tanya Ghina kepada Argha yang terlihat sedang termenung.


"Argha mau cari fhoto Nenek itu Bun. Argha penasaran aja." jawab Argha.


"Terus ada ketemu fhotonya?"


"Ada tapi besar nggak bisa Argha bawa keluar. Mana Argha lupa bawa ponsel lagi untuk ambil fhotonya." ujar Argha menyesali keteledorannya yang lupa membawa ponsel saat masuk ke dalam kamar Papi.


Ghina terlihat berpikir panjang. Dia sama sekali tidak pernah melihat fhoto wanita lain di kamar Papi selain fhoto pernikahan Papi dan Mami.


"Gha setau Bunda ni ya. Nggak ada fhoto wanita lain di kamar Papi. Yang ada hanya fhoto nenek lampir itu." ujar Ghina membantah Argha.

__ADS_1


"Jadi Bunda meragukan Argha?" tanya Argha dengan ketus.


"Bukan begitu Gha. Cuma Bunda nggak tau Argha melihat fhoto itu dibagian mana kamarnya Atuk." jawab Ghina yang tidak ingin Argha mendadak menjadi kesal kepada dirinya.


Ghina harus menjaga perasaan Argha, supaya tujuan Ghina untuk mengetahui ada apa diruangan Papi bisa terwujud.


"Bunda tengok di kamar Atuk tu iya. Coba masuk ke dalam ruang rahasia yang ada di kamar Atuk, Bunda akan lihat ada fhoto wanita lain di sana. Sekaligus fhoto pernikahan Atuk dan Nenek itu." ujar Argha menjawab perkataan Ghina. Argha sangat tidak suka kalau dia tidak dipercaya.


Ghina terkejut mendengar kalau di kamar Papi ada kamar atau ruangan rahasia yang selama ini disimpan rapat oleh Papi.


"Apa Bik Imah tau ya masalah ruangan itu?" tanya Ghina dengan pelan.


"Kok Bunda ngomong gitu?" tanya Argha heran.


Ghina menceritakan semuanya kepada Argha dan Frenya.


"Sepertinya Bik Imah tau sesuatu Bun. Kita sama sama tau juga kalau Bik Imah dan Pak Paijo adalah maid terlama yang bekerja di rumah utama." Frenya memberikan pendapatnya tentang Bik Imah dan Pak Paijo.


"Gha balik keruangan itu lagi. Kamu tau ruangan itu dari siapa Gha?" lanjut Ghina bertanya tentang dari mana Argha tau perihal ruangan kecil itu.


Ghina mengangguk. Ghina sangat tau dengan semua kebiasaan Argha.


"Jadi Argha buka mata Argha. Argha sengaja tidak berdiri. Saat itu Argha tengok Atuk emmencet tombol penghidup lampu. Tapi nggaj satupun lampu yang hidup. Tetapi malahan yang terbuka adalah dinding kamar. Nah Argha kan penasaran, Argha buka mata Argha lebar lebar. Kiranya Atuk masuk kedalam ruangan yang berada di balik dinding kamar." Argha menceritakan apa yang dilihatnya pas malam itu.


"Terus kenapa kamu nggak ikut masuk?" lanjut Ghina menginterogasi Argha.


"Gimana mau masuk, wong pintune langsung hilang. Sama sekali nggak kelihatan kalau dinding itu merupakan sebuah pintu." lanjut Argha.


"Gha, apa banyak fhoto fhoto di dalam sana?" tanya Frenya yang juga penasaran.


"Banyak, malahan ada fhoto Daddy sedang digendong Nenek saat bayi. Semua fhoto di simpan Atuk di dalam ruangan itu." jawab Argha.


"Apa Nenek cantik Gha?" tanya Frenya lagi.


"Sangat cantik. Jauh cantik dari pada nenek lampir." ujar Argha lagi.

__ADS_1


Frenya terlihat menganalisa semua informasi yang diberikan oleh Argha.


"Bun kalau begini ceritanya, sepertinya Atuk memang sengaja untuk tidak menceritakan masalah nenek kepada Daddy." Frenya memberikan hasil analisanya kepada Ghina dan Argha.


"Argha juga setuju Bun." jawab Argha yang setuju dengan pendapat Frenya.


"Oh ya Nya, gimana dengan persiapan lamaran Papi Bram?" tanya Ghina yang sudah menemukan titik permasalahan yang ada. Ghina hanya tinggal menunggu bukti kekurangajaran seseorang dalam masalah ini.


"Tinggal nunggu seserahan ini lagi Bun. Setelah itu selesai semuanya. Tinggal nunggu berangkat aja lagi Bun."


"Oke sip. Gha kita harus bisa mendapatkan fhoto orang itu dalan dua hari ini." ujar Ghina.


"Aman Bun. Serahkan ke Argha." jawab Argha.


"Ya udah sekarang kita lanjutkan dulu belanja bulanab. Sepertinya udah banyak bahan makanan yang habis di rumah utama." ajak Ghina kepada kedua anaknya itu.


Mereka bertiga menuju supermarket mall tersebut. Mereka masing masing membawa kereta dorong untuk mengambil kebutuhan rumah tangga.


"Kamu kenapa juga ngambil troly Gha?" tanya Freny heran melihat adik bontotnya juga membawa troly.


"Argha juga mau belanja Nya. Emang Uni dan Bunda aja yang mau belanja? Argha juga ada kebutuhan yang harus Argha beli." jawab Argha seperti jawaban orang dewasa.


Ghina yang mendengar perdebatan kakak dan adik itu hanya bisa tersenyum saja. Ghina sangat senang kakak beradik ini bisa akur walau mereka tidak terlahir dari rahim yang sama.


"Bun, Argha mu beli mangga muda itu." ujar Argha menunjuk mangga muda yang di jual tersebut


"Untuk aa Gha?" tanya Ghina heran dengan keinginan Argha.


"Yang pasti bukan untuk Argha Bunda. Tapi untuk kak Rani. Dia kan lagi hamil. Bikin rujak pasti enak." jawab Argha yang ternyata sudah mengambil berbagai macam buah buahan untuk dibuat rujak.


"Oke sip. Bunda setuju. Nanti akan Bunda buatkan bumbunya." jawab Ghina.


Ghina kemudian senyum senyum sendiri mengingat masa masa kehamilannya. Dimana dia sama sekali tidak mengidam dan tidak mual. Malahan yang merasakan semua adalah Aris suaminya.


Setelah yakin belanjaan mereka sudah lengkap. Ghina membayar semuanya ke kasir. Seorang karyawan mall membantu membawakan semua belanjaan Ghina ke mobil yang sudah diparkir Frenya tepat di depan pintu supermarket. Belanjaan yang luar biasa banyaknya.

__ADS_1


Mereka bertiga kemudian pergi meninggalkan mall untuk kembali ke rumah utama. Argha berencana akan masuk kembali ke kamar Papi.


__ADS_2