
Udah bereskan sayang? Sekarang kita akan lihat seberapa jauhnya kemampuan dari ketua gank black jack. Kami sangat penasaran." ujar Ghina mengompori Aris.
"Kamu sangat yakin mau menandingi aku sayang? Aku takut nanti kamu menyesal." ujar Aris kepada Ghina.
"Wow aku menyesal? Bukannya kamu yang akan menyesal sayang?" ujar Ghina balik menatap Aris.
"Nggak akan mungkin. Kamu harus mulai bersiap siap untuk berolahraga malam selama seminggu." ujar Aris mengingatkan kembali taruhan mereka.
"Kamu yang harus bersiap siap sayang. Kamu akan selalu memasak untuk aku selama seminggu." ujar Ghina juga ikut mengingatkan taruhannya dengan Aris.
"Nggak akan mungkin sayang." ujar Aris dengan yakin.
"Yakin kalilah kamu." ujar Ghina.
"Yakinlah. Aku ghitu loh. Siapa yang bisa mengalahkan aku. Belum ada." ujar Aris masih dengan sombongnya.
"Yelah." ujar Ghina yang males melihat gaya dari Aris yang tak mau kalah itu.
"Daddy, Daddy pasti akan menyesal karena sudah berani menantang Bunda." ujar Argha sambil menatap cemooh Daddynya.
"Nggak akan Gha. Daddy pasti menang. Apa kamu nggak mau melihat Daddy menang?" tanya Aris kepada anaknya itu.
"Mau Daddy, tapi Argha nggak mau nanggung resiko atas kekalahan Daddy. Beneran. Nggak sanggup Argha Daddy." ujar Argha memasang muka memelasnya.
"Udahlah kapan lombanya ini. Kami udah penasaran." ujar Mira menengahi keributan receh keluarga itu.
Mereka kembali berjalan menuju ruangan yang ada di markas tersebut. Aris menatap setiap sudut ruangan dengan rasa kagum. Ternyata sayap kanan markas lebih luas dari pada sayap kiri.
Mereka sampai di lapangan tembak. Ghina berhenti di depan pintu kaca.
"Mau ini duluan sayang?" tanha Ghina kepada Aris.
"Boleh juga sayang." jawab Aris yang setuju untuk memulai perlombaan dari lomba menembak.
Pengawal membuka pintu ruangan lapangan tembak. Mereka semua masuk. Aris menatap kagum ke arah lapangan yang luar biasa luas itu.
"Tembak lawan diam atau yang bergerak sayang?" tanya Ghina yang sudah siap di posisinya.
"Bergerak sayang. Mana asik yang diam." jawab Aris dengan mantap.
Gina menekan tombol yang ada di depannya. Keluarlah beberapa boneka yang terlihat seperti manusia.
"Peraturannya bagaimana?" tanya Ghina selanjutnya.
"Argha yang ngasih peraturan." ujar Argha.
"Dikatakan berhasil kalau menembak tepat di jantung dan kepala musuh." ujar Argha dengan antusias.
"Setuju" jawab Aris dan Ghina bersamaan.
__ADS_1
Argha melemparkan koin miliknya untuk mengundi siapa yang akan terlebih dahulu menembak. Para pengawal sudah bersiap di posisi mereka masing masing untuk menjadi juri.
"Daddy" ujar Argha mempersilahkan Aris untuk menembak.
Aris mengambil sebuah pistol pendek. Dia selalu menembak menggunakan pistol jenis tersebut.
Aris mengambil posisinya yang pas. Setelah yakin dengan posisi tembaknya Aris mulai membidik musuh yang akan diincarnya. Boneka boneka yang jadi sasaran tembak berlarian di seputar arena tembak.
"Daddy itu kecepatan biasa baru Daddy. Kenapa harus lama kali baru mau eksekusi." ujar Argha menyoraki Aris.
"Sabar Gha. Bidik dulu." ujar Aris membela dirinya.
Aris kembali membidik target. Dor. Bunyi sebuah letusan. Argha memencet tombol stop di meja. Seorang pengawal mengangkat boneka yang dilumpuhkan oleh Aris.
Bayu yang berada dalam posisi netral melihat hasil bidikan Aris.
"Lulus." ujar Bayu dengan semangat.
Salah satu pengawal menulis angka satu di papan skor.
"Hahahahahaha. Ngaku kalah aja sayang." ujar Aris kembali kepada Ghina.
Ghina mengambil posisinya. Dia mengarahkan pistol kesayangannya kepada target yang akan dilumpuhkan. Setelah yakin akan targetnya Ghina melepaskan tembakannya. Dor. Sebuah boneka kembali rebah ke tanah. Pengawal mengambil boneka tersebut. Bayu melakukan hal yang sama dengan yang dilakukannya tadi terhadap boneka yang direbahkan Aris.
"Gagal" ujar Bayu.
"Satu kosong sayang. Akan aku buat dua kosong." ujar Aris.
Gerakan boneka dipercepat oleh Argha. Aris kembali berkonsentrasi. Dor. Bunyi tembakan yang dilakukan oleh Aris. Pengawapop kembali membawa boneka tersebut menuju Bayu. Bayu melihat kembali bekas tembakan.
"Gagal." ujar Bayu.
Aris yang tidak percaya mendekat ke arah Bayu, dia melihat ternyata tembakannua memang meleset jauh. Aris menembak di bagian perut bukan jantung lawan.
Ghina kembali mengambil posisi tembaknya. Dia menatap pasti ke arah boneka boneka yang sudah bergerak itu.
"Sayang aku aja gagal apalagi kamu." ujar Aris.
Ghina mengacungkan kedua jempolnya ke arah Aris. Setelah melakukan hal itu Ghina menatap lurus ke arah boneka yang akan dijadikannya target.
Dor
Bunyi suara tembakan dari mulut pistol Ghina. Pengawal mengambil boneka yang dilumpuhkan Ghina. Bayu kembali melakukan hal yang sama.
"Sempurna." teriak Bayu dengan keras.
Aris yang mendengar kaget, dia berjalan menuju Bayu.
"Serius loe?" ujar Aris.
__ADS_1
"Tengok aja" jawab Bayu.
Aris melihat posisi hasil tembakan Ghina, ternyata memang pas dan tepat di bagian tengah kepala boneka.
"Huft." ujar Aris melepaskan sesak di dadanya.
"Sabar sayang." ujar Ghina sambil menepuk pundak Aris dan memberikan Aris tatapan sedikit mencemeeh.
"Oke kita lanjutlan Daddy Bunda. Ini adalah tembakan dan target terakhir. Siapa yang mau duluan?" ujar Argha.
"Kamu duluan sayang. Wanita duluan." ujar Aris sambil tersenyum menatap Ghina.
"Oke. Siapa takut." jawab Ghina.
Ghina mengambil pistol miliknya. Dia kembali mencari posisi yang tepat. Ghina mulai membidikkan pistol ke arah boneka. Ghina kali ini menargetkan boneka paling terjauh. Ghina akan menembak tepat di arah jantungnya. Setelah yakin dengan posisinya Ghina menarik pelatuk pistol.
Dor.
Bunyi suara letusan. Dengan seketika boneka tersebut terkapar tak berdaya di tanah. Pengawal membawa boneka itu ke arah Bayu. Bayu kembali memeriksanya.
"Pas tepat dan cermat." ujar Bayu kembali.
"Kamu mau cek lagi Ris?" tanya Bayu kepada Aris sambil mengejek pria tersebut.
"Nggak." jawab Aris.
"Giliran Daddy." ujar Argha sambil memberikan pistol yang dipakai Aris.
Aris berjalan pelan menuju ke tempat pijakan untuk menembak. Aris membidikkan tembakannya. Dia menenangkan detak jantungnya yang sudah lumayan cepat itu
"Sayang kalau ragu nyerah ajalah. Ngapain juga harus dipaksa." ujar Ghina berusaha memancing keseriusan Aris.
"Menyerah? Maaf sayang. Aku keturunan Soepomo, tidak mengenal kata menyerah apalagi melawan wanita. Jadi kamu nggak usah mimpi dan terlayu yakin akan menang sayang." jawab Aris.
Aris kembali serius dengan bidikannya. Dia menargetkan boneka yang berjaran lumayan jauh..
Dor.
Sebuah boneka tumbang. Pengawal mengambil dan mengantarkan boneka itu kepada Bayu. Bayu memeriksa boneka tersebut.
"Pas tepat. Imbang." teriak Bayu.
Aris berjalan mendekati Ghina.
"Maaf sayang. Seri." ujar Aris.
"Oh tak apa apa. Kita lanjutkan permainannya." ujar Ghina dengan semangat.
Mereka semua meninggalkan arena tembak. Mereka akan menuju ruangan sebelah yang juga masih ruangan favorit Aris.
__ADS_1
Bagaimana reaksi Aris saat melihat ruangan tersebut? Apakah Aris akan menang di olahraga kesukaannya itu?
Tunggu lanjutan besoknya kakak.