
"Sayang, aku sudah selesai kerjanya. Mari kita pulang. Aku capek sekali rasanya sayang. Aku pengen tidur sampai di mansion" kata Frenya.
Frenya yang sudah siap merapikan semua dokumen dokumen yang berada di atas mejanya. Dokumen dokumen yang tadi berserakan sudah kembali di rapikan oleh Frenya. Frenya juga merapikan dokumen dokumen yang tadi dikerjakan oleh Juan. Dokumen dokumen itu sebenarnya sudah disusun oleh Juan, Frenya hanya tinggal menaruhnya di sebuah kontainer kecil yang ada di bawah meja kerjanya.
Juan tadi membantu Frenya dalam membereskan dan memeriksa dokumen dokumen dari perusahaan GA Grub. Sedangkan Frenya membaca dan memeriksa dokumen dokumen perusahaannya sendiri.
Frenya melihat ke arah sofa tempat Juan tadi sedang memainkan ponselnya karena Frenya tidak mendapatkan respon sama sekali dari Juan, saat dirinya mengajak Juan untuk pulang ke mansion.
"Yah pantesan nggak ada jawaban. Ternyata dia udah tidur. Sayang sayang,kamu kalau udah mengantuk dan lelah, pasti akan langsung tidur tanpa memerhatikan tempat dimana kamu bisa tidur. Di sofa seperti sekarang ini pu kamu bisa tidur. Aku salut sama kamu sayang" ujar Frenya menatap ke arah suaminya yang sudah tertidur di sofa itu. Juan tidur dengan sangat nyenyak sekali.
Frenya merasa sangat kasihan untuk membangunkan Juan. "Ya udah tunda dulu aja pulangnya. Biarkan Juan beristirahat dulu" kata Frenya yang memilih untuk tidur di sofa juga.
Frenya kemudian merebahkan dirinya di atas sofa itu. Frenya menggunakan bantal sifa sebagai bantal untuk kepalanya. Sedangkan Juan hanya menggunakan tangannya saja sebagai bantal kepala.
Juan merasa kalau dia sudah sangat puas beristirahat. Juan kemudian dengan perlahan membuka matanya yang berwarna coklat terang itu. Juan melihat kalau Frenya sudah tertidur di sofa.
"Yah dia ikutan tidur. Kenapa dia tidak membangunkan gue saja tadi. Kan dia nggak perlu tidur di sofa seperti ini" ujar Juan saat melihat Frenya yang tidur di sofa tepat di depan sofa tempat Juan tidur tadi.
Juan memandang lama wajah cantik istrinya itu, Juan menikmati apa yang dilihatnya itu. Juan tidak pernah bosan memandangi wajah cantik Frenya saat Frenya tertidur seperti sekarang ini.
"perasaan kamu makin cantik saja sayang. Aku berharap memang ada sesuatu di sana" kata Juan sambil menatap tajam dan lurus ke arah perut Frenya. Harapan seorang suami yang memang selalu itu yang diharapkan oleh suami di atas dunia ini. Kebahagiaan yang tidak bisa di nilai dengan uang saat yang diharapkan itu terjadi.
Frenya yang merasa ditatap tajam oleh seseorang, dengan perlahan lahan membuka matanya. Dia merasa tidak nyaman kalau tidur di tatap seperti itu, sekalipun itu Juan suaminya.
"Sayang, kenapa menatap aku seperti itu? Apa. ada yang salah dengan cara tidurku sayang? " tanya Frenya saat melihat Juan menatap tajam ke arah dirinya. Juan menatap Frenya tanpa berkedip, sehingga membuat Frenya risih karena hal itu.
"Kamu semakin cantik" jawab Juan tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Frenya.
__ADS_1
Pipi Frenya langsung bersemu merah saat mendengar apa yang dikatakan oleh Juan kepada dirinya. Frenya memang sudah biasa dipuji cantik oleh siapapun yang melihat dirinya. Tetapi saat Juan yang memuji dirinya seperti itu, pipi Frenya akan langsung bereaksi dengan bersemu merah. Warna yang membuat Frenya semakin cantik saat dipandang oleh siapapun.
"Sayang, kamu jangan memuji aku seperti itu. Kamu membuat aku menjadi, ya gitu lah. Susah untuk dijelaskan" kata Frenya.
"Kamu memang sangat cantik" ucap Juan yang akan selalu memuji istrinya itu dimana saja.
"Sepertinya kamu tidak membutuhkan perona pipi lagi sayang. Aku akan selalu membuat pipi itu merona setiap saat" kata Juan mulai menggoda Frenya.
"Hem. Ayok kita pulang sayang. Aku tidak ingin berakhir di kamar peristirahatan" ujar Frenya yang sudah bisa membayangkan akan berakhir dimana setiap Juan merayu dirinya di dalam ruang kerja Frenya maupun ruang kerja Juan.
"Haha haha haha. Aku juga tidak minat untuk hari ini berakhir di sana sayang" jawab Juan.
Juan sangat senang saat Frenya memahami dirinya. Saat Frenya memahami keinginannya, saat Frenya mengetahui betul apa yang akan dilakukan oleh Juan.
"Mari kita pulang sayang" ujar Juan mengajak Frenya untuk pulang ke mansion mereka.
Juan menggenggam tangan Frenya. Mereka memang sudah telat pulang ke mansion hanya karena Juan ketiduran di sofa. Frenya yang ternyata juga lelah bekerja ikut ikutan memilih untuk tidur di sofa sambil menunggu Juan bangun dari istirahatnya.
Juan dan Frenya berjalan bergandengan tangan keluar dari dalam ruang kerja Frenya. Mereka memasuki lift yang akan langsung mengantarkan sepasang suami istri itu ke bestman tempat mobil Juan diparkir.
Sopir membukakan pintu mobil untuk Juan dan Frenya. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil, setelah itu mobil sudah melaju menuju mansion.
"Sayang, kok tiba tiba aku pengen cake ya sayang" ujar Frenya yang ntah kenapa ingin sekali makan cake.
"Oke. Kita beli" Juan setuju untuk mewujudkan keinginan Frenya.
"Tapi nggak cake yang dijual di toko kue sayang" ujar Frenya yang sebenarnya takut mengatakan apa yang diinginkannya.
__ADS_1
"Terus sayang?" tanya Juan yang penasaran dengan keinginan Frenya.
Frenya menatap ke arah Juan. Dia takut Juan akan menolak apa yang akan dikatakan oleh dirinya. Ntah kenapa mendadak Frenya merasakan sedih di dalam hatinya. Frenya mengusap air matanya yang jatuh itu.
"Hay kenapa menangis sayang" ujar Juan yang kaget melihat Frenya mendadak menangis.
"Nggak tau, merasa sedih aja. Terus air mata ini nggak bisa di tahan untuk tidak keluar" jawab Frenya yang tidak mengerti kenapa suasana hatinya dengan gampang bisa berubah dalam seketika.
"Jadi apa yang kamu inginkan tadi. Katakan saja. Aku pasti akan mewujudkannya" jawab Juan dengan sangat yakin dengan apa yang dikatakan oleh dirinya kepada Frenya.
"Kamu yakin sayang kalau kamu akan mewujudkan apa yang aku minta tadi?" tanya Frenya ingin memastikan kembali apa yang dikatakan oleh Juan kepada dirinya.
Juan mengangguk memastikan bahwasanya apa yang dikatakan olehnya adalah benar. Dia tidak akan melanggar apa yang dikatakan oleh dirinya tadi.
"Janji?" tanya Frenya ingin memastikan kembali.
"Janji" jawab Juan.
"Oke"
"Aku ingin" uajr Frenya menggantung ucapannya.
Juan melihat ke arah Frenya dan mengangkat alis matanya. Juan sangat tidak ingin Frenya menggantung permintaannya itu.
"Ayolah sayang, kamu pengen apa" ujar Juan bertanya sekali lagi kepada Frenya.
"Aku ingin. Kamu memasak cake untuk aku sayang" ujar Frenya yang pada akhirnya bisa mengatakan apa yang diinginkannya kepada Juan.
__ADS_1
Setelah mengatakan apa yang diinginkannya kepada Juan, Frenya menekurkan kepalanya dalam dalam. Dia tidak berani untuk melihat ke arah Juan. Frenya takut Juan menolak keinginannya