
Ghina dan rombongannya sampai di tempat Alex dan yang lainnya. Ghina memerhatikan sekelilingnya, ternyata semua anggota terhebat milik dia berada di sini semuanya. Ghina melihat ada beberapa sliping bag untuk tempat tidur berserakan di tanah.
"Sore Nyonya, sore Tuan, Sore Nona." sapa Alex saat bertemu dengan Ghina, Aris dan Frenya.
Aris menatap ke seseorang yang berada tepat di sebelah Alex. Dia menatap tajam orang tersebut, orang yang ditatap Aris dan Bram hanya bisa menekurkan kepalanya. Dia mengetahui dimana letak kesalahannya
""Hans??? Bisa jelaskan??" ujar Aris dengan dingin.
Ghina menggenggam tangan suaminya. Aris menatap Ghina. Ghina kemudian menggeleng.
"Selesaikan di markas black jack. Hargai dia sebagai salah satu pimpinan bridge dari gank black jack." ujar Ghina sambil berbisik di telinga Aris.
Aris menatap istrinya itu. Dia membenarkan apa yang dikatakan oleh istrinya. Aris mengangguk.
"Maaf Hans. Terimakasih atas kerja kamu dan tim." ujar Aris sambil memukul dan meremas pundak Hans.
Hans mengangguk kepada Aris. Dia juga mengangguk kepada Ghina sebagai ucapan terimakasih karena sudah mau membantu dirinya. Ghina membalas dengan menganggukkan kepala juga.
"Lex bisa ceritakan?" ujar Ghina saat mereka sudah duduk melingkar.
"Ghina, kenapa harus ngobrol gini. Kalau kalian tidak minat menyelamatkan Sari biar saya sendiri ke gudang itu untuk menyelamatkan calon istri saya." ujar Bram dengan emosi
"Maaf Tuan Bram. Ini adalah permintaan Nona Sari sendiri. Nona Sari ingin mengetahui siapa dalang di balik semua ini." jawab Alex berusaha menyabarkan Bram.
"Kalian di sini rame, sedangkan dia di sana sendirian. Apalagi yang harus di pikirkan, kita serbu sekarang saja." ujar Bram yang sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Alex.
Papi dan asisten Hendri ternyata juga melacak keberadaan Aris dari gps yang dipasang Papi di jam milik Aris. Saat Bram emosi dan bersikeras tetap ingin melakukan penyerbuan sekarang juga menepuk pundak Bram dengan pelan.
"Nak dengarkan Alex dulu. Kita tidak bisa gegabah, kasian Sari." ujar Papi.
Bram yang sangat segan dengan Papinya itu memilih untuk duduk kembali.
"Lanjutkan Alex." ujar Papi.
"Terimakasih Tuan besar." jawab Alex menyampaikan terimakasihnya kepada Papi karena Papi sudah mengendalikan Bram.
"Sebelumnya saya atas nama anggota kelompok saya dan juga bridge black jack menyampaikan permintaan maaf kepada seluruh anggota keluarga Soepomo." ujar Alex.
Ghina menatap Alex dengan tajam. Dia tidak tau tujuan Alex meminta maaf untuk apak.
"Maaf Nyonya tatapan membunuh Nyonya bisa diberikan kepada orang yang menculik Nona Sari, jangan kepada kami Nyonya." kata Juan yang takut melihat tatapan Ghina kepada mereka.
"Lanjutkan Alex." kata Ghina dengan dinginnya.
"Kami meminta maaf karena kami sudah di sini dari kemaren sore saat saya dan Juan mendapat kode keadaan bahaya dari Felix. Karena kode tersebut dari Felix dan kita juga tau kalau Felix adalah ketua dari pengawal yang mendampingi Nona Sari untuk saat ini, maka kami langsung bergerak. Kami yakin Felix mengetahui dimana Nona Sari di sekap." kata Alex melanjutkan ceritanya.
"Kami terus mengikuti semua petunjuk dari Alex. Sampai lah kami berada di hutan pinus ini. Jadi Tuan Bram, Nona Sari tidak di sana sendirian, dia bersama dengan ketua pengawal pribadinya yang tidak usah diragukan lagi kesetiaan dan ilmu beladirinya." lanjut Alex.
"Terus dimana kamu bertemu dengan anggota saya?" tanya Aris yang penasaran dengan keberadaan satu brigade black jack ada di sini.
"Kebetulan saya kenal dengan Ketua Hans Tuan Muda. Saya menghubungi Tuan Hans, ternyata pada saat itu Tuan Hans diperintahkan untuk mencari Nona Sari. Sehingga Saya dengan mudahnya dapat membawa Tuan Hans dan anggotanya ke sini ikut bersama kami." Alex melanjutkan ceritanya.
"Jadi Alex pertanyaan saya satu saja. Apa mereka rame di sana?? Apa kita bisa mengalahkan mereka?" tanya Papi yang sudah tidak sabaran.
"Mereka rame jawabannya adalah iya. Apakah kita bisa mengalahkan mereka maka jawabannya adalah iya." kata Alex dengan yakin dan mantap menjawab pertanyaan Papi.
"Kenapa kamu yakin Alex?" tanya Aris.
"Karena ada Nyonya Sari dan Nona Frenya. Apalagi kalau ada Nyonya Mira maka akan semakin mantap. Kita cukup di belakang mereka saja Tuan Muda." jawab Alex sambil menatap Aris yang mulutnya terbuka lebar.
"Hay Alex siapa bilang saya tidak akan ikut menari. Saya ratunya menari Alex, jangan harap pertempuran bisa dimulai tanpa kehadiran saya." kata Mira yang baru sampai
Mira sudah siap dengan pakaian tempur andalannya. Baju serba hitam dengan memakai pita biru di lengannya. Tapi kali ini Mira juga memakai pita ungu yang biasa dipakai oleh Sari.
Bayu yang melihat istrinya sudah siap untuk bertempur hanya bisa menggelengkan kepalanya. Bayu sebenarnya ingin melarang tapi pasti akan sia sia saja. Bagi Mira dan Ghina, Sari adalah segala galanya.
"Ghin, apa loe siap untuk menari kembali?" tanya Mira kepada Ghina.
"Siap selalu. Kamu gimana Nya?" tanya Ghina kepada Frenya.
"Udah gatel Bun." jawab Frenya.
Semua anggota kelompok Ghina hanya bisa geleng geleng kepala saja saat mendengar percakapan tiga Nona mereka. Mereka sangat tau bagaimana dinginnya gaya Ghina saat menjatuhkan eksekusi kepada seseorang.
__ADS_1
"Alex dimana Steven?" tanya Frenya yang tiba tiba ingat tentang Steven.
"Steven juga di dalam Nona. Steven dan Felix menjaga Nona Sari di dalam. Mereka semua dalam keadaan baik baik saja." jawab Alex.
"Lex, apa Sari makan di sana?" tanya Papi yang ingat dengan Sari.
"Nona makan dengan lahap Tuan. Setiap nasi yang sudah dikerjai oleh para penculik akan langsung ditukar oleh Felix." jawab Alex dengan sopan.
Mereka kemudian mengobrol menunggu hari sampai malam untuk melanjutkan eksekusi terdapat para penculik Sari. Mereka menyusun bagaimana cara penyerbuan itu. Diskusi dipimpin langsung oleh Frenya. Aris yang tidak tau apa apa tentang anaknya itu hanya bisa menatap Frenya dengan kagum.
Sari yang dalam penyekapan juga mulai menyusun rencana. Dia akan terus memancing kemarahan Mami. Sari ingin membuat Mami marah besar. Apa lagi dengan kondisi seperti sekarang dimana pasti ada Papi di hutan, maka Mami akan semakin sulit untuk kembali masuk ke dalam keluarga Soepomo.
Sedangkan Mami yang berada di ruangannya berjalan mondar mandir. Dia terluhat berpikir sesuatu hal. Tiba tiba pintu ruangannya terbuka. Terlihat seorang pengawal kepercayaannya berdiri di depan pintu.
"Ada apa?" tanya Mami.
"Nona, sudah waktu mahgrib. Apa kita akan melakukan eksekusi?" tanya pengawal.
"Oke bawa wanita sialan itu keluar dari ruangannya. Ikat dia di kursi." kata Mami.
"Siap Nyonya." jawab pengawal.
Pengawal terus pergi dari ruangan Mami. Dia dan seorang rekannya menuju ruangan tempat Sari di sekap.
Sari yang mendengar suara derap langkah kaki memulai actingnya. Sari mulai melemaskan badannya dan membuat kepalanya terkulai ke samping. Dia benar benar kelihatan seperti orang yang kesakitan dan menderita.
"Kasian sekali Nona cantik ini, hanya karena permasalahan mertua dan menantu dia menjadi korban." ujar salah satu pengawal.
"Bagaimana lagi. Kita di bayar hanya untuk memberesi dia bukan mengasihani dia. Jadi lakukan saja sesuai perintah Nyonya besar." kata pengawal yang lain.
Salah satu pengawal maju.
"Hay Nona bangun, sudah saatnya eksekusi." kata salah satu pengawal.
Sari membuka matanya dengan perlahan. Dia berusaha dengan susah payah untuk berdiri dari duduknya. Saat itu Felix berada di luar, dia mendengar semua percakapan antara Pengawal dan Sari.
"Ini saatnya" kata Felix.
"Tuan Alex kami sudah mendapatkan kode dari Tuan Felix." ujar pengawal Sari.
"Oke." jawab Alex
"Nyonya mari kita bergerak. Mereka semua dibekali pistol jadi kita juga akan memakai itu Nyonya" lanjut Alex.
Ghina menatap Alex kembali.
"Punya Nyonya sudah kami bawakan." jawab Alex yang paham akan arti tatapan Ghina.
Seorang pengawal datang membawakan kotak senjata milik Ghina. Dia kemudian memberikan kotak itu kepada Ghina. Ghina menerima dengan sangat bahagia. Dia akan kembali memakai benda yang sudah lama disimpannya.
Semua anggota keluarga juga mendapatkan pistol yang akan mereka gunakan untuk penyerbuan nanti.
"Apakah semua sudah siap?" tanya Frenya yang bertindak sebagai pemimpin penyerbuan.
"Siap Nona" jawab semuanya serempak.
"Oke. Kita akan berpencar seperti yang sudah kita rencanakan tadi. Kita bergerak dari luar. Sedangkan kelompok yang menyusup dari tadi siang, akan menunggu kita di belakang gudang. Jadi habisi saja yang di depan. Kecuali kalau dia melambaikan tangan berarti rekan kita. Paham." kata Frenya yang memaparkan semuanya.
"Paham Nona" jawab semua anggota kelompok.
Mereka kemudian bergerak menuju gudang tersebut. Beberapa anggota yang mahir dalam perkelahian jarak dekat maju terlebih dahulu. Mereka melumpuhkan semua pengawal yang berada di pintu gerbang. Hanya butuh lima menit semua pengawal di pintu gerbang sudah tidak bergerak lagi. Mereka dibuat pingsan saja.
Beberapa pengawal dari kelompik Ghina membawa semua korban menjauh dari lokasi. Mereka langsung dibius agar tertidur selama lima jam.
Beberapa pengawal yang menyusup dari pagi bergabung dengan mereka yang dari hutan. Penyerangan mulai di lakukan dari semua sisi.
Sari yang sudah di ikat di tiang bendera mulai di rudakpaksa oleh Mami. Wajahnya di tampar membabi buta oleh Mami.
"Hahahahaha. Katanya sahabat kamu akan datang, mana dia kenapa tidak datang juga." teriak Mami di depan muka Sari
Cuih. Mami meludahi muka Sari.
"Katanya dia akan menjadi malaikat maut saya. Mana dia toh tidak juga datang." teriak Mami selanjutnya.
__ADS_1
"Kalian hanya omong doang. Palingan sekarang dia sedang di salon melakukan perawatan." lanjut Mami.
"Calon suami kamu yang ketua geng black jack mana dia???? Atau dia juga sudah menemukan calon istrinya yang baru???" lanjut Mami
"Hahahahahaha. Nyonya nyonya sebentar lagi anda akan selesai Nyonya. Jadi nikmati saja dulu." jawab Sari yang melihat pergerakan di belakang
"Hahahahaha. Terserah kamu saja. Sebentar lagi nasib kamu akan berakhir di tangan saya. Setelah itu baru nasib semua keluarga Soepomo itu. Saya sangat menyesal kenapa saat terjadi kecelakaan yang menimpa keluarga Soepomo Aris dan Andra Soepomo tidak mati sekalian." ujar Mami dengan nada keras. Semua yang dikatakan oleh Mami di rekam oleh Steven.
"Saya sudah susah payah merencanakan hal itu. Ternyata nasib baik masih menghampiri Aris dan Andra Soepomo. Saya benar benar kesal " lanjut Mami.
"Saya berusaha mencari orang yang mirip dengan Erlin Soepomo. Eeeeee sahabat kamu yang sok itu dengan anaknya menggagalkan kembali rencana saya. Makanya sekarang kamu yang menjadi target saya." lanjut Mami.
Setelah semua informasi di dapatkan oleh Steven. Steven memberi kode kepada Frenya untuk langsung saja melakukan penyergapan.
Frenya memberikan kode kepada semua pengawalnya. Pengawal Frenya langsung masuk ke dapan dan melumpuhkan pengawal sewaan Mami yang sedang tidak dalam posisi siap untuk menyerang.
Mereka dapat di lumpuhkan dalam sekejap oleh pengawal Frenya. Mereka kemudian kembali di bius dan di bawa ke rumah sakit.
Sedangkan Mami sudah dibekuk oleh Ghina. Dia di telungkupkan di tanah dengan ditahan oleh kaki Sari.
"Hay wanita tak tau diri. Kami bertiga sudah datang. Jadi siap siaplah menerima siksaan dari kami." ujar Sari
Cuih. Sari meludahi muka wanita itu saat Mira menghadapkan wajah Mami ke atas.
"Bawa saja saya ke kantor polisi. Saya akan mempertanggungjawabkan semuanya." ujar Mami dengan memelas.
"Hahahahahahahaha. Tentu saja tidak. Kami akan memperlihatkan kepada anda bagaimaba kami bersahabat dengan musuh musuh tang berani mengusik kami. Jadi silahkan menikmati." lanjut Sari.
Plak. Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Mami dari Mira.
Mami kemudian dibedirikan oleh dua orang pengawal. Mami akan dibawa menuju markas mereka. Saat Mami melihat Aris dan Papi.
"Sayang maafkan aku sayang. Semua salah Ghina." ujar Mami berusaha memprovokasi Aris dan Papi.
"Tunggu" ujar Papi.
Pengawal berhenti
Plak plak plak plak plak.
Papi berkali kali menampar Mami.
"Ini untuk semua yang kau lakukan terhadap keluarga ku. Dasar wanita tidak tau diri " ujar Papi.
Aris hanya bisa menatap saja. Dia tidak paham dengan semua kejadian.
"Bawa" ujar Papi.
Pengawal kembali membawa Mami untuk masuk ke dalam mobil dan di bawa ke markas. Mami akan menerima siksaan dari hasil perbuatannya selama ini.
Ghina, Mira dan Sari saling berpelukan. Mereka sangat senang karena Sari dalam keadaan baik baik saja.
Sari kemudian menatap Bram yang terkihat sangat cemas.
Cup. Sari mengecup bibir Bram.
"Aku baik baik saja" jawab Sari sambil memeluk Bram.
Bram memeluk Sari. Bram menangis bahagia. Dia tidak bisa lagi menahan air matanya. Bram menangis dengan bahagia. Dia benar benar bahagia karena calon istrinya kembali dalam keadaan selamat.
Ayah wijaya juga memeluk Sari. Dia sangat senang dan bahagia anak sahabatnya itu dan juga sudah dianggap sebagai anaknya telah selamat dan tidak kurang satu apapun.
Sedangkan Aris menatap Ghina dengan tajam. Ghina sadar dengan tatapan itu.
"Oke sayang akan aku jelaskan. Tapi nanti ya. Sekarang aku pengen ini." ujar Ghina meremas sesuatu dibalik celana jins yang dipakai Aris.
"Hem pinter." ujar Aris.
Aris membawa Ghina kedalam pelukannya. Dia memeluk dengan erat istrinya yang ternyata penuh kejutan itu.
"Papi juga utang dengan Aris" ujar Aris saat melihat Papi.
"Oke" jawab Papi.
__ADS_1