
Aris terbangun dari tidurnya setelah telpon berkali-kali dari Bram. Aris yang kesal langsung mengangkat telpon itu dan berbicara dengan kerasnya.
"Ngapain loe nelpon gue subuh gini nyet. Gue baru tidur dua jam. Gila loe." kata Aris berteriak kepada asistennya Bram.
"Subuh pala loe peyang. Tengok jam nyet. Ini udah jam delapan pagi." kata Bram membela dirinya.
"Terus hubungannya apaan dengan loe ganggu tidur gue?" Aris makin kesal karena Bram membela dirinya.
"Tuas Aris Soepomo. Kita hari ini ada meeting penting dengan perwakilan dari perusahaan wijaya, karena pagi tadi Tuan Besar Wijaya menelpon dia tidak bisa datang karena ada acara keluarga yang mendesak. Maka perwakilannya yang datang ke perusahaan kita." Kata Bram memberitahukan agenda yang harus dilaksanakan Aris hari ini.
"Bram. Karena perusahaan Wijaya mengirimkan wakilnya. Maka akupun juga akan mengirimkan wakilku untuk menemui mereka." kata Aris dengan senyum kemenangan dibibirnya, dia bisa tidur nyenyak kembali setelah mendengar apa yang dikatakan Bram tadi.
"Jadi maksud loe?"
"Yup. Seperti di otak loe. Loe yang akan pergi menemui perwakilan dari perusahaan Wijaya. Sedangkan gue akan tidur kembali. Menikmati mimpi gue." Aris berkata sambil tersenyum penuh kemenangan dan mengenang wajah kesal Bram saat ini.
"Oke-oke Tuan Muda Soepomo. Kamu kembali menang saat ini, karena kau bosnya." kata Bram kembali kesal.
"Sukses selalu sobat. Perusahaan berada dipundakmu." kata Aris langsung memeluk gulingnya melanjutkan mimpi yang tertunda tadi.
Bram yang tidak lagi mendengarkan suara Aris, langsung berjalan keruangannya guna menyiapkan keperluan meeting kerjasama dengan perusahaan Wijaya.
...****************...
Gina yang pagi itu memakai baju kous putih lengan pendek, celana levis dan memakai sepatu conversenya pergi meninggalkan rumah sambil mengendarai mobil favoritnya. Gina menjemput Rani terlebih dahulu karena rumah Rani tidak begitu jauh dari rumahnya. Hanya berjarak sepuluh kilo. Setelah sampai di depan rumah Rani, Gina mengetuk pintu depan rumah itu. Tak lama kemudian pintu rumah dibuka oleh seorang pelayanan.
"Raninya da ya bik?" kata Gina.
"Ini Non Gina ya?"
"Iya bik. Ini saya Gina. Udah lama ya bik kita tidak bertemu." kata Gina sambil melangkah masuk ke dalam rumah Rani .
"Non makin cantik saja non. Bibik jadi pangling" kata pelayan itu
"Bibik bisa aja. Oh ya bik. Rani mana ya?" Gina tidak melihat Rani diruang tamua atau ruang makan.
"Non Rani masih di atas Non. Nona langsung aja ke kamarnya. Biasa non Rani kalau dandan kelamaan." kata Bibik sambil berlalu meninggalkan Gina.
"Sampai lupa. Non Gina mau minum apa ya?"
"Nggak usah aja bik. Aku tadi udah minum di rumah." kata Gina sambil menuju ke kamar Rani.
Gina langsung saja masuk kedalam kamar Rani. Gina tau Rani tidak pernah mengunci kamarnya siang-siang, kecuali kalau dia mau tidur siang atau ada masalah yang rumit. Gina yang melihat Rani masih menyisir rambutnya langsung manyun.
"Gila loe ya. Gue yang sengaja telat kerumah loe sejam, supaya gue nggak nungguin loe dandan. Ternyata masih aja haeus nungguin loe danda." kata Gina sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahahahahaha. Santai Gin. Tinggal bedaan. Tadi gue telat bangun biasa libur." kata Rani dengan senyum indahnya.
"Ye lah. Gue tunggu loe di bawah nggak pake lama. Kalau lama loe gue tinggal." kata Gina sambil langsung berjalan ke bawah. Sesampainya di bawah Gina langsung menuju dapur mengambil gelas dan membuka lemari es mengambil minuman dingin. Bibik yang melihat Gina minum langsung bertanya.
"Ada yang bisa dibantu Nin Gina?" kata bibik tersenyum.
"Nggak bik. Aku perly mendinginkan pikiranku gara-gara Nona Muda mu yang keterlaluan ngaretnya." kata Gina dengan tersenyum. Bibik yang tau kebiasaan Nona Mudanya tersenyum saja mendengar keluhan Gina.
Tak lama kemudian, Rani turun kelantai satu sambil tersenyum. Gina dan Bibik yang melihat, Rani turun dari kamarnya langsung menggelengkan kepalanya, Rani tetap tidak berubah. Kalau libur selalu sangat susah tepat janji.
"Udahkan Rin? Atau loe akan makan dulu? Waktu gue banyak kok untuk menunggu loe" kata Gina yang mulai kesal karena Rani duduk dimeja makan.
Rani yang tau dia sudah keterlaluan hanya menyambar sepotong roti dan berjalan ke Pintu.
"Ayok Gin. Gue udah nunggu loe neh di pintu" teriak Rani.
"Dasar sahabat nggak pinya akhlak" Gina berjalan sambil menahan kesalnya.
Gina masuk kedalam mobil diikuti oleh Rani. Tapi sampai dimobil Rani tercengang melihat kursi pengemudi kosong.
"Masuk. Sekarang loe yang bawa mobil. Gue males." kata Gina yang duduk santai di bangku sebelah sopi.
"Siap bos. Gue yang bawa" kata Rani langsung duduk dan melajukan mobil ke rumah Ofi. Ternyata Ofi sudah menunggu kedatangan kedua sahabatnya.
__ADS_1
"Wah. Udah gue duga. Pasti lo lagikan Ran, yang telat." kata Ofi saat baru duduk di jok belakang.
"Siapa lagi kalu bukan tu makhluk ajaib."
Mereka bertigia asik bercerita kehal-hal yang tidak jelas. Tak terasa mereka sudah sampai di mall tempat yang akan mereka tuju. Tiga sahabat itu sibuk memasuki semua counter yang ada di mall tanpa niat untuk membeli. Setelah lelah mereka langsung masuk kerumah makan cepat saji untuk makan sore. Makan siang lewat karena keasikan melihat-lihat semua barang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Aris yang sudah merasakan badannya kembali segar habis tertidur pagi itu, langsung membersihkan badannya. Aris akan pergi kekantornya. Dia kasihan dengan Bram yang harus menghendel kerjaan kantor sendirian. Selesai mandi Aris melihat makan siang yang sudah tertata rapi di meja makan. Sebuah ide muncul dikepalanya. Dia akan makan siang dikantor bareng dengan Bram.
"Bik. Makan siangnya tolong dijadikan bekal saja ya. Saya makan siang dikantor saja. Sekalian dilebihkan ya bik." kata Aris sambil duduk di kursi ruang tamu menunggu bekalnya disiapkan oleh pelayanan.
"Ini Tuan. Bekalnya sudah siap" kata Bibik sambil meletakkan bekal tersebut di atas meja ruang tamu.
Aris mengambil bekal yang diletakkan bibik kemudian, dia masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya ke arah kantor utama Seopomo grub. Aris tiba di kantor dan langsung menaiki lift khusus petinggi perusahaan. Semua karyawan tercengang melihat boss besar mereka yang terkenal dingin itu membawa kotak bekal. Aris tiba di depan ruangannya dan langsung masuk. Diruangannya ada Bram yang sedang sibuk membaca laporan yang ada dihadapannya.
"Ehm." kata Aris sambil berdiri didepan Bram.
Bram terkejut mendengar suara yang familiar ditelinganya itu. Dia langsung mengangkat kepalanya dari dokumen yang sedang dibacabya itu. Melihat Aris yang sedang membawa kotak bekal langsung memiliki ide jahil dikepalanya.
"Maaf mas. Saya tidak memesan bekal dari catering manapun." kata Bram acuh saja.
Aris yang tau sedang dikerjai oleh Bram. Langsung membuka kotak bekalnya di atas meja yang sesang dipakai oleh Bram untuk memeriksa dokumen perusahaan. Bram kemudian berjalan ke arah dapur yang terletak di belakang ruang kerjanya membawa sebuah piring dan sebotol air mineral. Aria kemudian mengambil makan siangnya tanpa mengajak Bram. Bram yang melihat langsung berdiri dan mengambil piring beserta air dari dapur.
"Lho mau ngapain?" kata Aris yang melihat Bram mengambil makan siang yang ada di meja itu.
"Gue mau makan nyet. Loe nggak lihat gue kerja dari pagi tidak sempat makan." Sambil terus mengambil makanan yang ada di atas meja itu.
Mereka berdua makan dalam diam. Tak terasa makanan yang dibawa Aris tadi sudah habis mereka pindahkan kedalam lambung masing-masing.
"Tumben lho datang. Biasanya kalau sudah siang lho nggak akan masuk kantor lagi." kata Bram yang heran dengan sikap Aris mulai dari tadi pagi
"Gue udah seger. Jadi gue datang ke kantor. Kasian nengok asisten pribadi gue kerepotan menghendel urusan kantor sendirian." kata Aris sambil mengambil beberapa dokumen untuk dibaca.
"Emang loe ngapain semalam. Sampe tidak bisa tidur?"
"Gue semalem beneran nggak bisa tidur Bram. Ntah apa yang gue pikirin nggak jelas."
"Kemaren sore gue sudah dari sana tapi tetap saja gue nggak mood."
"Atau loe lagi jatuh cinta kali"
"Mana ada. Guekan udah punya pacar Bram."
"Eeeh cinta nggak mandang status nyet. Kan bisa jadi lie sedang jatuh cinta sama seseorang kata Bram meyakinkan Aris.
"Nggak mungkin Bram. Gue cintanya ke Putri doang." kata Aris sambil menerka-nerka apa yang terjadi dengan dirinya. Apakah benar dia sedang jatuh cinta lagi. Tapi kepada siapa? Tiba-tiba wajah Gina terlintas dikepalanya. Tidak mungkin gue jatuh cinta sama Gina, dia jelas jelas bukan kriteria gue.
Bram yang melihat Aris termenung menggeleng-gelengkan kepalanya. Bram tau Aris tidak.mencintai Putri. Aris pacaran dengan Putri karena rasa bersalah Aris kepada Putri. Bukan karena perasaan. Tapi selama ini Aris berusaha terus menyangkalnya. Dan mengatakan bahwa dia mencintai Putri. Bram yang tidak tahan melihat ekspresi Aris langsung keluar menuju ruangannya. Dia tidak mau mengganggu Aris yang sedang mencari tau isi hatinya itu.
Kembali Ke Gina
Tidak terasa hari sudah mau mghrib. Gina dan kedua temannya meninggalkan mall itu dengan hati senang. Mereka sudah bercerita seharian ini. Saatnya mereka pulang kembali. Mereka sudah buat janji beberapa hari lagi mereka akan pergi bersama ke acara reuni Akbar yang diadakan oleh Sekolah mereka dahulu. Reuni kali ini akan mengundang sepuluh angkatan terakhir. Jadi mereka akan melihat senior senior yang jauh diatas mereka. Gina mengantarkan satu persatu temannya. Tak berapa lama mobil Gina memasuki gerbang rumahnya. Dia parkir ditempat biasa.
"Assalamualaikum" kata Gina saat memasuki rumah mewah itu.
"Waalaikumsalam Sayang." kata Nana yang menjawab salam Gina.
"Gimana pertemuannya dengan temanmu?" Nana berbicara sambil menghidangkan makan malam.
"Seru ma. Kami berbagi cerita tentang kampus. kata Gina sambil duduk dikursi meja makan.
"Sayang mandi dulu sana. Baru duduk manis"
"Oke Nana." Cup Gina mencium pipi Nana. Dia langsung berlari ke arah kamarnya untuk membersihkan diri.
Tidak lama Ayah dan Uda Afdhal sudah kembali dari kantor. Nana yang melihat meminta mereka langsung membersihkan badan dan bersiap untuk sholat maghrib berjamaah. Mereka sekeluarga melakukan sholat maghrib berjamaah hari itu. Keluarga Wijaya kalau sedang berkumpul pas waktu sholat mereka selalu sholat berjamaah. Selesai sholat mereka makan malam bersama.
"Oh ya dek. Ada acara reuni akbar SMK kamu ya dengar bunyinya?" kata Afdhal memastikan kegiatan reuni yang didengarnya.
__ADS_1
"Benar Uda. Akan diadakan Malam minggu besok. Kenapa? Uda mau ikut?" kata Gina.
"Gina. Mana bisa uda ikut. uda kan bukan tamantan SMK." kata Ayah menjawab pertanyaan Gina.
"Oh iya. Udakan anak SMA."
"Ayo cepat habiskan makanannya. Sebentar lagi kita pindah keruang keluarga. Ada yang mau ayah bicarakan."
Mereka melanjutkan makan dengan tenang sambil berpikir apa yang akan dibicarakan oleh Ayah. Selesai makan semua keluarga Wijaya menuju ruang keluarga.
"Ayah, ada apa ayah memanggil kami kesini?" kata Afdhal.
"Duduk dulu Afdhal, ayah memanggil kalian kesini karena ada yang penting mau dibicarakan oleh Ayah" kata Nana sambil duduk didekat ayah.
"Ayah, jangan buat penasaran dan takut Ayah. Apa yang mau Ayah katakan?" Gina semakin penasaran.
"Gini Gin. Ayah, Nana dan Uda Afdhal sudah lama merencanakan ini." Ayah terdiam. Gina langsung menatap curiga Udanya.
"Maksud Ayah? Gina mau dijodohkan. Ayah ini bukan zaman Siti Nurbaya ayah. ini udah zaman Amanda Manopo. Gila aja masih pake dijodohin." Gina terlihat kesal sambil mencubiy Afdhal.
"Wadou sakit. Main asal cubit aja." kata Afdhal meringis karena dicubit Gina.
"Dek, siapa yang mau jodohin kamu. Makanya, orang tua ngomong itu didenger. Bukannya dipotong nggak ada aturan." kata Nana.
"Hehehehehehe" Gina menggaruk kepala bagian belakangnya yang tidak gatal.
"Maksud Ayah. Ayah dan Nana mau pindah ke Ibu kota. Karena perusahaan kami yang disana sangat membutuhkan kami. Jadi kedua perusahaan utama akan dipindahkan ke ibu kota." kata Ayah mantap.
"Jadi kita semua akan pindag ke ibu kota?" kata Gina tercengang dengan keputusan Ayah.
"Apa kamu tidak senang Gin?" Nana menatap curiga Gina.
"Senenglah Nana. Jadi Gina nggak perlu ngekos lagi. Kapan rencana pindahnya?"
"Kita pindahan bulan depan" kata Ayah mantap.
"Oke Ayah. Itu berita sangat bahagia. Gina suka itu. Oh ya Gina kekamar dulu ya Yah, Nana, Gina ngantuk" kata Gina sambil mencium pipi ayah dan nana.
Gina menuju kamarnya. Sedangkan Ayah, Nana dan Afdhal sibuk berdiskusi siapa yang akan menghendel perusahaan disini.
...----------------...
Sedangkan Aris baru pulang dari kantor. Dia tidak pulang ke rumah. Melainkan ke rumah utama. Aris mau bertemu dengan papi dan mami. Mau mengatakan bahwasanya hari jumat Aris akan berangkat ke Padang. Rencanabya Aris mau mengikuti reuni SMKnya.
Sesampainya di rumah utama. Aris sedang mendapati Papi dan Maminya makan malam. Aris langsung saja duduk di depan Mami.
"Tumben, anak mami pulang hari ini. Kan belum akhir pekan." kata Mami menyindir Aris.
"Ada yang mau Aris bicarakan sama papi dan mami" kata Aris.
"Kita bicara selesai makan aja ya Ris." kata Papi. Mereka kemudian makan dengan keadaan hening. Selesai makan papi dan mami membawa Aris keruangan Televisi.
"Pi, Aris mau meminta izin untuk nggak ke kantor dari hari jumat ya pi." kata Aris sambil menatap papi.
"Emang kamu mau kemana?" kata papi.
"Aris mau ke Padang, pi."
"Acara apa Ris. Tumben kamu mau ke Padang" mami menimpali, karena Aris sangat tidak mau diajak ke Padang.
"Aris juga males mi. Tetapi karena ada reuni akbar, dan Aris juga udah janji sama teman Aris, kalau reuninya 10 Angkatan terakhir Aris akan ikut. Eeee kiranya beneran mereka mengundang sepuluh angkatan terakhir." kata Aris dengan mimik wajah yang malas.
"Hahahahahhahaha. Senjata makan tuan ya Ris." papi menimpali.
"Udah deh pi. Jangan ngeledek Ari. Ini ijinkan nggak sih Aris nggak masuk kantor?" Aris mulai nggak sabar.
"Iya-iya Papi ijinin sampe senen juga boleh tuh kamu libur." kata Mami.
"Lhoh kok mami yang jawab? Direktur utamanya kan papi bukan mami?" kata papi.
__ADS_1
"Papi memang direktur utama. Tapi presiden direkturnyakan mami." kata Mami sambil mengedipkan matanya kepada Aris. Aris yang paham langsung mengucapkan terimakasih kepada Papi dan langsung berlari menuju kamarnya. Dia besok harus kekantor pagi menyelesaikan semua urusan kantor. Mami dan Papi yang melihat tingkah Aris hanya geleng-geleng kepala. Aris yang dirumah sangat berbeda dengan Aris yang didunia bisnis.
Aris